Sunday, 27 October 2013

Tengku Ryo: Musik Saya Berakar dari Budaya Melayu



Sosoknya dikenal sebagai salah satu bintang pemain biola di Indonesia. Yang membedakannya dengan musisi lain, permainan instrument biolanya yang menampilkan musik etnik khususnya Melayu melalui kelihaiannya bermain biola di setiap berbagai acara musik mulai dari Tanah Air hingga mancanegara.
Bagi pria ramah yang mendapat gelar adat Tengku Merdangga Diraja, Kesultanan Negeri Serdang ini, menampilkan musik etnik khususnya Melayu di panggung merupakan usaha untuk melestarikan budaya Melayu di Tanah Air.
"Saya bukan hanya sebuah penyampaian komposisi musik, tapi merupakan perjuangan budaya yang disampaikan lewat pertunjukan musik," katanya .
Ingin mengetahui lebih dalam sosok Tengku Ryo di atas panggung? Berikut petikan wawancara  dengan Tengku Ryo:

Kabarnya Anda baru-baru ini show di Kuala Lumpur?
Ya, baru-baru ini saya diundang Datok Khadijah Ibrahim yang merupakan artist senior Malaysia, untuk tampil pada acara show beliau, sebagai pre concert bulan Desember nanti. Saat itu ternyata dihadiri juga oleh musisi dari negara lain, yaitu India, Cuba dan Afrika. Kemudian kami berkolaborasi dalam sebuah panggung yang bersahaja.

Apakah ini pertunjukan Anda pertama kali di Kuala Lumpur?
Saya sudah melakukan show cukup banyak di Kuala Lumpur dalam rentang empat tahun terakhir, bukan saja dengan musisi lokal tapi juga musisi Indonesia lainnya yang mungkin malah jarang kami melakukan penampilan bersama di Tanah Air, sebut saja seperti keyboardist Iwang Noorsaid, bassist Indro Hardjodikoro atau Rosa

Kabarnya dalam waktu dekat Anda akan show lagi di Kota Batam dan Kota Medan?
Pada tanggal 26-27 oktober nanti akan tampil di Batam bersama musisi Kepuluan Riau dalam rangkaian acara festival budaya negeri Melayu. Di Medan sendiri kemungkinan awal tahun depan bersama rekan-rekan Komunitas Biola dan Seniman Medan yang mana saya sebagai salah satu pendiri komunitas tersebut tiga tahun lalu.

Apakah show nanti, merupakan show tunggal Anda? 
Show itu bukan show tunggal tapi menampilkan persembahan musik dan tari dari lima provinsi, yakni Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jambi, Kepulauan Riau dan Riau.

Performance apa yang akan Anda tampilkan di Batam dan Medan nanti? 
untuk di Batam saya akan menampilkan sebagian besar komposisi lama yang saya gubah, diambil dari album saya yang pertama dan kedua. Berkolaborai dengan 20 musisi dari Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.

Ada yang menyebutkan keunikan dari setiap show Anda, penampilan awal Anda buka dengan Hymne Tanah Melayu? 
Ya, Hymne Tanah Melayu menjadi pembuka wajib dalam show saya, terutama jika acara itu berkaitan dengan budaya Melayu, yang mana memang musik-musik saya berakar dari budaya Melayu.

Jika melihat banyaknya show yang pernah Anda lakukan, sepertinya karier Anda di dunia musik sudah sukses? 
Alhamdulillah sampai sekarang ini saya disambut baik oleh para penggemar, tapi sebenarnya musik saya bukan hanya sebuah penyampaian komposisi musik tapi merupakan perjuangan budaya yang disampaikan lewat pertunjukan musik, untuk itu mungkin saya tidak begitu dikenal di industri musik main stream, tapi saya bersyukur dengan apapun yang saya capai sekarang.

Dari setiap event musik yang Anda ikut, pengalaman apa yang Anda dapatkan?
Pengalaman yang paling berharga adalah saya bisa bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar kehidupan, bertukar pikiran dan tak jarang berkolaborasi.

Pesan-pesan apa yang Anda sampaikan dalam setiap event yang Anda ikuti?
Inti dari pesan yang saya coba sampaikan adalah jangan sampai kita melupakan akar budaya dan jati diri, tidak hanya kepada masyarakat Melayu tapi juga kepada suku atau etnis lain.

Sejak kapan Anda mulai mengikuti event-event musik?
Sejak saya duduk di bangku SMP.

