Friday, 15 November 2013

Keliling Menjual Potensi Pariwisata

Kecintaan wanita ini terhadap pariwisata, telah mengubah dirinya sebagai pengusaha. Berawal dari sebagai tenaga tiketing di perusahaan travel (Biro perjalanan), ia bersama suaminya kini sukses membangun usaha sendiri seperti biro perjalanan, penginapan dan kafe resto di bawah bendera Wesly Tour and Travel.      

Deretan foto Kota Medan tempo dulu, ulos Batak dan rumah adat Batak terpajang apik di dinding Wesly Cafe dan Resto terletak di Jalan Sei Sisirah, Medan. Foto-foto itu sengaja dipajang Mercy Dewi Putri Panggabean (38) sebagai bentuk kecintaannya dengan pariwisata Sumut. "Dengan ada foto-foto Medan tempo dulu saya bisa beritahu, suasana Medan tempo dulu," kata Mercy Dei Putri Panggabean membuka pembicaraan, Rabu siang (25/9). 
Wesly Cafe dan Resto baru didirikan Mercy Dewi Putri Panggabean, beberapa bulan lalu. Restoran ini salah satu dari ide terbarunya untuk mengembangkan sektor pariwisata Sumut. Ia berencana menjadikan cafenya sebagai tempat persinggahan group tour dari biro perjalanan mana saja. "Di sini group tour nantinya bisa mendapatkan hiburan karena kita menyediakan live music dan tari-tarian," ungkapnya.  

Tak puas hanya sampai itu saja, ia juga sudah menyiapkan beberapa ide baru yang akan membuat sektor pariwisata Sumut khususnya Medan lebih menarik lagi di mata turis. "Saya mau buat sesuatu yang baru di Medan. Tapi masih rahasia. Saya lagi kalkulasi biayanya," tuturnya.   

Semangat Echi--nama panggilan akrabnya, untuk mengembangkan pariwisata Sumut memang sudah tidak diragukan lagi. Roh pariwisata seakan sudah sulit dipisahkan dari kehidupannya. 
Buktinya, sampai saat ini, Echi masih tekun menjual potensi pariwisata Sumut dengan mengemas paket-paket tour yang menarik untuk dijual melalui Wesly Tour and Travel. Di Wesly Tour and Travel, Echi duduk sebagai Direktris. 

Dengan jabatan itu, sudah tentu pekerjaannya cukup padat. "Saya terbiasa kerja. Saya tidak suka banyak ngomong dari pada bekerja. Saya tahan di depan meja 13 jam. Saya targetkan setiap hari ada pekerjaan yang selesai," paparnya.    

Sebagai Direktris, Echi tak hanya melulu menawarkan paket tour di Sumut. Ia juga menawarkan berbagai paket tour di Nusantara dan Luar Negeri. Menurutnya, untuk bisa menjual paket pariwisata, seorang pelaku pariwisata harus jeli mencari peluang, kreatif dan memperluas jaringan. "Apalagi orang Medan, banyak yang kritis. Jadi kita harus bisa menyakinkannya," ujarnya

Sebab itulah ia sering menggali potensi pariwisata dengan mengelilingi nusantara hingga ke luar negeri. "Event-event dunia sering saya ikuti. Kemarin saya mengikuti event Asia Pasific di Melbourne, Australia. Harusnya saya ke India lagi, tapi acaranya dibatalkan. Pada hal, saya sudah pesan tiket," ujarnya. 

Meski harus mengeluarkan biaya tidak sedikit untuk bisa mengikuti event-event di luar negeri, Echi mendapatkan banyak wawasan dan menambah jaringan yang bisa diajak bekerjasama. 
Tak jarang hatinya iri melihat negara yang dikunjunginya sangat kreatif dalam menjual pontensi negaranya. 

"Saya melihat Malaysia, Singapura dan Thailand antusias menjual potensi pariwisata negaranya. Ada saja yang dibuat baru. Kok kita gak bisa? sementara potensi pariwisata kita sangat luar biasa," ungkapnya.

Kendati demikian, wanita ramah dan murah senyum ini tidak patah semangat menawarkan dan mempromosikan pontensi pariwisata Sumut khususnya dan nusantara umumnya. Dalam mengemas paket tour, ia pun tidak mau hanya mengandalkan keindahan alam dan destinasi-destinasi yang ada di Sumut kepada klinenya. 

Ia selalu menciptakan hal-hal baru yang bisa mendukung potensi pariwisata sehingga turis terkesan. "Pelaku pariwisata harus punya kreasi. Dari kreasi bisa banyak menghasilkan uang," ungkapnya.    

