Thursday, 15 December 2011

Komunitas Mio Automatic Club Medan


Ada pemandangan berbeda bila melihat areal parkiran Mesjid Raya, Jalan Sisingamangaraja, setiap Jumat malam. Belasan hingga puluhan sepeda motor Yamaha Mio kerap ngumpul disana. Jangan buruk sangka dahulu. Mereka bukan lah bagian dari geng motor. Namun, pecinta sepeda motor Yamaha Mio yang memiliki kreatifitas.

Sepeda motor ternyata bisa dijadikan sarana untuk berkreatifitas. Hal itu lah yang ditunjukan para pencinta sepeda motor Yamaha Mio di Medan, tergabung dalam Mio Automatic Club (MAC). “Kita ingin merangkul masyarakat dan pingin saling berbagi. Bukan seperti geng motor. Banyak tidak tahu membedakan mana geng motor dan yang tidak,” sebut Ardini Dwi Cahyanti, Sekretaris MAC.

Sejak resmi dideklarasikan pada 28 April 2006 lalu. MAC Medan kini berjumlah 50 orang anggota tetap dan lebih dari 100 orang simpatisan. Sepanjang perjalanan, MAC banyak melakukan kegiatan menyalurkan kreatifitas bagi pecinta mio di club ini. Kegiatan dibagi berdasarkan divisi yang dibentuk di club ini. Ada divisi modifikasi kontes, divisi touring dan divisi event.

Bagi gemar memodifikasi bisa menyalurkan kreatifitas ke divisi modifikasi kontes. Hasilnya, tidak sedikit prestasi yang sudah diraih. Dalam event Djarum Black pada tahun 2006 lalu misalnya, meraih juara satu, dua dan tiga. Satu tahun kemudian, meraih juara pertama kelas Matic Custom, juara pertama kelas Air Brush dan menjadi Best of The Best Club dalam event Black Moto Defive .

Untuk divisi touring, komunitas ini mengikuti touring akbar Medan-Sabang, Medan-Bali dengan tema “ Mio Menembus Langit” untuk menguji ketangguhan matic yang disponsori PT Alfa Scorpii, main dealer Yamaha Motor di Medan dan Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI) pada tahun 2007.

“Kami juga aktif melakukan event untuk membatu meningkatkan sektor pariwisata dan kegiatan sosial melalui kegiatan bertajuk Mio Jelajah Desa dan Yamaha Gerebek Kampung,” kata Boyke, salah satu founder MAC. Kegiatan sosial yang sering dilakukan diantaranya, berbagi dengan warga Panti Asuhan mejelang hari Raya Idulh Fitri dan Natal.

Berawal dari Pantai Cermin

Perjalanan terbentuknya MAC memiliki kisah tersendiri. Menurut Fery Cheper , salah satu founder terbentuknya MAC berawal dari hobi mereka memodfikasi mio sejak tahun 2004 laluyang hadir dalam acara roadshow modifikasi yang diadakan Yamaha di Pantai Cermin, Sedang Bedagai tahun 2006 lalu.

Sejak itu muncul ide untuk membentuk MAC dengan founder Fery Cheper, Rahmad Hidayat dan Boyke serta PT Alfa Scorpii sebagai pelindung. Uniknya, komunitas ini juga diisi kalangan yang sudah berkeluarga dari berbagai latar belakang profesi dan pekerjaan mulai dari dokter, entertaiment, mekanik dan yang lainnya. “Disini, kita tidak ada penekanan sama anggota. Kita disini having fun dalam konteks berkreatifitas untuk memajukan club,” tambah Ardini Dwi Cahyanti yang akrab disapa dynee ini.

Komunitas ini selalu terbuka bagi yang ingin bergabung. Namun demikian, belum tentu bisa langsung diterima menjadi anggota tetap karena pengesahaan keanggotaan harus melalui musyawarah besar dan pelantikan. “Selain itu pertama harus mengikuti minimal empat kali touring. Disini kita melakukan penilaian khusus apakah dalam touring care sesama teman,” kata Boyke.

Bagi yang lolos memenuhi persyaratan dan resmi menjadi anggota. MAC akan memberikan Kartu Keanggotaan, Seragam, Bendera, Stiker MAC yang wajib dibawa setiap anggota dalam setiap pertemuan dan kegiatan.

Wajib Patuhi Peraturan

Meski tidak ada penekanan kepada anggota, bukan berarti bergabung di club ini bisa berbuat sesuka hati. MAC sangat menekankan setiap anggota untuk tertib berlalu-lintas di jalanan. Tidak itu saja, anggota MAC juga diwajibkan berperan aktif dalam mensosialisasikan tertib berlalu-lintas kepada masyarakat.

Peraturan ini harus dipatuhi karena sudah tertuang dalam Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) MAC sendiri. Bila demikian, dambaan kota Medan menjadi kota tertib berlalu-lintas bisa terwujud.

Side Bar

Pelindung : PT Alfa Scorpii

Penasehat : Adek Rizal, Malik Maulana , Abd Harun

Ketua : Alvi Syahrin

Wakil Ketua : Dhany Ramadhany

Sekretaris : Ardini Dwi Cahyati

Bendahara : Hery

Sekretariat : Jl Ketapang No 19 B, SKIP, Medan

Sang Petualang Mobil VW


Dua unit mobil Volkswagen (VW) menghuni halaman sebuah rumah di jalan Brigjen Bejo Gang Mawar II Nomor 7, Helvetia, Medan, Kamis pertengahan Oktober lalu. Satu unit VW Combi Jerman warna coklat buatan tahun 1979. Tidak jauh dari pintu gerbang rumah sebuah mobil VW Safari buatan tahun 1977 dengan tampilan warna merah dan kuning apik terlihat.

