Sunday, 8 April 2012

Simbol Keterwakilan Perempuan Sumut di Kancah Politik

Sebahagian besar masyarakat umumnya dan kaum perempuan Sumatera Utara (Sumut) khususnya,  nama Prof.DR.Ir.Hj. Damayanti Lubis sudah tidak asing lagi didengar. Perempuan 60 tahun kelahiran Binjai ini kini menjadi simbol kebangkitan  kaum perempuan asal Sumatera Utara (Sumut) untuk berkarya di Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD-RI) Jakarta. 

Prof.DR.Ir.Hj. Damayanti Lubis

Maklum, sejak lembaga itu dibentuk, baru kali ini kaum perempuan dari Sumut mendapat perwakilan di DPD RI. Sebelumnya, beberapa kali Pemilihan Umum  (Pemilu) berlangsung setelah reformasi bergulir,  keterwakilan  Sumut di DPD RI masih  didominasi kaum pria.

“Sekarang perempuan ada 27% di DPD RI. Artinya, perempuan saat ini sudah bisa mandiri,” sebut perempuan yang pernah memperoleh Penghargaan Karya Satya dua kali dari mantan Presiden  Soeharto tahun 1997 dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2006,  di kediamannnya Jalan Picauly Nomor 14, Komplek Universitas Sumatera Utara (USU), Jumat pertengahan Okteber lalu.

Sejak sebagai anggota DPD RI periode 2009-2014  aktivitasnya terbagi di Jakarta dan  di daerah. Di gedung Senayan, ia saat ini bergabung di Komite III yang mengurus persoalan Pendidikan, Agama, Kesehatan, Perempuan dan Anak, Pariwisata, Ketenagakerjaan, Kesejahteraan Rakyat. Sebahagian waktunya lagi waktu berkunjung ke daerah untuk menyerap aspirasi masyarakat

Tak hanya menampung aspirasi dari masyarakat. Pejabat setingkat bupati hingga mengadu kepadanya karena perosalan belum turunnya dana dari Pemerintah Pusat. Untuk kemudahan memperjuangkan aspirasi, ia menyediakan fasilitas  yang bisa dipergunakan masyarakat tanpa batas waktu  seperti faksimil, sms via ponsel dan email  untuk menampung pengaduan.

Mengundurkan diri dari dosen

Perjalanan  alumni S1 di  Institut Teknologi Bandung (ITB) ini menuju gedung Senayan bukanlah tanpa perjuangan dan pengorbanan dalam membantu menaikan harkat dan martabat kaum perempuan. Ketika mencalonkan diri,  istri Prof DR Ir Chalilullah Rangkuti MSc ini, nekat  hingga melepas pekerjaanya sebagai seorang dosen di Jurusan Teknik Mesin USU. 

Mengundurkan diri dari dosen sebenarnya menjadi pilihan tak enak bagi mantan Asisten Pembantu Rektor IV USU ini. Dosen sudah dirintisnya sejak tahun 1976 lalu.  Namun, karena tekad sudah bulat, ia memilih resiko kehilangan pekerjaan bila langkahnya tidak mulus ke gedung Senayan.

Untungnya, usaha dan pengorbannya tidak sia-sia. Dengan perolehan suara peringkat ke empat, Damayanti akhirnya  lolos menemani Drs  Rudolf Pardede, Parlindungan Purba SH MM dan  DR H Rahmat Syah. Alasan utama baginya duduk di DPD RI  ingin lebih banyak berbuat bagi masyarakat. “Kalau saya ikut di DPD, saya bisa mempengaruhi kebijakan untuk rakyat dan perempuan khususnya,” ujarnya beralasan. 

Selama menjadi ‘senator’ sejumlah usaha sudah dilakukannya  seperti mengajukan usulan perubahan UU Ketenaga Kerjaan, penurunan ongkos ibadah haji dan persoalan ujian nasional.  “Tak jarang untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat, saya hingga ngotot dengan menteri di dalam rapat  Komite,” ujar pemilik hoby membaca dan traveling ini.

Jejak menuju DPD RI

Jejak perjalannya ke DPD RI, berawal dari usai menyelesaikan pendidikan S3 di University of Leeds, Inggris tahun 1990. Kembali dari Inggris, ia  sering melakukan  penelitian dan aktif dalam berbagai diskusi mengenai seputar persoalan kemasyarakatan dan perempuan.

Nah, dari sinilah ia di mulai berperan hingga pernah menjadi Ketua Pusat Studi Wanita USU  dan Ketua Kaukus Perempuan Sumut hingga saat ini, yang menjadi pondasi untuk berbuat lebih banyak lagi di DPD RI  untuk masyarakat dan kaum perempuan khususnya.

Wednesday, 4 April 2012

KRAMER WAHANA NAMRaC TEAM

Hobi bisa memberikan inspirasi untuk meraih prestasi. Hal itu telah dibuktikan pecinta otomotif tergabung dalam Kramer Wahana NAMRaC di berbagai event drag race, slalom test, sprint rally, speed offroad.   