Satu lagi keunikan dari pribadinya, ia tidak mau bergantung atau menunggu gebrakan dari pemerintah. Ia terus berusaha menciptakan ide-ide cemerlang yang bisa lebih menjual lagi sektor pariwisata Sumut, kendati biaya yang dibutuhkan untuk merealisasikan ide itu cukup besar dan harus ditanggungnya sendiri. "Saya punya prinsip, apa saja yang bisa dilakukan, saya lakukan," pungkasnya. (Midian Simatupang)

Dimulai dari Staf Tiketing
Echi berkecimpung di bisnis travel usai menyelesaikan pendidikan perbankan dari Universitas Perbanas, Medan, tahun 1997 lalu. Krisis moneter yang berimbas banyaknya perbankan yang pailit saat itu, membuatnya terpaksa banting setir bekerja di perusahan Tour and Travel. 

Awal karienya dimulai dari staf tiketing di Roma Tour and Travel. "Waktu pertama kalu dipanggil, saya ketakutan karena basic ilmu saya perbankan," katanya mengingat pertama kali terjun di pariwisata. 

Namun, berkat belajar dan kerja keras, secara berlahan tapi pasti, wanita kelahiran Pangkalan Susu, 20 Juli 1975 ini akhirnya jatuh cinta dengan pariwisata. Simak saja dari perjalanan kariernya di perusahaan Tour and Travel. Selama tiga tahun berturut-turut (1998-2001), ia bekerja sebagai tenaga tiketing di perusahaan Tour and Travel yang berbeda. 

Setelah tiga tahun di Tour and Travel, ia kemudian melebarkan kariernya sebagai Check-in Counter maskapai penerbangan Batavia Air, dari tahun 2002 sampai Desember 2004.

Berbekal pengalaman bekerja di perusahaan travel, ia bersama suaminya, Wesly Indra P Marpaung, kemudian mendirikan Wesly Tour and Travel pada tahun 2005. "Ketika kita buka travel orang sudah kenal, basic kita jaringan, dengan jaringan kita bisa mendapatkan informasi. Jadi kita cepat berkembang," kata Echi. 

Piawai dalam mengemas paket tour dan jasa lainnya, membuat usahanya terus berkembang dengan hadirnya Wesly House dan Wesly Cafe dan Resto di Jalan Sei Sisirah. 

Tak hanya itu, Wesly Tour and Travel kini merambah menjadi usaha franchisee. Melalui usaha franchisee ini, keberadaan Wesly Tour and Travel sudah hadir di luar Kota Medan, seperti Pematang Siantar, Jambi dan Tanggerang Selatan. "Hari Minggu ini kita akan meresmikan cabang kita di Sibolga," tandasnya. 

Meski pekerjaannya cukup sibuk, perempuan berdarah Batak ini tidak melupakan kodratnnya sebagai istri dan ibu bagi Tabita Elisa Putri Marpaung (8). Ia tetap menjaga kualitas pertemuannya dengan suami dan anak, sehingga anak tidak kehilangan figur orangtua. (Midian Simatupang) 


BIO DATA

Nama      
Mercy Dewi Putri Panggabean

Tempat, Tanggal Lahir
Panggkalan Susu, 20 Juli 1975

Pekerjaan
Direktris Wesly Tour and Travel

Pendidikan
Perbankan, Universitas Perbanas Medan 1997

Suami
Wesly Indra P Marpaung

Anak
Tabita Elisa Putri Marpaung

Menyatukan Hobi di Honda Jazz Medan

Komunitas ini dibentuk dan didirikan dengan dasar kekeluargaan dan bertujuan untuk menyatukan seluruh pengguna Honda Jazz di Kota Medan. Tertarik untuk bergabung?

Berbicara tentang otomotif bagi pehobi mobil tentu tak pernah selesai, apalagi bila sedang kumpul bareng, pasti suasananya semakin seru. Suasana inilah selalu diperlihatkan para pecinta Honda Jazz di Kota Medan bila sedang kopi darat (kopdar) dan jalan bareng. Memiliki hobi yang sama membuat hubungan di antara mereka semakin kompak, layaknya seperti sebuah keluarga.  

Komunitas ini terbentuk berawal dari visi dan misi lima orang pecinta Honda Jazz di Kota Medan: Wawan, Ari Tanjung, Nicholas Tanzil, Affan Cedi dan Rangga.   

Ke-limanya saat itu berkeinginan membentuk satu wadah, yaitu kumpulan yang mampu dijadikan referensi dan mengakomodir para pemilik atau pengguna Honda Jazz di Kota Medan, agar dapat lebih memahami dan menambah wawasan serta pengetahuan tentang segala sesuatu yang berkenaan dengan Honda Jazz (www.honda-indonesia.com) dan juga sebagian dunia otomotif lainnya.

