Friday, 27 December 2013

Dari Dunia Pendidikan ke Politik

Hj Tety Juliaty, SE,M.Si


Di dunia pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) bagi perusahaan-perusahaan di Kota Medan, sosok wanita satu ini sudah tidak asing lagi dilihat. Ia adalah Staf Ahli di Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara (Sumut) dan dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Harapan, Jalan Sudirman, Medan. 
Di bidang pengembangan SDM, ia adalah Direktur di Lembaga Diklat Profesi (LDP) Indonesia, sebuah lembaga pelatihan tenaga Administrasi, Sekretaris, Akutansi, Komputer dan Public Speaking yang berdiri sejak tahun 2007 dengan tujuan supaya orang-orang bisa memiliki pribadi yang kompeten di dunia kerja dengan memberikan pekerja di perusahaan-perusahaan yang sudah mapan.  
"Kita juga melakukan kerjasama dengan Dinas Pendidikan Sumut untuk melatih guru-guru SMK (non teknik). Kerjasama juga kita lakukan dengan Dinas Tenaga Kerja Kota Medan," sebut Tetty Juliaty  di kantornya, Jalan T Amir Hamzah, Kompeks Griya Riautur, Kamis sore (14/11).   
Selain berkecimpung di LDP Indonesia, ia juga mengelolah Jobstation. Jobstation adalah sebuah perusahan konsultan SDM dan rekrutmen tenaga kerja.  Kemudian sebagai dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Harapan, Jalan Sudirman, Medan dan terkadang mengajar pekerti di Fakultas MIPA, Universitas Sumatera Utara (USU). "Sebenarnya saya diminta mengajar lagi di Perguruan Tinggi swasta lain. Namun belum ada waktu," paparnya.  
Dengan banyak kegiatan, wajar bila Tetty Juliaty setiap harinya sangat sibuk. Itu belum lagi termasuk aktivitas lainnya seperti: Kepala Cabang Lembaga Sertfikasi Profesi Administratif, Staf Ahli di Dinas Pendidikan Sumatera Utara, Profesional dan Sekretaris Indonesia Sumatera Utara menjadi narasumber di workshop, seminar dan pelatihan, juri dalam berbagai perlombaan di tingkat Kota Medan, Provinsi dan Nasional hingga mengikuti event-event pendidikan di luar negeri.  
"Kalau kegiatan setiap hari, paginya aktivitas saya di LDP Indonesia dan Jobstation. Malamnya, saya sebagai dosen di STIE Harapan," kata Tetty Juliaty. 
Menurut Tetty Juliaty, memilih pekerjaan di bidang pendidikan dan pengembangan SDM terinspirasi dari filosopi hidupnya yang ingin membantu orang untuk menggapai kesuksesan. "Ketika saya membuat orang sukses, saya merasa bahagia," tukasnya. 
Selama perbincangan membahas pengembangan dunia pendidikan dan SDM, Tetty Juliaty begitu bersemangat. Baginya, pendidikan sangat penting dan nomor satu untuk bisa menggapai kesuksesan. 
\Semangat dan Kerja Keras\ tulisan tebal
Namun, kesuksesan wanita ramah dan berpenampilah low profil ini diraih dengan semangat dan kerja keras. Sebelum terjun di dunia pendidikan, ia sempat bekerja sebagai Staf Train di sebuah Perkebunan Asing, Head Teller di Bank Umum Nasional (BUN), sambil kuliah di STIE Harapan dan kemudian Sekretaris di PT PBS.
Terjun di bidang pendidikan pertama kali dimulai Tetty Juliaty di Politeknik Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia (LP3I), dan kemudian hijrah ke IBBI Medan sebagai dosen kepribadian dan Sekretaris, bahkan hingga ke Fakultas MIPA, Universitas Sumatera Utara (USU) sebagai dosen pekerti. "Ketika di IBBI lah awalnya saya bernar-benar merasakan jatuh cinta dengan dunia pendidikan," tutur Tetty Juliaty. 
Menurutnya, satu hal yang membedakan dirinya dengan dosen lainnya, ia adalah dosen praktisi dengan membagi pengalaman pekerjaannya kepada para mahasiswa. Baginya antara tenaga pengajar dan tenaga pendidik sangat berbeda. "Kalau mengajar semua orang bisa, tapi kalau jadi pendidik memiliki tanggungjawab moral kepada Tuhan. Sebagai pendidik, pasti mengingin menjadikan orang sukses," ungkapnya. 
Terjun ke Politik
Ada yang berbeda dengan sosok Tetty Juliaty belakangan ini. Bukan karena ia telah meninggalkan dunia pendidikan, namun pilihannya terjun ke dunia politik. 
Tetty Juliaty tercatat sebagai salah satu Wakil Ketua di DPD Partai Nasdem Sumut, dan calon legislatif (Caleg) DPRD Sumut urut tiga dari daerah pemilihan 2 Medan.      
Tetty Juliaty mengaku, sebelumnya tidak tertarik dengan politik. Namun, karena ada seseorang yang terus berusaha menyakinkannya tanpa jenuh, ia pun akhirnya tertarik terjun di politik. "Ketika orang itu
menyebutkan,'apakah kamu rela membiarkan orang-orang yang tidak becus mengisi parlemen,', mendengar itu saya merasa tersentuh," katanya.
Terjun di politik diawalinya sebagai Ketua Garda Wanita Sumut, salah satu sayap Ormas Nasdem yang ketika itu belum menjadi partai politik. Setelah Nasdem berubah bentuk menjadi partai politik, Tetty Juliaty kemudian dipilih menjadi Wakil Ketua di DPD Partai Nasdem Sumut. 
Namanya yang begitu besar di dunia pendidikan akhirnya menjadi daya tarik partai nomor urut satu ini menjadikannya sebagai salah satu caleg. Bahkan, sudah mulai digadang-gadang ketika masih menjadi Ketua Garda Wanita Sumut. "Bukan saya mau jadi caleg, tapi saya diminta dan bukan hanya sekadar untuk memenuhi kuota perempuan di parlemen," tukasnya. 
Ia berharap bila lolos di DPRD Sumut, bisa membenahi pendidikan untuk mengingkatkan pendidikan berkualitas sehingga akses masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan dan wirausaha bisa lebih mudah sehingga bisa mensejahterakan masyarakat. (Midian Simatupang)

Komunitas Pecinta Mitsubishi Lancer

Ada pemandangan yang berbeda di halaman gedung rektorat Universitas Sumatera Utara (USU), Jalan Dr Mansyur, Minggu pagi (10/11). Puluhan orang  berbagai usia dari mulai anak-anak, anak muda, orangtua, pria dan wanita bercengkrama secara berkelompok di antara sela-sela sekitar 25 unit mobil Mitsubishi Lancer dari produksi tahun 1981-1984 yang berjejer rapi.

Mobil-mobil itu adalah milik para pengurus dan anggota komunitas pehobi mobil Mitsubishi Lancer (Kunujungi: www.dealermitsubishi.comwww.ktb.co.idwww.mitsubishiberlian.comtergabung dalam SL Never Die Indonesia Chapter Medan. Komunitas ini resmi terbentuk pada 30 September 2012 lalu di Hotel Hurung Tama, Sibolangit. Induk SL Never Die Indonesia sendiri berpusat di Jakarta, dan memiliki sejumlah cabang (Chapter) di sejumlah kota di Indonesia.  

Meski mobil tergolong tua, namun kecintaan mereka pada mobil produksi Jepang ini, membuat mobil tua ini semakin apik, dan kinclong terlihat. Bahkan, kini bernilai tinggi karena penampilannya kian klasik terlihat. "Di tahun 1984 mobil ini raja jalanan, digemari anak muda," kata Zulfikar, Bendahara SL Never Die Indonesia Chapter Medan.  

Tercatat sudah 37 unit mobil Mitsubishi Lancer terdaftar di komunitas ini. Para pemiliknya berasal dari berbagai kalangan usia, status, dan pekerjaan. Namun, para anggotanya lebih didominasi dari kalangan yang sudah berkeluarga.

"Komunitas ini khusus mobil Mitsubishi Lancer dari tahun 1981 sampai 1984  yang berpusat di Jakarta, kita merupakan Chapter Medan," kata M Zuni Handika salah satu pendiri yang juga Ketua Umum SL Never Die Indonesia Chapter Medan.      

M Zuni Handika bercerita, ide membentuk komunitas ini terdorong dari kecintaanya kepada mobil Mitsubishi Lancer. Kemudian ia mencari informasi seputar komunitas mobil Mitsubishi Lancer di dunia maya. Dari dunia maya itulah ia mengetahui ada komunitas mobil Mitsubishi Lancer di Jakarta. "Saya kemudian mendaftar, dan kemudian saya dikirimi perlengkapan dan ditunjuk sebagai Ketua Chapter Medan," tukasnya.  

Mendapat kepercayaan dari Jakarta, Andika--panggilan akrabnya kemudian menyisir jalanan Kota Medan untuk mencari anggota. Tak jarang ia mengaku, bersama dua orang rekannya, Dendi dan Andre, terpaksa memberhentikan mobil Mitsubishi Lancer yang sedang lewat demi mengajak ikut bergabung di komunitas ini.

Berkat usaha dan kerja keras, Andika bersama Dendi dan Andre berhasil menghimpun lebih banyak lagi pecinta Mitsubishi Lancer. "Waktu resmi terbentuk pada 30 September 2012 sudah ada 15 mobil. Sekarang sudah ada 37 mobil. Pada 31 September lalu kami sudah merayakan ulang tahun pertama di tempat dimana pertama kali SL Never Die Indonesia Chapter Medan resmi dibentuk," paparnya.

Andika mengatakan, tujuan dibentuknya SL Never Die Indonesia Chapter Medan adalah sebagai wadah komunikasi dan menigkatkan talisilaturahmi antar sesama pecinta mobil Mitsubishi Lancer. Bahkan lanjutnya, di komunitas ini rasa keakraban dan kekeluargaan antar sesama pecinta mobil Mitsubishi Lancer kini semakin kuat.
Agar rasa keakraban dan keluargaan tetap terjalin, mereka wajib mengadakan kopi darat (Kopdar) dua kali dalam sebulan. Tempat kopdar yang biasa mereka singgahi pindah-pindah, terkadang mangkal di Lapangan Merdeka, Petronas Jalan Ringroad, di pinggir kantor PTPN Sei Sekambing.
Keakraban juga mereka jalin dengan kegiatan touring bersama seperti ke Pantai Kuala Putri di Sergai, Laut Tawar dan Berastagi.

