Sunday, 14 December 2014

Menonton Film Karya Ponti Gea


Ponti Gea sudah menggeluti usaha perfilman sejak tahun 2006 lalu. Dia mengangkat keunikan budaya lokal Sumatera Utara,  dalam setiap karya filmnya di bawah bendera CZ Entertainment.  
REPRO:FB PONTI GEA


Berlahan tapi pasti. Demikian dikatakan Ponti Gea, lika-liku bisnis industri perfilman yang saat ini sedang digelutinya sampai saat ini.

Sosoknya memang belum sepopuler produser atau sutradara film papan atas di Tanah Air. Namun, Ponti setidaknya sudah membuktikan, bahwa putra daerah mampu berkarya di industri perfilman di Sumatera Utara.    


Bukti itu sudah ditunjukannya dengan film karyannya: 21 episode dengan lima judul film budaya Nias dan enam episode dengan tiga judul film budaya Batak yang sudah beredar. Itu belum temasuk lagu Nias sebanyak 13 album dan lagu Batak 1 album yang digarapnya.

Tak puas karya filmnya dituang dalam wadah CD/DVD, Ponti punya ambisi membuat film budaya hingga ke layar lebar bila mendapat bantuan dari pihak sponsor.

Dalam penggarapan setiap filmnya, Ponti merangkap sebagai sutradara dan produser. Sebagai produser, tentu saja Ponti harus menanggung seluruh biaya mulai dari perencanaan, persiapan produksi dan pasca produksi hingga realse. 

Dari pengalaman Direktur CZ Entertainment ini, untuk pembuatan satu buah judul film membutuhkan waktu sampai tiga bulan dengan biaya produksi Rp200-300 juta.

Selain biaya produksi, dia juga harus membayar honor tenaga sumber daya manusianya yang tergolong lumayan banyak. Salah satu yang selalu diingatnya, pada saat pembuatan film semi klausal “Junuran Tinggi” di Nias, hingga membutuhkan crew sebanyak 800 orang.

"Honor SDM kita bayar sendiri. Tunggu beredar baru kita bayar," ungkap pria ramah ini saat ditemui di kantornya, Kamis akhir Agustus lalu.


Meski honor baru bisa dibayar di belakang, Ponti tidak pernah mendapat protes dari para crew. Pasalnya, bisa dilibatkan dalam penggarapan film, membuat kebanggaan dan pengalaman tersendiri bagi para crew.

"Intinya, bagaimana kita mengukir talenta dalam diri sesorang (crew) yang punya hobi di perfilman walapun dengan laba sangat minim," terangnya.

Usaha Ponti pun tidak sia-sia. Pelan tapi pasti, karya filmnya diterima masyarakat. Meski masih beredar di Sumut, tidak sedikit film karyanya laris manis terjual.

Film Nias berjudul ONO SITEFUYU (Anak Sesat) yang dirilis sebanyak 11 episode misalnya, laku terjual lebih 200.000 keping CD/DVD. Film lain yang penjualannya melejit adalah film Batak berjudul Anak Sasada. 

Menurut Direktur CZ Entertainment ini, pasar industri perfilman di Sumatera Utara, sangat menjanjikan, terutama film yang berbau dengan kehidupan sosial dan budaya karena langsung menyentuh masyarakat. 
"Main sendiri tidak gampang, berlahan tapi pasti," ungkapnya.

Kendati demikian, kata Ponti, industri perfilman di Sumatera Utara  akan maju lagi bila ada uluran tangan dari pihak sponsor. "Bila mengharapkan home industri itu akan sulit, agak susah melangkah ke nasional. Jadi kita juga sangat mengharapkan uluran tangan dari para sponsor," tukasnya. Coki Simatupag|MID MAGZ

Menikmati Barang Antik Koleksi Jimmy Siahaan


ILUSTRASI

Tidak ada pemandangan menarik melihat bagian luar rumah bekas peninggalan Belanda di Jalan Letjen Suprapto Nomor 11, Medan itu, Kamis pertengahan Agustus lalu.  Namun, begitu masuk ke bagian dalam, pandangan mata terkesima melihat berbagai jenis benda-benda antik.

