Wednesday, 24 August 2011

Merekam Medan dari Kepingan Situs Kota Cina



Sinar matahari begitu terasa terik mengiringin perjalanan kami menuju Danau Siombak, Kelurahaan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan, petengahan Juni lalu. Setelah sekian lama mengendarai sepeda motor dari kota Medan, dan sempat berputar-putar menelusuri jalanan sempit, rusak di areal pinggiran Danau Siombak. Akhirnya kami berhasil menemukan Museum Situs Kota Cina.

Paya Pasir merupakan satu keluarahan di Kecamatan Medan Marelan. Letaknya berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang di sebelah barat, Medan Labuhan di sebelah timur, Medan Helvetia di sebelah selatan, dan Medan Belawan di sebelah utara.

Selama perjalanan kami melihat keberadaan danau siombak dengan luas areal 40 Hektare, kini telaqh banyak dimanfati sebagai areal tambak ikan, kolam pancing dan lokasi ekowisata.

Setiba disini, tidak ada yang istimewa terlihat dari bagian luar gedung Museum yang didirikan Jurusan Pendidikan Sejarah Universitas Medan (Unimed) dan Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial (Pussis) Unimed ini. Yang terlihat hanya bangunan cukup sederhana. Atap jerami, dinding tepas, pagar dan pintu gerbang pun hanya terbuat dari bambu.

Di pingiran museum yang didirikan pada tahun 2010 lalu, terdapat sebuah sungai dan sejumlah perahu. Sungai ini telah lama dimanfaati warga sekitarnya untuk mencari nafkah sebagai nelayanan, dan pencari daun rumbiah untuk membuat atap. Sungai ini disebut sebagai salah satu sarana transportasi air bagi nelayanan menuju Belawan dari Danau Siombak.

Meski bangunannya sangat sederhana, dan jauh dari bangunan sebuah museum yang sesungguhnya. Belakangan ini Museum Situs Cina begitu ramai dikunjungi mahasiswa, pelajar dan arkeolog pasca ditemukan ribuan peninggalan benda-benda Cina kuno.

Dari benda-benda kuno yang ditemukan tersebut, cenderung merujuk pada era kedinastian Sung, Yuan dan Ming di China. Selain itu temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa adanya komunitas pedagang yang berasal dari mancanegara seperti China, Johor, Jawa, Burma, Thailand pernah singgah di Bandar pelabuhan yang terletak di pesisir Timur pantai Sumatra Utara.

Itu terlihat dari ditemukannya koin mata uang China abad ke-6, koin dari Sri Lanka abad ke-12, keramik China abad ke-11, keramik Thailand, dan keramik yang diduga berasal dari Timur Tengah

Selain itu ditemukan juga artefak lainnya seperti manik-manik, kaca, tumpukan batu bata merah yang diduga bekas bangunan candi serta penemuan beberapa arca dan benda-benda lain yang diduga kuat terkait erat dengan prosesi peribadatan. Dengan demikian situs kota China juga menjadi pusat peradaban.

Menurut Dr Ichwan Azhari Ketua Pusis Unimed, di areal danau Siombak inilah, pernah bediri sebuah kota bernama situs kota Cina yang diprediksikan ada sejak abad ke 12-16 M, periode sebelum penguhasa-penguhasa dari Belanda datang ke Labuhan Deli membuka perkebunan tembakau.

Kota Cina diangap merupakan satu-satu situs perkotaan pra kebudayaan Islam yang ditemukan hingga kini di Pulau Sumatra yang secara administratif pemerintahan terletak di kecamatan Medan Marelan, yang menjadi cikal bakal terbentuknya kota Medan.

Petunjuk itu merujuk dari mata uang logam berasal dari dinasti Tang pada abad ke-6, dan mata uang dari dinasti Song abad ke 10-12 M. Kemudian fragmen keramik asing bercorak India dan Cina. Arca Budha Amitaba yang berasal dari abad ke 12-13 M, tiang rumah kuno yang diperkirakan dari abad ke-14 M

Nah, dari temuan itu lah, semakin menunjukan bahwa kawasan situs kota Cina di Medan Marelan, pernah menjadi bagian terpenting dari terbentuknya kota modern di wilayah pantai Timur, Sumatera khususnya di daerah Medan Marelan.

Situ Kota Cina saat itu diprediksikan pernah menjadi bandar perniagaan kuno terpenting di Selat Malaka. Alhasil, lamban laun seiring dengan semakin banyaknya pedagang yang singgah di Medan Marelan, akhirnya terbentuklhan suatu perkotaan dagang.

Menurut Ichwan Azhari, dengan ditemukannya pecahan-pecahan keramik dan artefak lainnya telah memenuhis syarat adanya aktivitas dan sebuah kota di Medan Marelan. “ Memang di kawasan Asia Tenggara, kota itu berada di kawasan pantai, karena berkaitan dengan perdagangan,” kata Ichwan Azhari kepada Kover Magazine.

Jalur Perdangan Penting

Terbentuknya, situs kota Cina bias jadi karena geografis Medan Marelan yang merupakan tepian pantai menghadap ke Selat Malaka. Seperti diketahui, Selat Malaka cukup terkenal sebagai jalur lalu lintas perdagangan yang ramai dilalui pedagang di Asia Tenggara.

Hingga saat ini jalur Malaka, tetap menjadi denyut roda perekonomian perdangan di kawasan Asia. Bila dilihat dari letak geografisnya, posisisnya yang berhadapan langsung dengan selat Malaka yang memegang peranan penting sebagai ”jalur maritim sutra”. Selat Malaka menghubungkan Guang Chou (Asia), Arab (Timur Tengah) dan Mesir (Afrika).

Bahkan, Stanov Purnawibowo dari Balai Arkeologi Medan dalam situsnya menyebutkan Selat Malaka, sebagai Jalur Sutera Laut atau Jalur Sutera Kedua untuk memperdagangkan komoditas berasal dari berbagai wilayah di Nusantara, Cina, Eropa, India dan Timur Tengah.

Penemuan benda-benda kuno dari Cina ini, semakin menunjukan bahwa penguasa dan penduduk lokal di kawasan itu, telah melakukan kontak dagang dengan para pedagang dari negeri tirai bambu itu. Apalagi, melihat posisi Kota Cina yang berdampingan langsung dengan Selat Malaka sehingga memberikan efek, terhadap perkembangan kawasan di Medan Marelan.

Bahkan, arkeolog dari Perancis Daniel Perret yang saat ini terus melakukan penelitian keberadaa situs Cina menilai Situs Kota Cina sangat penting sebagai salah satu bandar perniagaan utama di Sumatera Timur selain Kota Rentang, Pulau Kampai, Tamiang, Samudra Pase, Jambi, Batu Sangkar dan lain-lain.

Dari penelitian telah mempertegas kembali peranan Situs Kota Cina dalam segitiga arkeologi di Sumatera Utara yang menghubungkan Barus, Portibi dan Kota Cina.

Berawal Temuan Orang Inggris

Situs Kota Cina di Kecamatan Medan Marelan, sejatinya ditemukan pertama kali oleh warga negara Inggris setelah abad ke-16 M, ketika hendak membuka perkebunan tembakau di Martabung. Sayangnya, ketika mereka mendatangi daerah ini, tidak satu pun manusia ditemukan lagi disana.

Yang ditemukan hanya pecahan benda-benda kuno dari Cina seperti tembikar, keramik, coin atau mata uang, gelas, brickstone Batubata berfragmen candi, archa, tulang belulang, atau bahkan sisa-sisa perahu tua. Sehingga, akhirnya warga Inggris tersebut menamakannya sebagai kota Cina.

Pada saat itu terdapat puluhan rumah tangga yang dikontrol oleh Sultan Deli di Labuhan. Kampung Terjun dan Hamparan Perak terletak hanya beberapa kilometer disebelah Barat dan disebelahnya terdapat Suku Duabelas Kota yang dikontrol oleh Kejuruan Hamparan Perak yakni seorang Melayu Karo

Namun, faktor yang menyebabkan tenggelamnya kota Cina, hingga saat ini belum diketahui secara pasti. Menurut Ichwan Azhari, banyak analisa mengenai penyebab tenggelamnya kota Cina. Salah satu penyebabnya, kemungkinan adanya penyerangan terhadap kampong Cina. Kemungkinan itu bisa terjadi, dengan melihat adanya patung yang patah saat ditemukan.

Penelitian keberadaan situs kota Cina di Marelan, dimulai pada 1972 yang dilakukan arkeolog berkebangsaan Inggris, yakni Edwards McKinnon dan telah menghasilkan sebuah tulisan dalam bentuk disertasi yang menggambarkan artifak peninggalan Kota China berupa keramik, tembikar, dan lain-lain. Selanjutnya, pada awal 1980-an, penelitian dilakukan arkeolog berkebangsaan Australia, Prancis, dan lain-lain

Rahasia keberadaan situs kota Cina, ini pun kini coba diungkap kembali melalui penelitian Arkeolog dari Perancis Daniel Perret dan para arkeolog dari Balai Arkeologi Medan, setelah menemukan ribuan pecahan benda-kuno di situs Kota Cina Medan Marelan setelah ekskavasi di situs itu sejak 28 April 2011.


Penelitian dan ekskavasi yang didanai oleh pemerintah Perancis melalui Lembaga Kajian Prancis untuk Asia (EFEO) sejak 28 April 2011 ini dilakukan untuk kembali menegaskan arti pentingnya Situs Kota Cina sebagai salah satu bandar perniagaan utama di Sumatera Timur pada abad 11.

Bila negeri lain saja peduli dengan keberadaan Situs Cina. Pemerintah memang sudah layak melestarikan Situs Kota Cina, karena sejarahnya sangat penting yang berkaitan dengan perkembangan Kota Medan.

Keiklasan Mengadopsi Ratusan Anak Pinggiran Rel


Berawal dari rasa prihatin dan terharu, hingga tak sadar air mata menetes, melihat dua orang anak pengamen sedang melahap sebuah nasi bungkus pinggir jalan di Medan, beberapa tahun silam. Hati Soramuli tersentuh untuk membantu anak-anak jalanan dan anak-anak dari keluaraga ekonomi bawah yang tinggal di sekitar pingiran Rel Kereta Api dan pinggiran sungai.

Dorongan itu semakin kuat, tak kala sepasang suami istri warga negara Belanda yang tak pernah dikenalnya datang menemuinya, menyampaikan adanya keinginan mereka untuk mendirikan panti asuhan bagi anak-anak jalanan.

Tak lama membantu keinginan pasutri itu. Sora demikian panggilan akrabnya memilih, untuk jalan sendiri. Sora kemudian membuat program Pusat Pelayanan Anak (PPA). Dari program ini sudah sekitar 300 anak dari keluarga prasejahtera yang tinggal dipinggiran Rel Kreta Api diadobsinya.

Dibantu dengan tim relawan, anak-anak ini bisa mendapat asupan gizi yang cukup, layanan kesehatan dan pendidikan yang lebih layak di sebuah sekolah benama Teleta Kum dibawah naungan Yayasan Peduli Karakter Bangsa (YPKB) yang didirikannya di kawasan Jalan Pabrik Tenun.