Bagaimana cerita awalnya, Anda pertama kali mengikuti event musik?
Awalnya event musik yang saya ikuti adalah panggung sekolah, kemudian festival band dan berlanjut sampai konser dan show tunggal.

Apa yang memotivasi Anda mengikuti event musik?
Saya mencintai musik, suatu hal yang mungkin tak terpisahkan dalam kehidupan saya dan juga saya menyukai panggung. Panggung merupakan dunia kecil saya.

Tentunya Anda mendapatkan pengalaman berharga dari setiap event?
Setiap event pasti melibatkan orang dan tempat yang berbeda, dan itu membuka banyak pemahaman yang sangat berharga bagi saya.

Anda sering kali tampil dengan berbagai musisi ternama di Tanah Air. Apakah itu kolaborasi Anda dengan mereka? 
Kebanyakan memang merupakan bentuk kolaborasi.

Dari referensi yang saya dapatkan dari kalangan seniman, Anda lebih dikenal dengan penampilan musik etnik? 
Mungkin bisa dikatakan begitu, tapi saya tidak pernah mengklaim diri saya hanya di musik etnik, musik apapun selama saya bisa maka akan saya mainkan.

Sebenarnya apa yang memotivasi Anda menampilkan musik etnik ketika mengikuti event musik?
Karena musik etnik buat saya adalah musik yang memang sudah ada dalam diri saya, sebuah bahasa yang lebih bisa saya sampaikan dengan lugas. Di Indonesia banyak sekali jenis musik etnik dan saya lebih memfokuskan kepada musik Melayu karena saya lahir sebagai orang Melayu.

Selain biola Anda juga mengusasi berbagai instrumen musik yang mencakup harmonika, seruling, dan gitar?
Saya memang menyukai berbagai instrument dan belajar memainkannya tetapi yang paling sering saya tampilkan adalah permainan instrument biola, alat musik lain yang saya kuasai lebih banyak saya mainkan di studio ketika membuat komposisi dan merekamnya.

Dari penguasaan-penguasaan instrumen musik tersebut, kabarnya Anda banyak mendapat penghargaan?
Ada beberapa tapi itu sudah lama, beberapa penghargaan saya dapat untuk permainan gitar.

Selain itu Anda kabarnya juga pernah merilisi sejumlah album?
Saya sudah merilis dua album, "Kecik" album pertama, "Spirit" album kedua dan sudah menyelesaiakan album "Tribute to Tan Sri P Ramlee", tapi belum dirilis kemudian yang terbaru adalah "Salute to Rock". Mudah mudahan tahun depan kedua album tersebut dirilis. Sedangkan single pernah dirilis oleh Viky Sianipar dalam album "Indonesia Beauty" dengan judul "Journey to Deli".

Bagaimana perkembangan dari album-album yang Anda rilis tersebut?
Sampai sekaran masih saja ada yang membeli dan mendownload dari situs digital, walaupun tidak terjual masal seperti album musik populer, tapi terus berkelanjutan sampai sekarang. Album pertama misalnya, sudah laku hampir 30.000

Anda juga kabarnya sedang pengembangkan bakat musik para tunawisma di Indonesia?
Sebetulnya tidak dikhususkan pada tunawisma tapi bagi siapa saja yang ingin belajar musik tapi tidak memiliki kemampuan mengikuti pendidikan formal, kegiatan ini dilakukan dengan membangun komunitas-komunitas.

Apa benar ada rencana Anda akan juga merambah ke dunia perfilman?
Saya memang tertarik dengan film sejak kecil tapi bidang ini tidak mudah untuk mendapatkan wadah ekspresi ketika itu, di era digital sekarang segalanya serba lebih mudah untuk dilakukan. Debut pertama saya muncul di film layar lebar ketika diajak oleh Alenia Picture untuk memerankan sebuah klakon keci di film mereka yang berjudul "Leher Angsa" yang sudah tayang sekitar empat bulan yang lalu. Kemudian saya lebih intens belajar membuat film, terutama film dokumenter, mungkin ke depan saya akan lebih fokus di bidang skenario dan musik latar dalam sebuah produksi film.

Untuk ke depannya apa rencana Anda untuk mengembangkan bakat Anda di dunia kesenian?
Saya ingin melakukan pertunjukan opera tradisi dan berkeliling ke berbagai daerah, menceritakan cerita-cerita rakyat yang sudah semakin dilupakan.(*)