Berkat kerja keras, kelimanya akhirnya secara resmi berhasil mendirikan komunitas ini pada 15 Oktober 2011 lalu. Seiring berjalannya waktu, komunitas ini pun berkembang, dengan terus bertambahnya pecinta Honda Jazz di Kota Medan dari berbagai latarbelakang usia, pekerjaan, etnis dan agama.   

"Komunitas dibentuk dan didirikan dengan dasar kekeluargaan dan bertujuan untuk menyatukan seluruh pengguna Honda Jazz terutama di Kota MEDAN," kata Ketua HJM, Ikhwan Azwir, Senin (23/9). 

Menurut Ikhwan Azwir, banyaknya pemilik Honda Jazz bergabung di HJM, karena mereka membawa visi dan misi untuk mempererat silaturahim dan rasa kekeluargaan. "Selain itu, HJM menjembatani serta membantu para membernya dalam mengalami dan mengatasi suatu keluhan seputar penggunaan Honda Jazz," kata Humas HJM, Nicholas Tanzil menimpali. 

Nicholas Tanzil mengatakan, HJM merupakan komunitas yang dibangun dengan dasar-dasar organisasi yang tertuang dalam anggaran dasar dan peraturan yang bertujuan untuk menjaga nama baik HJM. Selain itu dengan adanya anggaran dasar dan peraturan ini setiap anggota dan pengurus memiliki hak dan tanggungjawab yang sama. 

"Di sini setiap pengurus dan anggota dilarang terlibat dalam pengguna dan pengedaran narkoba, menghormati yang tua dan menyayangi yang muda, menjaga solidaritas dan menjalani hubungan dengan kumpulan-kumpulan dan komunitas manapun dengan baik dan setia kawan baik dalam keadaan senang maupun keadaan susah" tuturnya. 

Nah, bagi yang tertarik bergabung, komunitas ini membuka diri, namun tentunya harus memenuhi peraturan yang sudah ditetapkan.  (Midian Simatupang | Jurnal Asia)

Kunjungi: www.honda-indonesia.comwww.honda-mobil.comwww.promomobilhonda.com

Tuesday, 5 November 2013

Mengembangkan Bakat Berkesenian di KBSM

Komunitas ini dibentuk sebagai wadah pengembangan bakat bagi seniman Medan khususnya untuk alat musik biola. Di sini mereka bukan hanya belajar teknik bermain biola tetapi juga bagaimana membina sikap dan mental.

Mengunjungi Taman Ahmad Yani, Jalan Sudirman, Medan di hari Minggu pasti ada pemandangan dan rasa yang berbeda. Bukan karena banyaknya masyarakat yang datang berolahraga atau sekedar melihat canda tawa para pengunjung, namun karena suara biola yang mengalun merdu berhembus dari balik pepohonan di dalam taman. 

Ternyata, suara merdu biola itu datang dari sekelompok anak muda yang tergabung dalam Komunitas Biola dan Seniman Medan (KBSM). "Kami memang setiap  hari Minggu kumpul di sini,"  kata Tengku Mira Sinar, salah seorang pengurus KBSM .

Komunitas ini didirikan oleh Tengku Ryo, seorang pemain biola yang namanya sudah eksis di kancah musik Indonesia. Suatu ketika, Tengku Ryo prihatin melihat kondisi  musisi jalanan di Medan yang tak tentu arah tanpa tujuan. Melihat itu, hatinya pun tergerak dan akhirnya membentuk komunitas belajar biola secara gratis di sanggar Sinar Budaya Group (SBG), Jalan Abdullah Lubis Nomor 42/47 Medan.

"Anak-anak komunitas ini sebagian besar adalah musisi jalanan yang belajar secara otodidak karena keterbatasan biaya untuk belajar secara formal. Dengan bergabung di komunitas ini kami memberikan peluang bagi pengembangan bakat seniman Medan khususnya untuk alat musik biola, bukan hanya teknik bermain tetapi juga bagaimana membina sikap dan mental," ungkap Mira Sinar.

Di komunitas ini, Mira Sinar sendiri duduk sebagai pelindung bersama ayahnya, Almarhum Tengku Luckman Sinar SH, tokoh masyarakat Melayu Sumatera Utara sekaligus pendiri Yayasan Kesultana Serdang.  Tengku Luckman Sinar SH semasa hidup sempat juga beberapa lama ikut terlibat membina komunitas ini.  

Ketika itu, Tengku Ryo, Mora Sinar dan Almarhum Tengku Luckman Sinar SH bercita-cita dengan didirikannya KBSM dan disediakannya sarana pendidikan informal secara  gratis, musisi dan seniman Medan bisa lebih maju lagi dalam mengembangkan bakat di bidang kesenian.

Selama perjalanannya, aktivitas KBSM  juga sempat mengalami pasang surut. Bahkan, sempat fakum hampir selama satu tahun selain kesibukan masing-masing juga karena perbedaan pendapat yang mana sudah lazim di sebuah perkumpulan. 