Anak-anak yang diadobsinya itu, sebelumnya merupakan korban tindak kekerasan dalam rumahtangga, memiliki prilaku buruk, jauh dari kebersihaan dan pelayanan kesehatan karena persoalan himpitan ekonomi orangtuanya.

Namun visi ibu tiga anak ini begitu kuat untuk memutuskan ratai kemiskinan bagi masyarakat prasejahtera, dijalani dengan penuh kesabaran. Lewat bimbingan, prilaku buruk anak-anak itu akhirnya bisa diubahnya.

“Anak-anak disini walaupun mereka miskin, kita didik untuk punya karakter, bertanggungjawab, disiplin dan saling mengasihi sesama dan mereka akhirnya mengalami perubahan. Karena perubahan itu banyak anak-anak dari ekonomi tidak miskin, ingin bersekolah disini,” kata Soramuli awal Mei lalu di ruang kerjanya.

Membina Ibu-ibu

Tak hanya kepada bidang pendidikan anak-anak diperhatikanya. Soramauli, turut memberikan pembinaan ibu-ibu dari ekonomi prasejahtera melalui program Pusat Pelayanan Ibu dan Anak (PPIA).

Ibu-ibu ini umumnya bekerja sebagai pembatu rumah tangga, pemulung dan lainnya untuk membantu pendapatan suami mereka. Sejak program ini berjalan, sekitar 100 ibu-ibu menjalani pembinaan karakter mulai dari pembinaan sosial, emosi, ekonomi dan spritual.

Sora berharap dengan pembinaan karakter, persoalan kemiskinan dan tekanan ekonomi tidak membuat mereka harus putus asa, kehilangan harahapan dan gampang menyerah dengan keadaan.

“Kita selalu memberi harapan kepada mereka, paling tidak anak-anak mereka bisa mengubah kondisi mereka lebih baik kedepannya. Kita selalu bilang, tidak selamanya mereka menjadi orang miskin,” ujarnya.

Melihat kondisi ekonomi mereka yang serba sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Sora pun mendirikan sebuah Koperasi Sembako. Di koperasi ini, para ibu-ibu bisa membeli kebutuhan pokok dengan hanya mencicil.

Bagi ibu-ibu yang masih memiliki anak usia balita, Sora memberikan asupan gizi, salah satunya dengan pemberian susu kotak secara gratis. Perkembangan dan kesehatan anak-anak itu juga terus dipantau.

Sora juga turut mencarikan jalan untuk bisa meningkatkan pendapatan dan ekonomi keluarga mereka. Caranya, Sora membuat program pemberdayaan keluarga dengan memberikan pelatihan seperti jahit menjahit, membuat tahu-tempe, susu kedelai dan kerajinan lainnya.

“Saya juga sedang berusaha bisa menjalin kerjasama dengan pihak perusahaan lain yang saat ini sedang membutuhkan tenaga kerja yang bisa kita berikan kepada mereka,” paparnya.

Membantu masyarakat ekonomi pra sejahtera memberikan kepuasan dan kebahagian bagi dirinya. “Walaupun belum lengkap saya kerjakan. Saya ingin berkarya untuk Indonesia. Disini saya punya visi untuk memutuskan rantai kemiskinan,” katanya.

Tantangan Berbuah Kebahagiaan

Berbagai tantangan sudah dilalui dalam perjalanannya membantu memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak dari keluarga kurang mampu. Ketika memberikan pendidikan bagi anak-anak yang tinggal dikolong Jembatan jalan Ir Juanda beberapa tahun lalu. Istri Ezron Purba ini, pernah mengontrak sebuah rumah sederhana disulap sebagai sekolah di pinggiran sungai Deli itu.

Namun, sekolah itu tidak bertahan lama. Adanya proyek pembangunan disekitar jembatan itu, membuat dirinya terpaksa menutup sekolah itu. Sora pun kemudian memindahkan sekolah itu di sekitar pinggiran rel jalan Ayahanda Medan.

Letih berpindah-pindah. Sora berpikir membangun sekolah sendiri. Dia akhirnya memutuskan menggadaikan sebuah rumahnya di Bank, untuk membeli sebidang tanah di Jalan Surau Gg Cikditiro, di kawasan Pabrik Tenun. Keputusan itu mendapat dukungan dari suaminya.

Di tanah ini lah dia mulai merintis membangung sebuah sekolah bernama Talita Kum, untuk Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar (SD) bagi anak masyarakat prasejahtera. Kini anak-anak prasejahtera akhirnya bisa mewujudkan mimpi menjadi orang sukses. Tak heran bila, sebahagian besar masyarakat dibawah pingiran rel Kereta Api dan di bantaran sungai, begitu mengenal sosoknya.

Bahkan, keiklasan hatinya itu membuat sejumlah lembaga, instansi dari sejumlah negara asing yang peduli dengan anak, peberdayaan ekonomi masyarakat prasejahtrera berdatangan menawarkan kerjasama dan bantuan kepada Yayasannya.

Uluran tangan dari negara asing itu sebelumnya tak pernah terbayangkan olehnya. “Pada hal, saya gak pernah sekalipun mengajukan proposal kepada mereka, mereka tahunya sendiri dari mulut ke mulut. Saya sama sekali tidak pernah kenal mereka,” paparnya.

Sejumlah lembaga yang datang ada dari kampus di Singapura memberikan mesin jahit, Germany Help dari Jerman membatu pembangunan gedung sekolah Talita Kum dan bantuan lainnya seperti dari Compassion International dari Amerika Serikat serta Hope From Australia.

Namun dia tidak memunafikan, uluran tangan dari lembaga asing serta bantuan para relawan yang bekerja keras bersamanya, membuat dirinya tetap eksis dalam menjalankan visi untuk memutuskan rantai kemiskinan hingga saat ini.
“Dengan saya membantu mereka. Saya merasakan kebahagiaan,” tuturnya.

Sunday, 21 August 2011

Lions Club Buka Puasa Bersama Tuna Netra di Hotel Candi


Lions Club Medan Prima bekerjasama dengan pihak Manajemen Hotel Candi menggelar acara berbuka puasa bersama, dengan mengundang 37 Keluarga Tuna Netra dari Yayasan Harapan Netra Mandiri di Hotel Candi, Jalan Darussalam, Medan, Rabu (17/8).

Dalam acara itu, para penderita Tuna Netra turut menerima bantuan paket Lebaran, berupa Sembako, yang isinya terdiri dari beras, minyak goreng, gula pasir, sirup, kurma, susu milo dari Lions Club Medan Prima. Sementara Manajemen Hotel Candi menyediakan fasilitas, tempat dan hidangan berbuka.

“Kami berharap melalui kegiatan ini, bisa meringankan kebutuhan mereka dalam menjalankan ibadah Puasa dan merayakan Lebaran. Dari survey yang kita lakukan sebelumnya, kehidupan mereka sangat memprihatinkan karena diantara mereka ada suami dan istri yang buta dan memiliki anak,” sebut Sri Hartati, Presiden Lions Club Medan Prima.

Direktur Hotel Candi Dodi Sutanto BA,M.Sc turut hadir dalam acara itu. Dodi Sutanto mengatakan keikut sertaan Hotel Candi dalam kegiatan sosial itu, sebagai bentuk perhatian manajemen Hotel Candi kepada masyarakat kota Medan yang membutuhkan bantuan dalam menjalankan ibadah Puasa dan merayakan Lebaran.

“Keberadaan hotel kita disini bukan hanya untuk berorentasi bisnis, tetapi kita juga bisa memberikan kontribusi bagi masyakat yang memerlukan bantuan. Kedepannya kita juga akan memberikan kontribusi bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan,” ungkap Dodi Sutanto.

Monday, 15 August 2011

Peluang Bisnis EO Kid's Party


Setiap orang tua pasti mempunyai keinginan memberikan suatu hadiah, berbagai kejutan pada perayaan hari ulang tahun anak, dengan suasana gembira dan meriah.

Namun, akibat kesibukan akan rutinitas dan pekerjaan, banyak orangtua bingung dan khuatir karena tidak memiliki cukup waktu dalam melakukan perencanaan yang matang untuk acara ulang tahun anak.

Menjawab kebingungan dan kekhutiran para orang tua di kota Medan dalam membuat acara ulang tahun anak itu lah, Hompimpa Kid’s Party Organizer hadir membantu kalangan orangtua yang menginginkan pesta ulang tahun anak dirayakan lebih hidup, meriah dan gembira, sesuai dengan konsep apa yang diinginkan.

Unit usaha group PROCOMM Corporate Event Organizer beralamat di Jalan Sei Serayu Nomor 7-H, Komplek Grand Setia Budi ini, resmi berjalan sejak 28 November 2010 lalu. Telah banyak menggelar acara ulang tahun anak-anak di Medan yang dikemas mereka, baik diadakan di Sekolah, di rumah maupun Out door.

Keuntungan diperoleh menggunakan Hompimpa Kid’s Party Organizer ini, sebagai EO perayaan ulang tahun, para orangtua tidak perlu lagi sibuk, mulai dari persiapan, dekorasi, isi acara dan sebagainya. Orangtua cukup menyampaikan tema yang diingin dalam acara ulang tahun.

Kita siap membantu para orangtua yang sangat sibuk, yang memiliki keinginan membuat acara ulangtahun anaknya dengan meriah. Orangtua tidak usah pusing lagi, tinggal bilang tema apa yang kita buat,” kata Yulie Dinalia Permata Siregar, Pimpinan Hompimpa Kid’s Party Organizer.


Untuk memeriahkan perayaan ulang tahun anak, sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan, Hompimpa menawarkan sejumlah Paket Party dengan harga bervariasi dan cukup terjangkau, tentunya bagi masyarakat ekonomi menengah ke atas.

Paket yang ditawarkan mulai dari Paket Murah Ceria Rp 3,5 juta hingga Paket Party Complete senilai Rp 9 Juta. “Semua kita yang urusi mulai dari mulai acara sampai selesai acara,” kata Yulie yang akrab disapa dengan panggilan Bebby ini.

Meski tarif paket bervariasi, pihaknya akan tetap membuat suasana pesta ulang tahun anak anak lebih hidup melalui hiasan dekorasi, pernak-pernik, kemeriah dari games, hadiah serta kehadiran badut Pim-Pim dan Pom-Pom yang merupakan mascot Hompimpa Kid’s Party Organizer.

“Anak-anak sangat identik dengan hadiah, Hadia memberikan mereka surprise dan kegembiraan,” kata istri Pimpinan PROCOMM Corporate Event Organizer, Sofyan Nasution ini.

Berawal dari Undangan Ultah

Ide mendirikan Hompimpa Kid’s Party Organizer oeh Bebby berawal dari menghadiri undangan pesta ulang tahun teman anaknya Nasya Amira Nasution yang dirasakan kurang hidup dan sangat monoton.

Selain itu, selama ini Bebby hanya melihat, banyak orangtua hanya memilih restoran makanan cepat saji di Medan sebagai tempat untuk mendapatkan kemeriahaan dan hiburan peryaan pesta ulang tahun anak-anak.

