Friday, 27 December 2013

Dari Dunia Pendidikan ke Politik

Hj Tety Juliaty, SE,M.Si


Di dunia pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) bagi perusahaan-perusahaan di Kota Medan, sosok wanita satu ini sudah tidak asing lagi dilihat. Ia adalah Staf Ahli di Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara (Sumut) dan dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Harapan, Jalan Sudirman, Medan. 
Di bidang pengembangan SDM, ia adalah Direktur di Lembaga Diklat Profesi (LDP) Indonesia, sebuah lembaga pelatihan tenaga Administrasi, Sekretaris, Akutansi, Komputer dan Public Speaking yang berdiri sejak tahun 2007 dengan tujuan supaya orang-orang bisa memiliki pribadi yang kompeten di dunia kerja dengan memberikan pekerja di perusahaan-perusahaan yang sudah mapan.  
"Kita juga melakukan kerjasama dengan Dinas Pendidikan Sumut untuk melatih guru-guru SMK (non teknik). Kerjasama juga kita lakukan dengan Dinas Tenaga Kerja Kota Medan," sebut Tetty Juliaty  di kantornya, Jalan T Amir Hamzah, Kompeks Griya Riautur, Kamis sore (14/11).   
Selain berkecimpung di LDP Indonesia, ia juga mengelolah Jobstation. Jobstation adalah sebuah perusahan konsultan SDM dan rekrutmen tenaga kerja.  Kemudian sebagai dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Harapan, Jalan Sudirman, Medan dan terkadang mengajar pekerti di Fakultas MIPA, Universitas Sumatera Utara (USU). "Sebenarnya saya diminta mengajar lagi di Perguruan Tinggi swasta lain. Namun belum ada waktu," paparnya.  
Dengan banyak kegiatan, wajar bila Tetty Juliaty setiap harinya sangat sibuk. Itu belum lagi termasuk aktivitas lainnya seperti: Kepala Cabang Lembaga Sertfikasi Profesi Administratif, Staf Ahli di Dinas Pendidikan Sumatera Utara, Profesional dan Sekretaris Indonesia Sumatera Utara menjadi narasumber di workshop, seminar dan pelatihan, juri dalam berbagai perlombaan di tingkat Kota Medan, Provinsi dan Nasional hingga mengikuti event-event pendidikan di luar negeri.  
"Kalau kegiatan setiap hari, paginya aktivitas saya di LDP Indonesia dan Jobstation. Malamnya, saya sebagai dosen di STIE Harapan," kata Tetty Juliaty. 
Menurut Tetty Juliaty, memilih pekerjaan di bidang pendidikan dan pengembangan SDM terinspirasi dari filosopi hidupnya yang ingin membantu orang untuk menggapai kesuksesan. "Ketika saya membuat orang sukses, saya merasa bahagia," tukasnya. 
Selama perbincangan membahas pengembangan dunia pendidikan dan SDM, Tetty Juliaty begitu bersemangat. Baginya, pendidikan sangat penting dan nomor satu untuk bisa menggapai kesuksesan. 
\Semangat dan Kerja Keras\ tulisan tebal
Namun, kesuksesan wanita ramah dan berpenampilah low profil ini diraih dengan semangat dan kerja keras. Sebelum terjun di dunia pendidikan, ia sempat bekerja sebagai Staf Train di sebuah Perkebunan Asing, Head Teller di Bank Umum Nasional (BUN), sambil kuliah di STIE Harapan dan kemudian Sekretaris di PT PBS.
Terjun di bidang pendidikan pertama kali dimulai Tetty Juliaty di Politeknik Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia (LP3I), dan kemudian hijrah ke IBBI Medan sebagai dosen kepribadian dan Sekretaris, bahkan hingga ke Fakultas MIPA, Universitas Sumatera Utara (USU) sebagai dosen pekerti. "Ketika di IBBI lah awalnya saya bernar-benar merasakan jatuh cinta dengan dunia pendidikan," tutur Tetty Juliaty. 
Menurutnya, satu hal yang membedakan dirinya dengan dosen lainnya, ia adalah dosen praktisi dengan membagi pengalaman pekerjaannya kepada para mahasiswa. Baginya antara tenaga pengajar dan tenaga pendidik sangat berbeda. "Kalau mengajar semua orang bisa, tapi kalau jadi pendidik memiliki tanggungjawab moral kepada Tuhan. Sebagai pendidik, pasti mengingin menjadikan orang sukses," ungkapnya. 
Terjun ke Politik
Ada yang berbeda dengan sosok Tetty Juliaty belakangan ini. Bukan karena ia telah meninggalkan dunia pendidikan, namun pilihannya terjun ke dunia politik. 
Tetty Juliaty tercatat sebagai salah satu Wakil Ketua di DPD Partai Nasdem Sumut, dan calon legislatif (Caleg) DPRD Sumut urut tiga dari daerah pemilihan 2 Medan.      
Tetty Juliaty mengaku, sebelumnya tidak tertarik dengan politik. Namun, karena ada seseorang yang terus berusaha menyakinkannya tanpa jenuh, ia pun akhirnya tertarik terjun di politik. "Ketika orang itu
menyebutkan,'apakah kamu rela membiarkan orang-orang yang tidak becus mengisi parlemen,', mendengar itu saya merasa tersentuh," katanya.
Terjun di politik diawalinya sebagai Ketua Garda Wanita Sumut, salah satu sayap Ormas Nasdem yang ketika itu belum menjadi partai politik. Setelah Nasdem berubah bentuk menjadi partai politik, Tetty Juliaty kemudian dipilih menjadi Wakil Ketua di DPD Partai Nasdem Sumut. 
Namanya yang begitu besar di dunia pendidikan akhirnya menjadi daya tarik partai nomor urut satu ini menjadikannya sebagai salah satu caleg. Bahkan, sudah mulai digadang-gadang ketika masih menjadi Ketua Garda Wanita Sumut. "Bukan saya mau jadi caleg, tapi saya diminta dan bukan hanya sekadar untuk memenuhi kuota perempuan di parlemen," tukasnya. 
Ia berharap bila lolos di DPRD Sumut, bisa membenahi pendidikan untuk mengingkatkan pendidikan berkualitas sehingga akses masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan dan wirausaha bisa lebih mudah sehingga bisa mensejahterakan masyarakat. (Midian Simatupang)