Kemudian pada pertengahan 2012, komunitas  dibangkitkan lagi dan mulai berkembang hingga sekarang. Komunitas ini juga pernah berlatih di lapapangan Merdeka, Medan dan kemudian pindah ke taman Ahmad Yani dan Sesekali berlatih di SBG.

Namun, kondisi itu berhasil dilewati. Bukti itu terlihat dari jumlah anggota yang bergabung sampai saat ini, sudah sekitar 100 orang seniman. Mereka berasal dari berbagai gender, usia, profesi, suku, dan agama. 

Bahkan, komunitas yang semula hanya didirian untuk mengembangkan bakat alat musik biola, 
kini melebarkan sayap menjadi Komunitas Biola dan Seniman Medan karena banyak anak muda Medan yang menemuki kesenian lain, seperti tari dan theater, bergabung di komunitas ini.

Menurut Mira Sinar, banyaknya seniman begabung di KBSM karena komunitas ini adalah tempat untuk mengembangkan bakat dan membina jaringan. 

"Tidak ada tendensi siapa lebih hebat dan lain sebagainya, semua dalam posisi yang sama. Tidak ada keterikatan dan paksaan untuk latihan atau bergabung, hanya ada struktur sederhana untuk mengatur jalannya roda komunitas," ujarnya.

Meski demikian komunitas ini bukan berarti hanya berkarya di internal saja. Komunitas ini juga sudah sering tampil dalam berbagai event kesenian.  Event kesenian yang pernah dibuat diantaranya, konser di Hotel JW Marriot Medan dalam acara Hari Kemerdekaan Amerika Serikat,  4 Juli 2010 dan Konser tema 'Kau Aku' dan di Taman Budaya Sumatera Utara, Jalan Perintis Kemerdekaan, Medan pada 30 Maret 2013 yang berjalan sangat sukses. 


"Kegiatan ke depan kita akan membuat pertunjukan, mengasah keterampilan dan membuka kesempatan untuk kegiatan-kegiatan seni, berkolaborasi dan lain-lain," tutur Mira Sinar.

Nah, bagi yang tertarik bergabung,  komunitas ini masih terbuka bagi siapa saja tanpa dikenakan syarat khusus. Namun, tentunya harus memiliki keinginan untuk berkesenian. komunitas ini juga secara tidak langsung menciptakan pembelajara budi pekerti dan kemampuan untuk bekerja sama satu sama lain.

 "Disini kegiatannya lebih banyak berlatih, berbagi informasi, membuat konser, dan lain-lain," tambahnya.

Mira Sinar menyadari menjaga kekompakan dan kebersamaan antara pengurus dan anggota adalah hal yang penting di sebuah komunitas. Makanya, agar kekompakan antar anggota dan  pengurus tetap terjalin, ia sering membuat diskusi terbuka. "Manajemen yang terbuka dan saling mendengar masukan, tidak  mementingkan diri sendiri," tegasnya.

Meski tidak memiliki peraturan (AD/ART) yang mengikat antara pengurus dan anggota, namun komunitas ini memiliki program dan arah yang jelas karena berlindung di bawah bendera Yayasan Kesultanan Serdang dan Sinar Budaya Group yang berbadan hukum sah dalam legalitas akte. "Kami memberikan pengajaran bagi pemula yang bergabung secara suka rela," tuturnya.

Menurut Mira Sinar, agar kesenian di Medan bisa berkembang, hal yang terpenting adalah pola pikir para senimannya bisa lebih terbuka dan bisa menerima kelebihan orang  lain, sarana dan prasarana yang mendukung dan dukungan dari pemerintah dan masyarakat Medan itu sendiri. (midian coki)


Saturday, 2 November 2013

Saya Ingin Ulos Mendapat Posisi Tertinggi


Torang MT Sitorus telah lama mengambdikan dirinya dalam seni tenun ulos. Di tangannya keberadaan kain simbol keberadaban suku Batak di Tanah Air ini memiliki kualitas tinggi dengan sentuhan bahan sutra dan pewarnaan alam. Ia berkeinginan untuk mempopulerkan ulos setara degan kain-kain Indonesia, bahkan hingga merambah ke dunia fashion. Berikut petikan wawancara dengan Torang Sitorus, Rabu (10/10).    


Apa yang memotivasi Anda menekuni profesi sebagai desainer ulos?

