Sunday, 17 June 2012

Generasi Baru Itu Sudah Datang





Satu unit mobil Suzuki Ertiga terpajang di dalam gedung PT Tran Sumatera Agung Jalan Jenderal Gatot Subroto, Medan, rabu ( /5). Kondisinya masih baru. Ini lah mobil generasi baru dari Suzuki yang siap meluncur dan mewarnai lalu-lintas  di jalanan kota Medan. Apa saja kelebihannya?


Meski masih dianggap sebagai pendatang baru dipasaran  otomotif  pada pertenghan tahun 2012 ini, sejak diperkenalkan di kota Medan  pada launching 8 Mei lalu. Suzuki mobil ternyata tidak sia-sia mengenalkan Suzuki Ertiga sebagai generasi terbarunya. Suzuki Ertiga menawarkan diri sebagai mobil berkelas dengan banyak  kelebihan yang sesuai dengan kehidupan masyarakat kota Medan yang selalu dinamis dan ingin tampil trendi dalam berkendaraan.

Bukti itu terlihat dari animo masyarakat kota Medan yang menyambut kedatangan mobil di type 1400 cc ini mulai terlihat . “Pada akhir Maret lalu sudah mulai inden. Bahkan, dari event yang kita adakan di Sun Plaza pada 8-13 Mei lalu, sudah inden 245. Sapai  hari ini (Rabu) sudah inden 270,” sebut Dje Hoa, Branch Manager PT Tran Sumatera Agung Jalan Jendral Gatot Subroto tersenyum bangga .


Suzuki Ertiga merupakan mobil MPV terbaru yang diciptakan dengan mengambil DNA dari Suzuki New Swift yang telah memenangkan berbagai macam penghargaan dalam evet global. Kabin dalamnya  lapang dengan muatan 7 penumpang dengan tiga baris tempat duduk depan, tengah dan belakangan ditambah ruang bagasi dengan  compartment dibawahnya pada bagian belakang,

Inilah menjadikan Suzki Ertiga, sangat sesuai sebagai kendaraan berkeluarga atau bersama teman-teman dengan jumlah yang lebih banyak. “Segmen pasar kita adalah keluarga kecil, professional muda, wanita karier, perusahaan rental, provider, jasa telekomunikasi, retailer cosmetic, hotel, jasa antar jemput sekolah, perusahaan, BUMN, Pemerintahan dan lain-lain. Pokoknya, Suzuki Ertiga bias mengakomodir berbagai kebutuhan,” ujarnya.

Suzuki Ertiga menawarkan kelebihan dan kemewahan yang lebih dibandingkan dengan mobil sejenisnya yang sudah terlebih dahulu bergerak di pasaran. Melihat Ertiga, ada kelebihan yang menonjol ditawarkan mulai dari desain, interior , safety, performa mesin , kenyamanan berada didalamnya, keamanan dijalanan  dan sebagainya.  

Desian Suzuki Ertiga diciptakan untuk mencerminkan aspirasi masyarakat urban yang  selalalu ramai, dan trendi.  Misalnya, pada bagian depan impresif dan berkelas. Demikian pula untuk desain bodi belakang tanpak kompak dan tetap tampil stylish dengan spek mobil yang lebih panjang dan lebih lebar sehingga memberikan keluasan di dalamnya.

Kenyamanan, Kemewahan dan  Keamanan

Suzuki Ertiga menawarkan, kenyamanan dan kemewahan yang diberikan pada bagan interior. Misalnya, panel instrumennya didesain ergonomis dan praktis bagi pengendara dan penumpan. “Lapang, nyaman  dan mewah adalah kesan pertama saat berada didalam kabin Ertiga,” ungkap Dje Hoa.

Tersedianya fitur one touch walk in Ertiga memberikan akses lebih luas dan mudah bagi penumpang  diimana dengan hanya mengangkat tombol keatas, otomatis kursi akan rendah, selain itu maju kedepan. Selain itu kursi juga bias disesuaikan ke atas dan kebawah, untuk menyesuaikan ukuran tubuh.

Kelebihan lainnya, steer (kemudi) dapat di atur atau disesuaikan dengan ukuran tubuh pengemudi. “Steer juga bisa naik dan turun untuk disesuaikan dengan tubuh.Untuk Ertiga varian GL dan GX juga dilengkapi port USB dan soket 12 V. Stering switch pada steer untuk mengatur volume pada audio,” tambahnya.

Untuk menjaga rasa aman bagi pengendara dan penumpang tersedia double air bag, safety bell dimasing-masing tempat duduk, anti lock braling sistym yang berfungsi untuk mengendalikan  steer kita terjadi rem mendadak. Tersedia side impact beam (tulang penyanggah) pada pintu untuk menahan kerusakan lebih fatal bila ada benturan  keras dan anti maling.