"Setiap kali mangkal dan touring anak dan istri dilibatkan. Justru kalau anak dan istri tidak dibawa pasti ditanyai sama yang lain. Makanya di SL Never Die Indonesia Chapter Medan diperkuat oleh keluarga," kata Iqbal Askari, Sekretaris I SL Never Die Indonesia Chapter Medan menimpali.

Andika menambahkan, talisilaturahmi juga dijalin SL Never Die Indonesia Chapter Medan dengan komunitas otomotif lainnya. Salah bentuk nyata adalah dengan akan diadaknya event memperkuat dan mempererat tali silaturahmi antar sesama klub mobil retro dan klasik se Sumatera Utara pada 17 November mendatang. "Ada 15 klub yang sudah dipastikan ikut. Kegiatan ini merupakan bagian dari event SL. Selain itu pada 24 November kita juga akan ikut drag race Medan Auto Fest ," ujarnya.

Meski usia klub ini masih seumur jagung, namun kehadiran klub ini memberikan manfaat juga bagi orang banyak. Hal itu terlihat dari berbagai kegiatan bakti sosial yang sudah dilakukan dengan mengunjungi sejumlah Panti Asuhan di saat perayaan hari besar keagamaan seperti Ramadhan dan Paskah. "Kita berencana ke depan akan mengadakan penanaman 1.000 bibit pohon di bukit lawang," tambah Andika. (Midian Simatupang)



SL Never Die Chapter Medan

Pembina : Marwan
Penasehat I : Budi
Penasehat II : Hendra
Penasehat III : Adnan Askalani
Humas I : Gunawan Bonny H Hutabarat
Humas II : Febrian Satya
Ketua Umum : M Zuni Handika. D
Ketua Harian : Rully Syahyuda
 Sekretaris I : Iqbal Askari
Sekretaris II : Adar
Bendahara : Zulfikar
Koordinator
Agama Islam : Purwanto
Agama Kristen : Anthony

Sekretariat
Jl. Gatot Subroto Km 7,2, Komp. Perwira Ujung 39 D
Fb SLneverdie Chapter Medan
twiter: @SLneverdieMdn

Sunday, 15 December 2013

"Kami Masih Berideologi Independen"

Opique pictures merupakan sebuah komunitas film indie asal Kota Medan yang lahir pada tanggal 9 Januari 2008. Tidak sedikit film-film karya mereka  mendapat penghargaan di berbagai ajang festival film. Bagaimana perjalanan M Taufik Pradana membangun komunitas ini? Berikut wawancara dengan Taufik Pradana, beberapa waktu lalu?

Sejak kapan Anda mulai terjun di Industri perfilman?
Sejak tahun 2008, saat masih duduk di kelas 2 SMA bersama kawan-kawan iseng-iseng mendokumentasikan sebuah perjalanan dan tanpa senggapa membuat nama produksi Opique Pictures.

Apa yang memotivasi Anda untuk memilih usaha ini?
Saya memang memiliki rasa penasaran yang tinggi, setelah mengetahui bagaimana cara sedernaha memproduksi film sederhana dan Kemudian mengikuti ajang Festival Film Anak dan mendapatkan penghargaan menjadi motivasi dasar jalan hidup saya di dunia sinematografi ini.


Bagaimana awalnya Anda mulai membangun usaha ini?

Dari awal hingga saat ini komunitas kami masih beridiologi independen dan menguatkan wadah penyaluran bakat. Lambat laun dari non komersil guna mambantu usaha kawan, dan ternyata ini bisa di jadikan sumber pemasukan. Dari dana yang didapat diputar menjadi modal produksi film idealis guna mengikuti ajang kompetisi film lainnya. Di tambah lagi dengan sulitnya mencari pendukung dana di kota medan ini, sehingga kegiatan komersil menjadi alternatif untuk biaya produksi film non komersil.

Menurut Anda, apakah usaha ini memang memiliki peluang bisnis yang menjanjikan?
Menurut saya sangat ia dikarenakan semangkin majunya kemajuan teknologi, akan tetapi film tidak akan mati. Sebab sulitnya memasukan karya seni ke televisi namun mendia online dapat menjadi alternatif. Bahkan kita lihat dalam beberapa saat ini semangkin banyak yang terkenal di dunia online dari pada dari televisi. Di tambah lagi dengan adanya audio visual membuat para audience atau penonton lebih mudah mencerna dari pada membaca buku. Walau memang cenderung membuat orang lain menjadi malas. Tapi ini sudah menjadi kebutuhan orang banyak.

Selama ini sudah berapa banyak film yang Anda garap? 
Sejauh ini sudah ratusan judul film yang kami buat, walau lebih banyak produksi film durasi pendek. Diantanya adalah dokumentasi acara, film fiksi pendek, film documenter pendek, iklan produk, iklan layanan masyarakat, videoklip, liputan feature bahkan poto slide.

Film-film apa saja itu?  
Film fiksi “Ego” di produksi oleh Opique Pictures, Dharmateta, Komfaz Prod, WWB Prod dan Intermediaproject (2013), film fiksi “Marjinal” di produksi oleh Opique pictures dan Ghoqielt community (2012), film fiksi “Gak Belok Lagi” di produksi oleh Opique Pictures (2011), videoclip close time story –teringat sejenak dirimu di produksi oleh Opique Picture’s (2011), Videoclip dua lagu coconuthead – cover bang-bang tut slank dan hello brother di produksi oleh Opique Pictures (2011), film documenter “menjejaki air terjun dwi warna” di produksi oleh Opique Pictures dan Krikil Picture’s (2011, film documenter “Kualanamu, Lepas landas apa lepas kandas” di produksi oleh Opique Pictures dan Krikil Picture’s (2011), film documenter “Kelas Berdinding Angin” di produksi oleh Opique Pictures dan Krikil Picture’s (2010), film fiksi “1000 Langkah 1 Tujuan” di produksi oleh Opique Picture’s dan Kofamzah Picture’s (2010), film fiksi “Pionering Sahabat” di produksi oleh Opique Picture’s dan Komfaz production (2010) dan film “Freedom Of Choise” peserta lomba cipta film democrazy yang di selenggarakan America Government di produksi Opique Picture’s (2010).        
Kemudian film docudrama “museum, Sejarah yang Terlupakan”  produksi Opique Picture’s (2010), film profil 2 sekolah dasar negeri medan di produksi oleh Opique Picture’s (2010), Iklan Chitato “pos id” di produksi oleh Opique Picture’s (2010), videoklip sederhana Portal band di Produksi oleh Opique Picture’s (2010), company profil sirup markisa Noerlen di produksi oleh Opique Picture’s (2009), film fiksi “Dari Hati” di produksi oleh Opique Picture’s (2009), film documenter “Hydrosfer” di produksi oleh Opique Picture’s (2009), film fiksi “Gulungan Uang” di produksi oleh Opique Picture’s (2009), film fiksi “Joe Mengejar Cinta” di produksi oleh Opique Picture’s (2009), film documenter “Rumah Kita” di produksi oleh Opique Picture’s (2008) dan film documenter “Global Never Warming” di produksi oleh Opique Picture’s (2008).

"Dari awal hingga saat ini komunitas kami masih beridiologi independen dan menguatkan wadah penyaluran bakat. Lambat laun dari non komersil guna mambantu usaha kawan, dan ternyata ini bisa di jadikan sumber pemasukan. Dari dana yang didapat diputar menjadi modal produksi film idealis guna mengikuti ajang kompetisi film lainnya. Di tambah lagi dengan sulitnya mencari pendukung dana di kota medan ini, sehingga kegiatan komersil menjadi alternatif untuk biaya produksi film non komersil"



Karya film Anda juga banyak mendapat penghargaan?
Sutradara terbaik versi film documenter FFA (Festival Film Anak) pada tahun 2008  dalam film berjudul “Rumah Kita”, Juara III skrip terbaik dalam acara hari anak nasional yang di selenggarakan oleh Pemprovsu 2009 dalam judul “Memulung Cita-Cita”,  Editor terbaik versi film fiksi FFA (Festival Film Anak) pada tahun 2009 dalam film berjudul  “Gulungan Uang”, Aktor terbaik versi film fiksi FFA (Festival Film Anak) pada tahun 2009 dalam fulm berjudul “Impian Anakku”, Juara II film dikumenter FFA (Festival Film Anak) pada tahun 2010 dalam film berjudul “Museum, Sejarah Yang terlupakan”,  Skrip terbaik film fiksi FFA (festival Film Anak) pada tahun 2010 dalam film berjudul “Pionering Sahabat”, Juara III film dikumenter Fertival Jurnalistik 2011 yang diselenggarakakn Departemen Ilmu Komunikasi USU dalam film berjudul “Kelas Berdinding Angin” dan Juara III  iklan Savety Riding Honda 2011 yang di selenggarakan oleh Honda dalam iklan berjudul “Kebiasaan Buruk Berdampak Fatal“.

Bagaimana sambutan masyarakat terhadap film-film Anda?
Sejauh ini untuk praktisi film dan pemerhati film idealis independen terus mendukung dan memotivasi kami tuk terus berkarya. Bahkan dukungan itu hadir melihat dari kerja kerasnya kami dalam produksi film yang memang masih banyak kekurangan. walau terkadang yang sering menjatuhkan kami orang film senior dimedan namun semangat dan pesan moral yang disampaikan dalam film masih menjadi modal dasar kami tetap bertahan di usia komunitas yang hampir 6 tahun ini.

Dari segi bisnis, apakah menguntungkan?
Yang kami alami sejauh ini memang agak sulit secara harga dan birokrasi produksi di medan ini. Termasuk pemerintah yang tidak mendukung dana dan kami juga pernah di usir saat produksi dengan aparatur Negara sedangkan tujuan produksi kami bukan untuk komersil.
Namun, kalau memang bisa dapat pasar maka sangat menguntungkan walau masih terbilang sulit semisal proyek tender pemerintahan yan system lelang, akan tetapi apabila gool bisa mencapai keuntungan >100% dari biaya produksi.

Sebenarnya seberapa besar dana yang dibutuhkan dalam menggarap  sebuah film hingga sampai di pasaran?
Pengalaman saat produksi film fiksi terpanjang yang kami buat berdurasi 1 jam 50 menit berjudul “Marjinal” dari kebutuhan skrip mencapai 102 juta. Namun dikarenakan tidak ada yang menyokong dana sehingga kami memangkas habis pengeluaran kebutuhan dengan sistem pinjam property dengan yang memilikinya sehingga jika di kalkulasi sekitar 5 jutaan dana yang keluar dari kantong anggota dan dana kas kaomunitas namun ini yang menghambat produksi sehingga memakan waktu produksi hingga 1 setengah tahun pengerjaannya.