Melihat kondisi itu Bebby pun terinspirasi menyediakan jasa membuat suasana ulang tahun anak-anak menjadi hidup, meriah dan mengembirakan. “Itu membuat saya ingin membuat usaha ini. Pasti ada yang memerlukan jasa ini. Saya nyakin pasti ada,” tutur Bebby.

Tekadnya untuk mewujudkan Hompimpa Kid’s Party Organizer pun semakin bulat, melihat suaminya yang juga bergerakdi Event Organizer. Sehingga langkahnya pun tidak menghadapi banyak tantangan, karena berbagai peralatan dan perlengkapan event serta personil bisa digunakannya, bila ada orderan ulang tahun datang kepadanya.

Sunday, 14 August 2011

Pewaris Sukses Supermarket Macan Group




Tahun 2011 ini merupakan tahun yang penuh berkah bagi Bobby Leong. Di tengah usianya yang masih tergolong muda, 35 tahun sebagai CEO & Marketing Director di Macan Group. Ia, berhasil menaikan brand Macan Yaohan Supermarket dan mini market ‘Macan Mart’ dengan menerima dua anugerah Award.

Award yang diterimanya membuktikan kemampuannya mengelola Mancan Group sebagai pusat belanja lokal di kota Medan, telah terbukti mampu memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggannya, di tengah gencarnya serangan Ritel pendatang baru di Medan.

Buktinya, hanya berselang satu bulan Macan Gorup menerima “International Business & Company Award 2011” dalam kategori ‘Best Company of Year’ dari International Achievement Foundation pada 29 April 2011 lalu.

Bahkan usaha dari warisan orang tuanya Hardie Leong sebagai pendiri Macan Yaohan Supermarket sejak tahun 1985 silam, jumlahnya semakin menggurita di Medan. Konsumen bisa memilih lokasi seperti di Medan Mall, Pulau Brayan, Jalan Merak Jingga, Jalan Iskandar Muda, Jalan Aksara, Brigjen Katamso dan Sukaramai.

Tidak hanya dalam kemampuan bersaing dengan ritel-ritel raksasa. Satu bulan kemudian pada 18 Mei 2011, Managing Director Card Connection Sumut ini juga dianugrahi Service Excellece Awards 20011 dari Hermawan Kartajaya, Guru Pemasaran Dunia dari Indonesia.

Hermawan Kartajaya mengacungkan jempol kepada Macan Group menjadi salah satu pemenang yang memiliki skor tertinggi di Medan dalam katregori supermarket. “Dalam riset dari segi pelayanan yang khusus dilakukan di Medan, kita mendapatkan Top Branding mencapai 98 persen. Hampir semua warga Medan mengenal Macan Yaohan,” kata Bobby Leong.

Menurut Bobby penghargaan itu diperoleh karena komitmen Macan Gorup dalam memberikan pelayanan terbaik dan memuaskan kepada konsumen. Baginya, pelayanan lah yang dicari konsumen ketika mengunjungi pusat perbelanjaan.

Sebab itu dalam peningkatan pelayanan kepada pelanggan, Ia selalu memberikan training kepada sekitar 800 karyawannya. Ayah dua putra ini akhirnya memilih take line “Sahabat Sejati, Setia Melayani” dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan dan konsumennya.

“Kita melayani konsumen bukan sebagai raja, namun sebagai teman, karena dengan kita menjadikan sebagai teman, kita melayani dengan sepenuh hati,” ujarnya.

Selalu Manjakan Pelanggan

Sebagai bentuk komitmen melayani konsumen dan menjaga harga-harga setiap produk tetap terjangkau. Lulusan S1 Canterbury Business School dari University of Kent at Canterbury dan S2 dari Inggris ini, juga memberikan nilai tambah kepada pelanggannya.

Nilai tambah diberikan mulai dari pemberian diskon produk, pemberian reward untuk mendapatkan hadiah kepada pelanggannya yang berbelanja konsumen. “Kita juga memberikan kartu diskon kepada member karena bias mendapatkan hadiah atau voucher,” paparnya.

Tidak itu saja, Ia juga rajin menyampaikan informasi seputar harga dan produk-produk di Macan Yaohan Supermarket kepada pelanggannya melalui social media yang dikirimkan melalui SMS, Facebook dan Twiter.

Pegang Pesan Orang Tua

Namun, sebagai CEO & Marketing Director Macan Group, pesan yang disampaikan ayahnya Hardie Leong meminta kepada dirinya agar mempertahankan perusahaan Macan Gorup menjadi pegangan dalam memimpin perusahaan.

Untungnya, orangtuanya begitu memberikan kepercayaan, Macan Group bisa berkembang ditangannya. “Pesan orang tua, arus menjaga perusahaan ini tetap maju, bertahan, karena 800 karyawan yang bekerja disini, yang keberadaan mereka sangat dibutuhkan oleh keluarga mereka,” tandasnya.

Kepercayaan itu diberikan karena Bobby sudah terlihat memiliki bakat bisnis. Ketika masih kuliah di Inggris, Bobby sering menyampaikan ide-ide kepada orang tuanya berupa membentuk divisi-divisi berguna untuk mengembangkan perusahan. Ide itu selalu disampaikannya saat pulang liburan ke Medan.

Maklum, kala itu Bobby melihat ayahnya mengelolah Macan Group masih secara tradisional. Saat itu divisi-divisi seperti marketing, Informasi Tekhologi (IT) belum ada. Dari sini lah, dia terfikir untuk membantu orangtuanya untuk lebih mengembang Macan Group. “Sebagai anak saya beruntung, apa yang saya terapkan, bapak bisa terima ayah selalu menerima ide yang mau saya terapkan,” ujarnya.

Sang ayah pun memberikan kepercayaan kepada dirinya sebagai seorang Project Manager ketika masih berusia 24 tahun. Tak disia-siakan, Ia secara berlahan mulai menciptakan divisi marketing, divisi IT, membuat promosi dan melakukan pendekatan kepada konsumen dan pelanggannya.

Bahkan, kini Ia telah mulai mengembangkan mini market di Medan bernama ‘Macan Mart’ yang kini telah berjumlah 9 buah di kota Medan dengan sistim bagi hasil.

Wednesday, 10 August 2011

Dosen Sukses dari Kopi 32 Rasa Buah



Berawal dari bincang-bincang bersama teman yang kebetulan maniak kopi di salah satu cafe di Jakarta, pada Oktober tahun 2005 lalu, Ia tertarik merintis berbisnis waralaba teh rasa buah dan kopi khas Medan. Dengan ketekunan, perempuan lulusan sarja teknik dan master sains ini, akhirnya sukses mengembangkan usahanya. Kini omzet diperolehnya Rp 200juta per bulan.

Tapi perjuangan dosen STT Harapan Medan ini, menunju kesuksesan bukan lah mudah. Didorong jenuh menduduki berbagai posisi di sejumlah perusahaan, Yanty Faradillah akhirnya mutuskan mendirikan usaha sendiri dengan nama CV Sukses Group berlokasi di Jalan AR. Hakim-Mulia No 1 dan Jalan AR. Hakim No 117 pada April 2005 lalu.

Toh, saat itu belum ada peluang usaha yang mantap dilihatnya. Yanthy saat itu masih hanya punya satu keinginan buat perusahaan semata. Hingga pertemuannya bersama dua temannya di salah satu cafe blok S , Jakarta sekitar Oktober 2005, memberikan inspirasi membuka usaha kopi. Sejak dari pertemuan itu Ia pun mulai bergerak, dari mencari pasar dan kemasan terlebih dahulu.

Usahanya mencari pasar dan kemasan yang tepat diakui bukan lah hal yang muda dalam merintis usaha. Namun, Ia tidak mundur. Berbagai ide yang ada di kepalanya, terus dicoba. Pertama ia mulai mendatangi salah seorang teman yang terbiasa ke Arab Saudi, meminta tolong untu membawa kopinya ke Arab.

Tak sampai disitu saja, dia mencari orang yang tau tentang penjualan kopi di modren market dan tradisional market. Merasa kepercayaan diri berbisnis semakin mantap. Ia mulai mewujudkan dengan menyediakan modal awal Rp 60juta yang diperoleh dari tabungannya dan pinjaman dari orang tuanya. ”Dari hasil pengamatan saya, semua orang suka teh dan kopi, itulah yang menjadi dasar saya membuka usaha ini,” terangnya.

Tak hanya mengolah kopi asal Sidikalang semata, dia juga memproduksi teh dari Pematang Siantar. Hingga pada tahun 2008, Ia kemudian mencoba membuat formula teh aneka rasa buah. Untuk tahap awal, hasil racikan itu mulai dijual di daerah sumber Universitas Sumatera Utara (USU), Medan. Ternyata respon mahasiswa membeli minuman teh dengan aneka rasa buah sangat antusias.

Sejak itulah dia terus mengembangkan teh aneka rasa buah . Hingga akhirnya, sudah mencapai 32 rasa buah yang di jual. Kopi dan teh itu dituang dalam kemasan paper cup dan plastik cup. Cup itu kemudian diberi brand Men United (MU). Agar konsumen mengingat produknya, Ia menuliskan Teh 16 Rasa Buah dan Kopi Khas Medan di cup plastik kopi dengan brand MU. Di cup itu juga ada tulisan: Kopi Sidikalang Khas Medan, Horas Medan.

Memperluas Brand

Sukses, merintis teh rasa buah, Yanty mulai memperluas brand Teh dan Kopi MU Khas Medan. Salah satu cara dengan, mengajak orang menjadi entrepreneur, untuk menciptakan lapangan pekerjaan yaitu dengan waralaba.

Dengan hanya modal Rp 6 juta ia memberikan fasilitas outlet, kelengkapan,bahan awal jualan dan cara membuat. ”Kita sudah menyediakan semuanya, mitra hanya mencari lokasi strategis dan kami siapkan semuanya,” terangnya.

Untuk memperluas Brand itu, Ia mendirikan pabrik di kawasan Jalan Delitua KM, 14 Deliserdang. Di pabrik ini lah perempuan lusan S2 di USU jurusan Manajemen dan S2 di Universitas Diponegoro (UNDIP) jurusan Sistem Informasi membuat outlet dan berbagai kelengkapan penjualan Teh dan Kopi MU Khas Medan untuk mitra usahanya.

Pernah Ketipu Kline dan Teman

Namun perjalanan bisnis pemilik gelar ST, MSi, MSI dan SpB ini, bukan tak pernah mengalami jatuh bangun. Yanty pernah ditipu klien dan temannya sendiri. Akibat peristiwa itu, usahanya pernah nyaris mati suri karena sampai mengalami kehabisan modal.

Kondisi itu hampir membuat dirinya menyerah dan tidak mempercayai siapapun. Meski pun demikian, Ia berusaha bangkit dari keterpurukan. Melihat sisa-sisa produk dan apa yang dirintis dari awal memerlukan uang, waktu dan pikiran memberinya dorongan untuk tidak menyerah dalam keadaan. ”Pengorbanan yang banyak membuat saya harus tetap optimis,” tuturnya.