Dentuman suara berasal dari  kenalpot mobil terdengar kuat dari sebuah bengkel mobil di Jalan Perbatasan No. 6 Krakatau, Medan. Suara itu berhembus dari tiga mobil balap merek Toyota Vios, Toyota Soluna dan Toyota Starlet EP 71 yang nangkring di dalam garasi itu. Mobil-mobil balap itu milik para pembalap otomotif tergabung dalam Kramer Wahana NAMRaC Team.

Ketika  mengunjungi bengkel mobil bernama Kramer motor itu, sekaligus markas Kramer Wahana NAMRaC pada suatu sore akhir Desember lalu, tiga driver team: Asmansyah Harahap, Andrie Harahap dan Fachri Rangkuti, menyambut kedatangan kami dengan hangat.

Sambil santai bercengkarama, mereka sesekali membersihkan debu dan bercak-bercak yang menempel di mobil. Asmansyah Harahap bercerita, pada 22 Januari mengikuti kejuaraan drag race dan putaran I North Sumatera Rally Championship pada bulan April. “Target kami ikuti dalam event dekat nanti, menjadi juara di kelas yang diikuti,” sebut Asmanyah Harahap, salah satu founder Kramer Wahana NAMRaC Team. 

Apa yang dikatakan Asmanyah bukanlah muluk-muluk. Sosoknya bersama team yang dibangunya dengan teman-temannya sudah tidak asing lagi di berbagai event, seperti drag race, slalom test, sprint rally maupun speed offroad. Tidak sedikit prestasi yang sudah diraih mereka. Puluhan piala dan tropy terpajang di sekretariat mereka sebagai bukti ketangguhan mereka di arena balapan.

Sepanjang tahun 2011 lalu saja misalnya, tidak sedikit kesuksesan yang telah mereka boyong. Misalnya, pada North Sumatera Rally Championship 2011 mereka berhasil didapuk sebagai Winner of Group N15. Pada Piala Gubernur Aceh di Langsa mereka meraih juara  2 dan 3 Sprint Rally dan juara tiga sebanyak dua kali untuk Speed Offroad. Tak hanya itu, mereka juga meraih juara 3 group N15 dan juara 3 group GR.2 Speed Offroad/ Sprint Rally di Medan 2011. Pada Dare Autocustom Drag race 2011 (Medan) mereka berhasil menyabet juara II kelas 2.1 b modifikasi (sedan 1401-1500 cc). 

Banyaknya prestasi, membuat kehadiran mereka di event otomotif diperhitungkan tim lain. “Kunci kesuksesan tim ini dalam mengikuti event yaitu dengan persiapan matang dan serius dalam mengikuti setiap event dan dengan support penuh dari team sendiri,” kata Asmanyah Harahap.

Di tahun 2012 ini mereka telah memiliki ambisi kuat demi meningkatkan prestati. “Sasaran tim pada tahun 2012 ini ialah mengikuti 3 putaran kejuaraan Rally yang akan dilaksanakan oleh IMI Sumut dan beberapa event Drag race, dan tidak tertutup kemungkinan team ini akan mengikuti event yang diselenggarakan di luar wilayah Sumut,” ujarnya.

Berawal dari Bengkel 

Awal nama team ini berasal dari nama Kramer Motor sebuah bengkel melayani perbaikan mobil umum harian selain dari balap yang didirikan Asmanyah dengan seorang rekannya Dian Sukmawan yang memiliki kesamaan hobby otomotif. Asmanyah sendiri sudah berkecimpung di dunia balap seperti Shalom test & Rally sejak duduk di bangku SMA.

“Sejak 2001 hingga 2009 sebelum nama tim yang awalnya dimotori oleh Dian Sukmawan, Asmansyah Harahap, Andrie Harahap, dr.Egon Irsan Nasution dan Andi Bonar Siregar berganti menjadi Kramer Wahana NAMRaC, sudah banyak prestasi yang diraih dari ajang drag race, slalom test, sprint rally dan speed offroad,” tuturnya.

Namun di balik semua itu, kekuatan tim ini tidak bisa dilepaskan dari dukungan berbagai pihak. Di antaranya dukungan 2 perusahaan dari group Kramer, yaitu Wahana Logistic yang merupakan perusahan di bidang cargo/shipping dan NAMRaC yang bergerak di bidang jasa penyewaan mobil. “Kramer sendiir dijalankan oleh Dian Sukmawan dan perusahan Wahana Logistic, NAMRaC dijalankan sepenuhnya oleh saya,” terang Asmansyah.