Irit BBM dan Performa Mesin

Satu keunggulan lain yang ditawarkan Suzuki Ertiga adalah efesiensi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan performa mesin yang handal. Menurut Dje Hoa, untuk 1 liter BBM bisa digunakan untuk perjalanan 16,3 Km. “Artinya, walaupun pertaminan menarik subsisdi, konsumen tidak perlu khuatir,” terangnya.

Untuk performa mesin, kata Dje Hoa, Suzuki Ertiga  ringan dan kompak memberikan akselerasi, tenaga dan efesiensi BBM yang tinggi. Mesin 1400 cc, DONC, Variable Valve Timing (VVT). Multi Point Injection (MPI) memiliki performa maksimal setara mesin dengan kapasitas.

Hadir dengan tiga varian GA, GL dan GX sudah mulai dipasarkan di kota Medan dengan harga bervariasi.  Untuk type GA dibandrol Rp 155.200.000, GL Rp 165.600.000 dan GX Rp 178.200.000.

Tuesday, 5 June 2012

Wisata Keliling Kota Medan


Istana Maimun




Bangunan terletak di Jalan Brigjen Katamso ini merupakan bekas Istana Kesultanan Deli. Dibangun oleh Sultan Deli, Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah pada 1888, Istana Maimun memiliki luas sebesar 2.772 m2. Istana Maimun ini menjadi salah tujuan objek wisata di Medan. Desain interiornya yang unik, memadukan unsur-unsur warisan kebudayaan Melayu, dengan gaya Islam, Spanyol, India dan Italia.

Ruamah Tjong A Fie

Rumah terletak di jalan Kesawan Medan ini didirikan pada tahun 1900  milik Tjong A Fie seorang pengusaha, bankir dan kapitan yang berasal dari Tiongkok dan sukses membangun bisnis besar dalam bidang perkebunan di Sumatera, Indonesia.Rumah ini merupakan bangunan yang didesain dengan gaya arstitektur Tionghoa, Eropa, Melayu dan art-deco dan menjadi objek wisata bersejarah di Medan.Di rumah ini, pengunjung bisa mengetahuisejarah kehidupan Tjong A Fie lewat foto-foto, lukisan serta perabotan rumah yang digunakan oleh keluarganya serta mempelajari budaya Melayu-Tionghoa. Saat ini dijadikan sebagai Tjong A Fie Memorial Institute dan dikenal juga dengan nama Tjong A Fie Mansion.Rumah ini dibuka untuk umum pada 18 Juni 2009 untuk memperingati ulang tahun Tjong A Fie yang ke-150.




Masjid Raya Al Mashun

Letaknya tidak jauh dari Istana Maimun . Masjid ini mulai dibangun tanggal 1 Rajab 1324H atau 21 Agustus 1906 dan selesai 10 Sept 1909 oleh Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah. beberapa bahan dekorasi dibuat dari Italia dan jerman serta konon dulunya menjadi satu bagian dengan komplek istana. Masjid yang dirancang oleh Dingemans dari Amsterdam (dengan bentuk yang simetris jika dilihat dari keempat sisinya) memiliki gaya yang diambil dari budaya Timur tengah, India, dan Spanyol. Masjid dibangun dengan bentuk segi 8 (oktagonal) dan memiliki 4 sayap disetiap bagian selatan timur utara dan barat yang berbentuk seperti bangunan utama namun berukuran lebih kecil. luas keseluruhan bangunan adalah 5.000 meter.




Lokomotif Tua dan Titi Gantung

Bila Anda mengunjungi kawasan Merdeka Walk yang merupakan titik o perkembangan kota Medan, Anda bisa menyinggahi sebuah lokomotif tua peninggalan kolonial Belanda yang berada tidak jauh dari Stasiun Besar Kreta Api. Tidak jauh dari sini pula Anda bisa melihat bangunan-bangunan tua dari titik gantung. Titi ini dahulunya dijadikan akses bagi kepentingan hidup masyarakatnya. Titi ini dibangun tidak hanya sekedar penghubung antara kawasan bisnis di sekitar Lapangan Merdeka dimana berada De Javasche Bank, Hotel De Boer dan Kesawan dengan pemukiman padat masyarakat di sekitar Jalan Jawa tanpa menggangu jalur sibuk perlintasan kereta api di stasiun besar saat itu.

Tuesday, 29 May 2012

Menikmati Nuansa Malam ala “Homy” Jerman


Mulai beroperasi 17 Februari 2010 lalu,  restoran ini  hadir dengan konsep restoran keluarga dan Beer Gardennya di Medan. Tak hanya,  warga expatriat sebagai pengunjung setianya. Masyarakat umum di Medan telah menjadikan restoran ini sebagai tempat bersantai sambil menikmati citarasa masakan dan minuman terutama diwaktu malam hari.