Ia mulai mendapat motivasi dari membaca buku, share dan ikut seminar. Ia pun mulai menanamkan prinsip pantang menyerah. ”Malu pada diri sendiri jika menjadi pecundang membuat saya harus bangkit dan mampu mengejar impian saya,” tambahnya.

Secara berlahan, usahanya pun kini mengalami perkembangan cukup signifikan. Hingga saat ini jumlah outletnya turus meningkat dan telah menyebar di seluruh Indonesia dari Aceh sampai Papua, dengan jumlah 42 outlet. Bahkan, dirinya memiliki impan ada mitra yang menjual teh dan kopi MU Khas Medan disetiap kota, kabupaten dan desa, hingga mempunyai outlet di luar negeri

Salah satu itu yang mendorong karena prinsipnya yang memegang enam motto dalam menjalankan bisnisnya.
“Kami bukan hanya menjual kopi tetapi menjual kualitas, inovasi, kejujuran, tanggung jawab, professional dan kepuasan pelanggan,” tandasnya.

Medan Juga Punya Film






Pembuatan Film mengisahkan kehidupan budaya dan masyarakat lokal , belakangan ini semakin menggeliat di kota Medan. Sejumlah film baru dalam waktu dekat ini bakal bermunculan, mewarnai dunia perfilman . Keberadaannya mulai mendapat sambutan positif dari masyarakat kota Medan khususnya dan masyarakat Sumatera Utara (Sumut) pada umumnya, ditengah kondisi perfilman kita yang sangat dirasakan minim mengangkat budaya lokal dan fakta kondisi pergeseran kehidupan budaya masyarakat saat ini.

"Sumatera Utara ini sangat kaya akan budaya. Sangat potensial untuk diangkat dalam bentuk film," kata H Amsyal salah satu penggiat perfilman di kota Medan dalam sebuah perbincangan, tiga pekan lalu.

Sebuah film menceritakan keberadaan perkampungan masyarakat asal Bali, yang sudah cukup lama berada di Kabupaten Langkat akan digarapnya dalam waktu dekat ini. Hunting lokasi pun sudah dilaksanakan awal Juli lalu. “Film ini sepenuhnya di kerjakan oleh Widy Production,” kata Amsya.


Baru-baru ini sebuah film berbahasa Batak berjudul Anak Sasada, diluncurkan Costellazione Produksi digarap oleh Sutradara Pontyanus Gea dengan Produser Emilia Sarumaha dan Penulis Skenario Thompson HS. Film ini melukiskan realitas kondisi sosial dan ekonomi di sebuah pedesaan di Tapanuli.

Kisah ini mengejutkan sebahagian besar masyarakat etnis Tapanuli karena merasa bangga akan hadirnya film berbahasa Batak. Keseluruhan produksi Anak Sasada yang skenarionya ditulis budayawan Thompson HS ini memakan waktu 40 hari dengan mengambil lokasi syuting di Medan, Pantai Cermin, Bakkara, dan Balige. Pada 27 Juni lalu film ini diluncurkan dalam bentuk VCD sebanyak 50.000 set.

Film ini menceritakan kisah seorang anak bernama Sabungan. Status sebagai anak lelaki satu-satunya yang memiliki karakter manja, mebuat Ia kerap sesuka hati kepada orang tuanya tanpa memperdulikan kondisi kesulitan ekonomi orang tuanya. Ayahnya yang sudah lama terbaring sakit, memaksa ibunya bekerja keras dibantu seorang adiknya perempuan diladang.

Sementara Sabungan setiap hari pekerjaanya hanya berjudi dan minum minuman keras di lapo (kedai) Tuak. hingga suatu ketika dia memaksa hendak menjual ulos untuk membayar hutang-hutangnya. Namun, sang Ibu menolak keinginannya itu. Hingga akhirnya terjadi tarik menarik yang membuatIbunya menangis hingga memancing kedatangan seorang tetangganya yang prihatin melihat prilaku sabungan kepada Ibunya.


Pontyanus Gea sebagai sutradara cakap mengarahkan aktor dan aktris. Meski berbekal ilmu sinemotografi dari Italia, ini bukan pekerjaan mudah baginya. Sebab tak semua pemain berdarah Batak Toba. Sebagian pemain berdarah Batak Toba pun, dalam pengamatan saya di lokasi syuting, terlihat kesulitan mengucapkan dialog. Kesulitan bahasa ini dipecahkan dengan menggandeng seorang Batakolog, Manguji Nababan, sebagai penyelaras bahasa.

Film Titipan Mata


Film tentang pekerja media terbilang tak sedikit. Baik genre drama maupun action menempatkan para pekerja di posisi terhormat. Mereka – jurnalis, fotografer, editor – hadir sebagai jagoan. Dengan segala strategi mereka mengungkap fakta dan tampil sempurna sebagai musuh yang dibenci para pelaku kriminal.

Pekerja media memang profesi sexy bagi kreator film dan seniman. Pengarang komik superhero juga memilih profesi ini sebagai penyamaran sang pahlawan. Tengoklah Clark Kent si alterego Superman atau Peter Parker yang berubah menjadi Spiderman. Saat di angkat ke layar lebar keaslian profesi ini tetap dipertahankan.

Sineas film independen Medan pun tertarik mengangkat kisah pekerja media ke dalam ruang kreatifitas. Salah satunya adalah Andi Hutagalung. Melalui Titipan Mata ia menegaskan peran penting pekerja media. Terutama dalam menempatkan masyarakat pada posisi sebagai pemilik keputusan tertinggi di lingkungan tempat mereka tinggal.

Film produksi Umatic Studio ini mengisahkan idealisme seorang fotografer bernama Lamhot. Ia menyuarakan kondisi sosial di depan mata melalui kamera. Sayang, pilihan idealisme ini tak sejalan dengan Samsir, pemimpin redaksi majalah tempatnya bekerja, yang oportunis.

Jepretan Lamhot yang mengabadikan eksploitasi anak jalanan ditolak Samsir. Sikap Samsir dilawan Lamhot dengan keluar dari perusahaan. Ia memilih menjadi fotografer lepas.Pasca hengkang dari majalah, Lamhot menuju Bukitlawang. Perjalanan ini semula untuk berburu foto melengkapi koleksi yang akan ia pamerkan. Namun, sesampai di Bukitlawang ia menjumpai kondisi tragis. Masyarakat di daerah tersebut menjual hutan mereka kepada pengusaha yang berencana mengalihfungsikan hutan.

Lamhot memprovokasi masyarakat menolak keinginan sang pengusaha. Ia menuliskan berita tentang kondisi tersebut dan meminta Hotner, jurnalis rekannya, menyiarkan di media. Perlawanan antek-antek pengusaha mesti dihadapi Lamhot. Beruntung, ia didukung Alam, Bangun, dan beberapa warga Bukitlawang melewati ancaman dengan mulus. Misi di Bukitlawang sukses diikuti kesuksesan pameran fotonya. Produksi : Umatic Studio / Sutradara : Andi Hutagalung / Produser : Eric Murdianto / Penulis Skenario : Wendy Darmawan dan Rizkan Jania MN / Durasi : 30 menit.

Tuesday, 9 August 2011

Mobil Layanan Internet Masuk Kecamatan


Mobil layanan internet akan segera masuk di sejumlah kecamatan, di Sumatera Utara, menyusul Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprovsu) baru mendapat bantuan sebanyak 96 unit Mobile Pusat Layanan Internet Kecamatan (M-PLIK) dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo.


Secara simbolis ke 96 unit M-PLIK tersebut, diterima Plt Gubernur Sumatera Utara melalui Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kadis Kominfo) Provinsi Sumatera Utara, Dr H Asren Nasution pada acara "Lounching secara Nasional" di Gedung Sate, Kantor Gubernur Jawa Barat, Jln Diponegoro Bandung, 10 Agustus lalu.
Selain Sumut, propinsi lain yang menerima mobile layanan internet juga Gubernur Jawa Barat (Jabar), Jawa Timur (Jatim), Sumatera Barat (Sumbar), Sulawesi Utara (Sulut), dan Maluku Utara.

Mantan Kepala Penerangan Kodam I/BB ini lewat mobile pusat layanan internet kecamatan akan teratasi kesenjangan informasi yang diterima masyarakat di pusat, daerah, kota dan pedesaan. "Harapan kita, anak-anak yang sekolah di pedesaan akan menerima informasi yang sama. Targetnya, pengetahuan anak-anak yang tinggal di desa dan kota bisa sama," ujarnya.

Peluncuran M-PLIK merupakan salah satu program Kementerian Komunikasi dan Informatika dalam menjalankan tugas dan fungsi penyelenggaraan di bidang komunikasi dan informatika melalui penyediaan akses internet yang sehat, aman, cepat dan murah.

Dimana M-PLIK bersifat bergerak dan merupakan amanat Pasal 5 Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 48/2009 tentang Penyediaan Jasa Akses Internet di Wilayah Pelayanan Universal Telekomunikasi Internet Kecamatan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 19/ 2010.

Sarana dan perangkat pendukung di M-PLIK terdiri 1 unit kendaraan roda empat dilengkapi satu unit komputer sebagai server dan perangkat pendukung lainnya. Pengelolaan M-PLIK nantinya dilakukan pemerintah daerah (Pemda) bekerjasama dengan penyedia jasa.

Dimana diharapkan masyarakat dapat terbantu dalam mengakses informasi dan ilmu pengetahuan. Berikutnya mengurangi kesenjangan digital dan informasi. Apalagi, informasi menunjang kegiatan perekonomian, memantapkan pertahanan dan keamanan negara. Tak kalah pentingnya, informasi mampu mencerdaskan kehidupan bangsa dan pemenuhan komitmen Indonesia dalam World Summit on Information Society.

Program tersebut, juga merupakan upaya Kemenkominfo mengurangi kesenjangan sarana telekomunikasi dan pemerataan akses telekomunikasi bagi masyarakat dalam rangka transformasi menuju era masyarakat informatif terutama bagi daerah yang belum terlayani akses informasi. Coki

Friday, 5 August 2011

Wajah Mazda CX-5 Dipasarkan Tahun 2012


Perusahaan Mobil Mazda masa depan telah dirancang sebagai versi preview dari model CX berikutnya sehingga fakta bahwa model produksi disebut CX-5 tidak boleh terlalu mengkhawatirkan penggemar Mazda.

Mazda CX-5 akan menjadi model ketiga di CX line-up, di sebelah CX-7 dan CX-9, dan tepat akan menjadi yang terkecil. Ini akan membuat debut dunianya pada bulan September di Frankfurt Motor Show 2011.

CX-5 akan menjadi kendaraan produksi pertama untuk menggabungkan tema desain baru Mazda, "Kodo - Soul of Motion” yang terungkap dengan konsep Shinari. SUV masa depan akan menggunakan berbagai teknologi terobosan SKYACTIV, termasuk mesin - baik diesel dan bensin, transmisi, tubuh, dan chassis.

Mazda CX-5 akan dijual di seluruh dunia pada tahun 2012. Namun, buku pesanan untuk crossover CX-5 baru akan terbuka di September, sementara pengiriman pertama akan dilakukan Maret tahun depan. Model baru ini akan hadir dengan harga mulai sekitar £ 21,000 ($ 35,000 dengan kurs saat ini) dan akan mengambil model seperti Volkswagen Tiguan dan Ford Kuga.