Komunitas Pecinta Mitsubishi Lancer

Ada pemandangan yang berbeda di halaman gedung rektorat Universitas Sumatera Utara (USU), Jalan Dr Mansyur, Minggu pagi (10/11). Puluhan orang  berbagai usia dari mulai anak-anak, anak muda, orangtua, pria dan wanita bercengkrama secara berkelompok di antara sela-sela sekitar 25 unit mobil Mitsubishi Lancer dari produksi tahun 1981-1984 yang berjejer rapi.

Mobil-mobil itu adalah milik para pengurus dan anggota komunitas pehobi mobil Mitsubishi Lancer (Kunujungi: www.dealermitsubishi.comwww.ktb.co.idwww.mitsubishiberlian.comtergabung dalam SL Never Die Indonesia Chapter Medan. Komunitas ini resmi terbentuk pada 30 September 2012 lalu di Hotel Hurung Tama, Sibolangit. Induk SL Never Die Indonesia sendiri berpusat di Jakarta, dan memiliki sejumlah cabang (Chapter) di sejumlah kota di Indonesia.  

Meski mobil tergolong tua, namun kecintaan mereka pada mobil produksi Jepang ini, membuat mobil tua ini semakin apik, dan kinclong terlihat. Bahkan, kini bernilai tinggi karena penampilannya kian klasik terlihat. "Di tahun 1984 mobil ini raja jalanan, digemari anak muda," kata Zulfikar, Bendahara SL Never Die Indonesia Chapter Medan.  

Tercatat sudah 37 unit mobil Mitsubishi Lancer terdaftar di komunitas ini. Para pemiliknya berasal dari berbagai kalangan usia, status, dan pekerjaan. Namun, para anggotanya lebih didominasi dari kalangan yang sudah berkeluarga.

"Komunitas ini khusus mobil Mitsubishi Lancer dari tahun 1981 sampai 1984  yang berpusat di Jakarta, kita merupakan Chapter Medan," kata M Zuni Handika salah satu pendiri yang juga Ketua Umum SL Never Die Indonesia Chapter Medan.      

M Zuni Handika bercerita, ide membentuk komunitas ini terdorong dari kecintaanya kepada mobil Mitsubishi Lancer. Kemudian ia mencari informasi seputar komunitas mobil Mitsubishi Lancer di dunia maya. Dari dunia maya itulah ia mengetahui ada komunitas mobil Mitsubishi Lancer di Jakarta. "Saya kemudian mendaftar, dan kemudian saya dikirimi perlengkapan dan ditunjuk sebagai Ketua Chapter Medan," tukasnya.  

Mendapat kepercayaan dari Jakarta, Andika--panggilan akrabnya kemudian menyisir jalanan Kota Medan untuk mencari anggota. Tak jarang ia mengaku, bersama dua orang rekannya, Dendi dan Andre, terpaksa memberhentikan mobil Mitsubishi Lancer yang sedang lewat demi mengajak ikut bergabung di komunitas ini.