Beroperasi mulai dari hari Senin – Minggu, sejak pukul 12.00-23.00 Wib didukung dengan dua gedung yakni restoran induk berkapasitas 100 orang dan beer garden yang letaknya bersebelahan berkapasitas 150 orang,  restoran ini juga melayani event party seperti pesta ulang tahun. Tidak itu saja, Roland’s Restaurant Germany juga menyedia layanan delivery order hingga pukul 19.00 Wib setiap harinya.

Salah satu yang membuat restoran terletak di Jalan Setia Budi persis bersebelahan dengan pintu masuk Komplek Perumahan Setia Budi ini kian diminati karena menu-menu tersaji sudah diakui. Ditambah lagi harga untuk aneka makanan cukup ramah di saku mulai dari  harga Rp 16.000-Rp 200.000.   

Meski restoran ini ramai dikunjungi kaum expatriat,  menu makanan ditawarkan  bervariasi  dari makanan bercitarasa Jerman hinggan Indonesian Food.  Untuk masakan ala Jerman tersedia  pengunjung bisa mencicipi menu andalan  yang disajikan chef restoran ini seperti Chickand Schhitzel, Home Made Sausage dan Half Chicken.

 “Makanan yang kita sajikan sangat dijaga kualitasnya, karena dikontrol langsung oleh Mr Roland sebagai pemilik  yang memiliki basic sebagai chef,” ungkap Merry, Manager Roland’s Restaurant Germany, Jumat pertengahan Maret lalu.

Untuk makanan khas Indonesian  pengunjung bisa menikmati Soto Medan, Udang Balado, Ayam Kliu dan Nasi Goreng Sea Food. Semua dapat dinikmati  dengan harga dimulai dari Rp 29.500-Rp39.500.  Selain itu, tersedia juga menu khusus bagi anak-anak dengan harga Rp 22.900-Rp.35.900.


Tempat Menikmati  Aneka beer

Selain citarasa masakannya yang sudah melekat bagi pengunjung setianya, salah satu yang membuat nama restoran ini dikenal dengan aneka minuman beernya. Aneka beer mulai   dari mulai merek lokal seperti Bir Bintang hingga merek ternama di dunia seperti Guiness beer, Heineken, San Miguel dan Erdinger beer dari Jerman tersedia dengan harga Rp 25.000-Rp125.000.

Namun demikian, restoran ini tetap menyediakan aneka minuman juice, soft drink  dan kopi bagi pengunjung yang tidak menyukai minuman beralkohol. Pengunjung juga diberikan fasilitas berupa diskon 15 % bagi pengguna kartu kredit Bank Mandiri,  no smoking area,  play ground dan memanfati wei-fi secara gratis.

Salah satu yang membuat pengunjung betah berlama-lama disini, suasana tempat dan  atmosfir ruangan yang identik dengan nuansa Jerman yang memberikan kesan tersendiri. Di dalamnya juga tersedia mini bar dan beer garden yang letaknya hanya bersebelahan dengan restoran induk.

Untuk menambah suasana kehangatan di malam hari,  Restoran ini juga menggelar event musik dari hari Rabu-Minggu, yang dimulai sejak pukul 19.30-23.00 Wib. “Untuk Kamis malam disini diakan ladies night dimana tamu wanita mendapatkan gratis eierlikoer dan setiap Jumat malam kita mengadakan student day dimana bagi pelajar atau mahasiswa yang menggantongi kartu pelajar dan mahasiswa mendapatkan diskon 10%,”  ujar Merry.



Roland’s Restaurant Germany
Jl Setia Budi No. 262
Open daily      : Senin – Minggu
Pukul :12.00WIB-23.00WIB
Telepon          :(061)8214379

Sunday, 8 April 2012

Simbol Keterwakilan Perempuan Sumut di Kancah Politik

Sebahagian besar masyarakat umumnya dan kaum perempuan Sumatera Utara (Sumut) khususnya,  nama Prof.DR.Ir.Hj. Damayanti Lubis sudah tidak asing lagi didengar. Perempuan 60 tahun kelahiran Binjai ini kini menjadi simbol kebangkitan  kaum perempuan asal Sumatera Utara (Sumut) untuk berkarya di Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD-RI) Jakarta. 

Prof.DR.Ir.Hj. Damayanti Lubis

Maklum, sejak lembaga itu dibentuk, baru kali ini kaum perempuan dari Sumut mendapat perwakilan di DPD RI. Sebelumnya, beberapa kali Pemilihan Umum  (Pemilu) berlangsung setelah reformasi bergulir,  keterwakilan  Sumut di DPD RI masih  didominasi kaum pria.