Di umur 19 tahun, ayah dan ibu ku, sudah melihat bakat ku terhadap dunia seni, kain tenun, interior, lantas mereka mengirim ku belajar ke Yogjakarta untuk belajar tentang batik dari Balai Besar Batik.
Di Yogjakarta, saya belajar batik melalui kursus yang difasilitasi oleh Pemerintah. Saya berhasil memulai batik degan motif Batak, kemudian saya mulai mengenal Bali, seni di Bali cukup mendapat perhatian ku saat itu. Ternyata apapun bisa diolah menjadi barang berseni tinggi.
Setelah melihat keberagaman budaya yang terkumpul di Bali, lewat kerajinan, anyaman, textile, dan banyak jenis yang bisa diaplikasikan ke dunia disain, pikiran saya langsung ingat Sumatera Utara punya ulos. Saya harus punya ciri khas kalau mau sukses, itu tekat saya saat itu. Ulos dan ulos. Bersyukur orangtua mendukung ku.

Sejak kapan Anda serius sekali dalam seni batik ulos?

Di tahun pertama, setelah saya belajar batik dan pewarnaan alam, saya mulai memproduksi batik degan motif Batak. Tetapi masih dikerjakan pengrajin batik di Jawa. Saya mendapat keuntungan, tetapi kok hati gak terima ya, maksud orangtua saya saat itu ingin membantu kerajinan di tanah Batak.

Bagi Anda apa yang menarik dari ulos Batak?

Yang menarik dari ulos, karakter manusianya dulu. Orang Batak itu keras, pekerja keras maksud saya, tegas dan wibawa, semua raja. Kainnya (ulos) juga begitu. Saya pikir ini kain tertua yang dimiliki Indonesia, butuh penelitian khusus oleh ahli, tehnik tertua seperti garis-garis tanpa motif.
Ulos punya pakem atau aturan yang kuat, dan ini hanya dipunyai suku Batak, yaitu raja harus pakai ulos khusus, menikah harus pakai ulos khusus, anak punya ulos khusus, wanita pakai ulos khusus. Ini pemakaian kain yang paling ribet di dunia. Ini yang membuat saya penasaran.

Selain ulos, apakah lagi yang Anda garap? 

Di usia ku yang masih muda saat ini, proyek pertama ku adalah rumah pribadi ku sendiri, Villa Gorga di Tarutung, Tapanuli Utara, seluruh interior rumah ini berbahan ulos degan gabungan arsitektur Bali dan Batak. Di Villa Gorga saya mendapat inpirasi dari Bali. TV lokal dan TV internasional pernah meliput rumah ini. Yang menarik adalah, banyak ornamen rumah ini bahannya dari tenun ulos yang selama ini kita gak pikir bisa diolah.

Sentuhan apa saja yang diberikan pada desain ulos Anda?

Sentuhan baru hanya memperkuat motif. Saya tidak menciptakan motif baru, tetapi motif yang lama lebih dipertegas lagi, ditenun motif yang perlu dan berkarakter kuat karena peruntukannya bukan untuk adat saat itu. Membuat ulos lebih berwarna dan material dari benang-benang berkualitas.

Tantangan apa yang pernah Anda hadapi selama menekuni seni ulos?

Tantangannya banyak. Penenun itu seniman ya, egonya tinggi, susah diajari, mereka kaku, kalau sudah mengerjakan satu jenis ulos tidak mau kerjakan ulos motif lain. Kemudia saat ini mereka menenun tidak pakai hati, suka asal sehingga kualitas rendah.

Jadi apa yang Anda lakukan dengan karya ulos?

Seperti yang saya ceritakan tadi itu. Yang saya lakukan dan hadapi dahulu saat ini, saya ingin ulos mendapat posisi tertinggi. Ulos degan kualitas tinggi. Bahan yang bagus degan sutra dan pewarnaan alam, ini proyek saya tahun ini dan sudah berjalan di Villa Gorga saya. Memperkenalkan pewarnaan alam ke masyarakat Batak.

Bagaimana respon masyarakat terhadap karya-karya Anda?

Cukup mendapat tempat. Saat ini wanita Batak sudah punya rasa bangga terhadap kain tenun ulos. Dahulu wanita Batak menikah memakai kain Palembang, sekarang sudah mau memakai kain ulos. Rasa cinta kepada ulos sudah mulai tumbuh. Ini cukup membuat kita senang. Berarti perjuangan tidak sia-sia.

Lantas apa harapan ke depan dengan karya seni ulos Anda?

Bukan hanya untuk saya pribadi ya, tetapi pelaku tenun, pengrajin ulos khususnya tujuan utama adalah mempopulerkan ulos setara degan kain-kain Indonesia lainnya, dan masyarakat mau memakainya (ulos), supaya seni tenun ulos ini selalu hidup, penenun bisa sejahtera kalau produk mereka laku di pasar.

Apa saran Anda agar masyarakat ke depan bisa menghargai ulos di tengah krisis budaya sekarang ini?