Thursday, 4 August 2011

Makan di dalam Toilet Restoran



Sebuah restoran di Taiwan bernama Toilet Modern Restaurant membuat sensasi dan memancing banyak perhatian, karena seluruh perlengakapan di dalam restoran itu menggunakan perlengkapan yang sering digunakan di dalam toilet yang sering digunakan untuk mandi hingga buang kotoran.

Namun pihak pengelola restoran itu malah menyulap toilet tempat untuk makan-makan. Coba bayangkan dulu, seandainya kita dinner di toilet, sanggupkah? Buktinya, banyak orang yang menikmati makan-makan di toilet satu ini.

Tempatnya dibuat seperti kamar mandi yang cukup besar. Di dalam ruang ini terdapat banyak tempat duduk berbentuk sanitario atau toilet duduk. Kemudian terdapat meja ukuran besar berbentuk bak mandi, dengan sebuah tutup yang dibuat dari kaca.

Orang-orang yang masuk ke tempat ini dengan santainya menikmati hidangan-hidangan sambil duduk di sanitario. Sambil asik mengobrol dengan teman atau rekan kerjanya, mereka menikmati hidangan yang diletakkan di atas bak mandi.

Piring-piring berbentuk tutup sanitario atau tutup toilet duduk pada umumnya, ada juga beberapa mangkok yang berbentuk toilet jongkok.Inilah gambaran sebuah restaurant yang berada di Taiwan dengan model yang sangat unik.

Restauran yang dibuat dengan mencampurkan alam pikiran manusia, dan tempat pembuangan kotoran manusia. Seandainya anda, apakah anda sanggup makan di restaurant dengan bangunan seperti toilet? Apa yang ada dalam pikiran anda di saat menyantap makanan di tempat seperti ini?

Untuk tissue adalah sengaja disediakan gulungan tissue yang biasa digunakan di toilet. Sedangkan berbagai hidangan, dan menu-menu dessert, sengaja dibikin seperti kotoran manusia, apalagi tempat untuk menghidangkan makananpun berbentuk toilet kayak begini.

“Ide ini adalah untuk menguji indra”, kata manajer Toilet Modern Restaurant Chen Ming Kuang. Setiap pelanggan duduk di akrilik model toilet tutup bawah, yang dirancang dengan gambar bunga, kerang, atau lukisan.

Nama-nama untuk menu makanan juga unik. Dengan membaca menu-menu saja, otak kita dibawa ke alam yang menjijikkan. Sebut saja diarrhea with dried droppings (chocolate), bloody poop (strawberry), green dysentery (kiwi). Hidangan utama termasuk kari, ayam goreng, dan Mongolia hot plate. Cara menghidangkan saus atau kari, yaitu dengan cara diteteskan dari mini toilet. Sedang untuk minum dihidangkan dengan tempat urinoir.

Ide ini sebenarnya diperoleh dari sebuah film kartun robot Jepang yaitu Jichiwawa. Jichiwawa ini suka sekali bermain kotoran. Akhirnya Wang Zi Wei, seorang ex bankir memberanikan diri untuk membuat restaurant bergaya toilet. Awalnya Wang menjual es berbentuk gumpalan kotoran manusia yang dijual dengan beralaskan tissue gulungan untuk toilet. Karena sangat digemari, akhirnya terus berkembang.

Wang membuka Toilet Modern Restaurant pada tahun 2004, kemudian membuka jaringan di berbagai tempat. Di Taiwan sendiri ada 7 outlet, di Hongkong ada 1 outlet, dan di Shenzhen Cina ada 1 outlet. Rencana untuk kota-kota lain di Cina, Makau, Kuala Lumpur, Malaysia juga sedang berjalan. Dinner di toilet, siapa takut?

Wednesday, 3 August 2011

Spy Shot: Bukti Kehadiran Baby CLS


Sudah membaca laporan di themercedeslounge.com sebelumnya yang mengisahkan tentang Baby CLS yang dipergoki sedang berada di lahan pabrik Mercedes-Benz di Hungaria? Dan sekarang kami akan melaporkan cerita lanjutan sebagai bukti bahwa Mercedes-Benz benar-benar sedang menggarap model terbarunya.

Model dengan kode C117 ini diprediksi bakal menjadi Mercedes-Benz CLS versi kompak yang sama-sama mengusung pakem coupe empat pintu dan diharapkan sudah akan masuk ke pasaran di 2013. New CLC dibuat dengan menggunakan versi panjang platform untuk A-Class dan B-Class. Platform ini mumpuni untuk mengadopsi baik system front-wheel drive ataupun all-wheel drive. Dan rumornya, varian paling powerfull, AMG, akan menggunakan system penggerak semua roda agar tenaganya tersalurkan dengan sempurna.

Model dimaksud bakal dipasarkan dengan pilihan penghasil daya bensin 1.6 liter turbocharger yang ditawarkan dalam 2 versi: 121 hp dan 154 hp. Sementara untuk Eropa, model ini akan ditambahkan dengan mesin diesel yang juga jadir dalam dua pilihan: 107 hp dan 134 hp. Menurut gossip, Mercedes-Benz juga akan menawarkan versi AMG dengan pilihan tenaga antara 300 – 340 hp.

Sedapnya Gurami Goreng di Lembur Kuring


Julukan Medan sebagai Kota Kuliner ternyata sangat sesuai. Di ibu kota provinsi Sumatera Utara ini, berbagai jenis atau aneka citarasa makanan tersedia dimana-mana. Tinggal, pilih, pingin masakan West, Chines Food atau Indonesia Food, semua tersedia.

Namun, bila pingin menikmati masakan tradisi Indonesia khas Jawa dan Sunda, restoran Lembur Kuring merupakan salah satu pilihan alternatif yang bisa dikunjungi. Rasa masakannya sudah disesuaikan dengan lidah orang Medan yang cukup terkenal dengan suka rasa pedas.

Restauran yang berdiri sejak tahun 1990 lalu ini, sudah banyak memikat hati warga Medan, sehingga membuat restauran ini menjadi tempat pilihan acara makanan bersama dengan rekan sekerja, relasi bisnis dan keluarga.

“Itu karena kami terus berusaha memberikan citarasa dan pelayanan terbaik kepada setiap pengunjung,” kata Susantono Tanadi pemilik Restauran Lembur Kuring kepada Medan Look.

Wajar bila, restauran terletak di Jalan Tengku Amir Hamzah, sekitar perumahan Griya Riatur Indah ini, menjadi restauran pilihan. Di saat weekend dan hari libur tiba, meja yang tersedia hingga padat penuh terisi.

Lembur Kuring juga menjadi pilihan sebagai tempat untuk menggelar acara seperti meeting, wedding, perayaan ulang tahun dan event lainnya, karena kapasitas gedung yang berdiri diatas areal 1,5 hektar ini, berdaya tampung 2500 orang.

Salah satu faktor yang memikat orang ramai berkunjung ke restoran ini karena memiliki sejumlah menu andalan seperti seperti ikan gurami goreng, gurami panggang, udang galah goreng dan kepeting saos cabe, yang sudah banyak diakui masyarakat Medan.

“Gurami goreng sudah merupakan menu utama bagi setiap pengunjung di restauran ini,” kata Susantono Tanadi. Namun, bila ingin rasa yang lain masih banyak pilihan lain yang citarasanya tidak kalah.

Kelezetan masakan tersedia dapat dinikmati dengan harga terjangkau dan bervariasi mulai dari harga termurah Rp 9.000 hingga Rp 100.000 setiap item, , plus dapat menikmati fasilitas lainnya secara gratis seperti Wi-Fie dan fasiltas permainan anak-anak yang berada disisi restauran.

Suasana restauran ini begitu nyaman karena atmosfir ruangan yang identik dengan nuansa pedesaan, menyerupai pendopo diwarnai interior kayu, dibarengi suara gemercik air dari kolam ikan yang berada di dalamnya sertai dengan alunan suara gamelan, alat musik khas Sunda.Coki

Bowling Tak Hanya Lanjut Usia


Siang itu, jarum jam saya masih menunjukan pukul 14.20 Wib. Namun, susana di Perisai Super Bowl terletak di lantai 8, Perisai Plaza, Jalan Pemuda, Jumat awal Mei lalu, sudah berangsur-angsur ramai dikunjungi para pencita olahraga bowling dari berbagai usia.

Diujung sebelah kanan landasan bowling, Indry (16) terlihat begitu memegang erat bola bowling yang diletakannya dibawah dagunya. Tatapan matanya begitu tajam mengarah pada deretan PIN putih dihadapannya.

Dengan mengatur teknik sedemikian rupa dan menghembuskan nafas, Indry pun kemudian mengayunkan tangannya dan menggelindingkan bola. Hasilnya, dia pun berhasil menjatuhkan seluruh PIN. “Saya harus latihan setiap hari, untuk mengikuti pertandingan antar pelajar se-Asia di Bangkok. Kemudian menghadapi PON,” katanya kepada Medan Look.

Diusianya masih belia, siswi kelas II SMA Negeri 1 Medan bernama lengkap Aldila Indryati ini, sudah mengenal bowling sejak kelas 6 SD. Sampai saat ini, bowling sudah menjadi olahraga favoritnya. Kepiawainya menggelindingkan bola bowling dan menjatuhkan PIN, membuat dirinya menjadi salah satu atlet junior andalan Sumut.

Selain Indri, ada dua rekannya yakni Imam Wiguna dan Kartika Wahyu Putri yang akan diutus mewakili Sumut di Bangkok dan PON 2012 nanti. Sebelum mereka, sudah banyak anak muda namanya merangkak naik dari cabang olahraga ini karena mendapatkan prestasi. Itu lantaran Persatuan Bowling Indonesia (PBI) Sumatera Utara (Sumut) sedang melirik kaula muda sebagai potensi untuk dijadikan atlet berbakat.

Cara ini dianggap bisa merubah image bowling bukan lagi hanya olahraga bagi kalangan usia dewasa ke atas saja. Sebab itu, PBI Sumut lebih memilih fokus kepada usia muda “Kita ingin adanya generasi penerus,” kata Ketua PBI Sumut Singgih Gunawan.

Dari usaha untuk mengubah image bowling cabang olahraga disemua usia itu, Singgih mengaku melihat adanya kemajuan.
“Saat ini sudah terlihat adanya pergeseran. Anggapan bowling olahraga orang tua sudah tidak lagi. Saya mau orang muda bilang, bowling adalah olahraganya,” tutur Singgih.


Menurutnya, animo masyarakat kota Medan terhadap bowling sudah mengalami peningkatan. Itu terlihat dari, meningkatnya kunjungan ke sarana bowling bagi pendatang baru yang ingin mencoba mengenal bowling. Yang menjadi masalah, minimnya sarana bowling di Medan. “Akhirnya, kalau ada peminat-peminat baru jadi tidak tertampung,” ujarnya.

Alasan itu memang benar. Diakui, Medan masih memiliki dua sasana bowling yakni terletak di Perisai Plaza dan Yuki Simpang Raya Jalan SM Raja. Itu pun masih dikelolah pihak swasta sampai saat ini dengan tarif sekitar Rp 10 ribu per gamenya.