“Sekarang perempuan ada 27% di DPD RI. Artinya, perempuan saat ini sudah bisa mandiri,” sebut perempuan yang pernah memperoleh Penghargaan Karya Satya dua kali dari mantan Presiden  Soeharto tahun 1997 dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2006,  di kediamannnya Jalan Picauly Nomor 14, Komplek Universitas Sumatera Utara (USU), Jumat pertengahan Okteber lalu.

Sejak sebagai anggota DPD RI periode 2009-2014  aktivitasnya terbagi di Jakarta dan  di daerah. Di gedung Senayan, ia saat ini bergabung di Komite III yang mengurus persoalan Pendidikan, Agama, Kesehatan, Perempuan dan Anak, Pariwisata, Ketenagakerjaan, Kesejahteraan Rakyat. Sebahagian waktunya lagi waktu berkunjung ke daerah untuk menyerap aspirasi masyarakat

Tak hanya menampung aspirasi dari masyarakat. Pejabat setingkat bupati hingga mengadu kepadanya karena perosalan belum turunnya dana dari Pemerintah Pusat. Untuk kemudahan memperjuangkan aspirasi, ia menyediakan fasilitas  yang bisa dipergunakan masyarakat tanpa batas waktu  seperti faksimil, sms via ponsel dan email  untuk menampung pengaduan.

Mengundurkan diri dari dosen

Perjalanan  alumni S1 di  Institut Teknologi Bandung (ITB) ini menuju gedung Senayan bukanlah tanpa perjuangan dan pengorbanan dalam membantu menaikan harkat dan martabat kaum perempuan. Ketika mencalonkan diri,  istri Prof DR Ir Chalilullah Rangkuti MSc ini, nekat  hingga melepas pekerjaanya sebagai seorang dosen di Jurusan Teknik Mesin USU. 

Mengundurkan diri dari dosen sebenarnya menjadi pilihan tak enak bagi mantan Asisten Pembantu Rektor IV USU ini. Dosen sudah dirintisnya sejak tahun 1976 lalu.  Namun, karena tekad sudah bulat, ia memilih resiko kehilangan pekerjaan bila langkahnya tidak mulus ke gedung Senayan.

Untungnya, usaha dan pengorbannya tidak sia-sia. Dengan perolehan suara peringkat ke empat, Damayanti akhirnya  lolos menemani Drs  Rudolf Pardede, Parlindungan Purba SH MM dan  DR H Rahmat Syah. Alasan utama baginya duduk di DPD RI  ingin lebih banyak berbuat bagi masyarakat. “Kalau saya ikut di DPD, saya bisa mempengaruhi kebijakan untuk rakyat dan perempuan khususnya,” ujarnya beralasan. 

Selama menjadi ‘senator’ sejumlah usaha sudah dilakukannya  seperti mengajukan usulan perubahan UU Ketenaga Kerjaan, penurunan ongkos ibadah haji dan persoalan ujian nasional.  “Tak jarang untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat, saya hingga ngotot dengan menteri di dalam rapat  Komite,” ujar pemilik hoby membaca dan traveling ini.

Jejak menuju DPD RI

Jejak perjalannya ke DPD RI, berawal dari usai menyelesaikan pendidikan S3 di University of Leeds, Inggris tahun 1990. Kembali dari Inggris, ia  sering melakukan  penelitian dan aktif dalam berbagai diskusi mengenai seputar persoalan kemasyarakatan dan perempuan.

Nah, dari sinilah ia di mulai berperan hingga pernah menjadi Ketua Pusat Studi Wanita USU  dan Ketua Kaukus Perempuan Sumut hingga saat ini, yang menjadi pondasi untuk berbuat lebih banyak lagi di DPD RI  untuk masyarakat dan kaum perempuan khususnya.

Wednesday, 4 April 2012

KRAMER WAHANA NAMRaC TEAM

Hobi bisa memberikan inspirasi untuk meraih prestasi. Hal itu telah dibuktikan pecinta otomotif tergabung dalam Kramer Wahana NAMRaC di berbagai event drag race, slalom test, sprint rally, speed offroad.   

Dentuman suara berasal dari  kenalpot mobil terdengar kuat dari sebuah bengkel mobil di Jalan Perbatasan No. 6 Krakatau, Medan. Suara itu berhembus dari tiga mobil balap merek Toyota Vios, Toyota Soluna dan Toyota Starlet EP 71 yang nangkring di dalam garasi itu. Mobil-mobil balap itu milik para pembalap otomotif tergabung dalam Kramer Wahana NAMRaC Team.

Ketika  mengunjungi bengkel mobil bernama Kramer motor itu, sekaligus markas Kramer Wahana NAMRaC pada suatu sore akhir Desember lalu, tiga driver team: Asmansyah Harahap, Andrie Harahap dan Fachri Rangkuti, menyambut kedatangan kami dengan hangat.