Berkat usaha dan kerja keras, Andika bersama Dendi dan Andre berhasil menghimpun lebih banyak lagi pecinta Mitsubishi Lancer. "Waktu resmi terbentuk pada 30 September 2012 sudah ada 15 mobil. Sekarang sudah ada 37 mobil. Pada 31 September lalu kami sudah merayakan ulang tahun pertama di tempat dimana pertama kali SL Never Die Indonesia Chapter Medan resmi dibentuk," paparnya.

Andika mengatakan, tujuan dibentuknya SL Never Die Indonesia Chapter Medan adalah sebagai wadah komunikasi dan menigkatkan talisilaturahmi antar sesama pecinta mobil Mitsubishi Lancer. Bahkan lanjutnya, di komunitas ini rasa keakraban dan kekeluargaan antar sesama pecinta mobil Mitsubishi Lancer kini semakin kuat.
Agar rasa keakraban dan keluargaan tetap terjalin, mereka wajib mengadakan kopi darat (Kopdar) dua kali dalam sebulan. Tempat kopdar yang biasa mereka singgahi pindah-pindah, terkadang mangkal di Lapangan Merdeka, Petronas Jalan Ringroad, di pinggir kantor PTPN Sei Sekambing.
Keakraban juga mereka jalin dengan kegiatan touring bersama seperti ke Pantai Kuala Putri di Sergai, Laut Tawar dan Berastagi.

"Setiap kali mangkal dan touring anak dan istri dilibatkan. Justru kalau anak dan istri tidak dibawa pasti ditanyai sama yang lain. Makanya di SL Never Die Indonesia Chapter Medan diperkuat oleh keluarga," kata Iqbal Askari, Sekretaris I SL Never Die Indonesia Chapter Medan menimpali.

Andika menambahkan, talisilaturahmi juga dijalin SL Never Die Indonesia Chapter Medan dengan komunitas otomotif lainnya. Salah bentuk nyata adalah dengan akan diadaknya event memperkuat dan mempererat tali silaturahmi antar sesama klub mobil retro dan klasik se Sumatera Utara pada 17 November mendatang. "Ada 15 klub yang sudah dipastikan ikut. Kegiatan ini merupakan bagian dari event SL. Selain itu pada 24 November kita juga akan ikut drag race Medan Auto Fest ," ujarnya.

Meski usia klub ini masih seumur jagung, namun kehadiran klub ini memberikan manfaat juga bagi orang banyak. Hal itu terlihat dari berbagai kegiatan bakti sosial yang sudah dilakukan dengan mengunjungi sejumlah Panti Asuhan di saat perayaan hari besar keagamaan seperti Ramadhan dan Paskah. "Kita berencana ke depan akan mengadakan penanaman 1.000 bibit pohon di bukit lawang," tambah Andika. (Midian Simatupang)



SL Never Die Chapter Medan

Pembina : Marwan
Penasehat I : Budi
Penasehat II : Hendra
Penasehat III : Adnan Askalani
Humas I : Gunawan Bonny H Hutabarat
Humas II : Febrian Satya
Ketua Umum : M Zuni Handika. D
Ketua Harian : Rully Syahyuda
 Sekretaris I : Iqbal Askari
Sekretaris II : Adar
Bendahara : Zulfikar
Koordinator
Agama Islam : Purwanto
Agama Kristen : Anthony

Sekretariat
Jl. Gatot Subroto Km 7,2, Komp. Perwira Ujung 39 D
Fb SLneverdie Chapter Medan
twiter: @SLneverdieMdn

Sunday, 15 December 2013

"Kami Masih Berideologi Independen"

Opique pictures merupakan sebuah komunitas film indie asal Kota Medan yang lahir pada tanggal 9 Januari 2008. Tidak sedikit film-film karya mereka  mendapat penghargaan di berbagai ajang festival film. Bagaimana perjalanan M Taufik Pradana membangun komunitas ini? Berikut wawancara dengan Taufik Pradana, beberapa waktu lalu?

Sejak kapan Anda mulai terjun di Industri perfilman?
Sejak tahun 2008, saat masih duduk di kelas 2 SMA bersama kawan-kawan iseng-iseng mendokumentasikan sebuah perjalanan dan tanpa senggapa membuat nama produksi Opique Pictures.

Apa yang memotivasi Anda untuk memilih usaha ini?
Saya memang memiliki rasa penasaran yang tinggi, setelah mengetahui bagaimana cara sedernaha memproduksi film sederhana dan Kemudian mengikuti ajang Festival Film Anak dan mendapatkan penghargaan menjadi motivasi dasar jalan hidup saya di dunia sinematografi ini.


Bagaimana awalnya Anda mulai membangun usaha ini?

Dari awal hingga saat ini komunitas kami masih beridiologi independen dan menguatkan wadah penyaluran bakat. Lambat laun dari non komersil guna mambantu usaha kawan, dan ternyata ini bisa di jadikan sumber pemasukan. Dari dana yang didapat diputar menjadi modal produksi film idealis guna mengikuti ajang kompetisi film lainnya. Di tambah lagi dengan sulitnya mencari pendukung dana di kota medan ini, sehingga kegiatan komersil menjadi alternatif untuk biaya produksi film non komersil.