Belum lagi usaha untuk ‘mencuci’ pikiran publik, dari anggapan bowling adalah olahraga komersil yang hanya cocok bagi kalangan masyarakat ekonomi menengah ke atas. Pada hal, saat ini tercatat sudah 120 orang aktif tergabung di PBI Sumut.

Singgih menilai, masyarakat Medan masih lebih beruntung. Bila dibanding dengan bermain bowling di luar Medan, tarifnya cukup mahal. Di Jakarta sendiri seperti di Plaza Indonesia, untuk satu game dipatok biaya Rp50 ribu. Namun, bagi yang serius kata Singgih, akan diberikan kemudahan. “Kalau ada pemain punya semangat dan kemampuan, bowling centre juga tidak menutup mata,” paparnya.

Meski telah lama tetapkan secara resmi sebagai salah satu cabang olahraga dibawah KONI, persoalan lain dihadapi para pengembangan bowling centre, sampai saat ini, bowling sampai saat ini masih masuk dalam kategori hiburan yang izinnya dikeluarkan Dinas Budaya dan Pariwisata dan pajaknya cukup tinggi.

Ironis memang, pada hal keberadaan bowling di Medan, sebenarnya sudah lama berada. Seingat Singgih, pertama kali, bowling berada di Hotel Danau Toba Internasional (HDTI) sekitar tahun 1972. Kemudian menyusul di Taman Ria (saat ini Plaza Medan Fair) Jalan Gatot Subroto.

Sayangnya, kedua sasana bowling ini tidak bertahan lama. Untungnya, sekitar tahun 1996 Super Bowl hadir di Perisai Plaza. Kemudian, sasana bowling di Yuki Simpang Raya hadir, menambah pilihan tempat bagi pencinta bowling. Tampaknya, dukungan terhadap bowling dari seluruh pihak sangat diperlukan. Apalagi, melalui cabang olahraga ini, nama Sumut telah diharumkan dari bowling.


Prestasi Harumkan Sumut

Ditengah kondisi masih minimnya perhatian terhadap olahraga bowling. Berbagai prestasi untuk Sumut telah terukir disini. Dari berbagai event baik di tingkat PON maupun event lainnya, tak jarang para pebowling asal Sumut mendapatkan mendali.

Bahkan, saat ini PBI Sumut akan mengutus 3 atlet junior yakni atlet putra Imam Wiguna dan dua atlet putri Indry dan Kartika Wahyu Putri yang akan bergabung dengan atlet Indonesia pada pertandingan bowling antar pelajar se-Asia yang akan diadakan di Bangkok. Ketiga atlet junior ini juga nantinya mewakili Sumut di PON yang diadakan di Pekanbaru pada tahun 2012 mendatang. Coki

Tuesday, 2 August 2011

Modifikasi Jeep CJ7 Ala Andar Perdana















Sebagai seorang pecinta otomotif, memodifikasi mobil sudah pasti hobi yang menyenangkan. Tak heran bila, ditangan para pecinta otomotif, mobil yang semulanya kondisinya sudah usang dan tidak berharga lagi, bisa menjadi sebuah mobil yang indah dan bernilai cukup tinggi.

Hal ini lah dilakukan Andar Perdana W, terhadap sebuah mobil Jeep CJ7 bekas kendaraan dinas di TNI AD yang dibelinya dari sebuah pelelangan di Korem, ketika dia masih bertugas di Ngawi, Jawa Timur, pada tahun 2006 lalu.


Kecintaanya begitu tinggi terhadap Jeep CJ7 itu. Membuat mobil buatan dari Pabrik AMC Jeep di Amerika Serikat ini, kini banyak dilirik penggemar mobil Jeep di kota Medan karena penampilannya yang gagah dan jantan.

Wajar bila, pria asal Arema Malang ini begitu bangga dengan Jeepnya dan begitu sangat menikmati kegagahan mobil ini. Warna Lemon Yellow dipadu warna hitam menimbulkan kesan Nice Looking, sehingga menjadi perhatian ketika melintas di jalanan. (Kunjungi: www.dealer-jeep.com)

Meski dimodifikasi, Andar mengaku tetap menjaga betul ke khasan mobil Jeepnya agar tidak jauh dari keaslian. Andar pun tak mau sembarangan mengganti kostum di mobilnya dengan menambah accesoris lainnya. “Saya khuatir nantinya hasilnya akan menimbulkan kesan norak,” tuturnya.
Jawa-Sumatera

Sejarah perjalan modifikasi dilakukan penggemar aliran musik Blues ini ternyata cukup panjang. Karena kondisi pekerjaannya sering berpindah-pindah tugas, alhasil penyempurnaan dilakukan tidak cukup pada satu bengkel saja. (Lihat daftar harga mobil Jeep bekas dan baru:www.olx.co.id | www.carmudi.co.id | www.autocarprices.com)

Sejumlah bengkel dari Pulau Jawa hingga Sumatera sudah dilaluinya. Pertama kali, Andar melakukan body repair dan pergantian warna, ketika bertugas di Ngawi, Jawa Timur. Sementara pergantian mesin asli dengan Rugger Daihatsu dilakukan di Jambi. Andar juga melakukan test keamanan mesin dengan mengemudi Jeepnya dari Jambi sampai ke Jakarta.

Sementara untuk perbaikan piranti kelistrikan di lakukannya di Jakarta. Terakhir begitu bertugas di Medan, dia memilih Medan sebagai tempat penyempurnaan terhadap mesin, rem, mengganti jok dengan jenis Recaro. Karena kegemaraanya melakukan touring dan adventure dia memilih mengganti sebagian komponen mobilnya yang dianggap lemah dengan komponen kendaraan merek lain, demi menjaga kemanaan dan kenyaman pada perjalanan cukup jauh.

Makanya, selama mobil berada di Bengkel, Andar mengaku tetap memantau. Itu dilakukannya bila ada waktu senggang, misalnya ketika jadwal makan siang dan hari libur. “Saya tidak lepas tangan. Jika ada waktu saya tongkrongi sampai selesai,” ujarnya.

Sudah pasti tidak sedikit uang yang dikeluarkan untuk Jeep kesayangannya ini. Namun, pendiri Club Offroad di Jatim ini mengaku ongkos modifikasi dan pergantian sejumlah property berasal dari isi sakunya yang sengaja disimpannya. “Pecinta Jeep hanya dua gendangnya, orang kaya dan orang gila. Kalau saya orang gila,” kata pencinta otomotif ini sambil tertawa saat ditemui मदनलुक abu, pertengahan bulan Mei lalu.

Untungnya, hobinya ini mendapat dukungan dari istri dan anaknya. Bahkan, hobinya ini kini telah menular ke keluarganya, sehingga anak dan istrinya juga memberikan perhatian kepada mobil Jeepnya.

Mengidolakan Jeep


Diantara dua mobil lain yakni Suzuki Jimmy dan Daihatsu Taft yang parkir di rumahnya, Andar lebih mengidolakan mobil Jeepnya. Baginya Jeep CJ7 adalah Jeep yang sesungguhnya. Performance yang gagah, jantan dan kekhasannya sangat sempurna disebut sebagai mobil Jeep. Mobil diluar merek Jeep menurutnya, hanya mobil sekedar mirip sejeni Jeep CJ7 saja, tidak asli Jeep 100 persen .

Kecintaanya dan rasa saying pada mobil ini membuat dia tidak mau meminjamkan mobilnya sembarangan kepada orang lain. Bila ada orang lain yang ingin mencoba mengemudikan mobilnya, dia harus mendampinginya. Hal tersebut juga tidak jauh beda dilakukan di keluarganya. “Anak saya saja jika ingin memakainya harus dapat izin dulu dari saya,” paparnya.

Kelebihan Jeep menurutnya, karena onderdilnya lebih gampang dicari, tenaga cukup, hemat bahan bakar dan lebih tahan air. Selain itu, yang lebih istimewa baginya, penampilannya jika dibawa pada acara resmi cukup elegant.

Mobil ini juga pernah dibawanya ber adventure ke kaki gunung Bromo dan gunung Semeru. Sementara selama bertugas di Medan, selain digunakan sebagai kendaraan ke kantor, mobil ini pernah dikemudikannya ke Prapat dan Berastagi saat berlibur. “Saya punya cita-cita bersama keluarga, naik Jeep dari Medan ke Malang,” tutur pengemar sepeda motor Harley Davidson ini.

Berbagai kesan yang dialaminya sejak memiliki mobil Jeep CJ7 ini. Seorang Dandrem pernah menyampaikan keinginan untuk memilikinya kembali karena terkesan melihat mobil Jeepnya yang dahulunya kumal kini berpenampilan gagah dan jantan.

Ketika di Jakarta, sekelompok turis asing meminta foto bareng bersamanya dengan background mobilnya, usai melihat mobilnya itu. Bahkan, mobilnya pernah ditawari Rp 270 juta. Namun tawaran itu ditolaknya. “Saya tidak akan pernah jual dengan bayaran berapa pun,” tegasnya.Coki

Asyiknya, Menikmati Danau Toba dari Udara



Jika anda ingin mewujudkan keinginan untuk bisa terbang di angkasa dan menikmati pemandangan alam bebas dari ketinggian. Tak salah bila anda sebaiknya mencoba olahraga ini.

Olahraga yang memanfaatkan kekuatan angin dan panas bumi ini, dapat membuat anda melayang di angkasa dan merasakan desiran angin dalam kesunyian di angkasa, dan menikmati keindahaan alam yang luar biasa.


Bagi anda yang tertarik dan ingin mengikuti olahraga ini, anda bisa mencoba mengikuti jejak para pencinta olahraga Paraglinding di Medan tergabung dalam Langkupa Paragliding Club.

Para pencinta olahraga dirgantara yang tergabung dalam organisasi yang terbentuk 10 Agustus 2009 lalu, kini telah beranggotakan sebanyak 16 orang. Diantara club-club Paragliding yang ada di Medan saat ini. Mereka diantaranya yang sering terlihat terbang melayang dan beratraksi di atas udara kawasan objek wisata Danau Toba.

Berbagai alasan mengapa mereka memilih berkecimpung di olahraga yang dinilai cukup menantang dan beresiko ini. Alasan, yang banyak diperoleh Kover Magazine, dengan terbang mereka dapat menikmati keindahan alam dari angkasa layaknya terbang seperti burung.

Olahraga ini menantang, tidak semua orang bisa melakukannya walaupun banyak uang. Kalau sekali terbang dan begitu mencoba lagi, pasti ketagihan,” kata Muhamad Chalik salah satu pengurus Langkupa Paragliding Club yang mulai mengenal olahraga ini tahun 2006, saat terlibata sebagai Panitia di event Lake Toba Eco Tourism Sport II lalu.


Hal serupa juga disampaikan Nico Aries Putra yang telah mengenal Paragliding awal tahun 2003 usai menamatkan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Padang, Sumatera Barat (Sumbar) dari abangnya seorang anggota TNI Angkatan Udara (AU). “ Saya sangat suka, lain dari yang lain,” tuturnya.