Sambil santai bercengkarama, mereka sesekali membersihkan debu dan bercak-bercak yang menempel di mobil. Asmansyah Harahap bercerita, pada 22 Januari mengikuti kejuaraan drag race dan putaran I North Sumatera Rally Championship pada bulan April. “Target kami ikuti dalam event dekat nanti, menjadi juara di kelas yang diikuti,” sebut Asmanyah Harahap, salah satu founder Kramer Wahana NAMRaC Team. 

Apa yang dikatakan Asmanyah bukanlah muluk-muluk. Sosoknya bersama team yang dibangunya dengan teman-temannya sudah tidak asing lagi di berbagai event, seperti drag race, slalom test, sprint rally maupun speed offroad. Tidak sedikit prestasi yang sudah diraih mereka. Puluhan piala dan tropy terpajang di sekretariat mereka sebagai bukti ketangguhan mereka di arena balapan.

Sepanjang tahun 2011 lalu saja misalnya, tidak sedikit kesuksesan yang telah mereka boyong. Misalnya, pada North Sumatera Rally Championship 2011 mereka berhasil didapuk sebagai Winner of Group N15. Pada Piala Gubernur Aceh di Langsa mereka meraih juara  2 dan 3 Sprint Rally dan juara tiga sebanyak dua kali untuk Speed Offroad. Tak hanya itu, mereka juga meraih juara 3 group N15 dan juara 3 group GR.2 Speed Offroad/ Sprint Rally di Medan 2011. Pada Dare Autocustom Drag race 2011 (Medan) mereka berhasil menyabet juara II kelas 2.1 b modifikasi (sedan 1401-1500 cc). 

Banyaknya prestasi, membuat kehadiran mereka di event otomotif diperhitungkan tim lain. “Kunci kesuksesan tim ini dalam mengikuti event yaitu dengan persiapan matang dan serius dalam mengikuti setiap event dan dengan support penuh dari team sendiri,” kata Asmanyah Harahap.

Di tahun 2012 ini mereka telah memiliki ambisi kuat demi meningkatkan prestati. “Sasaran tim pada tahun 2012 ini ialah mengikuti 3 putaran kejuaraan Rally yang akan dilaksanakan oleh IMI Sumut dan beberapa event Drag race, dan tidak tertutup kemungkinan team ini akan mengikuti event yang diselenggarakan di luar wilayah Sumut,” ujarnya.

Berawal dari Bengkel 

Awal nama team ini berasal dari nama Kramer Motor sebuah bengkel melayani perbaikan mobil umum harian selain dari balap yang didirikan Asmanyah dengan seorang rekannya Dian Sukmawan yang memiliki kesamaan hobby otomotif. Asmanyah sendiri sudah berkecimpung di dunia balap seperti Shalom test & Rally sejak duduk di bangku SMA.

“Sejak 2001 hingga 2009 sebelum nama tim yang awalnya dimotori oleh Dian Sukmawan, Asmansyah Harahap, Andrie Harahap, dr.Egon Irsan Nasution dan Andi Bonar Siregar berganti menjadi Kramer Wahana NAMRaC, sudah banyak prestasi yang diraih dari ajang drag race, slalom test, sprint rally dan speed offroad,” tuturnya.

Namun di balik semua itu, kekuatan tim ini tidak bisa dilepaskan dari dukungan berbagai pihak. Di antaranya dukungan 2 perusahaan dari group Kramer, yaitu Wahana Logistic yang merupakan perusahan di bidang cargo/shipping dan NAMRaC yang bergerak di bidang jasa penyewaan mobil. “Kramer sendiir dijalankan oleh Dian Sukmawan dan perusahan Wahana Logistic, NAMRaC dijalankan sepenuhnya oleh saya,” terang Asmansyah.

Kramer Wahana NAMRaC Team

Dian Sukmawan                                  : co-driver & driver slalom & drag race
Asmansyah Harahap                           : rally, slalom & drag race
Andrie Harahap                                   : rally & drag race
Deddy Heriyanto                                 : co-driver & driver slalom & drag race
Andi Bonar Siregar                              : drag race
dr. Egon Irsan Nasution                       : rally & slalom
Fachri Rangkuti                                   : co-driver & driver drag race, slalom
Koko Ferdian                                       : co-driver
Welly Armaya                                     : co-driver
Sondi Pribadi : Team Manager


Ketika Pecinta Mobil VW Berkumpul


Cahaya bulan malam itu terang menyinari kawasan  lapangan merdeka, Medan. Di atas trotoar jalan, di Jalan Pulau Pinang (di depan gedung Kantor Wilayah Bank Mandiri), sekelompok orang terlihat duduk asyik bercengkrama sambil menikmati aneka makanan, kopi dan teh panas yang tersaji di atas tikar.