Sumber dana itu dari Anda sendiri atau turut dibantu pihak sponsor? 
Beberapa bulan setelah skrip selesai kami terjun kelapangan guna menjaring sponsor, bahkan kepemerintahan di bola-bola hingga 3 bulan namun hasilnya nihil. Dari 4 sponsor yang didapat melainkan dari sistem ngomong langsung dan hanya mendapat fasilitas tempat dan alat guna memenuhi kebutuhan produksi film tersebut.

Bagaimana keuntungan yang didapatkan?
Secara materi keuntungan dari film “Marjinal” itu memang tidak memiliki nilai angka nominal, namun selama beberapa bulan kami mengadakan pemutaran film di cafĂ©, kedekopi, seminar mendapatkan nilai positif di kenal orang banyak secara langsung.

Strategi apa yang Anda lakukan biar film yang dihasilkan bisa diterima masyarakat?
Tidak ada strategi khusus melainkan dengan cara kreatif agar di terima masyarakat, seperti memutarkan film marjinal dengan cara layar tancap di daerah produksi film tersebut pada malam tahun baru 2013.


Apakah dalam waktu dekat ini ada rencana membuat film lagi? 

Dalam waktu dekat ini kami akan produksi film indie durasi panjang lagi, berjudul “Medan Buzzer” bekerjasama dengan distro “punya medan” dan komunitas jejaring sosial “medan buzzer”. Masih dengan cara kreatif indie yang masih serba kekurangan dalam hal mekanisme dan pendanaan, namun sejauh ini beberapa UKM sudah di gandeng dan beberapa sudah ada mendukung dana walau masih terkumpul minimal.


Menurut Anda bagaimana agar industri perfilman di Sumatera Utara semakin maju?

Semua elemen harus bersinergi, semisal pemerintahan menyediakan wadah. Jika memang pemerintah tidak dapat menyidiakan wadah, wadah yang di ciptakan dari masyarakat jangan di ganggu oleh pihak pemerintah apa lagi preman setempat. (Midian Coki Simatupang)

Pehobi Suzuki Baleno di Medan

Sekitar delapan unit mobil Suzuki Baleno berjejer di pinggir Jalan Setia Budi, Rabu malam (6/11). Tidak jauh dari lokasi mobil, sekelompok orang mulai dari usia muda dan tua tanpak bercanda akrab layaknya sebuah keluarga. Mereka adalah para pemilik mobil Suzuki Baleno yang tergabung di dalam Baleno Club Medan (BCM).


"Beginilah kalau kami sedang ngumpul, rasanya sudah menjadi keluarga. BCM bukan hanya sekedar klub, tapi kita buat layaknya satu kekeluargaan. Di sini kita bisa saling shareing dari seputar mobil hingga lainnya," kata Muhamad Yusuf Lubis, Ketua BCM.

Klub ini resmi berdiri sejak 31 Maret 2012 lalu dan terdaftar secara resmi sebagai anggota di Ikatan Motor Indonesia (IMI) Sumatera Utara (Sumut), serta menjadi klub binaan Trans Sumatera Agung (TSA), selaku main dealer suzukimobil.com wilayah Sumut.  (Kunjungi Harga Mobil Suzuki:suzukindonesia.com)

Salah satu pendiri BCM adalah Qintar (20), mahasiswa Fakultas Ekonomi, Universitas Sumatera Utara (USU). Saat pertama kali bediri, BCM hanya berangotakan enam orang. Namun, seiring berjalannya waktu para pecinta mobil Suzuki Baleno semakin ramai ikut nimbrung komunitas ini.

"Kini anggota sudah 43 orang. Anggota datang dari berbagai latarbelakang usia, status dan pekerjaan. Ada yang masih kuliah, Pegawai Negeri Sipil (PNS), Pegawai Swasta, Pengusaha. Kebanyakan sudah berkeluarga," terang Yusuf.

Satu keunikan dari klub ini tidak hanya disemarakan para pecinta Suzuki Baleno, namun juga para driver di luar Suzuki Baleno. Sedikitnya ada 10 mobil di luar Suzuki Baleno yang ikut bergabung. Namun, bagi pehobi otomotif di luar kendaraan Suzuki Baleno, mereka dijadikan sebagai simpatisan dengan sebutan Love BCM.

"Mereka tertarik bergabung karena melihat keakraban dan kekeluargaan di BCM sangat tinggi," sebut Yusuf Lubis.

Tingginya rasa kekeluargaan di BCM menurut Yusuf, dikarenakan para pengurus dan anggota yang sudah berkeluarga selalu rajin membawa istri dan anak saat sedang kopi darat, touring dan mengikuti berbagai event lainnya. Sering ikutnya para istri pengurus dan anggota akhirnya memunculkan ide membentuk Sister Hand BCM, sejenis sayap organisasai BCM yang diisi para ibu-ibu dan perempuan.

suzukimobil.com
"Nah di Sister Hand BCM ada arisan tersendiri. Ibu-ibu juga menghendel kebutuhan konsumsi bila kita lagi touring, jadi di sini mereka orangtua kami seperti layaknya orangtua kami di rumah," ungkap PNS di Dinas Sosial Sumut ini.

Sebagai komunitas otomotif, touring sudah pasti menjadi salah satu kegiatan tetap BCM. Daerah-daerah yang sudah mereka jelajahi adalah Pantai Cermin, Bukit Kubuh, Prapat, Laut Tawar, Kuil Emas Sibolangit. Terakhir mereka touring Medan-Sabang, 11-15 Oktober lalu.

"Kedepan dalam rangka dua tahun BCM, kita berencana touring ke Jawa, Bali dan Lombok pada Maret tahun depan. Kemudian touring ke Pekanbaru dan Padang pada malamm tahun baru," tambahnya.  
Tak semata touring, komunitas ini juga memiliki kepedulian cukup besar bagi sesama. Terbukti tidak sedikit Panti Asuhan yang disambangi BCM untuk menyalurkan bantuan (bansos).

Kegiatan bansos yang pernah dilakukan adalah di Panti Asuhan di Sunggal, di Padang Bulan, dan Rumah Yatim di Setia Budi. "Kita juga pernah memanggil anak Yatim ke Sekretariat kita," papar Yusuf.

Klub ini juga aktif mengikuti berbagai event otomotif di Kota Medan dari drag race, kontes, modifikasi, dan sloan. Pada 24 November nanti, BCM akan mengikuti event "Medan Auto Fest" dengan mengikuti kelas kontes, drag race dan sloan. (Midian Simatupang)




Ketua Umum
Mhd Yusuf Lubis

Wakil Ketua
Andrytriansyah

Sekretaris Jendral
K. Walad Sihombing

Bendahara
Lisnidar

Humas
Qintar R & Ade Lubis

Event & Logistik
Boy & Chris

Infokam
Youlanda

Sekretariat
Jl. Sei Serayu No 45 C
Telp. 061-76699200

Fb: Baleno Club Medan
Tw: @balenomedan 

Tuesday, 10 December 2013

Kembangkan Bakat Tarik Suara

Mega Lestari Sianturi 
FOTO: Ali Hermawan | Kaljack Photograph

Dara berparas manis bernama Mega Lestari Sianturi (20) ini tergolong anak yang mapan. Meski masih berstatus mahasiswa di Politeknik Negeri Medan, jurusan Akuntansi Perbankan, semester lima, ia mampu membiayai uang kuliahannya sendiri dari hasil mengembangkan hobbynya di dunia tarik suara.
Wajahnya hampir sering terlihat mengisi event-event di Kota Medan, bahkan hingga ke luar kota. "Terkadang saya menjadi wedding singer. Biasanya, kalau di Medan saya sering mengisi acara di Kepolisian seperti HUT Bayangkari, temu pisah Kapolres, dan lain-lain," kata Tari panggilan akrabnya kepada Jurnal Asia.
Kendati demikian, Tari mengaku tetap fokus di kuliahnya. Agar pekerjaan tarik suara tidak menggangu kuliahnya, Tari selalu memilih tawaran yang tidak bertabrakan dengan jadwal kuliah. "Kalau lagi jadwal ujian, ya gak mungkinkan tawaran saya terima. Kalaupun acara itu sangat penting, biasanya saya minta izin resmi dari kampus," tuturnya.
Bakat di dunia tarik suara yang dimiliki wanita berwajah imut, bertumbuh langsing dengan tinggi badan 160 cm dan berat badan 50 Kg ini memang sudah telihat dari berbagai prestasi yang pernah diraihnya. Bahkan, ia menjuarai kompetisi Vocal Solo Politeknik Negeri Medan, tiga tahun berturut-turut  tahun 2011, 2012 dan 2013.
Tak hanya itu saja, ia juga pernah mendapat juara II Kompetisi Vocal Solo yang diadakan oleh MICE EXPO Medan dan tahun 2013 ia bersama temannya di D'Bijes TRIO mendapat juara ke III pada event MEDAN MENCARI BAKAT atau Medan Got Talent.
Namun, sementara ini ia sedang mengurangi aktivitas nyanyinya karena sedang sibuk menyelesaikan kuliah tingkat akhirnya. "Tapi di tahun 2014, saya akan mewakili Sumut khususnya Politeknik Negeri Medan dalam acara Kompetisi Vocal Solo Tingkat Nasional yang diadakan di kalimantan Barat yang pesertanya para juara dari kotanya masing-masing di seluruh Indonesia," ujarnya. (Midian Simatupang)



Nama:
Suratih Mega Lestari Sianturi
Lahir:
Medan, 27 Juni 1993
Tinggi : 160
Berat : 50
Kuliah:
Akuntansi Perbankan, Politeknik Negeri Medan

Kereta Api Membawa Mereka Bertemu

DIVRE 1 RAILFANS

Komunitas ini menjadi tempat bertemu dan berkumpulnya para pencinta kereta api khususnya di Sumatera Utara. 