Kedua mobil VW itu adalah koleksi Amir Chitago (60), seorang mantan pebisnis perikanan di pelabuhan Gabion, Belawan. Tak hanya kedua mobil VW itu, bersama seorang temannya bernama Sugianto saat ini sedang merestorasi sebuah mobil VW Combi Brazil di bengkel yang rencanya untuk direntalkan.

Meski memiliki mobil lain buatan Jepang. Hingga saat ini ia masih tetap memilih kedua mobil VW itu sebagai mobil favorit. “Banyak kenangan dan kesan yang saya alami bersama kedua mobil VW ini. Saya tidak akan pernah menjualnya,” sebuat Amir Chitago.

Alasan Amir, kedua mobil VW itulah menemaninya dan membawanya kemana saja, hingga menempuh perjalan panjang dari Pulau Sumatera-Pulau Jawa dan Pulau Bali. Tak lupa pria ini pun selalu menyertakan istrinya, meski melalui jalaur-jalur rawan dan berbahaya. Uniknya, ia selalu mencatat kisah-kisah yang dialaminya dan biaya pengeluaran di sepanjang perjalanan.

Untungnya, terbiasa melakukan perjalan jauh dengan mengenadari mobil dan berhadapan dengan pekerjaanya yang penuh tantangan. Membuat Amir tidak takut untuk mengemudikan mobil melewati jalur-jalur yang berbahaya. “Saya ini dari dulu memang suka tantangan. Lebih dari ini saya sudah sering hadapi,” ujarnya.

Kisah perjalannya menggunakan mobil VW menempuh perjalanan jauh, pertama kali dilakukan setelah membeli mobil VW Safari dari sebuah Bengkel di Jalan Gatot Subroto, sekitar tahun 1982 lalu. Mobil VW Safari itu kemudian dimodifikasi diantaranya pergantian warna, rem cakram dengan rem cakram VW Combi dan sejumlah bagian lain. Sementara untuk mesin, masih tetap original.

Adalah kota Kediri, Jawa Timur, salah satu yang s didukunjunginya. Kota ini merupakan kota kelahiran istri pertamanya Suti Admaja yang kini telah almarhumah. Dari kota Kediri ia kemudian melanjutkan perjalanan hingga ke Pulau Bali bersama Suti Admaja dan kemudian kembali ke Medan.

Selain itu, ia pernah melakukan perjalanan ke Madiun menghadiri undangan Club VW di kota Pecel dan Brem itu sekitar Maret tahun 2002 lalu. Kunjung ke Madiun, membuatnya mendapat penghargaan sebagai peserta terjauh. Amir juga pernah mendapatkan penghargaan modifikasi VW safari terbaik sekitar tahun 1990 an. “Mobil VW Safari ini sudah kemana-mana,” tuturnya.

Namun peristiwa yang tak pernah terlupakan Amir Chitago dari VW Safari. Perjalananya yang sempat tertunda akibat kecelakaan yang menimpanya dengan sebuah mobil truk pengangkut balok kayu di tikungan Jangga, Lumban Julu, Kabupaten Toba Samosir beberapa tahun silam yang membuatnya harus menjalani rawat nginap sekitar 1 bulan di Rumah Sakit HKBP, Balige.

Perjalanan dengan VW Combi

Tak hanya mengunakan VW Safari, perjalanan panjang juga sudah beberapa kali dilakukannya dengan mengendarai VW Combi Jerman yang dibelinya sekitar tahun 1986 lalu. Amir juga memodifikasi mobil VW Combinya diantaranya dengan merombak sebahagian interior dalam mobil VW Combinya layaknya seperti berada di sebuah rumah.

Amir memasang keramik pada lantai mobil, menyediakan perabotan seperti lemari dan meja, memasang sejumlah cok listrik untuk keperluan memasak dan sebuah TV layar datar. Untuk keamanan mobil selama perjalanan, mobil juga dilengkapi peralatan bengkel dan las.

Setiap melakukan perjalanan pria murah seyum ini, selalu membuat persiapan minimal 1 bulan sebelum keberangkatan. Uniknya, ia selalu memilih hari Jumat sebagai start awal perjalanan. Baginya Jumat merupakan hari baik dari hari yang lainnya. Selama di perjalanan, ia memilih SPBU untuk tempat istirahat.

Kenangan terindah mengendarai VW Combi, ketika bisa berlibur bersama ke Bali dengan anak dan cucunya yang datang dari Singapura ke Jakarta, sekitar tahun 2007 lalu. Dari Medan, Amir hanya ditemani Suharni (58) yang saat ini menjadi istrinya menuju Jakarta. Begitu bertemu di Bandara Udara Soekarno-Hatta. Perjalanan dilanjutkan hingga ke pulau Bali dan tinggal hampir 1 bulan. “Setelah itu, kami antar anak dan cucu ke Jakarta lagi. Dari Jakarta saya sama istri berdua kembali ke Medan,’ ujarnya.

VW Combi ini juga telah membawanya ke sejumlah daerah lain seperti Bogor, Padang , Taman Nasional Way Kambas, areal perlindungan gajah yang terletak di Lampung dan daerah lainnya seperti.. Terakhir bersama istrtinya dan komunitas Volkswagen Owner Family Medan, mengunjungi Sabang pada 7-10 Juli 2011 lalu. “Ada rencana touring bersama club ke Baturaja, Palembang,” tuturnya bersemangat.