Berbagai perabotan rumah tangga terbuat dari kayu,  alat komunikasi , elektornik  dan barang lainnya yang sudah berusia sampai ratusan tahun, masih bisa dilihat. Itu belum semuanya. “Di rumah saya di Jakarta, masih banyak lagi,” kata Ir Jimmy Siahaan MCP, sang pemilik barang antik tersebut.

Seluruh barang-barang antik milik Jimmy,  hampir memadati seluruh bagian rumahnya.  Sangkin banyaknya, Jimmy pun tidak ingat lagi jumlahnya. “Tapi kalau ada yang hilang, saya pasti tahu,” ungkap Jimmy Siahaan.

Hobi mengkoleksi barang-barang antik di hati pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) memang  sangat besar. Bila sudah suka, kata Jimmy, meski tidak ada uang, hutangpun jadi.

Maka tak heran, sosok pria ini di kalangan kolektor dan penggemar barang-barang antik di Tanah Air khususnya di Kota Medan, sudah tak asing lagi. Bahkan, sejumlah orang penting di Kota Medan, kecantol dengan koleksinya, hingga rela mengeluarkan uang ratusan juta rupiah.

Meski banyak berminat membeli koleksinya, Jimmy tidak menjadikan rumahnya layaknya sebuah toko penjual barang antik. “Saya tidak membuka. Kalau kebanyakan bisa mengganggu privasi, akhirnya mengganggu,” tukasnya.

Hobi mengkoleksi barang-barang antik, sejatinya mulai digeluti Jimmy, ketika masih mahasiswa jurusan Arsitek di Institut Teknologi Bandung (ITB) sejak tahun 1972 lalu. 

Sebagai anak perantauan yang ekstra hati-hati dalam pengeluaran, dia memilih membeli kebutuhan  perabotan di kamar kostnya  dari pasar loak di Bandung. 

“Ini lah yang pertama kali saya beli,” ungkap Jimmy sembari menunjukan sebuah kursi putar unik berbahan kayu .   

ILUSTRASI

Jimmy mengaku lebih menyukai barang-barang antik berbahan kayu, terutama mebel seperti lemari, kursi, meja dan sebagainya. Tak heran, kebanyakan barang koleksinya adalah mebel.  

“Saya senang melihat barang-barang dari kayu, apalagi kalau diletakkan,”  terangnya tersenyum.

Jimmy masih ingat, ketika hobinya kepada barang antik menggebu, sempat membuat pemilik kostnya  gerah. “Jangan beli barang-barang, nanti penuh rumah saya,” ujar Jimmy mengingat teguran pemilik kost kepadanya ketika itu.  

Namun demikian, semangat Jimmy untuk mengkoleksi barang-barang tua, terus berlanjut sampai saat ini. Paling banyak barang-barang antik itu diperolehnya di Pulau Jawa. Ketika masih aktif sebagai PNS dan sering bertugas ke luar kota. “Paling banyak dari Surabaya, Malang dan Semarang,” ungkapnya.

Hingga pada tahun 1990-an, Jimmy terpikir mendirikan sebuah resort dengan suasana antik di Tapanuli. Namun karena harga tanahnya mahal, dia memilih akhirnya membeli rumah yang ditempatinya sekarang dan memindahkan sebahagian barang-barang koleksi ke Medan. Namun, rumah ini baru ditempatinya pada tahun 1995 setelah berhenti bekerja.

Di rumah inilah, Jimmy sekarang memanfaatkan masa tuanya lebih fokus dengan koleksinya. Setiap barang koleksi yang dilihatnya,  membawanya alam pikirannya menyaksikan masa lampau. 
(Coki Simatupang|MID MAGZ)

Melihat Peninggalan Rumat Adat Karo


Rumah adat merupakan bagian sejarah dan identitas keberadaban, budaya dan kehidupan masyarakat suku Karo. Arsitektur dan ornamen pada dinding rumah bisa melukiskannya. 