Menurut Anda, apakah usaha ini memang memiliki peluang bisnis yang menjanjikan?
Menurut saya sangat ia dikarenakan semangkin majunya kemajuan teknologi, akan tetapi film tidak akan mati. Sebab sulitnya memasukan karya seni ke televisi namun mendia online dapat menjadi alternatif. Bahkan kita lihat dalam beberapa saat ini semangkin banyak yang terkenal di dunia online dari pada dari televisi. Di tambah lagi dengan adanya audio visual membuat para audience atau penonton lebih mudah mencerna dari pada membaca buku. Walau memang cenderung membuat orang lain menjadi malas. Tapi ini sudah menjadi kebutuhan orang banyak.

Selama ini sudah berapa banyak film yang Anda garap? 
Sejauh ini sudah ratusan judul film yang kami buat, walau lebih banyak produksi film durasi pendek. Diantanya adalah dokumentasi acara, film fiksi pendek, film documenter pendek, iklan produk, iklan layanan masyarakat, videoklip, liputan feature bahkan poto slide.

Film-film apa saja itu?  
Film fiksi “Ego” di produksi oleh Opique Pictures, Dharmateta, Komfaz Prod, WWB Prod dan Intermediaproject (2013), film fiksi “Marjinal” di produksi oleh Opique pictures dan Ghoqielt community (2012), film fiksi “Gak Belok Lagi” di produksi oleh Opique Pictures (2011), videoclip close time story –teringat sejenak dirimu di produksi oleh Opique Picture’s (2011), Videoclip dua lagu coconuthead – cover bang-bang tut slank dan hello brother di produksi oleh Opique Pictures (2011), film documenter “menjejaki air terjun dwi warna” di produksi oleh Opique Pictures dan Krikil Picture’s (2011, film documenter “Kualanamu, Lepas landas apa lepas kandas” di produksi oleh Opique Pictures dan Krikil Picture’s (2011), film documenter “Kelas Berdinding Angin” di produksi oleh Opique Pictures dan Krikil Picture’s (2010), film fiksi “1000 Langkah 1 Tujuan” di produksi oleh Opique Picture’s dan Kofamzah Picture’s (2010), film fiksi “Pionering Sahabat” di produksi oleh Opique Picture’s dan Komfaz production (2010) dan film “Freedom Of Choise” peserta lomba cipta film democrazy yang di selenggarakan America Government di produksi Opique Picture’s (2010).        
Kemudian film docudrama “museum, Sejarah yang Terlupakan”  produksi Opique Picture’s (2010), film profil 2 sekolah dasar negeri medan di produksi oleh Opique Picture’s (2010), Iklan Chitato “pos id” di produksi oleh Opique Picture’s (2010), videoklip sederhana Portal band di Produksi oleh Opique Picture’s (2010), company profil sirup markisa Noerlen di produksi oleh Opique Picture’s (2009), film fiksi “Dari Hati” di produksi oleh Opique Picture’s (2009), film documenter “Hydrosfer” di produksi oleh Opique Picture’s (2009), film fiksi “Gulungan Uang” di produksi oleh Opique Picture’s (2009), film fiksi “Joe Mengejar Cinta” di produksi oleh Opique Picture’s (2009), film documenter “Rumah Kita” di produksi oleh Opique Picture’s (2008) dan film documenter “Global Never Warming” di produksi oleh Opique Picture’s (2008).

"Dari awal hingga saat ini komunitas kami masih beridiologi independen dan menguatkan wadah penyaluran bakat. Lambat laun dari non komersil guna mambantu usaha kawan, dan ternyata ini bisa di jadikan sumber pemasukan. Dari dana yang didapat diputar menjadi modal produksi film idealis guna mengikuti ajang kompetisi film lainnya. Di tambah lagi dengan sulitnya mencari pendukung dana di kota medan ini, sehingga kegiatan komersil menjadi alternatif untuk biaya produksi film non komersil"



Karya film Anda juga banyak mendapat penghargaan?
Sutradara terbaik versi film documenter FFA (Festival Film Anak) pada tahun 2008  dalam film berjudul “Rumah Kita”, Juara III skrip terbaik dalam acara hari anak nasional yang di selenggarakan oleh Pemprovsu 2009 dalam judul “Memulung Cita-Cita”,  Editor terbaik versi film fiksi FFA (Festival Film Anak) pada tahun 2009 dalam film berjudul  “Gulungan Uang”, Aktor terbaik versi film fiksi FFA (Festival Film Anak) pada tahun 2009 dalam fulm berjudul “Impian Anakku”, Juara II film dikumenter FFA (Festival Film Anak) pada tahun 2010 dalam film berjudul “Museum, Sejarah Yang terlupakan”,  Skrip terbaik film fiksi FFA (festival Film Anak) pada tahun 2010 dalam film berjudul “Pionering Sahabat”, Juara III film dikumenter Fertival Jurnalistik 2011 yang diselenggarakakn Departemen Ilmu Komunikasi USU dalam film berjudul “Kelas Berdinding Angin” dan Juara III  iklan Savety Riding Honda 2011 yang di selenggarakan oleh Honda dalam iklan berjudul “Kebiasaan Buruk Berdampak Fatal“.

