Sunday, 25 September 2011

Setapak Bali di Bumi Langkat




Ingin menikmati suasana Bali, ternyata tidak harus berlibur sampai ke pulau Dewata itu. Kampung Bali berlokasi di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, bisa menjadi representatif, bagi yang ingin mengenal secara dekat kultur budaya masyarakat Bali yang tersohor hingga ke mancanegara.


Matahari belum beranjak hingga diatas kepala kami. Dengan mengendarai mobil Honda Jazz bersama seorang teman dari Jakarta, kami berangkat dari Kota Medan menuju Kampung Bali yang terletak di Kabupaten Langkat. Mendengar kampung ini, memancing rasa keingin tahuan kami. 

Nama kampung ini membayangkan saya akan eksotisnya Pulau Bali yang populer hingga ke dunia internasional karena keunikan tradisi, kebudayaan masyarakatnya dan keindahan alamnya. Bahkan, tak sedikit turis asing tinggal berlama-lama, untuk belajar budaya dan religus masyarakat Bali

Rasa ingin tahu itu lah, mendorong kami menujuh kampung Bali. Dari pengalaman saya pernah berkunjung ke Bali dan dari buku Kakawin Nagarakretagama yang pernah saya baca, sejarah budaya masyarakat Bali unik disimak karena pengaruh kebudayaan Jawa Hindu, di berbagai daerah di Bali jaman Majapahit dulu, menyebabkan ada dua bentuk masyarakat yaitu masyarakat Bali Aga dan Bali Majapahit. 

Dengan pasti, mobil langsung meluncur ke arah kabupaten Langkat dengan santai. Cerita nama Kabupaten ini cukup unik didengar. Kabarnya diambil dari nama sejenis pohon yang dikenal dengan sebutan pohon langkat. Konon, pohon langkat banyak tumbuh di sekitar Sungai Langkat tersebut. 

Namun jenis pohon ini sudah sulit ditemui. Kini hanya bisa ditemui di hutan pedalaman daerah Langkat. Pohon ini menyerupai pohon langsat, tetapi rasa buahnya pahit dan kelat. Oleh karena pusat kerajaan Langkat berada di sekitar Sungai Langkat, maka kerajaan ini akhirnya populer dengan nama Kerajaan Langkat.

Melewati Kota Stabat, akhirnya kami menemukan sebuah desa Paya Tusam Kecamatan Wampu. Sebuah plang bertuliskan menuju Kampung Bali membantu kami untuk menuju ke sana. Tak begitu sulit memang menemukan kampung ini, meski bila jarak dihitung dari Kota Stabat ke kampung ini, menempuh perjalanan lebih kurang 60 Km. 

Sayangnya, meski Pemkab Langkat telah menetapkan Kampung Bali sebagai Kampung Budaya, infrastruktur jalan disini masih kurang diperhatikan. Hanya sekitar 40 Km jalan yang masih beraspal. Sisanya, jalan tidak diaspal dan tak jarang terlihat berlubang sehingga membuat perjalan dengan mengendarai mobil jenis sedan, kurang nyaman. 

Dengan terpaksa kami beralih kendaraan dengan menumpang ojek untuk menghadiri resiko mobil rusak. Belum lagi untuk menuju ke kampung ini, harus ditembuh dengan menyebrangi sebuah sungai menggunakan gete atau rakit. 

Merasakan Berada di Bali

Meski perjalanan terasa begitu lelah. Namun, begitu kaki sudah mengijak kampung Bali, yang begitu asri dan Indah keletihan mulai terobati. Memandang kampung ini, perasaan merasa seperti berada di Pulau Bali. Hampir semua penduduk yang saya temui dari berbahasa hingga pakaian Bali. 

Sebahagian besar rumah penduduk disini dilengkapi Pure, Joglo dan pagar yang tidak berbeda dengan model rumah penduduk asli di pulau Dewata. Pemerintah Kabupaten Langkat telah menetapkan Kampung Bali menjadi salah satu objek wisata. 

Ada beberapa Pura seperti Alit Widhie Nata dan Pura panitaan Agung Jagat Widhi Nata yang sehari-harinya digunakan untuk kegiatan keagamaan bagi masyarakat Hindu Bali disini. Namun khusus untuk perayaan hari raya suci Galungan umat Hindu di Kampung Bali dipusatkan di Pura Penataran Agung yang berdiri megah tepat berada di tengah perkampungan. 

Jumlah penduduk yang mendiami Kampung Bali lebih kurang 70 Kepala RumahTangga dan sudah turun temurun hidup. Semula Penduduk kampung Bali ini Ex karyawan PTP II Tanjung Garbus Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang Sumut, pada Tahun 1974 lalu. Setelah habis kontrak, Pemerintah memberikan lokasi seluas 2 Hektar di desa Paya Tusam Kecamatan Sei Wampu, Langkat.