Sudah saatnya kita bangga dengan apa yang kita punya. Negara ini cukup kaya dengan budaya, dari Sabang sampai Merauke. Banggalah degan kebudayaan mu, pakailah kain ulos kalau kamu menghargai karya leluhur mu. (Midian Simatupang)


Nama
Torang Mt Sitorus

Tempat Tanggal Lahir
Tarutung, 24 September 1977 

Status:
Belum Menikah

Orangtua
Ayah: Alm M Sitorus
Ibu : Senty Sirait 

Pretasi
Pemuda Pelopor Budaya Sumatera Utara
Pemenang Kria Kreasi Bidang Tekstiles HUT Dekranas tahun 2012

Menyatukan Hobi di TYCI


Sekumpulan anak muda pencinta Toyota Yaris di Medan mendirikan sebuah komunitas. Di komunitas ini mereka menjalin kekompakan dan kebersamaan dalam menyalurkan hobi.

Menyalurkan hobi di dunia otomotif sebenarnya tak hanya semata berkutat pada modifikasi. Hobi juga bisa dimanfaatkan untuk menambah pergaulan dan rasa solidaritas serta kepudulian antara sesama pecinta otomotif. Hal inilah dilakukan para pecinta mobil Toyota Yaris di Medan. Merasa memiliki hobi yang sama, mereka membentuk komunitas bernama Toyota Yaris Club Indonesia (TYCI) Medan Chapter. 
Komunitas ini resmi terbentuk sejak 30 Juni 2012 lalu dan kini telah memiliki 70 orang anggota. Mereka yang kumpul disini beragam usia, pendidikan, profesi, etnis dan agama. "Sebahagian besar anak muda berstatus mahasiswa dan pekerja. Namun, ada juga yang sudah berkeluarga," kata Ketua TYCI Medan Chapter, Ahmad Affandi, drg (25) didampingi Ketua Harian, M Wiko Ashad (21) , Setia Budi Mas, Jalan Setia Budi, Selasa malam (3/9). 

Meski pengurus dan anggotanya berasal dari latar belakang yang berbeda, toh tak menjadi hambatan untuk meningkat rasa kebersamaan, kekompakan dan nasib sepenanggungan. Lihat saja ketika mereka ngunpul, canda dan tawa selalu terlontar dari mulur mereka. Kesamaan hobi dalam satu komunitas seakan 'menyuci' pikiran mereka untuk menghilangkan perbedaan-perbedaan yang ada . 
Komunitas ini terbetuk berawal dari Ahmad Affandi mencari tahu tentang Club Toyota Yaris Indonesia di internet. Setelah menemukan, dokter gigi yang akbrab disapa dengan sebutan Pepeng ini kemudian menjalin komunikasi dengan TYCI Pusat. Gayung pun bersambut. Tak lama kemudian sejumlah pengurus TYCI Pusat melantik secara resmu kepengurusan TYCI Medan Chapter pada 30 Juni 2012 lalu di Bengkel Sehat, Jalan Sei Batang Hari, Medan.
 Awal ketika baru terbentuk komunitas ini masih hanya beranggotakan 25 orang saja. Namun, sering berjalannya waktu, jumlah anggota yang bergabung di komunitas terus bertambah. Kini sudah 70 orang terdaftar resmi sebagai anggota. "Di TYCI rasa kekompakan dan solidaritasnya tinggi. Banyak kesan-kesan di sini, orangnya baik-baik dan saling membantu," kata M Wiko Ashad menimpali.     
Kendati usia komunitas ini masih seumur jagung, kehadiran mereka tak kalah dengan komunitas otomotif lainnya yang sudah lama hadir di Medan. Bukti itu ditunjukan dengan berbagai event sudah sering digelar. 
Pada acara jambore nasional TYCI Jakarta-Solo, 11- 16 Agustus 2013 lalu misalnya, sebanyak tujuh orang utusan dari TYCI Medan Chapter ikut touring bersama 150 unit mobil Toyota Yaris dari seluruh Indonesia dengan rute: Jakarta-Jogyakarta, Jogyakarta-Solo, Solo-Semarang dan berakhir di Jakarta. "Jambore nasional diadakan untuk mengikat tali silaturahmi sesama pencinta Yaris di Indonesia. Event touring yang diadakan saat itu sangat berkesan bagi kami," ujar Ahmad Affandi lagi.  
Seakan tidak puas hanya mengikuti touring pada jambore nasional itu, mereka sudah menyusun rencana untuk menggadakan touring dalam waktu dekat ini. "Pada bulan November tahun ini kita berencana mengadakan mini touring ke Danau Toba," ungkap Ahmad Affandi. 
Meski komunitas otomotif selalu identik dengan kegiatan touring, namun tak membuat TYCI Medan Chapter tidak tutup mata dengan kondisi sosial di masyarakat. Pada ulang tahun pertama TYCI Medan Chapter yang digelar di Rumah Makas ACC Jalan Sisingamangaraja, mereka turut mengundang anak-anak dari Panti Asuhan. 
Begitu pula pada bulan Ramadan lalu, mereka mengadakan Sahur On The Road (SOTR) bersama komunitas lain, membagi makanan untuk sahur bagi kaum papah di jalanan Kota Medan. "Jadi kegiatan kami tidak hanya touring semata, belakangan ini kami juga sering menggelar kegiatan bakti sosial," paparnya. 
Sering menggelar berbagai kegiatan positif, wajar membuat berbagai pihak memberikan dukungan ke komunitas ini. Salah satu pihak yang sangat memberikan dukungan sampai saat ini adalah Auto 2000,  main dealer mobil Toyota di Sumatera Utara. Setiap anggota TYCI Medan Chapter mendapat diskon 20% untuk servive kendaraaan. Selain itu, Auto 2000 mendukung penerbitan majalah komunitas Toyota Yaris Sumatera. "Kami juga mendapat dukungan keuangan bila mengadakan kegiatan," ujarnya.
Bagi masyarakat Kota Medan yang memiliki Toyota Yaris, komunitas ini membuka diri untuk ikut bergabung. Meski demikian, bukan berarti komunitas ini sembarangan menerima calon anggota. Pasalnya, komunitas ini memiliki Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) yang harus ditaati kepada calon anggota, yakni pengguna Toyota Yaris, memiliki surat izin mengemudi (SIM) dan membayar iuran yang digunakan untuk keperluan atribut seperti seragam dan stiker.
Tak cukup hanya itu saja, setiap anggota dan pengurus wajib menjunjung tinggi take line '3S' TYCI (safety driving, smart driving dan Share driving), dengan maksud menunjukan komunitas ini bukanlah hanya tempat untuk bersenang-senang. Untuk safety driving,  setiap anggota harus mentaati rambu-rambu lalu-lintas, kemudian smart driving (kepintaran dalam mengemudi) dan share driving yang artinya setiap anggota memiliki kepedulian dalam mengemudi demi menghindari kecelakaan saat mengemudikan mobil. (midian simatupang)     
    