Di tengah hiruk pikuk suasana stasiun besar Kereta Api (KA) Divisi Regional 1 Sumatera Utara-Aceh, Jalan Stasiun Kereta, Medan, sekelompok pemuda terlihak duduk akrab bercengkrama. Namun, mereka bukanlah penumpang yang sedang menunggu jadwal keberangkatan. Mereka adalah pehobi kereta api yang tergabung dalam komunitas DIVRE 1 RAILFANS, akrab dengan singkatan DR1RF.
Di stasiun KA bekas peninggalan kolonial Belanda inilah mereka sering melakukan pertemuan dan membahas berbagai isu-isu menarik tentang perkeretaapian. Tak hanya itu saja, mereka juga melakukan berbagai kegiatan, mulai dari menulis artikel di majalah Kereta Api, naik kereta api bareng, hunting fotografi kereta api, blusukan menelusur dan mendokumentasi jalur-jalur KA Sumut yang telah mati atau ditutup dan menyusunan buku sejarah kereta api di Sumut. 
"Hobi terhadap kereta api ini merupakan hobi yang tidak umum dan bahkan banyak orang mengatakan ini hobi yang aneh, sehingga pada awalnya cukup sulit untuk menemukan teman yang memiliki hobi serupa," sebut Gregory Widya, Ketua DR1RF kepada Jurnal Asia, Kamis (10/10).
    
Namun, untuk bisa menemui mereka ternyata agak sulit juga. Pasalnya, karena kesibukan rutinitas dari masing-masing anggota, komunitas ini tidak memiliki jadwal rutin pertemuan. Pertemuan biasanya mereka lakukan secara dadakan yang diinformasikan melalui sms, telepon,dan facebook. Titik awal pertemuan mereka biasanya di Jembatan Titi Gantung yang ada di Stasiun Besar Medan.
"Teman-teman yang pada saat ini bergabung di DR1RF terdiri dari berbagai latar belakang usia mulai dari belasan tahun hingga 30-an tahun. Latar belakang pekerjaannyapun beragam ada dari pegawai BUMN, pegawai kereta api, swasta, wiraswasta, mahasiswa dan siswa sekolah," papar Gregory Widya. 
Komunitas ini resmin terbentuk pada 1 Agustus tahun 2009 lalu di Stasiun Pulu Brayan, berawal dari tiga orang pendirinya, yakni Gregory Widya pegawai sebuah BUMN di Kota Medan, Riky Soeripno mahasiswa Fakultas Hukum UMSU, dan Rio Andika mahasiswa DII Perpajakan di USU berkenalan melalui forum pencinta kereta api di internet bernama semboyan35.com. Selanjutnya, ketiganya bersekapat bertemu dan akhirnya memutuskan membentuk komunitas ini . 
Nama DIVRE 1 RAILFANS sendiri adalah kumpulan dari para pencintakereta api (railfans) di DIVRE 1. Divre 1 sendiri merupakan kepanjangan dari Divisi Regional 1 yang menunjukkan nama dan wilayah kerja dari perusahaan kereta api di Sumatera Utara (PT KA DIVRE 1 Sumatera Utara) yang meliputi wilayah kerja Sumatera Utara (Sumut) dan Aceh.
"Sejak dibentuk hingga saat ini berbagai kegiatan sudah kami lakukan, antara lain sharing seputar kereta api sumatera utara, pembentukan pengurus komunitas, pembuatan Fanpage di Facebook, kegiatan naik kereta api bersama-sama, fotografi dan dokumentasi kereta api, dan yang masih berjalan adalah penyusunan buku tentang sejarah kereta api Sumatera Utara," terangnya. "Kami juga memberikan kritik dan saran kepada orang-orang yang bekerja di pekeretaapian di Sumut," tambahnya. 
Seiring waktu berjalan, keberadaan komunitas ini semakin dilirik para pencinta kereta api lainnya yang sejak lama kesulitan untuk menemukan teman yang memiliki hobi serupa. Hingga saat ini, yang telah resmi bergabung sudah sebanyak 20 orang. Namun, yang bergabung di komunitas ini masih didominasi para kaum laki-laki. 
Menurut Gregory Widya, banyaknya orang tertarik bergabung di komunitas ini dimotivasi karena untuk menambah teman se-hobi dan menambah wawasan seputar perkeretaapian, khususnya di Sumut. 
"Tujuannya adalah untuk menjadi wadah komunikasi dan sebagai sarana untuk menyatukan orang-orang yang memiliki minat yang sama yakni menyukai kereta api, khususnya kereta api di Sumut menjadi komunitas yang dapat dijadikan sebagai sumber informasi tentang sejarah dan perkembangan perkeretaapian Sumut," ungkapnya. 
Ia melihat, belakangan ini kecintaan masyarakat terhadap kereta api sudah mulai tumbuh dan berkembang di Indonesia terutama di Pulau Jawa. Namun, di Pulau Sumatera khususnya di Divre 1 Sumut kecintaan masyarakat terhadap kereta api masih dalam taraf yang biasa-biasa saja. 
"Bahkan, boleh dibilang selama selama tahun kami bersama belum ada perubahan signifikan dari masyarakat terhadap perkeretaapian di Sumatera Utara. Padahal, potensi perkeretaapian di Sumatera Utara sangat unik dan berbeda dengan di pulau Jawa. Kami berharap dengan beroperasinya KA Bandara (ARS ? Airport Railink System) Medan ? Kualanamu akan membuat masyarakat semakin mencintai kereta api," ujarnya.  
Gregory Widya mengatakan, untuk menjaga kekompakan, selain diadakan kumpul bareng, mereka juga sering mengadakan naik kereta api (joyride) secara bersama-sama. "Karena dengan joyride akan mendekatkan hubungan dengan sesama anggota komunitas juga dengan kereta api itu sendiri. Dan yang menjadi kelebihan serta menjadi hal yang penting di komunitas ini bahwa komunitas ini sangat bersifat kekeluargaan," tuturnya.
Komunitas inipun bersifat bebas dan terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung. syaratnya hanya satu, yakni memiliki minat khusus dan kesukaan terhadap kereta api, khususnya di Sumut. 
"Yang ingin bergabung bisa menghubungi sekretaris dan mengisi formulir pendaftaran anggota komunitas," pungkasnya. (Midian Simatupang ) 


Pengurus 

Ketua              : Gregory Widya
Sekretaris         : Riky Soeripno 
Seksi Dokumentasi  : Andang Tri & Kie Pratama
Telp/HP   : 0857 6644 6463
Fanpage Facebook   : Divre 1 Railfans

Friday, 15 November 2013

Keliling Menjual Potensi Pariwisata

Kecintaan wanita ini terhadap pariwisata, telah mengubah dirinya sebagai pengusaha. Berawal dari sebagai tenaga tiketing di perusahaan travel (Biro perjalanan), ia bersama suaminya kini sukses membangun usaha sendiri seperti biro perjalanan, penginapan dan kafe resto di bawah bendera Wesly Tour and Travel.      

Deretan foto Kota Medan tempo dulu, ulos Batak dan rumah adat Batak terpajang apik di dinding Wesly Cafe dan Resto terletak di Jalan Sei Sisirah, Medan. Foto-foto itu sengaja dipajang Mercy Dewi Putri Panggabean (38) sebagai bentuk kecintaannya dengan pariwisata Sumut. "Dengan ada foto-foto Medan tempo dulu saya bisa beritahu, suasana Medan tempo dulu," kata Mercy Dei Putri Panggabean membuka pembicaraan, Rabu siang (25/9). 
Wesly Cafe dan Resto baru didirikan Mercy Dewi Putri Panggabean, beberapa bulan lalu. Restoran ini salah satu dari ide terbarunya untuk mengembangkan sektor pariwisata Sumut. Ia berencana menjadikan cafenya sebagai tempat persinggahan group tour dari biro perjalanan mana saja. "Di sini group tour nantinya bisa mendapatkan hiburan karena kita menyediakan live music dan tari-tarian," ungkapnya.  

Tak puas hanya sampai itu saja, ia juga sudah menyiapkan beberapa ide baru yang akan membuat sektor pariwisata Sumut khususnya Medan lebih menarik lagi di mata turis. "Saya mau buat sesuatu yang baru di Medan. Tapi masih rahasia. Saya lagi kalkulasi biayanya," tuturnya.   

Semangat Echi--nama panggilan akrabnya, untuk mengembangkan pariwisata Sumut memang sudah tidak diragukan lagi. Roh pariwisata seakan sudah sulit dipisahkan dari kehidupannya. 
Buktinya, sampai saat ini, Echi masih tekun menjual potensi pariwisata Sumut dengan mengemas paket-paket tour yang menarik untuk dijual melalui Wesly Tour and Travel. Di Wesly Tour and Travel, Echi duduk sebagai Direktris. 

Dengan jabatan itu, sudah tentu pekerjaannya cukup padat. "Saya terbiasa kerja. Saya tidak suka banyak ngomong dari pada bekerja. Saya tahan di depan meja 13 jam. Saya targetkan setiap hari ada pekerjaan yang selesai," paparnya.    

Sebagai Direktris, Echi tak hanya melulu menawarkan paket tour di Sumut. Ia juga menawarkan berbagai paket tour di Nusantara dan Luar Negeri. Menurutnya, untuk bisa menjual paket pariwisata, seorang pelaku pariwisata harus jeli mencari peluang, kreatif dan memperluas jaringan. "Apalagi orang Medan, banyak yang kritis. Jadi kita harus bisa menyakinkannya," ujarnya

Sebab itulah ia sering menggali potensi pariwisata dengan mengelilingi nusantara hingga ke luar negeri. "Event-event dunia sering saya ikuti. Kemarin saya mengikuti event Asia Pasific di Melbourne, Australia. Harusnya saya ke India lagi, tapi acaranya dibatalkan. Pada hal, saya sudah pesan tiket," ujarnya. 

Meski harus mengeluarkan biaya tidak sedikit untuk bisa mengikuti event-event di luar negeri, Echi mendapatkan banyak wawasan dan menambah jaringan yang bisa diajak bekerjasama. 
Tak jarang hatinya iri melihat negara yang dikunjunginya sangat kreatif dalam menjual pontensi negaranya. 

"Saya melihat Malaysia, Singapura dan Thailand antusias menjual potensi pariwisata negaranya. Ada saja yang dibuat baru. Kok kita gak bisa? sementara potensi pariwisata kita sangat luar biasa," ungkapnya.

Kendati demikian, wanita ramah dan murah senyum ini tidak patah semangat menawarkan dan mempromosikan pontensi pariwisata Sumut khususnya dan nusantara umumnya. Dalam mengemas paket tour, ia pun tidak mau hanya mengandalkan keindahan alam dan destinasi-destinasi yang ada di Sumut kepada klinenya. 