Menyaksikan keunikan Kampung Bali dan sejarah panjang keberadaan orang Bali di Langkat. Saya bersama teman Shaut Hutabarat seorang Script Editor yang dulunya bekerja di MNC Picture Jakarta, tertarik untuk mengangkat Kampung Bali ini nantinya dalam sebuah film. 

Jalan Menuju Kampung Bali
- Dari Medan ± 70 Km ke Langkat
- Melanjutkan perjalan ± 38 Km dari dari 
Desa Paya Tusam Kecamatan Wampu
- Dapat menggunakan kendaraan roda empat dan roda dua
- Kondisi Jalan sebahagian rusak
- Masih Menyeberang sungai menggunakan Gete atau Rakit

Tuesday, 20 September 2011

Kepuasan dari Misi Pemburuan


Mungkin tidak semua orang berani mengeluarkan uang jutaan hingga puluhan juta rupiah untuk sekedar memancing ikan. Namun, jika sudah jatuh cinta dengan hobi yang satu ini, persoalan biaya tidak menjadi hambatan demi mendapatkan kepuasan saat joran dilempar, strike dan ikan berukuran cukup besar berhasil diangkat.

Hobi ini lah membuat para pemancing mania di Medan tergabung dalam Medan Fishing Community (MFC), tak pernah merasa puas berburu berbagai jenis ikan yang dianggap menarik untuk dipancing baik di laut maupun di air tawar.

Sebenarnya agak sulit untuk bisa menemui mereka saat berkumpul bersama. Saat Kover Magazine berusaha menemui mereka sebahagian besar mereka saat itu sedang asyik berada di lautan dengan joran pancingnya.

“Teman-teman yang lain saat ini sedang mancing di Aceh, kalau saya akan mamancing ke Malaysia,” kata Edy Jaya, salah seorang mancing mania saat ditemui pada awal Mei lalu. Edy Jaya pun memang sudah punya agenda mancing tersendiri. Dia mengaku sudah enam kali memancing di negeri Jiran itu.

Sejak komunitas ini terbentuk sekitar tahun 2007 lalu, sampai saat ini mereka tak pernah henti mengarungi lautan. Sangkin hobinya, memburu ikan bukan hanya dilakukan di perairan Sumatera Utara (Sumut). Misi pemburuan dilakukan sampai ke perairan laut diluar wilayah Sumut, bahkan sampai memancing ikan di negara tetangga.

Sudah pasti begitu banyak biaya dikeluarkan mereka untuk hobi ini. Dari membeli peralatan pancing, ongkos menyewa kapal boat, operasional dan sebagainya. Mungkin bagi sebahagian orang muncul kesan dan pendapat, mereka seperti orang yang kurang kerjaan saja.

Namun, bagi mereka memancing merupakan hobi yang begitu dinikmati dan pengalaman begitu mengesankan sehingga tidak bisa tergantikan dengan uang. Dengan hobi ini mereka dapat menghilangkan kepenatan di pikiran dari aktifitas dan rutinitas kerja.

Menurut Edy Jaya, saat ini sudah sekitar 20 orang mancing mania bergabung di MFC. Mereka ada yang berasal dari kota Medan, Tebing Tinggi bahkan dari Aceh. Umumnya orang yang bergabung dengan komunitas ini adalah pengusaha.

Makanya, tak heran bila mereka tidak begitu mempersoalkan besar kecilnya dana yang dibutuhkan demi hobi yang sudah melekat cukup lama. “Yang didapat dari memancing adalah kepuasan,” tutur Edy Jaya.

Sejak wadah ini terbentuk, berbagai kegiatan memancing ikan bersama sering dilakukan, hingga sekitar tahun 2010 lalu. Paling sering dikunjungi adalah perairan laut Pantai Cermin, Deli Serdang dengan menggunakan kapal kayu.

Berbagai jenis ikan berukuran besar seperti ikan GT seberat 10-16 Kg sering didapat. Edy Jaya mengaku sampai saat ini dia baru berhasil memacing ikan GT seberat 29 Kg. Namun dia memilih mengembalikan ikan itu ke dalam laut.

Komunitas ini ternyata memiliki etika yang harus ditaati bersama. Bila mendapatkan ikan berukuran besar, wajib ikan itu harus dilepas kembali ke laut. Bila sekedar untuk dikomsumsi, bisa membawa ikan hasil pancingan yang ukurannya sesuai dengan kebutuhan.

Jika ada kedapatan diantara mereka membawa ikan ukuran cukup besar, ejekan pasti akan datang dari anggota lainnya. “Karena ikan itu juga termasuk ikan yang harus dilestarikan,” tuturnya. Ternyata, hobi ini juga menuntut kepedulian lingkungan.