Tidak jauh dari tempat mereka ngumpul, berjejer sekitar 20 unit mobil Volkswagen (VW) mulai dari VW  Combi, Beetle (VW kodok), Safari. Meski tergolong mobil tua, penampilanya yang  klasik dan apik dilihat. Mobil-mobil VW itu adalah milik Volkswagen Owner Family (VOF), sebuah komunitas pecinta mobil VW di Medan.

Saat  menyambangi  mereka pada Sabtu malam pertengahan Desember lalu, keakraban dan kekeluaragan di antara mereka begitu hangat. Tak ada terlihat kesan di antara mereka lebih menonjolkan diri baik dari segi status pekerjaan maupun profesi. Komunitas ini seakan menghilangkan jabatan dan kedudukan yang melekat diri mereka .

“Slogan VW adalah kekeluargaan. Saya pernah beberapa kali tanya kepada anggota, mengapa mereka memilih bergabung di VOF. Kebanyakan mereka selalu menjawab karena kebersamaanya yang kuat. Jadi, kita di sini tidak hanya pada mobilnya saja, tapi rasa persaudaraanya yang penting,” kata Ketua VOF Budi Irawan kepada Kover Magazine. 

Semakin lama, anggota lainnya pun semakin ramai berdatangan. Tak pelak, suasana pun semakin ramai. Maklum di antara mereka yang datang tak hanya sendirian. Ada yang turut membawa istri dan anak-anak. “Seperti ini lah suasananya bila kita ngumpul. Anak dan istri selalu dibawa. Begitu pula kalau ada touring, karena slogan VW ini adalah kekeluargaan,” sebut Budi Irawan.  

Bagi para pecinta mobil VW di Medan, Jalan Pulau Pinang, sudah menjadi langganan tetap untuk ngumpul bareng. “Pertemuan rutin ini bisa kita gunakan untuk saling menukar informasi seputar VW. Bahkan tidak tertutup kemungkinan bisa hingga ke kans-kans bisnis,” terang  Budi.

Komunitas ini resmi dibentuk tahun 2004 lalu. Sampai saat ini sudah 50 orang para ‘kolketor’ VW dari mulai usia  muda hingga orang tua terdaftar secara resmi di VOF. Ada yang berprofesi sebagai pengusaha, dokter atau memiliki jabatan di perusahaan swasta maupun instansi pemerintah.

Komunitas ini pun sampai ini terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung. Tak banyak persyaratan dan tetek bengek yang diperlukan. Kesempatan juga diberikan bagi yang tidak memiliki mobil VW untuk simpatisan. “Namun mereka harus senang dengan VW,” pungkas Budi.  

Satu-satunya Club VW Aktif

Sebagai klub otomotif, touring sudah pasti menjadi salah satu kegiatan tetap. Begitu pula di VOF. Mereka pun sering mengadakan touring hingga ke luar Sumatera Utara.  Pada Pesta Danau Toba tahun lalu misalnya, VOF mengikuti Rally Wisata yang diselenggarakan Ikatan Mobil Indonesia (IMI) Sumatera Utara, 29-30 Desember 2011. 

Sepulang dari Danau Toba, mereka pun masih mendampingi komunitas VW dari Kota Pekanbaru, Riau  yang melaksanakan touring ke Sabang, Banda Aceh yang digelar komunitas VW Regional Sumatera 31 Desember 2011 -5 Januari   2012. Rutin menggelar berbagai kegiatan, inilah yang membuat klub ini mendapat pengakuan dari  Volkswagen Indonesia. Alasannya, seperti kata Budi, “VOF dinilai satu-satunya club VW yang aktif  di Medan.”

Tak hanya touring semata, mereka juga telah menggelar bakti sosial. Terakhir, mereka mengadakan pembagian sembako di Sicanang dan Satabat. “Di bulan puasa, setiap tahunnya kegiatan bakti sosisal pasti ada kita lakukan,” tuturnya.

Volkswagen Owner Family

Ketua                           : Budi Irawan
Sekretaris                     : Edy Poerwanto
Bendahara                    : Haryo
Seksi Kegiatan : Sujalmo
Sekretariat                    : Jl. Perdana No. 55 Medan

Wednesday, 8 February 2012

Dokter Spesialis Film

Daniel Irawan mulai mengkoleksi film sejak kecil


Dunia perfilman sangat sulit  terlepas dari kehidupan ayah satu putri ini. Film  sudah menjadi bagian hidupnya  sejak berusia 2,5 tahun. Dari hobi nonton film itu lah, ia mengkoleksi puluhan ribuan judul film beserta pernak-peniknya. Ia memilki rencana akan mendirikan sebuah museum film. Menabjubkan !
 Museum pribdainya Jalan Gatot Subroto Gang  Johar 5A/7, Medan

Sosok pria satu ini tak hanya dikenal sebagai seorang dokter spesialis kulit dan kelamin. Sisi lain, ia dikenal sebagai  seorang kolektor film di Medan.  Betapa tidak, ia mengkoleksi sekitar 35 ribu judul film dalam format DVD,  5000 an dalam bentuk VHS,  500-an Laser Disc  dan 5000-an Video CD.