Suhu dingin masih berhembus lembut di permukaan kulit begitu  tiba di Desa Budaya Lingga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten  Karo, Sumatera Utara, Rabu menjelang sore awal Oktober lalu. 


Secara geografis Desa Budaya Lingga terletak di ketinggian sekitar  1.200 meter dari permukaan laut, lebih kurang 15 km dari Brastagi  dan 5 km dari Kota Kabanjahe, ibu kota Kabupaten Karo.

Meski hanya sebuah desa yang penduduknya mayoritas adalah petani, Desa Budaya Lingga, menjadi salah satu destinasi pariwisata di Kabupaten Karo yang sering dikunjungi turis lokal hingga  mancanegara. 

Selain alamnya yang asri, dihiasi hamparan perkebunan buah dan  sayur mayur nan hijau dengan pemandangan Gunung Sinabung, daya tarik yang tersimpan di desa ini masih bisa ditemui rumah adat Karo yang sudah berusia ratusan tahun.

Dahulu rumah adat Karo di sini masih banyak berdiri. Namun karena menjadi warisan, oleh ahli waris dibagi dan akhirnya berubah bentuk menjadi rumah biasa. Sebahagian lagi, kondisinnya sudah rusak dimakan usia. 

Namun jejak rumah adat, sebagai simbol keberadaban suku Karo,  masih bisa terlihat dari tiga bagunan adat Karo kuno yang hingga saat ini masih kokoh berdiri. Ketiga bangunan itu, yakni Rumah  Adat (Rumah Gerga) 12 Jabu, Rumah Belang Ayo dan Sapo Ganjang yang lokasinya saling berdekatan. Khwatir bangunan tua ini berubah bentuk atau hancur dimakan usia, Pemerintah Kabupaten Karo akhirnya menetapkannya sebagai cagar budaya, sejak 10 tahun lalu.

Rumah Gerga didirikan sekitar tahun 1860 lalu oleh Raja Urung Sibayak Lingga. Sebahagian besar masyarakat menyebutnya, 12 jabu  yang artinya dihuni oleh 12 keluarga di dalamnya. 

Tidak jauh dari Rumah Adat Raja Urung Sibayak Lingga, terdapat Rumah Belang Ayo didirikan Sinulingga Rumah Jahe dan anak beruna sekitar tahun 1862 yang didalamnya dihuni untuk 8 keluarga.

Selain itu terdapat bagunan tua bernama Sapo Ganjang, didirikan tahun 1870 yang digunakan sebagai tempat musyawarah dan tempat penyimpanan padi, namun kini oleh komunitas Sinulingga di facebook difungsikan menjadi Taman Bacaan Anak-anak.


Arsitektur dan Ornamen Unik
Di antara ketiga bangunan ini, rumah Raja Urung Sibayak Lingga paling banyak disinggahi para turis. Selain  karena usianya paling tua, tanpilan rumah ini lebih memukau dibanding yang lain. Hal itu bisa dilihat dengan berbagai ukiran ornamen menghiasi dinding rumah ini.

Setiap ornamen mengandung makna tersendiri sebagai simbol kearifan masyarakat suku Karo serta memberikan kesan keagungan dan  keindahan.

Tidak jauh berbeda dengan Rumah Belang Ayo, di bagian bawah rumah terdapat kolong yang dahulu digunakan sebagai kandang ternak dan menyimpan kayu bakar.

Keunikan lain dari rumah ini, dapat terlihat dari penyanggah rumah, dinding terbuat dari bahan kayu yang bersambungan tanpa menggunakan paku dengan hanya diikat dengan menggunakan tali ijuk.  Konon pada zaman dulu, arsitek suku Karo sudah memiliki kemampu dalam merancang daya tahan rumah, misalnya, pada palas antara batu pondasi dan tiang kayu penyangga rumah, dilapisi batang ijuk yang gunanya bila digoyang gempa, maka rumah akan mengikuti arah goyangan.