Bagaimana sambutan masyarakat terhadap film-film Anda?
Sejauh ini untuk praktisi film dan pemerhati film idealis independen terus mendukung dan memotivasi kami tuk terus berkarya. Bahkan dukungan itu hadir melihat dari kerja kerasnya kami dalam produksi film yang memang masih banyak kekurangan. walau terkadang yang sering menjatuhkan kami orang film senior dimedan namun semangat dan pesan moral yang disampaikan dalam film masih menjadi modal dasar kami tetap bertahan di usia komunitas yang hampir 6 tahun ini.

Dari segi bisnis, apakah menguntungkan?
Yang kami alami sejauh ini memang agak sulit secara harga dan birokrasi produksi di medan ini. Termasuk pemerintah yang tidak mendukung dana dan kami juga pernah di usir saat produksi dengan aparatur Negara sedangkan tujuan produksi kami bukan untuk komersil.
Namun, kalau memang bisa dapat pasar maka sangat menguntungkan walau masih terbilang sulit semisal proyek tender pemerintahan yan system lelang, akan tetapi apabila gool bisa mencapai keuntungan >100% dari biaya produksi.

Sebenarnya seberapa besar dana yang dibutuhkan dalam menggarap  sebuah film hingga sampai di pasaran?
Pengalaman saat produksi film fiksi terpanjang yang kami buat berdurasi 1 jam 50 menit berjudul “Marjinal” dari kebutuhan skrip mencapai 102 juta. Namun dikarenakan tidak ada yang menyokong dana sehingga kami memangkas habis pengeluaran kebutuhan dengan sistem pinjam property dengan yang memilikinya sehingga jika di kalkulasi sekitar 5 jutaan dana yang keluar dari kantong anggota dan dana kas kaomunitas namun ini yang menghambat produksi sehingga memakan waktu produksi hingga 1 setengah tahun pengerjaannya.

Sumber dana itu dari Anda sendiri atau turut dibantu pihak sponsor? 
Beberapa bulan setelah skrip selesai kami terjun kelapangan guna menjaring sponsor, bahkan kepemerintahan di bola-bola hingga 3 bulan namun hasilnya nihil. Dari 4 sponsor yang didapat melainkan dari sistem ngomong langsung dan hanya mendapat fasilitas tempat dan alat guna memenuhi kebutuhan produksi film tersebut.

Bagaimana keuntungan yang didapatkan?
Secara materi keuntungan dari film “Marjinal” itu memang tidak memiliki nilai angka nominal, namun selama beberapa bulan kami mengadakan pemutaran film di cafĂ©, kedekopi, seminar mendapatkan nilai positif di kenal orang banyak secara langsung.

Strategi apa yang Anda lakukan biar film yang dihasilkan bisa diterima masyarakat?
Tidak ada strategi khusus melainkan dengan cara kreatif agar di terima masyarakat, seperti memutarkan film marjinal dengan cara layar tancap di daerah produksi film tersebut pada malam tahun baru 2013.


Apakah dalam waktu dekat ini ada rencana membuat film lagi? 

Dalam waktu dekat ini kami akan produksi film indie durasi panjang lagi, berjudul “Medan Buzzer” bekerjasama dengan distro “punya medan” dan komunitas jejaring sosial “medan buzzer”. Masih dengan cara kreatif indie yang masih serba kekurangan dalam hal mekanisme dan pendanaan, namun sejauh ini beberapa UKM sudah di gandeng dan beberapa sudah ada mendukung dana walau masih terkumpul minimal.


Menurut Anda bagaimana agar industri perfilman di Sumatera Utara semakin maju?

Semua elemen harus bersinergi, semisal pemerintahan menyediakan wadah. Jika memang pemerintah tidak dapat menyidiakan wadah, wadah yang di ciptakan dari masyarakat jangan di ganggu oleh pihak pemerintah apa lagi preman setempat. (Midian Coki Simatupang)

Pehobi Suzuki Baleno di Medan

Sekitar delapan unit mobil Suzuki Baleno berjejer di pinggir Jalan Setia Budi, Rabu malam (6/11). Tidak jauh dari lokasi mobil, sekelompok orang mulai dari usia muda dan tua tanpak bercanda akrab layaknya sebuah keluarga. Mereka adalah para pemilik mobil Suzuki Baleno yang tergabung di dalam Baleno Club Medan (BCM).