Ia selalu menciptakan hal-hal baru yang bisa mendukung potensi pariwisata sehingga turis terkesan. "Pelaku pariwisata harus punya kreasi. Dari kreasi bisa banyak menghasilkan uang," ungkapnya.    

Satu lagi keunikan dari pribadinya, ia tidak mau bergantung atau menunggu gebrakan dari pemerintah. Ia terus berusaha menciptakan ide-ide cemerlang yang bisa lebih menjual lagi sektor pariwisata Sumut, kendati biaya yang dibutuhkan untuk merealisasikan ide itu cukup besar dan harus ditanggungnya sendiri. "Saya punya prinsip, apa saja yang bisa dilakukan, saya lakukan," pungkasnya. (Midian Simatupang)

Dimulai dari Staf Tiketing
Echi berkecimpung di bisnis travel usai menyelesaikan pendidikan perbankan dari Universitas Perbanas, Medan, tahun 1997 lalu. Krisis moneter yang berimbas banyaknya perbankan yang pailit saat itu, membuatnya terpaksa banting setir bekerja di perusahan Tour and Travel. 

Awal karienya dimulai dari staf tiketing di Roma Tour and Travel. "Waktu pertama kalu dipanggil, saya ketakutan karena basic ilmu saya perbankan," katanya mengingat pertama kali terjun di pariwisata. 

Namun, berkat belajar dan kerja keras, secara berlahan tapi pasti, wanita kelahiran Pangkalan Susu, 20 Juli 1975 ini akhirnya jatuh cinta dengan pariwisata. Simak saja dari perjalanan kariernya di perusahaan Tour and Travel. Selama tiga tahun berturut-turut (1998-2001), ia bekerja sebagai tenaga tiketing di perusahaan Tour and Travel yang berbeda. 

Setelah tiga tahun di Tour and Travel, ia kemudian melebarkan kariernya sebagai Check-in Counter maskapai penerbangan Batavia Air, dari tahun 2002 sampai Desember 2004.

Berbekal pengalaman bekerja di perusahaan travel, ia bersama suaminya, Wesly Indra P Marpaung, kemudian mendirikan Wesly Tour and Travel pada tahun 2005. "Ketika kita buka travel orang sudah kenal, basic kita jaringan, dengan jaringan kita bisa mendapatkan informasi. Jadi kita cepat berkembang," kata Echi. 

Piawai dalam mengemas paket tour dan jasa lainnya, membuat usahanya terus berkembang dengan hadirnya Wesly House dan Wesly Cafe dan Resto di Jalan Sei Sisirah. 

Tak hanya itu, Wesly Tour and Travel kini merambah menjadi usaha franchisee. Melalui usaha franchisee ini, keberadaan Wesly Tour and Travel sudah hadir di luar Kota Medan, seperti Pematang Siantar, Jambi dan Tanggerang Selatan. "Hari Minggu ini kita akan meresmikan cabang kita di Sibolga," tandasnya. 

Meski pekerjaannya cukup sibuk, perempuan berdarah Batak ini tidak melupakan kodratnnya sebagai istri dan ibu bagi Tabita Elisa Putri Marpaung (8). Ia tetap menjaga kualitas pertemuannya dengan suami dan anak, sehingga anak tidak kehilangan figur orangtua. (Midian Simatupang) 


BIO DATA

Nama      
Mercy Dewi Putri Panggabean

Tempat, Tanggal Lahir
Panggkalan Susu, 20 Juli 1975

Pekerjaan
Direktris Wesly Tour and Travel

Pendidikan
Perbankan, Universitas Perbanas Medan 1997

Suami
Wesly Indra P Marpaung

Anak
Tabita Elisa Putri Marpaung

Menyatukan Hobi di Honda Jazz Medan

Komunitas ini dibentuk dan didirikan dengan dasar kekeluargaan dan bertujuan untuk menyatukan seluruh pengguna Honda Jazz di Kota Medan. Tertarik untuk bergabung?

Berbicara tentang otomotif bagi pehobi mobil tentu tak pernah selesai, apalagi bila sedang kumpul bareng, pasti suasananya semakin seru. Suasana inilah selalu diperlihatkan para pecinta Honda Jazz di Kota Medan bila sedang kopi darat (kopdar) dan jalan bareng. Memiliki hobi yang sama membuat hubungan di antara mereka semakin kompak, layaknya seperti sebuah keluarga.  

Komunitas ini terbentuk berawal dari visi dan misi lima orang pecinta Honda Jazz di Kota Medan: Wawan, Ari Tanjung, Nicholas Tanzil, Affan Cedi dan Rangga.   

Ke-limanya saat itu berkeinginan membentuk satu wadah, yaitu kumpulan yang mampu dijadikan referensi dan mengakomodir para pemilik atau pengguna Honda Jazz di Kota Medan, agar dapat lebih memahami dan menambah wawasan serta pengetahuan tentang segala sesuatu yang berkenaan dengan Honda Jazz (www.honda-indonesia.com) dan juga sebagian dunia otomotif lainnya.

Berkat kerja keras, kelimanya akhirnya secara resmi berhasil mendirikan komunitas ini pada 15 Oktober 2011 lalu. Seiring berjalannya waktu, komunitas ini pun berkembang, dengan terus bertambahnya pecinta Honda Jazz di Kota Medan dari berbagai latarbelakang usia, pekerjaan, etnis dan agama.   

"Komunitas dibentuk dan didirikan dengan dasar kekeluargaan dan bertujuan untuk menyatukan seluruh pengguna Honda Jazz terutama di Kota MEDAN," kata Ketua HJM, Ikhwan Azwir, Senin (23/9). 

Menurut Ikhwan Azwir, banyaknya pemilik Honda Jazz bergabung di HJM, karena mereka membawa visi dan misi untuk mempererat silaturahim dan rasa kekeluargaan. "Selain itu, HJM menjembatani serta membantu para membernya dalam mengalami dan mengatasi suatu keluhan seputar penggunaan Honda Jazz," kata Humas HJM, Nicholas Tanzil menimpali. 

Nicholas Tanzil mengatakan, HJM merupakan komunitas yang dibangun dengan dasar-dasar organisasi yang tertuang dalam anggaran dasar dan peraturan yang bertujuan untuk menjaga nama baik HJM. Selain itu dengan adanya anggaran dasar dan peraturan ini setiap anggota dan pengurus memiliki hak dan tanggungjawab yang sama. 

"Di sini setiap pengurus dan anggota dilarang terlibat dalam pengguna dan pengedaran narkoba, menghormati yang tua dan menyayangi yang muda, menjaga solidaritas dan menjalani hubungan dengan kumpulan-kumpulan dan komunitas manapun dengan baik dan setia kawan baik dalam keadaan senang maupun keadaan susah" tuturnya. 

Nah, bagi yang tertarik bergabung, komunitas ini membuka diri, namun tentunya harus memenuhi peraturan yang sudah ditetapkan.  (Midian Simatupang | Jurnal Asia)

Kunjungi: www.honda-indonesia.comwww.honda-mobil.comwww.promomobilhonda.com

Tuesday, 5 November 2013

Mengembangkan Bakat Berkesenian di KBSM

Komunitas ini dibentuk sebagai wadah pengembangan bakat bagi seniman Medan khususnya untuk alat musik biola. Di sini mereka bukan hanya belajar teknik bermain biola tetapi juga bagaimana membina sikap dan mental.

Mengunjungi Taman Ahmad Yani, Jalan Sudirman, Medan di hari Minggu pasti ada pemandangan dan rasa yang berbeda. Bukan karena banyaknya masyarakat yang datang berolahraga atau sekedar melihat canda tawa para pengunjung, namun karena suara biola yang mengalun merdu berhembus dari balik pepohonan di dalam taman. 

Ternyata, suara merdu biola itu datang dari sekelompok anak muda yang tergabung dalam Komunitas Biola dan Seniman Medan (KBSM). "Kami memang setiap  hari Minggu kumpul di sini,"  kata Tengku Mira Sinar, salah seorang pengurus KBSM .

Komunitas ini didirikan oleh Tengku Ryo, seorang pemain biola yang namanya sudah eksis di kancah musik Indonesia. Suatu ketika, Tengku Ryo prihatin melihat kondisi  musisi jalanan di Medan yang tak tentu arah tanpa tujuan. Melihat itu, hatinya pun tergerak dan akhirnya membentuk komunitas belajar biola secara gratis di sanggar Sinar Budaya Group (SBG), Jalan Abdullah Lubis Nomor 42/47 Medan.

"Anak-anak komunitas ini sebagian besar adalah musisi jalanan yang belajar secara otodidak karena keterbatasan biaya untuk belajar secara formal. Dengan bergabung di komunitas ini kami memberikan peluang bagi pengembangan bakat seniman Medan khususnya untuk alat musik biola, bukan hanya teknik bermain tetapi juga bagaimana membina sikap dan mental," ungkap Mira Sinar.

Di komunitas ini, Mira Sinar sendiri duduk sebagai pelindung bersama ayahnya, Almarhum Tengku Luckman Sinar SH, tokoh masyarakat Melayu Sumatera Utara sekaligus pendiri Yayasan Kesultana Serdang.  Tengku Luckman Sinar SH semasa hidup sempat juga beberapa lama ikut terlibat membina komunitas ini.  

Ketika itu, Tengku Ryo, Mora Sinar dan Almarhum Tengku Luckman Sinar SH bercita-cita dengan didirikannya KBSM dan disediakannya sarana pendidikan informal secara  gratis, musisi dan seniman Medan bisa lebih maju lagi dalam mengembangkan bakat di bidang kesenian.

Selama perjalanannya, aktivitas KBSM  juga sempat mengalami pasang surut. Bahkan, sempat fakum hampir selama satu tahun selain kesibukan masing-masing juga karena perbedaan pendapat yang mana sudah lazim di sebuah perkumpulan. 

Kemudian pada pertengahan 2012, komunitas  dibangkitkan lagi dan mulai berkembang hingga sekarang. Komunitas ini juga pernah berlatih di lapapangan Merdeka, Medan dan kemudian pindah ke taman Ahmad Yani dan Sesekali berlatih di SBG.

Namun, kondisi itu berhasil dilewati. Bukti itu terlihat dari jumlah anggota yang bergabung sampai saat ini, sudah sekitar 100 orang seniman. Mereka berasal dari berbagai gender, usia, profesi, suku, dan agama. 