Pada bagian teras rumah, tangga dan penyangga atap, dibuat dari bambu. Sedangkan atap rumah sendiri, semuanya menggunakan ijuk. Di bagian paling atas atap rumah adat, kedua ujung atap masing-masing dilengkapi dengan dua tanduk kerbau. Dahulu, masyarakat adat Karo mempercayai tanduk kerbau sebagai penolak bala.

Sementara di dalam rumah terdapat 12 kamar yang artinya, 1 keluarga 1 kamar. Hampir di depan setiap pintu tersedia dapur.  Salah satu kamar di sini sempat dihuni Raja Urung Sibayak Lingga yang konon hidup berpoligami. 

Awalnya rumah Gerga ini dihuni oleh 12 keluarga, namun kini hanya dihuni salah satu keturunan Raja Urung Sibayak Lingga, Damson Tarigan dan istrinya, Januwarti boru Sitepu (42), bersama empat orang anaknya.  Sayangnya, saat mengunjungi rumah ini, hanya Januwarti yang terlihat.

"Pantang kalau rumah kita kosong karena kita takut rusak dibuat  rayap. Pengawatnya asap, makanya saya memasak tidak pakai elpiji," kata Jawarita yang sedang sibuk memasak untuk  persediaan santap malam.  

Tak jauh dari tempatnya duduk, terdapat semacam kotak kayu yang  tersusun dari kayu yang disebut Para tersusun tiga. Para ganjang  digunakan sebagai tempat penyimpanan kayu api, para tengah digunakan untuk menyimpan perkakas dapur dan para lubang digunakan untuk menyimpan masakan seperti ikan, sayur dan sebagainya.

Keunikan arsitektur, keindahan ukiran ornamen dan kekuatan rumah inilah, membuat para turis asing terpukau. Setiap turis asing yang datang pun meninggalkan berbagai cerita tersendiri akan rasa kagumnya.

Januwarti mengingat, terakhir pada Oktober 2013 lalu, seorang turis dari Belanda sempat tinggal selama tiga bulan dan ikut merenovasi rumah ini. Selain itu, seorang warganegara Amerika Serikat pernah menginap selama lima hari hanya khusus untuk mencari kayu, seperti kayu yang digunakan di rumah ini. 

Tak cukup hanya itu, seorang turis asing juga pernah menyampaikan niatnya untuk membeli rumah ini senilai Rp1 miliar untuk dijadikan villa pribadi. "Tapi kami menolak. Ini tradisi kami. Saya harus mempertahankannya," ujar Januwarti.

Selain sering dikunjungi turis asing, Januwarti menyebutkan, anak sekolah, kalangan mahasiswa dari Kota Medan tempat juga sering sering menginap di sini.
 
Januwarti berharap Pemerintah Kabupaten Karo serius untuk  melestarikan rumah adat yang masih tersisa di desanya, karena merupakan peninggalan sejarah. (Midian Coki|MID MAGZ)

Link: garuda-indonesia.comwww.pegipegi.com, www.traveloka.com 

Friday, 28 February 2014

Byson Independent Medan (BIM)

Satukan Hobi dan Kreativitas 



Memiliki hobi dan kreativitas tentunya sangat mengasyikan Cila disalurkan di komunitas dibanding hanya sendirian. Selain hobi dan kreativitas  komunitas bisa meningkat rasa kebersamaan dan kepeduakuan. Hal inilah yang ditunjukan sekelompok bikers Yamaha Byson di Kota Medan, yang membentuk komunitas bernama Byson Independent Medan (BIM).  