Kramer Wahana NAMRaC Team

Dian Sukmawan                                  : co-driver & driver slalom & drag race
Asmansyah Harahap                           : rally, slalom & drag race
Andrie Harahap                                   : rally & drag race
Deddy Heriyanto                                 : co-driver & driver slalom & drag race
Andi Bonar Siregar                              : drag race
dr. Egon Irsan Nasution                       : rally & slalom
Fachri Rangkuti                                   : co-driver & driver drag race, slalom
Koko Ferdian                                       : co-driver
Welly Armaya                                     : co-driver
Sondi Pribadi : Team Manager


Ketika Pecinta Mobil VW Berkumpul


Cahaya bulan malam itu terang menyinari kawasan  lapangan merdeka, Medan. Di atas trotoar jalan, di Jalan Pulau Pinang (di depan gedung Kantor Wilayah Bank Mandiri), sekelompok orang terlihat duduk asyik bercengkrama sambil menikmati aneka makanan, kopi dan teh panas yang tersaji di atas tikar.

Tidak jauh dari tempat mereka ngumpul, berjejer sekitar 20 unit mobil Volkswagen (VW) mulai dari VW  Combi, Beetle (VW kodok), Safari. Meski tergolong mobil tua, penampilanya yang  klasik dan apik dilihat. Mobil-mobil VW itu adalah milik Volkswagen Owner Family (VOF), sebuah komunitas pecinta mobil VW di Medan.

Saat  menyambangi  mereka pada Sabtu malam pertengahan Desember lalu, keakraban dan kekeluaragan di antara mereka begitu hangat. Tak ada terlihat kesan di antara mereka lebih menonjolkan diri baik dari segi status pekerjaan maupun profesi. Komunitas ini seakan menghilangkan jabatan dan kedudukan yang melekat diri mereka .

“Slogan VW adalah kekeluargaan. Saya pernah beberapa kali tanya kepada anggota, mengapa mereka memilih bergabung di VOF. Kebanyakan mereka selalu menjawab karena kebersamaanya yang kuat. Jadi, kita di sini tidak hanya pada mobilnya saja, tapi rasa persaudaraanya yang penting,” kata Ketua VOF Budi Irawan kepada Kover Magazine. 

Semakin lama, anggota lainnya pun semakin ramai berdatangan. Tak pelak, suasana pun semakin ramai. Maklum di antara mereka yang datang tak hanya sendirian. Ada yang turut membawa istri dan anak-anak. “Seperti ini lah suasananya bila kita ngumpul. Anak dan istri selalu dibawa. Begitu pula kalau ada touring, karena slogan VW ini adalah kekeluargaan,” sebut Budi Irawan.  

Bagi para pecinta mobil VW di Medan, Jalan Pulau Pinang, sudah menjadi langganan tetap untuk ngumpul bareng. “Pertemuan rutin ini bisa kita gunakan untuk saling menukar informasi seputar VW. Bahkan tidak tertutup kemungkinan bisa hingga ke kans-kans bisnis,” terang  Budi.

Komunitas ini resmi dibentuk tahun 2004 lalu. Sampai saat ini sudah 50 orang para ‘kolketor’ VW dari mulai usia  muda hingga orang tua terdaftar secara resmi di VOF. Ada yang berprofesi sebagai pengusaha, dokter atau memiliki jabatan di perusahaan swasta maupun instansi pemerintah.

Komunitas ini pun sampai ini terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung. Tak banyak persyaratan dan tetek bengek yang diperlukan. Kesempatan juga diberikan bagi yang tidak memiliki mobil VW untuk simpatisan. “Namun mereka harus senang dengan VW,” pungkas Budi.  

Satu-satunya Club VW Aktif

Sebagai klub otomotif, touring sudah pasti menjadi salah satu kegiatan tetap. Begitu pula di VOF. Mereka pun sering mengadakan touring hingga ke luar Sumatera Utara.  Pada Pesta Danau Toba tahun lalu misalnya, VOF mengikuti Rally Wisata yang diselenggarakan Ikatan Mobil Indonesia (IMI) Sumatera Utara, 29-30 Desember 2011. 

Sepulang dari Danau Toba, mereka pun masih mendampingi komunitas VW dari Kota Pekanbaru, Riau  yang melaksanakan touring ke Sabang, Banda Aceh yang digelar komunitas VW Regional Sumatera 31 Desember 2011 -5 Januari   2012. Rutin menggelar berbagai kegiatan, inilah yang membuat klub ini mendapat pengakuan dari  Volkswagen Indonesia. Alasannya, seperti kata Budi, “VOF dinilai satu-satunya club VW yang aktif  di Medan.”

Tak hanya touring semata, mereka juga telah menggelar bakti sosial. Terakhir, mereka mengadakan pembagian sembako di Sicanang dan Satabat. “Di bulan puasa, setiap tahunnya kegiatan bakti sosisal pasti ada kita lakukan,” tuturnya.

Volkswagen Owner Family

Ketua                           : Budi Irawan
Sekretaris                     : Edy Poerwanto
Bendahara                    : Haryo
Seksi Kegiatan : Sujalmo
Sekretariat                    : Jl. Perdana No. 55 Medan