Bahkan, komunitas yang semula hanya didirian untuk mengembangkan bakat alat musik biola, 
kini melebarkan sayap menjadi Komunitas Biola dan Seniman Medan karena banyak anak muda Medan yang menemuki kesenian lain, seperti tari dan theater, bergabung di komunitas ini.

Menurut Mira Sinar, banyaknya seniman begabung di KBSM karena komunitas ini adalah tempat untuk mengembangkan bakat dan membina jaringan. 

"Tidak ada tendensi siapa lebih hebat dan lain sebagainya, semua dalam posisi yang sama. Tidak ada keterikatan dan paksaan untuk latihan atau bergabung, hanya ada struktur sederhana untuk mengatur jalannya roda komunitas," ujarnya.

Meski demikian komunitas ini bukan berarti hanya berkarya di internal saja. Komunitas ini juga sudah sering tampil dalam berbagai event kesenian.  Event kesenian yang pernah dibuat diantaranya, konser di Hotel JW Marriot Medan dalam acara Hari Kemerdekaan Amerika Serikat,  4 Juli 2010 dan Konser tema 'Kau Aku' dan di Taman Budaya Sumatera Utara, Jalan Perintis Kemerdekaan, Medan pada 30 Maret 2013 yang berjalan sangat sukses. 


"Kegiatan ke depan kita akan membuat pertunjukan, mengasah keterampilan dan membuka kesempatan untuk kegiatan-kegiatan seni, berkolaborasi dan lain-lain," tutur Mira Sinar.

Nah, bagi yang tertarik bergabung,  komunitas ini masih terbuka bagi siapa saja tanpa dikenakan syarat khusus. Namun, tentunya harus memiliki keinginan untuk berkesenian. komunitas ini juga secara tidak langsung menciptakan pembelajara budi pekerti dan kemampuan untuk bekerja sama satu sama lain.

 "Disini kegiatannya lebih banyak berlatih, berbagi informasi, membuat konser, dan lain-lain," tambahnya.

Mira Sinar menyadari menjaga kekompakan dan kebersamaan antara pengurus dan anggota adalah hal yang penting di sebuah komunitas. Makanya, agar kekompakan antar anggota dan  pengurus tetap terjalin, ia sering membuat diskusi terbuka. "Manajemen yang terbuka dan saling mendengar masukan, tidak  mementingkan diri sendiri," tegasnya.

Meski tidak memiliki peraturan (AD/ART) yang mengikat antara pengurus dan anggota, namun komunitas ini memiliki program dan arah yang jelas karena berlindung di bawah bendera Yayasan Kesultanan Serdang dan Sinar Budaya Group yang berbadan hukum sah dalam legalitas akte. "Kami memberikan pengajaran bagi pemula yang bergabung secara suka rela," tuturnya.

Menurut Mira Sinar, agar kesenian di Medan bisa berkembang, hal yang terpenting adalah pola pikir para senimannya bisa lebih terbuka dan bisa menerima kelebihan orang  lain, sarana dan prasarana yang mendukung dan dukungan dari pemerintah dan masyarakat Medan itu sendiri. (midian coki)


Saturday, 2 November 2013

Saya Ingin Ulos Mendapat Posisi Tertinggi


Torang MT Sitorus telah lama mengambdikan dirinya dalam seni tenun ulos. Di tangannya keberadaan kain simbol keberadaban suku Batak di Tanah Air ini memiliki kualitas tinggi dengan sentuhan bahan sutra dan pewarnaan alam. Ia berkeinginan untuk mempopulerkan ulos setara degan kain-kain Indonesia, bahkan hingga merambah ke dunia fashion. Berikut petikan wawancara dengan Torang Sitorus, Rabu (10/10).    


Apa yang memotivasi Anda menekuni profesi sebagai desainer ulos?

Di umur 19 tahun, ayah dan ibu ku, sudah melihat bakat ku terhadap dunia seni, kain tenun, interior, lantas mereka mengirim ku belajar ke Yogjakarta untuk belajar tentang batik dari Balai Besar Batik.
Di Yogjakarta, saya belajar batik melalui kursus yang difasilitasi oleh Pemerintah. Saya berhasil memulai batik degan motif Batak, kemudian saya mulai mengenal Bali, seni di Bali cukup mendapat perhatian ku saat itu. Ternyata apapun bisa diolah menjadi barang berseni tinggi.
Setelah melihat keberagaman budaya yang terkumpul di Bali, lewat kerajinan, anyaman, textile, dan banyak jenis yang bisa diaplikasikan ke dunia disain, pikiran saya langsung ingat Sumatera Utara punya ulos. Saya harus punya ciri khas kalau mau sukses, itu tekat saya saat itu. Ulos dan ulos. Bersyukur orangtua mendukung ku.

Sejak kapan Anda serius sekali dalam seni batik ulos?

Di tahun pertama, setelah saya belajar batik dan pewarnaan alam, saya mulai memproduksi batik degan motif Batak. Tetapi masih dikerjakan pengrajin batik di Jawa. Saya mendapat keuntungan, tetapi kok hati gak terima ya, maksud orangtua saya saat itu ingin membantu kerajinan di tanah Batak.

Bagi Anda apa yang menarik dari ulos Batak?

Yang menarik dari ulos, karakter manusianya dulu. Orang Batak itu keras, pekerja keras maksud saya, tegas dan wibawa, semua raja. Kainnya (ulos) juga begitu. Saya pikir ini kain tertua yang dimiliki Indonesia, butuh penelitian khusus oleh ahli, tehnik tertua seperti garis-garis tanpa motif.
Ulos punya pakem atau aturan yang kuat, dan ini hanya dipunyai suku Batak, yaitu raja harus pakai ulos khusus, menikah harus pakai ulos khusus, anak punya ulos khusus, wanita pakai ulos khusus. Ini pemakaian kain yang paling ribet di dunia. Ini yang membuat saya penasaran.

Selain ulos, apakah lagi yang Anda garap? 

Di usia ku yang masih muda saat ini, proyek pertama ku adalah rumah pribadi ku sendiri, Villa Gorga di Tarutung, Tapanuli Utara, seluruh interior rumah ini berbahan ulos degan gabungan arsitektur Bali dan Batak. Di Villa Gorga saya mendapat inpirasi dari Bali. TV lokal dan TV internasional pernah meliput rumah ini. Yang menarik adalah, banyak ornamen rumah ini bahannya dari tenun ulos yang selama ini kita gak pikir bisa diolah.

Sentuhan apa saja yang diberikan pada desain ulos Anda?

Sentuhan baru hanya memperkuat motif. Saya tidak menciptakan motif baru, tetapi motif yang lama lebih dipertegas lagi, ditenun motif yang perlu dan berkarakter kuat karena peruntukannya bukan untuk adat saat itu. Membuat ulos lebih berwarna dan material dari benang-benang berkualitas.

Tantangan apa yang pernah Anda hadapi selama menekuni seni ulos?

Tantangannya banyak. Penenun itu seniman ya, egonya tinggi, susah diajari, mereka kaku, kalau sudah mengerjakan satu jenis ulos tidak mau kerjakan ulos motif lain. Kemudia saat ini mereka menenun tidak pakai hati, suka asal sehingga kualitas rendah.

Jadi apa yang Anda lakukan dengan karya ulos?

Seperti yang saya ceritakan tadi itu. Yang saya lakukan dan hadapi dahulu saat ini, saya ingin ulos mendapat posisi tertinggi. Ulos degan kualitas tinggi. Bahan yang bagus degan sutra dan pewarnaan alam, ini proyek saya tahun ini dan sudah berjalan di Villa Gorga saya. Memperkenalkan pewarnaan alam ke masyarakat Batak.

Bagaimana respon masyarakat terhadap karya-karya Anda?

Cukup mendapat tempat. Saat ini wanita Batak sudah punya rasa bangga terhadap kain tenun ulos. Dahulu wanita Batak menikah memakai kain Palembang, sekarang sudah mau memakai kain ulos. Rasa cinta kepada ulos sudah mulai tumbuh. Ini cukup membuat kita senang. Berarti perjuangan tidak sia-sia.

Lantas apa harapan ke depan dengan karya seni ulos Anda?

Bukan hanya untuk saya pribadi ya, tetapi pelaku tenun, pengrajin ulos khususnya tujuan utama adalah mempopulerkan ulos setara degan kain-kain Indonesia lainnya, dan masyarakat mau memakainya (ulos), supaya seni tenun ulos ini selalu hidup, penenun bisa sejahtera kalau produk mereka laku di pasar.

Apa saran Anda agar masyarakat ke depan bisa menghargai ulos di tengah krisis budaya sekarang ini?

Sudah saatnya kita bangga dengan apa yang kita punya. Negara ini cukup kaya dengan budaya, dari Sabang sampai Merauke. Banggalah degan kebudayaan mu, pakailah kain ulos kalau kamu menghargai karya leluhur mu. (Midian Simatupang)


Nama
Torang Mt Sitorus

Tempat Tanggal Lahir
Tarutung, 24 September 1977 

Status:
Belum Menikah

Orangtua
Ayah: Alm M Sitorus
Ibu : Senty Sirait 

Pretasi
Pemuda Pelopor Budaya Sumatera Utara
Pemenang Kria Kreasi Bidang Tekstiles HUT Dekranas tahun 2012

Menyatukan Hobi di TYCI


Sekumpulan anak muda pencinta Toyota Yaris di Medan mendirikan sebuah komunitas. Di komunitas ini mereka menjalin kekompakan dan kebersamaan dalam menyalurkan hobi.

Menyalurkan hobi di dunia otomotif sebenarnya tak hanya semata berkutat pada modifikasi. Hobi juga bisa dimanfaatkan untuk menambah pergaulan dan rasa solidaritas serta kepudulian antara sesama pecinta otomotif. Hal inilah dilakukan para pecinta mobil Toyota Yaris di Medan. Merasa memiliki hobi yang sama, mereka membentuk komunitas bernama Toyota Yaris Club Indonesia (TYCI) Medan Chapter. 
Komunitas ini resmi terbentuk sejak 30 Juni 2012 lalu dan kini telah memiliki 70 orang anggota. Mereka yang kumpul disini beragam usia, pendidikan, profesi, etnis dan agama. "Sebahagian besar anak muda berstatus mahasiswa dan pekerja. Namun, ada juga yang sudah berkeluarga," kata Ketua TYCI Medan Chapter, Ahmad Affandi, drg (25) didampingi Ketua Harian, M Wiko Ashad (21) , Setia Budi Mas, Jalan Setia Budi, Selasa malam (3/9). 