"Beginilah kalau kami sedang ngumpul, rasanya sudah menjadi keluarga. BCM bukan hanya sekedar klub, tapi kita buat layaknya satu kekeluargaan. Di sini kita bisa saling shareing dari seputar mobil hingga lainnya," kata Muhamad Yusuf Lubis, Ketua BCM.

Klub ini resmi berdiri sejak 31 Maret 2012 lalu dan terdaftar secara resmi sebagai anggota di Ikatan Motor Indonesia (IMI) Sumatera Utara (Sumut), serta menjadi klub binaan Trans Sumatera Agung (TSA), selaku main dealer suzukimobil.com wilayah Sumut.  (Kunjungi Harga Mobil Suzuki:suzukindonesia.com)

Salah satu pendiri BCM adalah Qintar (20), mahasiswa Fakultas Ekonomi, Universitas Sumatera Utara (USU). Saat pertama kali bediri, BCM hanya berangotakan enam orang. Namun, seiring berjalannya waktu para pecinta mobil Suzuki Baleno semakin ramai ikut nimbrung komunitas ini.

"Kini anggota sudah 43 orang. Anggota datang dari berbagai latarbelakang usia, status dan pekerjaan. Ada yang masih kuliah, Pegawai Negeri Sipil (PNS), Pegawai Swasta, Pengusaha. Kebanyakan sudah berkeluarga," terang Yusuf.

Satu keunikan dari klub ini tidak hanya disemarakan para pecinta Suzuki Baleno, namun juga para driver di luar Suzuki Baleno. Sedikitnya ada 10 mobil di luar Suzuki Baleno yang ikut bergabung. Namun, bagi pehobi otomotif di luar kendaraan Suzuki Baleno, mereka dijadikan sebagai simpatisan dengan sebutan Love BCM.

"Mereka tertarik bergabung karena melihat keakraban dan kekeluargaan di BCM sangat tinggi," sebut Yusuf Lubis.

Tingginya rasa kekeluargaan di BCM menurut Yusuf, dikarenakan para pengurus dan anggota yang sudah berkeluarga selalu rajin membawa istri dan anak saat sedang kopi darat, touring dan mengikuti berbagai event lainnya. Sering ikutnya para istri pengurus dan anggota akhirnya memunculkan ide membentuk Sister Hand BCM, sejenis sayap organisasai BCM yang diisi para ibu-ibu dan perempuan.

suzukimobil.com
"Nah di Sister Hand BCM ada arisan tersendiri. Ibu-ibu juga menghendel kebutuhan konsumsi bila kita lagi touring, jadi di sini mereka orangtua kami seperti layaknya orangtua kami di rumah," ungkap PNS di Dinas Sosial Sumut ini.

Sebagai komunitas otomotif, touring sudah pasti menjadi salah satu kegiatan tetap BCM. Daerah-daerah yang sudah mereka jelajahi adalah Pantai Cermin, Bukit Kubuh, Prapat, Laut Tawar, Kuil Emas Sibolangit. Terakhir mereka touring Medan-Sabang, 11-15 Oktober lalu.

"Kedepan dalam rangka dua tahun BCM, kita berencana touring ke Jawa, Bali dan Lombok pada Maret tahun depan. Kemudian touring ke Pekanbaru dan Padang pada malamm tahun baru," tambahnya.  
Tak semata touring, komunitas ini juga memiliki kepedulian cukup besar bagi sesama. Terbukti tidak sedikit Panti Asuhan yang disambangi BCM untuk menyalurkan bantuan (bansos).

Kegiatan bansos yang pernah dilakukan adalah di Panti Asuhan di Sunggal, di Padang Bulan, dan Rumah Yatim di Setia Budi. "Kita juga pernah memanggil anak Yatim ke Sekretariat kita," papar Yusuf.

Klub ini juga aktif mengikuti berbagai event otomotif di Kota Medan dari drag race, kontes, modifikasi, dan sloan. Pada 24 November nanti, BCM akan mengikuti event "Medan Auto Fest" dengan mengikuti kelas kontes, drag race dan sloan. (Midian Simatupang)