Komunitas ini resmi berdiri secara independent sejak 12 Desember 2012 lalu. ketika pertama kali berdirinya BIM dideklarasikan di Sibolangit, jumlah anggota yang tergabung di komunitas ini hanya 15 orang. Namun belum genap setahun, jumlahnya bertambah menjadi 62 anggota. Untuk melebarkan sayapnya di dunia otomotif, BIM pun kini bergabung di dalam Paguyupan atau forum komunikasi "Byson Independent Satu Indonesia" (Link:www.yamaha-motor.co.id).

"Bayak yang tertarik ke BIM karena kegiatan di BIM positif. Kita sering mengadakan bakti sosial dan hobi touring tersalurkan di sini. Itu membuat banyak orang-orang bertanya dan ingin bergabung," kata Erick Firman Sibarani, Ketua Byson Independent Medan (BIM), Rabu malam (4/12) di Sekretariat BIM, Lontong Poka Medan, Jalan Juanda Baru Gang Melayu.  

Saat menyambangi Sekretariat BIM, sejumlah bikers Byson sedang ngumpul. Sekretariat ini dibuat sebagai "base camp" atau pojok bikers BIM agar anggota dapat mengetahui titik kumpul setiap malam. Sementara pelataran parkir Kampus Harapan mereka gunakan sebagai tempat kopi darat (kodar) setiap Jumat malam.  

Pantauan malam itu, mereka sedang mempersiapkan perayaan ulang tahun (Anniversary) Pertama BIM yang akan diadakan di gedung Alpha Omega, Jalan Diponegoro pada 15 Desember mendatang. "Seluruh komunitas kita undang," sebut Erick.
Melihat keakraban, canda dan tertawa para bikers di komunitas ini, menghilangkan perbedaan latarbelakang usia, pendidikan, pekerjaan, etnis dan agama di antara mereka.     

"Di sini tidak ada perbedaan antara senior dan junior, baik pendiri dan yang baru bergabung, tidak membedakan usia, tapi tetap saling menghargai. Intinya, saling bersahaja dan menghargai. Itu hal yang utama sehingga kita tetap solid," tukasnya.    

Erick bercerita, ide awal mendirikan BIM terodorong dari keingan untuk mengikat tali persaudaraan antar sesama penggemar Byson di Kota Medan, menggalakan keselamatan berkendaraan (safety riding) dan menunjukan kepada masyarakat berprilaku positif dalam berkendaraan, dan belajar berorganisasi positif melalui sepeda motor byson. 

Untuk menunjukan berprilaku positif dalam berkendaraan, komunitas ini menerapkan aturan ke seluruh pengurus dan anggota wajib mengutamakan "safety riding" seperti helm, spion dua dan sepatu serta mematuhi rambu-rambu lalulintas. "BIM sendiri mempunyai barisan-barisan seperti komunitas lain di Medan, agar tidak mengganggu pengguna jalan," terangnya. 

Touring, Bansos dan Modifikasi 
Meski usia BIM belum genap setahun, namun kegiatan-kegiatan dilakukan komunitas ini tidak kalah seru dengan komunitas otomotif lainnya. Untuk kegiatan touring misalnya, setiap bulan para bikers di BIM melakukan touring penyuluhan safety riding, touring wisata dan touring persaudaraan dengan mengunjungi club byson di kota lain. 

Karena sering menggelar touring, nyaris seluruh wilayah di Pulau Sumatera  sudah dijelajahi. "Touring terjauh kita ke Jakarta pada 14 Juli 2013 lalu, dalam rangka touring persaudaraan. Ada empat anggota yang berangkat," tutur Erick. 

Sementara dua bulan sekali mereka menggelar kegiatan bakti sosial (bansos) ke Panti Asuhan. Kegiatan bansos terakhir mereka lakukan ke salah satu Pesantren di Jalan Tritura pada 28 Juli 2013 lalu. 