Meski pengurus dan anggotanya berasal dari latar belakang yang berbeda, toh tak menjadi hambatan untuk meningkat rasa kebersamaan, kekompakan dan nasib sepenanggungan. Lihat saja ketika mereka ngunpul, canda dan tawa selalu terlontar dari mulur mereka. Kesamaan hobi dalam satu komunitas seakan 'menyuci' pikiran mereka untuk menghilangkan perbedaan-perbedaan yang ada . 
Komunitas ini terbetuk berawal dari Ahmad Affandi mencari tahu tentang Club Toyota Yaris Indonesia di internet. Setelah menemukan, dokter gigi yang akbrab disapa dengan sebutan Pepeng ini kemudian menjalin komunikasi dengan TYCI Pusat. Gayung pun bersambut. Tak lama kemudian sejumlah pengurus TYCI Pusat melantik secara resmu kepengurusan TYCI Medan Chapter pada 30 Juni 2012 lalu di Bengkel Sehat, Jalan Sei Batang Hari, Medan.
 Awal ketika baru terbentuk komunitas ini masih hanya beranggotakan 25 orang saja. Namun, sering berjalannya waktu, jumlah anggota yang bergabung di komunitas terus bertambah. Kini sudah 70 orang terdaftar resmi sebagai anggota. "Di TYCI rasa kekompakan dan solidaritasnya tinggi. Banyak kesan-kesan di sini, orangnya baik-baik dan saling membantu," kata M Wiko Ashad menimpali.     
Kendati usia komunitas ini masih seumur jagung, kehadiran mereka tak kalah dengan komunitas otomotif lainnya yang sudah lama hadir di Medan. Bukti itu ditunjukan dengan berbagai event sudah sering digelar. 
Pada acara jambore nasional TYCI Jakarta-Solo, 11- 16 Agustus 2013 lalu misalnya, sebanyak tujuh orang utusan dari TYCI Medan Chapter ikut touring bersama 150 unit mobil Toyota Yaris dari seluruh Indonesia dengan rute: Jakarta-Jogyakarta, Jogyakarta-Solo, Solo-Semarang dan berakhir di Jakarta. "Jambore nasional diadakan untuk mengikat tali silaturahmi sesama pencinta Yaris di Indonesia. Event touring yang diadakan saat itu sangat berkesan bagi kami," ujar Ahmad Affandi lagi.  
Seakan tidak puas hanya mengikuti touring pada jambore nasional itu, mereka sudah menyusun rencana untuk menggadakan touring dalam waktu dekat ini. "Pada bulan November tahun ini kita berencana mengadakan mini touring ke Danau Toba," ungkap Ahmad Affandi. 
Meski komunitas otomotif selalu identik dengan kegiatan touring, namun tak membuat TYCI Medan Chapter tidak tutup mata dengan kondisi sosial di masyarakat. Pada ulang tahun pertama TYCI Medan Chapter yang digelar di Rumah Makas ACC Jalan Sisingamangaraja, mereka turut mengundang anak-anak dari Panti Asuhan. 
Begitu pula pada bulan Ramadan lalu, mereka mengadakan Sahur On The Road (SOTR) bersama komunitas lain, membagi makanan untuk sahur bagi kaum papah di jalanan Kota Medan. "Jadi kegiatan kami tidak hanya touring semata, belakangan ini kami juga sering menggelar kegiatan bakti sosial," paparnya. 
Sering menggelar berbagai kegiatan positif, wajar membuat berbagai pihak memberikan dukungan ke komunitas ini. Salah satu pihak yang sangat memberikan dukungan sampai saat ini adalah Auto 2000,  main dealer mobil Toyota di Sumatera Utara. Setiap anggota TYCI Medan Chapter mendapat diskon 20% untuk servive kendaraaan. Selain itu, Auto 2000 mendukung penerbitan majalah komunitas Toyota Yaris Sumatera. "Kami juga mendapat dukungan keuangan bila mengadakan kegiatan," ujarnya.
Bagi masyarakat Kota Medan yang memiliki Toyota Yaris, komunitas ini membuka diri untuk ikut bergabung. Meski demikian, bukan berarti komunitas ini sembarangan menerima calon anggota. Pasalnya, komunitas ini memiliki Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) yang harus ditaati kepada calon anggota, yakni pengguna Toyota Yaris, memiliki surat izin mengemudi (SIM) dan membayar iuran yang digunakan untuk keperluan atribut seperti seragam dan stiker.
Tak cukup hanya itu saja, setiap anggota dan pengurus wajib menjunjung tinggi take line '3S' TYCI (safety driving, smart driving dan Share driving), dengan maksud menunjukan komunitas ini bukanlah hanya tempat untuk bersenang-senang. Untuk safety driving,  setiap anggota harus mentaati rambu-rambu lalu-lintas, kemudian smart driving (kepintaran dalam mengemudi) dan share driving yang artinya setiap anggota memiliki kepedulian dalam mengemudi demi menghindari kecelakaan saat mengemudikan mobil. (midian simatupang)     
    

Kepengurusan TYCI Medan Chapter

Ketua           
Ahmad Affabdi, drg
Sekjen
Rifhy Filosophy, SE
Sekretaris          
Natya Shanaz
Bendahara I   
Gizha Idzni, S.ked
Bendahara II  
Chelso Andingi
Ketua Harian 
M. Wiko Ashad
Sekretaris Harian
Kevin Sirait
Wkl Ketua Harian
Rendy Nugraha
Ka. Bid Acara
Andi Rheriza
Ka. Bid Anggota dan Humas
Maulana Mukti

Cp. 08197231056 (Fandi)
      081264141900 (Maulana)
Twiter    : @yarisclub_medan
Instagram : @yarisclub_medan

Friday, 1 November 2013

Menggali Potensi di Toastmasters International

Di komunitas ini, setiap anggota memotivasi diri untuk menggali lagi kemampuannya lebih dalam, baik dalam berkomunikasi maupun menjadi seorang pemimpin. 

Di era globalisasi yang sangat berkompetisi saat ini, kemampuan diri menjadi modal utama yang sangat mempengaruhi menuju kesuksesan. Tak heran bila sekarang ini, banyak orang mencari tempat-tempat yang bisa membantu untuk meningkatkan pontesial diri dan meningkatkan kemampuan kepemimpinan.

Salah satu komunitas di Kota Medan yang bisa menjawab tantangan itu adalah Toastmasters International. Di komunitas ini, setiap anggota mendapatkan motivasi dari para mentor untuk bisa menggali lagi kemampuannya lebih dalam, baik dalam berkomunikasi maupun menjadi seorang pemimpin.
"Setiap anggota diajak untuk dapat berkomunikasi lisan secara efektif, sehingga membantu setiap orang untuk belajar seni berbicara, mendengarkan, memikirkan kemampuan utama untuk mempromosikan pengaktualisasian diri, meningkatkan kepemimpinan, menimbukan rasa saling menghargai dan membentuk sebuah pemikiran yang positif," kata Organizing Chair, Toastmasters International Distrik 87, M Adly Ilyas ACS, ALB.   
Toastmaster International hadir di Medan sejak sejak tahun 1998. Namun, Toastmasters sendiri sudah dimulai dari basement YMCA pada 22 Oktober 1924.

Konsep ini tertangkap di iklim optimis California Selatan, dimana saat itu banyak para pria dari masyarakat sekitar mencari kelompok dan menemukan sebuah klub, kemudian menyukai apa yang mereka lihat pada klub tersebut.
Toastmaster lahir dari ide Ralph C Smedley pada tahun 1903. Ralph C Smedley, sang penemu, memulai organisasi ini dengan tujuan untuk memberikan praktek dan pelatihan dalam seni berbicara di depan umum dan dalam memimpin rapat, dan untuk mempromosikan keakraban dan persahabatan yang baik antara para anggotanya.
Ralph C Smedley memilih nama Toastmasters untuk organisasinya, terinspirasi dari suasana perjamuan makan malam, dimana sering dilakukan toast sebelum memulai makan dan setelah makan malam sering dilakukan beberapa pembicaraan atau saling berbicara.
Seiring dengan waktu organisasi ini merambah ke Indonesia. Di Sumatera sendiri, Toastmasters International memiliki 15 klub terdiri dari 13 klub berbasis bahasa inggris, 10 diantaranya di Sumatera Utara, 1 klub berbahasa mandarin di Medan, dan 1 klub berbahasa Indonesia di Medan. Masing-masing klub memiliki pengurus dimulai dari Presidet, Wakil Bidang Pendidikan, Keanggotaan, Humas, Sekretaris, Bendahara sampai Pelaksana Umum.
Selain itu, masing-masing klub juga memiliki lokasi pertemuan tersediri dan menjalankan pertemuan dalam setiap dua minggu sekali. Setiap mengadakan pertemuan, anggota akan mengikuti tiga sesi, yakni sesi topik spontan, sesi pidato yang dipersiapkan, dan sesi evaluasi pidato.
Di sesi topik spontan, tidak hanya anggota yang bisa ikut serta, tamu juga diperbolehkan. Di sesi inilah tema akan diulas dan dieksplorasi baik dalam bentuk permainan maupun diskusi.
"Bagi yang beruntung, akan diberikan kesempatan untuk berbicara selama 1-2 menit untuk menjelaskan sebuah pernyataan ataupun pertanyaan. Nah di sinilah para anggota dan tamu dipaksa untuk berbicara secara spontan dan menungkan ide-ide yang ada di isi kepalanya," terang Adly Ilyas.
Sementara di sesi pidato yang dipersiapkan, hanya anggota saja yang boleh ikut serta, tetapi tamu boleh mendengarkan. Sesi ini lebih pas melatih seseorang untuk berbicara di depan umum dan membuka kemungkinan menjadi seorang pembicara atau public speaker.
"Pidato yang disampaikan juga berdasarkan panduan buku yang didapat ketika pertama sekali mendaftar," lanjut Adly Ilyas.
Berbeda di sesi evaluasi pidato, senior ataupun anggota yang telah melewati manual yang sedang dijalankan akan meluangkan waktunya selama 2-3 menit untuk mengevaluasi point-point baik dan kurang sehingga si pembicara akan lebih baik lagi pada kesempatan selanjutnya. Di sini para anggota dilatih untuk belajar kritis dan dapat memberikan solusi.