Sejumlah film-film  produksi di tahun 1916  dan film-film Indonesia era tahun 60an seperti Malingkundang yang dibintangi Rano Karno atau Film Butet yang kini cukup langka ditemui, masih ada ditangannya. ”Sekarang saya mengkoleksi semua jenis film dari semua genre (aliran) dan negara, dari era film hitam putih, film-film bisu termasuk film-film Charlie Chaplin sampai film-film rilisan terbaru,” kata Daniel Irawan bercerita tentang koleksi filmnya.

Saat Kover mengunjungi  rumahnya sekaligus kliniknya di Jalan Gatot Subroto Gang  Johar 5A/7, Medan, suatu malam November lalu, ribuan keping film beserta  pernak peniknya  dari foster, ukuran teatrikal, leaflet,  buku-buku pembuatan mug, t-shirt, goodie bag , standee berukuran gede yang biasanya dipajang di bioskop  dan sebagainya   memenuhi tiga kamar yang kini dijadikan sebagai museum pribadinya. Salah satu diantara kamar disulap  home theatre.

Tak sedikit koleksi film-filmnya terpaksa harus menumpuk dilantai kamar karena rak tersedia sudah padat terisi. ”Sebagian sudah saya pindahkan ke rumah saya satu lagi di Imam Bonjol, karena sudah tidak ada lagi tempat’ tutur penggemar film Genre fiksi ilmiah dan komedi romantis ini. 

Agar gampang menemukan film yang diinginkannya, pria berusia 36 tahun ini, membuat katalog yang dibagi berdasarkan genre dengan nama masing-masing tertera di rak-nya. “Saya sengaja memilih nama-nama unik untuk membagi genrenya misalnya Adrenalination’ untuk genre action, ‘Romancing The Movies’ untuk film-film lovestory baik komedi maupun drama, ‘Screamers’ untuk horror dan lain-lain,” sebutnya .

Koleksi Sejak Kecil

Mengolkesi film ternyata sudah mulai dilakukannya sejak kecil. Saat itu suami Lanny Novianda Irawan ini sudah mengkoleksi sejumlah film dalam bentuk video kaset (VHS),  misalnya Star Wars dan film-film yang benar-benar disukainya. Namun,  keseriusannya mengkoleksi film mulai dijalaninya sejak SMU. “Waktu itu masih dalam bentuk video kaset VHS NTSC dan Laser Disc,” ujarnya.

Hingga saat ini, ia  rutin menonton film-film  yang diputar di bioskop, sedikitnya empat  kali dalam seminggu. Selebihnya menonton  di rumahnya. Tidak itu saja, di malam hari ia juga rajin memutar film-film lama untuk ditonton komunitas film Medan dan masyarakat lainnya  di warkop bola layar tancap yang didirikannya di halaman rumahnya Jalan Imam Bonjol.  

Baginya ada banyak ilmu yang bisa didapat lewat film,  mulai dari budaya, bahasa, politik, geografis, dan science. “Hobi yang jadi bahan pembelajaran dan benar-benar dicoba buat didalami,” jawabnya ketika disinggung artis ebuah  film dalam kehidupannya.

Berburu Film

Sejak duduk di bangku SMU ia mulai serius melakukan perburuan film dari semua tempat yang ada. Setiap jalan-jalan ke luar kota atau keluar negeri,  film menjadi salah satu daftar belanja wajib. Untuk film yang susah didapatkan di toko-toko biasa, Daniel mengorder dari situs-situs di Internet seperti Amazon dan lain-lain. Selian itu, Daniel melakukan barter film yang dimiliknya, dengan sesama kolektor film.

Salah satu yang diburunya adalah  film-film dalam kemasan boxset yang unik dan berbonus merchandise film, seperti limited edition yang berkemasan kayu ukiran, bentuk tematis filmnya seperti Band Of Brothers berbentuk tas militer dengan peta dan kompas, dan ”Sekarang saya sedang mengumpulkan film-film Indonesia zaman dulu yang sebagian banyak didapat di luar seperti Malaysia. Ini harta karun yang berharga sekali, tapi sayangnya pemerintah kita kurang serius mengurus databasenya,” paparnya.

Tidak itu saja, dalam waktu dekat ia berencana membuat museum film di kota Medan yang tak terbatas hanya pada film dalam bentuk fisik. Namun juga pernak-pernik film, agar orang lain juga bisa menikmati tampilan poster-poster dan merchandise film zaman dulu. “Selain itu, mungkin dalam waktu dekat saya akan membantu seorang teman mempromosikan film bioskopnya untuk roadshow di Medan,” tambahnya.