Sebagai salah satu cabang olahraga dirgantara, sudah pasti resiko yang dihadapi cukup besar. Makanya, olahraga ini sangat menuntut keberanian dan nyali sesorang. Tidak itu saja, kesehatan fisik terutama berhubungan dengan jantung sangat dipertimbangkan.

“Olahraga ini sangat dituntut nyali, tidak cukup dari segi materi semata,” kata Amri, Ketua Langkupa Paragliding Club kepada Medan Look akhir Mei lalu.

Untuk terbang, harus dilakukan di perbukitan sebagai tempat lepas landas yang ketinggiannya mencapai ratusan meter dari permukaan laut atau danau untuk bisa mendapatkan angin dan tenaga panas bumi yang dimanfati sebagai sumber daya angkat, agar parasut dapat melayang dan terbang.

Karena di Medan tidak ada perbukitan, para penggiat Paraglinding ini lebih sering melakukannya di perbukitan sekitar kawasan Danau Toba, mulai Bukit Siholakkosa dengan ketinggian ± 570 M, Bukit Sigaruntung ± 250 M di Kabupaten Samosir. Perbukitan di Parmonangan, Aji Bata, Kabupaten Tobasa dan di Kabupaten Karo seperti pucak Sipiso-piso, air terjun Bukit Nauli dan Taman Simalem Resort.

Resiko pun kini tidak begitu mengkhuatirkan lagi bagi mereka. Menurut Amri, dengan mengikuti dan taat kepada peraturan, resiko akan minim terjadi. “Apa pun jenis olahraganya pasti memiliki resiko. Jika benar kita lakukan akan meminimalisasi resiko,” ujarnya.

Ini lah membedakan olahraga udara ini berbeda dengan olahraga lainnya. Namun, setelah diberada diatas, rasa ketakutan semuanya akan terbayar dengan indahnya pemandangan alam. “Untuk melihat alam hanya dua, satu dari dasar lau, satu lagi dari udara,” tuturnya dengan tersenyum.

Kembangkan Paraglinding dan Pariwista

Sejak terbentuk, Langkupa Paragliding Club ingin mengembangkan olahraga Paraglinding dan objek pariwisata. Sejak dua tahun belakangan ini mereka berusaha merubah image Paraglinding dari opini olahgraga mahal.

Alasanya, olahraga ini lebih mengutamakan keberanian dan nyali dari pada materi. Sehingga sebesar apapun materi yang dimiliki tanpa ada nyali, tidak bisa mengikuti olahraga ini.

Untuk pengembangan Paraglinding di masyarakat umum, club ini terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat luas. “Kami juga memberikan pelatihan Paraglinding kepada masyarakat di sekitar daerah Danau Toba, untuk bisa meningkatkan kunjungan wisatawan,” kata Amri.

Kegiatan terbang mereka selama di kawasan Danau Toba yang mereka lakukan itu pun mendapat sambutan hangat dari Camat Aji Bata. “Menurut pak Camat kegiatan kami menambah kunjungan wisatawan,” tambahnya.

Sosialisasi juga pernah dilakukan kepada kalangan Pramuka saat mengikuti Jambore Daerah Sumatera Utara di Taman Perkemahan Sibolangit, Deli Serdang . Club ini juga bersedia melakukan pelatihan tanpa dipungut biaya bagi masyarakat Medan yang ingin mengenal olahraga ini dengan serius.

Selain itu pernah menggelar kejuaraan nasional di Tongging pada Juni 2009 lalu yang diikuti sekitar 100 peserta dari 8 Propinsin yakni Aceh, Sumut, Riau, Padang, Lampung, Jatim, Jabar, Palu dan Kalimantan. (Coki)

Peran Pembantu Hingga Sutradara Film


Sering dibawa almarhum ayahnya menghadiri undangan pertunjukan pementasan dan teater seni dan budaya sejak kecil, mendorongnya lebih mengenal bidang teater. Hingga akhirnya dia mengungkapkan kecintaan teradap seni lewat film.

Berbicara dengan H Amsyal, pasti yang dibahas tak jauh-jauh bicara seputar seni, budaya dan film. Pria murah senyum ini sudah cukup lama menekuni bidang Production House, Broadcasting Product, Entertaiment dan Multi Media, yang didirikan dengan nama PT Widy Production pada tahun 2006 lalu।

Bang Amsyal begitu nama panggilan akrabnya, cukup dikenal kalangan seniman karena aktivitasnya lebih fokus dalam pengembagangan perfilman mengangkat seni dan budaya masyarakat lokal di Sumatera Utara. Maka, tak heran sosok suami Hj Farida Hanum Gani ini lebih dikenal dari sisi profesinya sebagai seorang insan perfilman dari pada orang dalam di PT Pertamina Regional I Sumatera.

Ada saja ide yang ditemukannya, untuk bisa dituangkannya dalam sebuah film. “Semua saya lakukan karena saya tidak bisa hidup tanpa seni,” ungkap Amsyal kepada MedanLook, di sebuah Café di Hotel Danau Toba minggu ketiga Juli lalu.

Sebuah film menceritakan keberadaan perkampungan masyarakat asal Bali, yang sudah cukup lama berada di Kabupaten Langkat akan digarapnya dalam waktu dekat ini. Hunting lokasi pun sudah dilaksanakan awal Juli lalu. “Film ini sepenuhnya di kerjakan oleh Widy Production,” kata Amsyal.

Keterarikanya akan mengangkat Kampung Bali berada di Kabupaten Langkat itu dalam layar lebar, melihat keunikan ketika mengunjungi kampung ini beberapa waktu lalu. Masyarakat yang dijumpai Amsyal masih berkomunikasi dengan bahasa Bali.

Bahkan nuansa adat Bali begitu kental terlihat dari pakaian yang digunakan hingga interior rumah hampir yang lengkap dengan Puranya, joglo, teras, pagar dan asoseris lainnya. Hari raya besar Hindu seperti Hari Nyepi, Hari Waisak bagi pemeluk agama Budha, diperingati dengan kesenian Bali. “Kita seakan seperti berada di Bali,” ujarnya.

Semangatnya mengangkat seni dan budaya dalam film memang patut diberikan apresiasi. Ditengah usianya sudah mencapai setengah abad, ditambah lagi kesibukan bekerja sebagai Asisten K3L di PT Pertamina Regional I Sumatera di Medan ini, masih tetap semangat dalam memproduksi film.

Sejumlah film dan sinetron sudah pernah diproduksinya. Sebahagian diantaranya pernah menghiasi layar TVRI. Kegiatan perfilman sudah mulai ditekuninya sejak tahun 1993 lalu. Pernah sebagai sinematografi seperti “Siapa Menuai Badai” pada tahun 2009 yang ditayangkan di TVRI.

Sinetron “Anak Siampuan” sebanyak 13 episode di TVRI , “Calon Bupati” pada tahun 2010. Kemudian, pernah menjadi Pelatih dan Ketua Dewan Juri Festival Fim Anak (FFA) Tahun 2010 lalu.

Ada lagi, Film Profil yang berjudul “ Simalungun Dari Biji Sawit Sampai Danau Toba”. Tak hanya film, sejumlah pembuatan iklan juga digarapnya diantaranya Iklan Layanan Masyarakat H.Samsyul Arifin, SE sebagai Calon Gubsu pada 2008 yang di tayangkan di Stasiun TVRI. Film Pesona “ Wisata Kabupaten Langkat ‘, Film Profile ”Kota Medan 314 Tahun“.

Ketika terjadi bencana tsunami di Aceh dan gempa bumi di Nias beberapa tahun lalu, Anggota Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) Sumatera Utara ini, pernah kebanjiran order dari beberapa rekannya untuk pembuatan Film Dekomenter.

Untungnya kecintaanya kepada seni bisa dijalaninya salah satu karena perusahaan tempatnya bekerja memberikan dukungan terhadap kegiatannya yang berhubungan dengan pengembangan kegiatan seni dan budaya.

Tak jarang, setiap proyek pembuatan film, dia merangkul sejumlah wartawan Media Cetak terbitan Medan, Reporter atau Cameraman TV Swasta Nasional dan para Seniman Teater. “Untung saja saya kerja, sehingga kecintaan saya terhadap seni dan penggarapan pembuatan film, masih bisa jalan,” kata mantan jurnalis ini.

Perjuangan mendirikan rumah produksi bukanlah instant. Ketika remaja dia ingin melanjut ke Sekolah Menegah Atas (SMA) untuk bisa mendalami seni dan budaya. Namun, permintaan itu ditentang ayahnya almarhum Abdul Rahman Chaniago. Sang ayah menginginkannya melanjut ke Sekolah Teknik Menengah (STM) dengan alasan lebih memiliki masa depan, mengikuti jejak ayah bekerja di Pertamina.

Akhirnya dia pun melanjut pendidikan ke STM Negeri 3 Medan. Dari sinilah bakat mengenal dan belajar seni teater mulai berkembang. Hampir sering dia mampir ke Taman Budaya, yang jaraknya tidak jauuh dari sekolahnya, hingga akhirnya dia diterima bergabung di Teater Shakuntala Medan jadi peran pembantu pada 1974.

Berbagai tantangan dapat dilaluinya karena dia memegang prinsip dalam hidupnya.

“Sebuah karya besar tak akan terwujud jika tidak diawali dengan sesuatu yang kecil. Makanya pekerjaan sekecil apapun jika dilakukan dengan kesungguhan dan ketekunan akan menjadi sebuah awal bagi terwujudnya karya besar,”


papar pria kelahiran Makasar ini hingga saat ini dia bisa menyutradarai beberapa pementasan dan pembuatan sinetron.Coki

Bertemu di Dunia Maya, Berkumpul di Kereta Api


Stasiun Kereta Api Besar Medan tak asing lagi bagi warga Medan. Namun belum tentu semua ngeh jika disebut Dipo Lokomotif Medan. Terletak di utara Stasiun Besar, di tempat inilah lokomotif milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) Divisi Regional (Divre) 1 Sumut diperbaiki dan dipersiapkan sebelum beroperasi.

Awal Juni lalu saya berkunjung ke sana untuk pertama kali. Saya datang bukan untuk melihat proses perbaikan dan persiapan lokomotif. Akan tetapi, untuk menemui sekumpulan anak-anak muda Medan pencinta kereta api yang tergabung dalam Divre 1 RailFans.

“Hobi ini hobi aneh. Kegemaran kok sama kereta api?,” ucap Gregory Widya tertawa saat menyambut kedatangan saya. Ia lantas mengajak saya berbincang di atas bekas tangki air yang setengah badannya tertanam di tanah. Kami duduk selonjoran tanpa alas. Sesekali klakson kereta api menyusup di antara perbincangan.

Di depan kami bangunan loos besar terbuka. Beberapa lokomotif parkir di sana. Sebagian tengah dalam tahap perbaikan ringan. Menurut Gregory, Dipo Lokomotif Medan menangani perbaikan ringan. Sedangkan untuk perbaikan berat dilakukan di Balai Yasa, Pulo Brayan.“Lokomotif seri BB seperti BB 302 dan 303 di Indonesia hanya ada di Sumut,” sebut Gregory bangga.