Ikuti Lomba dan Membuat Event
Tak hanya pertemuan semata, anggota di komunitas ini sering meraih juara dalam berbagai perlombaan. Salah satu diantaranya, juara tiga pidato yang menginspirasi dalam bahasa Inggris antar Brunei Darussalam, Malaysia dan Indonesia, pada convention bulan Mei lalu di Sibu, Sarawak, Malaysia.
Selain itu komunitas ini juga rajin membuat event. Pada 15-17 November 2013, mereka akan mengadakan konferensi District 87 di Hotel Grand Aston Medan. Para peserta berasal dari Brunei, Malaysia, Indonesia, Singapore dan Amerika Serikat.

"Ini merupakan konferensi tahunan yang dilakukan oleh anggota dan membuka peluang untuk saling bertemu dan berkomunikasi dalam rangka meningkatkan keakraban," papar Adly Ilyas. 

Pada 5 oktober,
mereka mengadakan Humorous Speech & Evaluation Contets Area H2 di PPIA, Jalan Dr Mansyur, Medan.
Banyaknya efek positif diberikan komunitas ini kepada anggota, membuat jumlah anggota di komunitas ini terus bertambah.

Apalagi, komunitas ini terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung, namun dengan syarat berumur minimal 18 tahun.

Komunitas ini juga tidak melihat latar belakang pendidikan, pekerjaan dan jenis kelamin.
"Toastmasters tidak mengenal profesi, selama anggotanya mau belajar dan terus belajar, Toastmasters membuka peluang untuk meningkatkan kemampuan lebih baik lagi," tutur Adly Ilyas.
Menurut Adly Ilyas, banyaknya orang  tertarik bergabung di komunitas ini karena Toastmasters memberikan peluang kepada setiap anggotanya untuk menggali lagi kemampuannya lebih dalam, baik dalam berkomunikasi maupaun menjadi seorang pemimpin.

"Pengembangan diri dan kreatifitas khususnya dalam berbicara, menjalankan sebuah event dan memimpin sebuah tim kerja atau kepanitiaan," jelasnya. (Midian Simatupang)

Sunday, 27 October 2013

Tengku Ryo: Musik Saya Berakar dari Budaya Melayu



Sosoknya dikenal sebagai salah satu bintang pemain biola di Indonesia. Yang membedakannya dengan musisi lain, permainan instrument biolanya yang menampilkan musik etnik khususnya Melayu melalui kelihaiannya bermain biola di setiap berbagai acara musik mulai dari Tanah Air hingga mancanegara.
Bagi pria ramah yang mendapat gelar adat Tengku Merdangga Diraja, Kesultanan Negeri Serdang ini, menampilkan musik etnik khususnya Melayu di panggung merupakan usaha untuk melestarikan budaya Melayu di Tanah Air.
"Saya bukan hanya sebuah penyampaian komposisi musik, tapi merupakan perjuangan budaya yang disampaikan lewat pertunjukan musik," katanya .
Ingin mengetahui lebih dalam sosok Tengku Ryo di atas panggung? Berikut petikan wawancara  dengan Tengku Ryo:

Kabarnya Anda baru-baru ini show di Kuala Lumpur?
Ya, baru-baru ini saya diundang Datok Khadijah Ibrahim yang merupakan artist senior Malaysia, untuk tampil pada acara show beliau, sebagai pre concert bulan Desember nanti. Saat itu ternyata dihadiri juga oleh musisi dari negara lain, yaitu India, Cuba dan Afrika. Kemudian kami berkolaborasi dalam sebuah panggung yang bersahaja.

Apakah ini pertunjukan Anda pertama kali di Kuala Lumpur?
Saya sudah melakukan show cukup banyak di Kuala Lumpur dalam rentang empat tahun terakhir, bukan saja dengan musisi lokal tapi juga musisi Indonesia lainnya yang mungkin malah jarang kami melakukan penampilan bersama di Tanah Air, sebut saja seperti keyboardist Iwang Noorsaid, bassist Indro Hardjodikoro atau Rosa

Kabarnya dalam waktu dekat Anda akan show lagi di Kota Batam dan Kota Medan?
Pada tanggal 26-27 oktober nanti akan tampil di Batam bersama musisi Kepuluan Riau dalam rangkaian acara festival budaya negeri Melayu. Di Medan sendiri kemungkinan awal tahun depan bersama rekan-rekan Komunitas Biola dan Seniman Medan yang mana saya sebagai salah satu pendiri komunitas tersebut tiga tahun lalu.

Apakah show nanti, merupakan show tunggal Anda? 
Show itu bukan show tunggal tapi menampilkan persembahan musik dan tari dari lima provinsi, yakni Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jambi, Kepulauan Riau dan Riau.

Performance apa yang akan Anda tampilkan di Batam dan Medan nanti? 
untuk di Batam saya akan menampilkan sebagian besar komposisi lama yang saya gubah, diambil dari album saya yang pertama dan kedua. Berkolaborai dengan 20 musisi dari Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.

Ada yang menyebutkan keunikan dari setiap show Anda, penampilan awal Anda buka dengan Hymne Tanah Melayu? 
Ya, Hymne Tanah Melayu menjadi pembuka wajib dalam show saya, terutama jika acara itu berkaitan dengan budaya Melayu, yang mana memang musik-musik saya berakar dari budaya Melayu.

Jika melihat banyaknya show yang pernah Anda lakukan, sepertinya karier Anda di dunia musik sudah sukses? 
Alhamdulillah sampai sekarang ini saya disambut baik oleh para penggemar, tapi sebenarnya musik saya bukan hanya sebuah penyampaian komposisi musik tapi merupakan perjuangan budaya yang disampaikan lewat pertunjukan musik, untuk itu mungkin saya tidak begitu dikenal di industri musik main stream, tapi saya bersyukur dengan apapun yang saya capai sekarang.

Dari setiap event musik yang Anda ikut, pengalaman apa yang Anda dapatkan?
Pengalaman yang paling berharga adalah saya bisa bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar kehidupan, bertukar pikiran dan tak jarang berkolaborasi.

Pesan-pesan apa yang Anda sampaikan dalam setiap event yang Anda ikuti?
Inti dari pesan yang saya coba sampaikan adalah jangan sampai kita melupakan akar budaya dan jati diri, tidak hanya kepada masyarakat Melayu tapi juga kepada suku atau etnis lain.

Sejak kapan Anda mulai mengikuti event-event musik?
Sejak saya duduk di bangku SMP.

Bagaimana cerita awalnya, Anda pertama kali mengikuti event musik?
Awalnya event musik yang saya ikuti adalah panggung sekolah, kemudian festival band dan berlanjut sampai konser dan show tunggal.

Apa yang memotivasi Anda mengikuti event musik?
Saya mencintai musik, suatu hal yang mungkin tak terpisahkan dalam kehidupan saya dan juga saya menyukai panggung. Panggung merupakan dunia kecil saya.

Tentunya Anda mendapatkan pengalaman berharga dari setiap event?
Setiap event pasti melibatkan orang dan tempat yang berbeda, dan itu membuka banyak pemahaman yang sangat berharga bagi saya.

Anda sering kali tampil dengan berbagai musisi ternama di Tanah Air. Apakah itu kolaborasi Anda dengan mereka? 
Kebanyakan memang merupakan bentuk kolaborasi.

Dari referensi yang saya dapatkan dari kalangan seniman, Anda lebih dikenal dengan penampilan musik etnik? 
Mungkin bisa dikatakan begitu, tapi saya tidak pernah mengklaim diri saya hanya di musik etnik, musik apapun selama saya bisa maka akan saya mainkan.

Sebenarnya apa yang memotivasi Anda menampilkan musik etnik ketika mengikuti event musik?
Karena musik etnik buat saya adalah musik yang memang sudah ada dalam diri saya, sebuah bahasa yang lebih bisa saya sampaikan dengan lugas. Di Indonesia banyak sekali jenis musik etnik dan saya lebih memfokuskan kepada musik Melayu karena saya lahir sebagai orang Melayu.

Selain biola Anda juga mengusasi berbagai instrumen musik yang mencakup harmonika, seruling, dan gitar?
Saya memang menyukai berbagai instrument dan belajar memainkannya tetapi yang paling sering saya tampilkan adalah permainan instrument biola, alat musik lain yang saya kuasai lebih banyak saya mainkan di studio ketika membuat komposisi dan merekamnya.

Dari penguasaan-penguasaan instrumen musik tersebut, kabarnya Anda banyak mendapat penghargaan?
Ada beberapa tapi itu sudah lama, beberapa penghargaan saya dapat untuk permainan gitar.

Selain itu Anda kabarnya juga pernah merilisi sejumlah album?
Saya sudah merilis dua album, "Kecik" album pertama, "Spirit" album kedua dan sudah menyelesaiakan album "Tribute to Tan Sri P Ramlee", tapi belum dirilis kemudian yang terbaru adalah "Salute to Rock". Mudah mudahan tahun depan kedua album tersebut dirilis. Sedangkan single pernah dirilis oleh Viky Sianipar dalam album "Indonesia Beauty" dengan judul "Journey to Deli".

Bagaimana perkembangan dari album-album yang Anda rilis tersebut?
Sampai sekaran masih saja ada yang membeli dan mendownload dari situs digital, walaupun tidak terjual masal seperti album musik populer, tapi terus berkelanjutan sampai sekarang. Album pertama misalnya, sudah laku hampir 30.000

Anda juga kabarnya sedang pengembangkan bakat musik para tunawisma di Indonesia?
Sebetulnya tidak dikhususkan pada tunawisma tapi bagi siapa saja yang ingin belajar musik tapi tidak memiliki kemampuan mengikuti pendidikan formal, kegiatan ini dilakukan dengan membangun komunitas-komunitas.

Apa benar ada rencana Anda akan juga merambah ke dunia perfilman?
Saya memang tertarik dengan film sejak kecil tapi bidang ini tidak mudah untuk mendapatkan wadah ekspresi ketika itu, di era digital sekarang segalanya serba lebih mudah untuk dilakukan. Debut pertama saya muncul di film layar lebar ketika diajak oleh Alenia Picture untuk memerankan sebuah klakon keci di film mereka yang berjudul "Leher Angsa" yang sudah tayang sekitar empat bulan yang lalu. Kemudian saya lebih intens belajar membuat film, terutama film dokumenter, mungkin ke depan saya akan lebih fokus di bidang skenario dan musik latar dalam sebuah produksi film.

Untuk ke depannya apa rencana Anda untuk mengembangkan bakat Anda di dunia kesenian?
Saya ingin melakukan pertunjukan opera tradisi dan berkeliling ke berbagai daerah, menceritakan cerita-cerita rakyat yang sudah semakin dilupakan.(*)