Pekerjaan dan Kegiatan  Sampingan

Hobinya  terhadap perfilman, dijadikannya sebagai pekerjaan sampingan. Ia pun menjadi penulis review film di sebuah koran lokal sejak masih kuliah, pada  tahun 1997 dan kegiatan lainnya yang berhubungan dengan film. Pria ramah dan gampang senyum ini juga aktif di beberapa komunitas film lokal, movieblogger nasional yang baru berdiri tahun lalu.

Terkadang diminta menjadi juri buat festival lokal seperti FFA (Festival Film Anak). “Kalau itu nggak. Saya menulis resensi cuma untuk koran, blog saya sendiri dan social networking di beberapa forum internet,” katanya. Kalau lagi waktu bebas, ia bersama dua orang teman yang lain memproduksi film indie dengan namanya Cinema ├ętranger. (Bahasa Perancis, artinya outsider) melalui rumah produksi kecil-kecilan yang didirikannya. 

Dari beberapa film indie yang dibuat dan pernah diikut sertakan dalam festival-festival nasional. Film indie   yang diproduksi pernah menang di kontes short parody Asia/Australia yang diadakan MTV tahun 2005 (Shoot It and Spoof It MTV Movie Awards 2005). ”Hadiahnya waktu itu handycam dan trip gratis ke Hollywood, Los Angeles,” jelasnya dengan tersenyum.

Thursday, 2 February 2012

Event Medan Februari



22 - 26 Februari 2012 Santika Premiere Dyandra Hotel & Convention
Jalan Maulana Lubis No 7, Medan
aaa

Wednesday, 1 February 2012

Suara Lonceng di Gereja Tua

Gereja Immanuel Jalan Diponegoro Medan   ini  bangunan bersejarah di kota Medan  mulai dibangun 21 Oktober  1921
Jalan Diponegoro siang itu tak pernah  hening dari suara kenalpot dan kelekson kendaraan yang melintasinya.  Berbeda ketika di era tahun 1920-an. Hanya suara cari lonceng sebuah gereja yang terdengar di jalan ini. Itu pun berbunyi hanya satu jam sekali.

Loceng buatan Belanda tahun 1922
Mesin jam sekaligus menggerak bandul pada lonceng gereja

Suara lonceng itu dahulunya berasal dari bangunan GPIB Immanuel. Gereja ini salah satu bangunan bersejarah di kota Medan karena  mulai dibangun 21 Oktober  1921 lalu. Dahulu, gereja ini bernama Indische Kerk atau Staatskerk, tempat peribadatan bagi komunitas warga negara Belanda  penganut agama Kristen Protestan di hari minggu, ketika  kota Medan masih dibawah pengawasan pemerintahaan Hindia Belanda.

Konon, sebelum tahun 1994, jemaat yang beribadah disibi  masih menggunakan bahasa Belanda. Setelah tahun 1949,  gereja ini  sudah mulai melayani kebaktian menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Belanda dengan pendeta saat itu bernama Uktolseja.

Jejak historis  gereja ini, hingga saat ini masih terlihat.  Arsitektur bangunannya yang bergaya renaisence masih dipertahankan. Interior berbahan kayu pada bagian dalam masih dipertahakan. Begitu pula gantungan lampu pada plafon, altar, mimbar khotbah, kursi jemaat   yang masih terpelihara dan tetap dipergunakan.

Namun, karena usianya yang sudah cukup tua. Ada beberapa perubahan yang terpaksa dilakukan.  Pada tahun 1948  lantai gereja yang dahulu dari papan, diganti dengan ubin.  Pada tahun 1961, dilakukan renovasi pada dinding dan plafon karena sebahagian telah rusak dimakan rayap dan terakhir pada tahun 1992 dinding menara dan pintu depan diganti dengan keramik warna biru.

Keunikan dari gereja,  pada bagian menara terdapat jam dan sebuah lonceng buatan Belanda tahun 1922. Dahulu, bila jarum panjang berada diposisi angka dua belas, bandul pada lonceng ini langsung berdentang secara otomatis, mecah kehinangan kota Medan hingga sejauh 3 kilometer.

Jam dan suara lonceng di  gereja ini lah ketika itu dipergunakan masyarakat menjadi salah satu petunjuk waktu, selain jam yang berada di gedung Balai Kota, Jalan Balai Kota  Medan.  Sayangnya, jam ini berhenti berputar karena sulit diperbaiki akibat sulitnya mendapatkan onderdil. 

“Hanya lonceng ini yang hingga  saat ini masih bisa digunakan. Biasanya kita bunyikan kalau ibadah hari minggu, ada peberkatan pernikahan dan di malam pergantian tahun,” sebut  seorang sekuriti yang mendampingi kami mengitari gereja yang kini telah berusia sekitar 90 tahun ini.