BB menandakan jumlah roda lokomotif. Selain BB, ada AA dan CC. Jumlah roda menjadi ukuran kekuatan lokomotif menarik beban gerbong dan penumpang. Sumut belum bisa mengoperasikan jenis CC karena jalur rel di Sumut belum memenuhi standar bagi lokomotif CC. Tak seperti seri BB yang menggunakan diesel hidrolik, seri CC menggunakan diesel elektrik.

“Jenis lokomotif disesuaikan dengan kekuatan rel,” jelas pegawai PT PLN Sumut ini. Seakan mengerti keingintahuan saya, ia menambahkan bahwa Lokomotif BB yang beroperasi di Sumut diproduksi oleh pabrikan Henschel dan Krupp asal Jerman. Henschel memproduksi BB 302, 303, dan 306. Sedangkan BB 301 diproduksi Krupp.

Sekira 30 menit berbincang, teman-teman Gregory di Divre 1 RailFans datang bergabung bersama kami. Mereka dari Pulo Brayan melihat kereta api Sri Lelawangsa yang anjlok sebelum mencapai stasiun. Satu di antara anggota Divre 1 RailFans yang dikenalkan Gregory adalah Riky Soeripno.

Gregory dan Riky Soeripno bergantian bercerita bagaimana komunitas mereka dibentuk. Mereka bertemu di satu halaman situs para pencinta kereta api, semboyan35. Dari perbincangan di dunia maya selama 6 bulan, mereka plus Rio Andika menggelar kopi darat pada Agustus 2009.

“Kami sama-sama tidak tahu dimana ada komunitas pencinta kereta api di Medan. Sampai akhirnya bertemu di semboyan35,” cerita Riky. Dari pertemuan tersebut mereka mencetuskan nama Divre 1 RailFans.

Keberadaan komunitas mereka kabarkan kepada teman masing-masing. Jejaring sosial facebook pun dimanfaatkan. Beberapa anggota mengetahui keberadaan Divre 1 RailFans melalui facebook. Mungkin karena kegiatan ini tergolong aneh seperti ucap Gregory di awal, belum banyak yang बेर्गाबुंग। “Sampai saat ini kami baru memiliki anggota sekitar 15 orang,” sebut Riky. Stasiun Besar, Dipo Lokomotif, dan Stasiun Pulo Brayan menjadi tempat mereka berkumpul.

Tak jarang naik kereta api sekadar jalan-jalan. Sampai di stasiun tujuan, berkeliling di sekitarannya, lalu kembali ke Medan. Beberapa kali pula mereka menelusuri jalur maupun stasiun kereta api yang telah ditutup dan mendokumentasikannya. Tahun depan mereka berencana mengeluarkan buku tentang sejarah kereta api di Sumut.

Di samping itu, Divre 1 RailFans tengah mengupayakan berafiliasi ke Indonesian Railway Preservation Society (IRPS). IRPS di banyak kota di Indonesia sejauh ini, jelas Gregory, sering dilibatkan dalam pengambilan kebijakan PT KAI. Aspirasi mereka didengar dan tak jarang suara mereka mengubah rencana PT KAI.

“Kereta api selain sebagai sarana transportasi juga sarana mendidik anak-anak,” ujar Gregory. Pegawai PT KAI Sumut, cerita Gregory, pernah menggelar acara naik kereta api bagi anak-anak SD. Mereka dibawa menuju Binjai. Di Binjai anak-anak tersebut mengikuti lomba menggambar dan mewarnai. Lalu kembali lagi ke Medan setelah kegiatan selesai. “Agar anak-anak tak melulu ke mall dan menjadi konsumtif.”

Saya mengiyakan ucapan Gregory dan ingin berbincang lebih lama bersama Divre 1 RailFans। Sayang, sore menjelang. Saya pamit meninggalkan Dipo Lokomotif dengan tanda tanya. Akankah jalur kereta api seperti Medan-Delitua dan Medan-Pancurbatu kembali dibuka sebagai satu solusi mengatasi kemacetan Medan yang kian parah. (Bono Emiry)

Dari Belanda Menelusur Sejarah Medan


Satu dari sedikit orang yang memiliki perhatian terhadap sejarah Medan adalah Dirk A Buiskool. Kegairahan menyingkap cerita lama Medan membuatnya meninggalkan negeri Belanda. Di kota ini ia telah menetap selama lebih dari 20 tahun. Rentang waktu tersebut digunakannya meneliti dengan spesialisasi Tionghoa Medan.

“Penelitian sejarah membutuhkan kekhususan. Spesialisasi. Dan saya memilih sejarah Tionghoa Medan sebagai subyek penelitian,” jelas Dirk kepada Medan Look. Perbincangan di Restoran Omlandia miliknya mengalir di antara semilir angin Namorambe dan hijau sekitar.

Dirk menuturkan, perjalanan pertamanya ke Indonesia terjadi tahun 1988. Tujuannya murni jalan-jalan yang didorong rasa penasaran. Banyak orang di negeri asalnya kerap bercerita tentang Indonesia termasuk Medan. “Orang Belanda akan tetap datang ke Indonesia dan Medan,” sebutnya pasti.

Banyak orang Belanda yang punya ikatan dengan Indonesia. Jumlahnya bahkan sampai ratusan ribu. Termasuk keluarga Dirk. Seorang paman dari pihak ayahnya pernah menjadi hakim di Padang, Sumatera Barat. Ikatan ini terkait dengan masa kolonialisme Belanda di Indonesia.

“Salah satu penulis dan esais Belanda, Rudy Kousbroek, lahir di Pematangsiantar. Ia sangat dikenal di Belanda,” ujar alumni Groningen State University, Groningen, Belanda ini.

Dirk kemudian beranjak menuju ruang kerjanya yang tak jauh dari tempat kami berbincang. Saat kembali, ia membawa setumpuk buku. Amir Hamzah Heimwee Gedichten ia perlihatkan. Buku ini berisi kumpulan puisi Amir Hamzah yang disusun Rudy Kousbroek bersama kritikus sastra A Teeuw.

Sejarah dan Buku
Kesempatan Dirk kembali ke Medan datang 2 tahun kemudian. Ia mengajukan proposal ke sebuah lembaga untuk mengajar di Medan. Lembaga tersebut menyetujui dan bersedia menjadi sponsor. Dirk lantas terbang meninggalkan kampung halaman. Ia mengajar mata kuliah Sejarah dan Pemikiran Eropa di Universitas Sumatera Utara (USU).

Layaknya sejarahwan, Dirk melakukan penelitian. Hasil penelitian kemudian ia bukukan. Buku pertama ia tulis tahun 1994 berjudul Tours Through Historical Medan and Its Surroundings. Buku ini memuat spot-spot wisata sejarah di Medan dan daerah sekitar Medan.

“Dari semua kota di Indonesia, Medan tergolong kota yang masih memiliki banyak bangunan bersejarah. Ini harus dilestarikan,” ucapnya. Ia prihatin banyak bangunan sejarah yang dihancurkan karena alasan ekonomi. Padahal bangunan tua bisa dimanfaatkan secara ekonomi, misalnya café, restoran, dan toko.

Kegelisahan Dirk atas kondisi bangunan tua dan situs sejarah di Medan tak hanya ia sampaikan melalui buku atau tulisan. Seminar-seminar terkait bangunan sejarah kerap ia sambangi. Di sana ia bersuara. Meminta agar masyarakat Medan bersama pemerintah menaruh perhatian serius terhadap keberadaan saksi kota ini.

Tahun 1999 Dirk menerbitkan buku kedua. De Reis van Harm Kamerlingh Onnes. Buku ini berisi perjalanan Harm Kamerlingh Onnes yang mengikut pamannya, Dolf Kamerlingh Onnes, ke Medan. Dolf bekerja sebagai rekanan Tjong A Fie dalam mengelola perkebunan tembakau.

Dikisahkan, Harm sering menulis surat kepada keluarganya di Belanda. Surat-suratnya tak hanya bercerita tentang perjalanan bersama sang paman, tapi suasana Medan saat itu. Harm juga menyertakan sketsa-sketsa – bangunan dan kehidupan sosial masyarakat Medan – dalam surat-suratnya.

“Keluarga Kamerlingh merupakan keluarga jenius. Paman Harm, abang Dolf, yang bernama Heike Kamerlingh Onnes seorang fisikawan peraih Hadiah Nobel. Ia berteman dekat dengan Albert Einstein,” tambah Dirk.

Tulisan-tulisan Dirk juga dimuat di beberapa buku. Seperti Medan Beeld van een Stad (1997), The Dutch Encounter With Asia 1600-1950 (2002), Kota Lama Kota Baru, Sejarah Kota-Kota di Indonesia (2005), dan Journal of The Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society (2009).

Dirk lantas memperlihatkan satu persatu buku-bukunya tersebut yang ia bawa bersama Amir Hamzah Heimwee Gedichten. Halaman demi halaman ia buka. Beberapa gambar dan tulisan ia jelaskan. Dari keseluruhan tulisan tampak bahwa Medan masa lalu sangat indah. Tak salah bila sebutan Parisj van Sumatra dulu dilekatkan pada kota ini.

“Tahun depan saya berencana meluncurkan buku tentang Tionghoa Medan,” buka Dirk. Buku ini merupakan hasil penelitiannya tentang kehidupan masyarakat dan tokoh-tokoh Tionghoa di Medan dari tahun 1890 sampai 1942.

Duet Bersama Sang Istri
Aktivitas mengajar dan meneliti tak sepenuhnya menyita waktu Dirk. Bersama istri, Diana Pardamean, ia menjalankan bisnis. Usaha pertama yang mereka dirikan adalah Tri Jaya Tour and Travel tahun 1991. Usaha ini tak lepas dari latar belakang pekerjaan Diana sebagai tour guide.

Diana lahir di Padangsidempuan pada 1962. Melewati masa kanak-kanak di Sibolga dan pindah ke Medan tahun 1968. Tahun 1980 ia memulai pekerjaannya sebagai tour guide. Dari seorang misionaris Belanda ia mempelajari bahasa Belanda. Akhirnya Diana juga menjadi guide bagi turis-turis Belanda.

Dari pekerjaan sebagai tour guide ini Diana berkenalan dengan Dirk. Mereka menikah dan dianugerahi 2 orang anak. “Anak tertua sekarang tinggal di Belanja,” ucap Dirk.

Sembilan tahun setelah membuka Tri Jaya Tour and Travel, mereka membuka bisnis penginapan dengan mendirikan Hotel Deli River. Penginapan keluarga ini berada satu kompleks dengan Tri Jaya Tour and Travel di Jalan Raya Namorambe No 129. Di kompleks itu pula kemudian mereka mendirikan Restoran Omlandia.

“Penelitian sejarah adalah penelitian tentang manusia. Meneliti manusia sangat menarik sebab setiap manusia unik,” ujar Dirk saat mengakhiri perbincangan. Waktu 2 jam berlalu tak terasa. Um… Berarti manusia Medan pun unik. Keunikan itu akan lebih berarti jika mereka kompak menjaga situs-situs sejarah di kotanya agar tetap lestari.(Bono Emiry)