Ketua Umum
Mhd Yusuf Lubis

Wakil Ketua
Andrytriansyah

Sekretaris Jendral
K. Walad Sihombing

Bendahara
Lisnidar

Humas
Qintar R & Ade Lubis

Event & Logistik
Boy & Chris

Infokam
Youlanda

Sekretariat
Jl. Sei Serayu No 45 C
Telp. 061-76699200

Fb: Baleno Club Medan
Tw: @balenomedan 

Tuesday, 10 December 2013

Kembangkan Bakat Tarik Suara

Mega Lestari Sianturi 
FOTO: Ali Hermawan | Kaljack Photograph

Dara berparas manis bernama Mega Lestari Sianturi (20) ini tergolong anak yang mapan. Meski masih berstatus mahasiswa di Politeknik Negeri Medan, jurusan Akuntansi Perbankan, semester lima, ia mampu membiayai uang kuliahannya sendiri dari hasil mengembangkan hobbynya di dunia tarik suara.
Wajahnya hampir sering terlihat mengisi event-event di Kota Medan, bahkan hingga ke luar kota. "Terkadang saya menjadi wedding singer. Biasanya, kalau di Medan saya sering mengisi acara di Kepolisian seperti HUT Bayangkari, temu pisah Kapolres, dan lain-lain," kata Tari panggilan akrabnya kepada Jurnal Asia.
Kendati demikian, Tari mengaku tetap fokus di kuliahnya. Agar pekerjaan tarik suara tidak menggangu kuliahnya, Tari selalu memilih tawaran yang tidak bertabrakan dengan jadwal kuliah. "Kalau lagi jadwal ujian, ya gak mungkinkan tawaran saya terima. Kalaupun acara itu sangat penting, biasanya saya minta izin resmi dari kampus," tuturnya.
Bakat di dunia tarik suara yang dimiliki wanita berwajah imut, bertumbuh langsing dengan tinggi badan 160 cm dan berat badan 50 Kg ini memang sudah telihat dari berbagai prestasi yang pernah diraihnya. Bahkan, ia menjuarai kompetisi Vocal Solo Politeknik Negeri Medan, tiga tahun berturut-turut  tahun 2011, 2012 dan 2013.
Tak hanya itu saja, ia juga pernah mendapat juara II Kompetisi Vocal Solo yang diadakan oleh MICE EXPO Medan dan tahun 2013 ia bersama temannya di D'Bijes TRIO mendapat juara ke III pada event MEDAN MENCARI BAKAT atau Medan Got Talent.
Namun, sementara ini ia sedang mengurangi aktivitas nyanyinya karena sedang sibuk menyelesaikan kuliah tingkat akhirnya. "Tapi di tahun 2014, saya akan mewakili Sumut khususnya Politeknik Negeri Medan dalam acara Kompetisi Vocal Solo Tingkat Nasional yang diadakan di kalimantan Barat yang pesertanya para juara dari kotanya masing-masing di seluruh Indonesia," ujarnya. (Midian Simatupang)



Nama:
Suratih Mega Lestari Sianturi
Lahir:
Medan, 27 Juni 1993
Tinggi : 160
Berat : 50
Kuliah:
Akuntansi Perbankan, Politeknik Negeri Medan

Kereta Api Membawa Mereka Bertemu

DIVRE 1 RAILFANS

Komunitas ini menjadi tempat bertemu dan berkumpulnya para pencinta kereta api khususnya di Sumatera Utara. 

Di tengah hiruk pikuk suasana stasiun besar Kereta Api (KA) Divisi Regional 1 Sumatera Utara-Aceh, Jalan Stasiun Kereta, Medan, sekelompok pemuda terlihak duduk akrab bercengkrama. Namun, mereka bukanlah penumpang yang sedang menunggu jadwal keberangkatan. Mereka adalah pehobi kereta api yang tergabung dalam komunitas DIVRE 1 RAILFANS, akrab dengan singkatan DR1RF.
Di stasiun KA bekas peninggalan kolonial Belanda inilah mereka sering melakukan pertemuan dan membahas berbagai isu-isu menarik tentang perkeretaapian. Tak hanya itu saja, mereka juga melakukan berbagai kegiatan, mulai dari menulis artikel di majalah Kereta Api, naik kereta api bareng, hunting fotografi kereta api, blusukan menelusur dan mendokumentasi jalur-jalur KA Sumut yang telah mati atau ditutup dan menyusunan buku sejarah kereta api di Sumut. 
"Hobi terhadap kereta api ini merupakan hobi yang tidak umum dan bahkan banyak orang mengatakan ini hobi yang aneh, sehingga pada awalnya cukup sulit untuk menemukan teman yang memiliki hobi serupa," sebut Gregory Widya, Ketua DR1RF kepada Jurnal Asia, Kamis (10/10).
    