Tidak hanya rajin menggelar touring dan bansos, BIM juga aktif mengikuti event-event seperti modifikasi dan sosialisasi Satlantas. Untuk event-event modifikasi mereka mendapat dukungan dari Bengkel Modifikasi Graha Motor, Jalan Gatot Subroto, Medan. 

Nah, karena banyak menggelar kegiatan positif, wajar bila banyak para bikers byson di Kota Medan tertarik bergabung di BIM. Syarat yang dikenakanpun tidak membuat pusing kepala karena hanya mensyaratkan otomania menggunakan Yamaha Byson, kelengkapan berkendaraan seperti menggunakan spion dua, helm, sepatu dan safety riding.

"Bagi yang ingin bergabung lansung aja datang jumat malam saat kita kodpar," pngkas Erick. Tertarik untuk bergabung?  (Midian Simatupang)   



Byson Independent Medan

Penasehat I : Edi Rismanto
Penasehat II: Aziz Wong
Ketua    : Erick Firman Sibarani
Wakil Ketua : Yogig Parresia Wahyu
Sekjend    : Febri Muhamad Rozi
Bendahara   : Rano Khairi
Humas        : Arie Wicaksono
                     Sofyan
                     Fikri

Fb: Byson Independent Club Medan
Website: www.bysonindependentmedan.blogspot.com

Wednesday, 19 February 2014

Verayani Jioe dan Kopi Macehat








Verayani Jioe sangat menyenangi statusnya sebagai pebisnis kopi. Di usaha ini dia terus mengeksplore kemampuan untuk menciptakan kopi terbaik. Baginya, kopi bukan hanya bisnis, namun bisa dinimati. 