Kepengurusan TYCI Medan Chapter

Ketua           
Ahmad Affabdi, drg
Sekjen
Rifhy Filosophy, SE
Sekretaris          
Natya Shanaz
Bendahara I   
Gizha Idzni, S.ked
Bendahara II  
Chelso Andingi
Ketua Harian 
M. Wiko Ashad
Sekretaris Harian
Kevin Sirait
Wkl Ketua Harian
Rendy Nugraha
Ka. Bid Acara
Andi Rheriza
Ka. Bid Anggota dan Humas
Maulana Mukti

Cp. 08197231056 (Fandi)
      081264141900 (Maulana)
Twiter    : @yarisclub_medan
Instagram : @yarisclub_medan

Friday, 1 November 2013

Menggali Potensi di Toastmasters International

Di komunitas ini, setiap anggota memotivasi diri untuk menggali lagi kemampuannya lebih dalam, baik dalam berkomunikasi maupun menjadi seorang pemimpin. 

Di era globalisasi yang sangat berkompetisi saat ini, kemampuan diri menjadi modal utama yang sangat mempengaruhi menuju kesuksesan. Tak heran bila sekarang ini, banyak orang mencari tempat-tempat yang bisa membantu untuk meningkatkan pontesial diri dan meningkatkan kemampuan kepemimpinan.

Salah satu komunitas di Kota Medan yang bisa menjawab tantangan itu adalah Toastmasters International. Di komunitas ini, setiap anggota mendapatkan motivasi dari para mentor untuk bisa menggali lagi kemampuannya lebih dalam, baik dalam berkomunikasi maupun menjadi seorang pemimpin.
"Setiap anggota diajak untuk dapat berkomunikasi lisan secara efektif, sehingga membantu setiap orang untuk belajar seni berbicara, mendengarkan, memikirkan kemampuan utama untuk mempromosikan pengaktualisasian diri, meningkatkan kepemimpinan, menimbukan rasa saling menghargai dan membentuk sebuah pemikiran yang positif," kata Organizing Chair, Toastmasters International Distrik 87, M Adly Ilyas ACS, ALB.   
Toastmaster International hadir di Medan sejak sejak tahun 1998. Namun, Toastmasters sendiri sudah dimulai dari basement YMCA pada 22 Oktober 1924.