Namun, untuk bisa menemui mereka ternyata agak sulit juga. Pasalnya, karena kesibukan rutinitas dari masing-masing anggota, komunitas ini tidak memiliki jadwal rutin pertemuan. Pertemuan biasanya mereka lakukan secara dadakan yang diinformasikan melalui sms, telepon,dan facebook. Titik awal pertemuan mereka biasanya di Jembatan Titi Gantung yang ada di Stasiun Besar Medan.
"Teman-teman yang pada saat ini bergabung di DR1RF terdiri dari berbagai latar belakang usia mulai dari belasan tahun hingga 30-an tahun. Latar belakang pekerjaannyapun beragam ada dari pegawai BUMN, pegawai kereta api, swasta, wiraswasta, mahasiswa dan siswa sekolah," papar Gregory Widya. 
Komunitas ini resmin terbentuk pada 1 Agustus tahun 2009 lalu di Stasiun Pulu Brayan, berawal dari tiga orang pendirinya, yakni Gregory Widya pegawai sebuah BUMN di Kota Medan, Riky Soeripno mahasiswa Fakultas Hukum UMSU, dan Rio Andika mahasiswa DII Perpajakan di USU berkenalan melalui forum pencinta kereta api di internet bernama semboyan35.com. Selanjutnya, ketiganya bersekapat bertemu dan akhirnya memutuskan membentuk komunitas ini . 
Nama DIVRE 1 RAILFANS sendiri adalah kumpulan dari para pencintakereta api (railfans) di DIVRE 1. Divre 1 sendiri merupakan kepanjangan dari Divisi Regional 1 yang menunjukkan nama dan wilayah kerja dari perusahaan kereta api di Sumatera Utara (PT KA DIVRE 1 Sumatera Utara) yang meliputi wilayah kerja Sumatera Utara (Sumut) dan Aceh.
"Sejak dibentuk hingga saat ini berbagai kegiatan sudah kami lakukan, antara lain sharing seputar kereta api sumatera utara, pembentukan pengurus komunitas, pembuatan Fanpage di Facebook, kegiatan naik kereta api bersama-sama, fotografi dan dokumentasi kereta api, dan yang masih berjalan adalah penyusunan buku tentang sejarah kereta api Sumatera Utara," terangnya. "Kami juga memberikan kritik dan saran kepada orang-orang yang bekerja di pekeretaapian di Sumut," tambahnya. 
Seiring waktu berjalan, keberadaan komunitas ini semakin dilirik para pencinta kereta api lainnya yang sejak lama kesulitan untuk menemukan teman yang memiliki hobi serupa. Hingga saat ini, yang telah resmi bergabung sudah sebanyak 20 orang. Namun, yang bergabung di komunitas ini masih didominasi para kaum laki-laki. 
Menurut Gregory Widya, banyaknya orang tertarik bergabung di komunitas ini dimotivasi karena untuk menambah teman se-hobi dan menambah wawasan seputar perkeretaapian, khususnya di Sumut. 
"Tujuannya adalah untuk menjadi wadah komunikasi dan sebagai sarana untuk menyatukan orang-orang yang memiliki minat yang sama yakni menyukai kereta api, khususnya kereta api di Sumut menjadi komunitas yang dapat dijadikan sebagai sumber informasi tentang sejarah dan perkembangan perkeretaapian Sumut," ungkapnya. 
Ia melihat, belakangan ini kecintaan masyarakat terhadap kereta api sudah mulai tumbuh dan berkembang di Indonesia terutama di Pulau Jawa. Namun, di Pulau Sumatera khususnya di Divre 1 Sumut kecintaan masyarakat terhadap kereta api masih dalam taraf yang biasa-biasa saja. 
"Bahkan, boleh dibilang selama selama tahun kami bersama belum ada perubahan signifikan dari masyarakat terhadap perkeretaapian di Sumatera Utara. Padahal, potensi perkeretaapian di Sumatera Utara sangat unik dan berbeda dengan di pulau Jawa. Kami berharap dengan beroperasinya KA Bandara (ARS ? Airport Railink System) Medan ? Kualanamu akan membuat masyarakat semakin mencintai kereta api," ujarnya.  
Gregory Widya mengatakan, untuk menjaga kekompakan, selain diadakan kumpul bareng, mereka juga sering mengadakan naik kereta api (joyride) secara bersama-sama. "Karena dengan joyride akan mendekatkan hubungan dengan sesama anggota komunitas juga dengan kereta api itu sendiri. Dan yang menjadi kelebihan serta menjadi hal yang penting di komunitas ini bahwa komunitas ini sangat bersifat kekeluargaan," tuturnya.
Komunitas inipun bersifat bebas dan terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung. syaratnya hanya satu, yakni memiliki minat khusus dan kesukaan terhadap kereta api, khususnya di Sumut. 
"Yang ingin bergabung bisa menghubungi sekretaris dan mengisi formulir pendaftaran anggota komunitas," pungkasnya. (Midian Simatupang ) 


Pengurus 

Ketua              : Gregory Widya
Sekretaris         : Riky Soeripno 
Seksi Dokumentasi  : Andang Tri & Kie Pratama
Telp/HP   : 0857 6644 6463
Fanpage Facebook   : Divre 1 Railfans