Suasana Macehat Kafe terletak di Jalan Karo Nomor 20, Medan, Rabu (5/2), begitu tenang. Alunan musik instrumen yang mengalun lembut menambah rasa nyaman, meski siang itu, meja dan kursi yang tersedia hampir padat terisi pengunjung.
Tak lama, sosok seorang perempuan berpenampilan sederhana, dengan penuh senyum datang menghapiri. Perempuan kelahiran 2 November 1982 itu adalah Verayani Jioe. Sosoknya, sangat dikenal karena kesuksesannya mendirikan Macehat Coffee, salah satu gerai dan produsen kopi yang citarasanya sudah diakui di Kota Medan. 
Kebanyakan pengunjung yang datang ke kafenya kalangan pekerja dan eksekutif. Meski demikian, menu kopi yang ada di sini juga cocok untuk semua kalangan. Tak hanya itu, ia juga juga menjual kopi kemasan seperti:  Sumatran Luwak (Civel), Sumatran Gourmnet, Sumatran Peaberry, Sumatran Top 20 dan Drip Coffee. 
Selain memenuhi kebutuhan lokal, Verayani juga mengekspor sebahagian biji kopi ke sejumlah negara luar, namun dengan jumlah yang terbatas. "Kita lebih utamakan untuk lokal dulu," paparnya.      
Kopi bagi pribadi pemilik kulit putih ini menyimpan banyak manfaat, bukan hanya bisnis, namun bisa dinikmati. "Kalau bagi saya harus dimulai dari kopi setiap bagi," terangnya sembari terseyum simpul.  
Kehidupan Verayani sekarang ini seakan sulit dipisahkan dari kopi. Sejak menekuni usaha kopi, Verayani terjun langsung mulai sebagai roaster (penyangrai) hingga menjadi produk. Hal itu dilakukannya untuk menghasilkan kopi terbaik. 
Untuk mengetahui perkembangan kopi, tak jarang Verayani mengunjungi pameran kopi di luar negeri. Sepanjang 2013 lalu, ia sudah empat kali ke luar negri diantaranya, Singapura dan Taiwan. "Tahun ini ingin lebih jauh lagi," tambahnya.   
Kopi racikannya diperoleh dari petani kopi di Sumatera Utara, seperti dari Brastagi sampai Sidikalang. "Pokoknya yang bisa kita jangkau selama dua jam. Di petik hari itu dan dibawa pulang hari itu juga ke Medan untuk menjaga kesegarannya," ungkap Verayani.   
Verayani Jioe juga saat ini sedang menangkar sejumlah luak, untuk menghasilkan biji kopi luak yang lagi naik daun di dunia.  "Saya hobi di kuliner, pertamanya ingin belajar Chef, tapi kata orangtua buat apa belajar masak-masak kalau jauh-jauh kuliah (
Australia)," kata Verayani Jioe menceritakan awal ketertarikannya untuk terjun di bisnis kuliner.
Meski demikian, wanita singel yang akrab disapa Vera ini tak kehilangan semangat dalam mengembangkan hobi. Ia kemudian memilih melanjutkan pendidikan ke jurusan Food Technology (Industri Pangan) di Melboure, Australia. 
Banyak belajar fungsi-fungsi dari setiap bahan baku pangan di negeri Kangguru itu, membuat Vera tertarik merintis bisnis kuliner begitu kembali ke Medan. Namun, usaha kuliner mulai dirintis setelah berhenti membantu usaha import mesin-mesin produksi milik ayahnya. 
Usaha kuliner pertama kali digelutinya adalah home industri, membuat susu kedelai, yogurt, termasuk pizza yang dibuat tanpa bahan pengawet dan pewarna. Makanan dan minuman ini disuplay Vera ke anak-anak sekolah.         
"Usaha ini saya mulai dari nol, dimulai dari rumah. Ketika itu dengan sistim delivery," kenangnya. Sayangnya, usaha home industri yang digagas Vera tak berlangsung lama karena tak banyak peminat disebabkan masih banyak masyarakat tidak paham mengenai makanan tanpa pengawet.  
Meski gagal membangun home industri makanan, Vera tak patah semangat. Melihat ayahnya menjual mesin yang biasa digunakan untuk menggonseng kopi, nalurinya membuka usaha kopi muncul. Ide membuka usaha menjual biji kopi dan kopi mendapat dukungan dari ayahnya. Tahap awal, Vera memulai dengan menjual biji kopi dan kopi kemasan di rumahnya. 
Tanpa diduga, kopi hasil racikannya mendapat sambutan banyak orang, bahkan tak sedikit warga negara asing (WNA) yang sedang berkunjung ke Medan singgah ke rumahnya untuk belanja oleh-oleh. 
Melihat banyaknya tamu dari luar negeri yang ingin melihat proses dan mencicipi kopinya, Vera akhirnya membuka toko kopi untuk menjual biji dan kopi dengan brand Macehat. Brand ini diambilnya dari brand yang pernah dipakai pada usaha home industri sebelumnya. "Macehat diambil ari makan cepat dan sehat," tukas dia. 
Tak hanya itu, karena citarasa kopi racikannya sudah menarik hati masyarakat Medan, Vera kemudian mendirikan kafe dengan brand yang sama.  "Macehat fokusnya di biji kopi, semuanya lebih mendukung dengan kafe," pungkasnya.     (midian simatupang)

Kunjungi juga: 

Semangat Berkebun dan Penghijauan


Di tengah keterbatasan lahan untuk berkebun di perkotaan, seharusnya tidak menjadi alasan tidak semangat bercocok tanam. Komunitas Medan Berkebun sudah membuktikannya