Konsep ini tertangkap di iklim optimis California Selatan, dimana saat itu banyak para pria dari masyarakat sekitar mencari kelompok dan menemukan sebuah klub, kemudian menyukai apa yang mereka lihat pada klub tersebut.
Toastmaster lahir dari ide Ralph C Smedley pada tahun 1903. Ralph C Smedley, sang penemu, memulai organisasi ini dengan tujuan untuk memberikan praktek dan pelatihan dalam seni berbicara di depan umum dan dalam memimpin rapat, dan untuk mempromosikan keakraban dan persahabatan yang baik antara para anggotanya.
Ralph C Smedley memilih nama Toastmasters untuk organisasinya, terinspirasi dari suasana perjamuan makan malam, dimana sering dilakukan toast sebelum memulai makan dan setelah makan malam sering dilakukan beberapa pembicaraan atau saling berbicara.
Seiring dengan waktu organisasi ini merambah ke Indonesia. Di Sumatera sendiri, Toastmasters International memiliki 15 klub terdiri dari 13 klub berbasis bahasa inggris, 10 diantaranya di Sumatera Utara, 1 klub berbahasa mandarin di Medan, dan 1 klub berbahasa Indonesia di Medan. Masing-masing klub memiliki pengurus dimulai dari Presidet, Wakil Bidang Pendidikan, Keanggotaan, Humas, Sekretaris, Bendahara sampai Pelaksana Umum.
Selain itu, masing-masing klub juga memiliki lokasi pertemuan tersediri dan menjalankan pertemuan dalam setiap dua minggu sekali. Setiap mengadakan pertemuan, anggota akan mengikuti tiga sesi, yakni sesi topik spontan, sesi pidato yang dipersiapkan, dan sesi evaluasi pidato.
Di sesi topik spontan, tidak hanya anggota yang bisa ikut serta, tamu juga diperbolehkan. Di sesi inilah tema akan diulas dan dieksplorasi baik dalam bentuk permainan maupun diskusi.
"Bagi yang beruntung, akan diberikan kesempatan untuk berbicara selama 1-2 menit untuk menjelaskan sebuah pernyataan ataupun pertanyaan. Nah di sinilah para anggota dan tamu dipaksa untuk berbicara secara spontan dan menungkan ide-ide yang ada di isi kepalanya," terang Adly Ilyas.
Sementara di sesi pidato yang dipersiapkan, hanya anggota saja yang boleh ikut serta, tetapi tamu boleh mendengarkan. Sesi ini lebih pas melatih seseorang untuk berbicara di depan umum dan membuka kemungkinan menjadi seorang pembicara atau public speaker.
"Pidato yang disampaikan juga berdasarkan panduan buku yang didapat ketika pertama sekali mendaftar," lanjut Adly Ilyas.
Berbeda di sesi evaluasi pidato, senior ataupun anggota yang telah melewati manual yang sedang dijalankan akan meluangkan waktunya selama 2-3 menit untuk mengevaluasi point-point baik dan kurang sehingga si pembicara akan lebih baik lagi pada kesempatan selanjutnya. Di sini para anggota dilatih untuk belajar kritis dan dapat memberikan solusi.

Ikuti Lomba dan Membuat Event
Tak hanya pertemuan semata, anggota di komunitas ini sering meraih juara dalam berbagai perlombaan. Salah satu diantaranya, juara tiga pidato yang menginspirasi dalam bahasa Inggris antar Brunei Darussalam, Malaysia dan Indonesia, pada convention bulan Mei lalu di Sibu, Sarawak, Malaysia.
Selain itu komunitas ini juga rajin membuat event. Pada 15-17 November 2013, mereka akan mengadakan konferensi District 87 di Hotel Grand Aston Medan. Para peserta berasal dari Brunei, Malaysia, Indonesia, Singapore dan Amerika Serikat.

"Ini merupakan konferensi tahunan yang dilakukan oleh anggota dan membuka peluang untuk saling bertemu dan berkomunikasi dalam rangka meningkatkan keakraban," papar Adly Ilyas. 

Pada 5 oktober,
mereka mengadakan Humorous Speech & Evaluation Contets Area H2 di PPIA, Jalan Dr Mansyur, Medan.
Banyaknya efek positif diberikan komunitas ini kepada anggota, membuat jumlah anggota di komunitas ini terus bertambah.

Apalagi, komunitas ini terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung, namun dengan syarat berumur minimal 18 tahun.

Komunitas ini juga tidak melihat latar belakang pendidikan, pekerjaan dan jenis kelamin.
"Toastmasters tidak mengenal profesi, selama anggotanya mau belajar dan terus belajar, Toastmasters membuka peluang untuk meningkatkan kemampuan lebih baik lagi," tutur Adly Ilyas.
Menurut Adly Ilyas, banyaknya orang  tertarik bergabung di komunitas ini karena Toastmasters memberikan peluang kepada setiap anggotanya untuk menggali lagi kemampuannya lebih dalam, baik dalam berkomunikasi maupaun menjadi seorang pemimpin.

"Pengembangan diri dan kreatifitas khususnya dalam berbicara, menjalankan sebuah event dan memimpin sebuah tim kerja atau kepanitiaan," jelasnya. (Midian Simatupang)