Semangat bercocok tanam dilakukan para anak muda ini patut dijadikan sebagai contoh bagi masyarakat perkotaan. Di tengah pembangunan perumahan dan gedung-gedung pencakar langit terus meningkat yang berimbas pada terbatasnya lahan kosong dan ruang hijauan di Kota Medan, mereka tetap peduli dengan penghijauan.  
Melalui hobi bercocok tanam, mereka menyulap lahan-lahan kosong dan terlantar menjadi asri dan hijau dengan menanam berbagai jenis tanaman sumber makanan mulai sayuran dan sebagainya.      
"Tujuan kita adalah mewujudkan Indonesia mandiri pangan dimulai dari halaman rumah sendiri yang sesuai dengan visi kita yaitu 3E: ekologi, edukasi dan ekonomi," sebut Koordinator Medan Berkebun M Fikri Ridho. 
Visi untuk ekologi terang M Fikri Ridho, adalah dengan berkebun mereka dapat menghijaukan kembali ruang-ruang kosong dan terlantar. Visi edukasi, dapat berbagi ilmu dengan masyarakat dalam pengelolaan tanaman yang baik dan cara bercocok tanam. Sementara visi ekonomi, dengan  berkebun dapat menyokong ekonomi keluaga dengan mengurangi pengeluaran belanja sayur-mayur. 
"Sejauh ini kami sudah menyebarkan semangat utk berkebun dimana pun, dimulai dari halaman rumah dengan pot dan lahan-lahan kosong serta berkebun di sekolahan," tukas Fikri Ridho.
Kehadiran komunitas ini di Kota Medan dimulai dari terbentuknya Jakarta Berkebun di akhir tahun 2010 lalu yang menjadi cikal bakal Indonesia Berkebun. 
Medan Berkebun terbentuk termotivasi dari keprihatinan masyarakat urban melihat semakin rusaknya lingkungan karena pembuangan sampah, menurunnya kualitas kota baik secara estetika, kurangnya ruang hijau dan ruang publik terutama untuk anak-anak bermain, serta ancaman krisis sumber makanan di masa depan
Hajar Suwantoro, pendiri Medan Berkebun yang juga dosen di jurusan Arsitektur, Universitas Sumatera Utara (USU), kemudian menyebarkan semangat   berkebun kepada mahasiswanya. Semangat berkebun juga dikampanyekan ke penggiat socmed dan melalui sosial media.
Usaha Hajar Suwantoro pun tak sia-sia, jumlah orang yang bergabung aktif dari awal terbentuk hingga sekarang sudah sekitar 25-30 orang. Itu belum termasuk partisipan yang disebut sebagai Sahabat Kebun.       
Mereka yang aktif bergabung berasal dari latar belakang apa saja. Namun, keanggotaan di Medan Berkebun bebas dan tidak terikat karena komunitas ini berbasis hobi.
"Selama memiliki hobi dalam bercocok tanam ataupun mau belajar tentang bercocok tanam, komunitas ini terbuka untuk semua kalangan, tua dan muda boleh bergabung," terang Fikri Ridho.
Menurut Fikri Ridho, alasan yang membuat orang tertarik berkebun dengan mereka karena semangat berkebun dan berbagi serta belajar bersama sahabat-sahabat yang baru mau memulai untuk berkebun.  
Fikri Ridho masih ingat betul, pertama kali semangat berkebun mereka buktikan dengan meminjam lahan di Komplek Taman Setiabudi Indah 2, di akhir 2011. Lahan kosong itu ditanami dengan beragam sayur-mayur dan jagung hingga masa pinjaman habis. 
Kemudian mereka mendapat tawaran lahan dari OSIS SMA Dharma Pancasila untuk melaksanakan program "School Farming". Setelah itu bekerjasama dengan Kompas Muda Medan untuk mewujudkan project "Kebun Raya Mini" di Sekolah Alam Medan Raya di Tuntungan. 
"Setelah itu kami mendapat tawaran membuat kebun kecil di sebelah sekretariat PEMA USU, dan kami bertahan empat bulan sebelum pindah ke lahan yang lain. Di samping Sekretaariat PEMA USU kami pernah membuat acara "Panen Asik" dengan mengajak peserta belajar berkebun dan langsung panen saat itu juga. Agar lebih seru kami langsung memasaknya dengan menyiapkan alat dan bahan sebelumnya. Setelah itu beberapa kali kami berkebun di lahan petani sekedar melepaskan hobi karena belum ada pinjaman lahan lagi," tambah Fikri Ridho. (Midian Simatupang)