Sunday, 14 December 2014

Menonton Film Karya Ponti Gea


Ponti Gea sudah menggeluti usaha perfilman sejak tahun 2006 lalu. Dia mengangkat keunikan budaya lokal Sumatera Utara,  dalam setiap karya filmnya di bawah bendera CZ Entertainment.  
REPRO:FB PONTI GEA


Berlahan tapi pasti. Demikian dikatakan Ponti Gea, lika-liku bisnis industri perfilman yang saat ini sedang digelutinya sampai saat ini.

Sosoknya memang belum sepopuler produser atau sutradara film papan atas di Tanah Air. Namun, Ponti setidaknya sudah membuktikan, bahwa putra daerah mampu berkarya di industri perfilman di Sumatera Utara.    


Bukti itu sudah ditunjukannya dengan film karyannya: 21 episode dengan lima judul film budaya Nias dan enam episode dengan tiga judul film budaya Batak yang sudah beredar. Itu belum temasuk lagu Nias sebanyak 13 album dan lagu Batak 1 album yang digarapnya.

Tak puas karya filmnya dituang dalam wadah CD/DVD, Ponti punya ambisi membuat film budaya hingga ke layar lebar bila mendapat bantuan dari pihak sponsor.

Dalam penggarapan setiap filmnya, Ponti merangkap sebagai sutradara dan produser. Sebagai produser, tentu saja Ponti harus menanggung seluruh biaya mulai dari perencanaan, persiapan produksi dan pasca produksi hingga realse. 

Dari pengalaman Direktur CZ Entertainment ini, untuk pembuatan satu buah judul film membutuhkan waktu sampai tiga bulan dengan biaya produksi Rp200-300 juta.

Selain biaya produksi, dia juga harus membayar honor tenaga sumber daya manusianya yang tergolong lumayan banyak. Salah satu yang selalu diingatnya, pada saat pembuatan film semi klausal “Junuran Tinggi” di Nias, hingga membutuhkan crew sebanyak 800 orang.

"Honor SDM kita bayar sendiri. Tunggu beredar baru kita bayar," ungkap pria ramah ini saat ditemui di kantornya, Kamis akhir Agustus lalu.


Meski honor baru bisa dibayar di belakang, Ponti tidak pernah mendapat protes dari para crew. Pasalnya, bisa dilibatkan dalam penggarapan film, membuat kebanggaan dan pengalaman tersendiri bagi para crew.

"Intinya, bagaimana kita mengukir talenta dalam diri sesorang (crew) yang punya hobi di perfilman walapun dengan laba sangat minim," terangnya.

Usaha Ponti pun tidak sia-sia. Pelan tapi pasti, karya filmnya diterima masyarakat. Meski masih beredar di Sumut, tidak sedikit film karyanya laris manis terjual.

Film Nias berjudul ONO SITEFUYU (Anak Sesat) yang dirilis sebanyak 11 episode misalnya, laku terjual lebih 200.000 keping CD/DVD. Film lain yang penjualannya melejit adalah film Batak berjudul Anak Sasada. 

Menurut Direktur CZ Entertainment ini, pasar industri perfilman di Sumatera Utara, sangat menjanjikan, terutama film yang berbau dengan kehidupan sosial dan budaya karena langsung menyentuh masyarakat. 
"Main sendiri tidak gampang, berlahan tapi pasti," ungkapnya.

Kendati demikian, kata Ponti, industri perfilman di Sumatera Utara  akan maju lagi bila ada uluran tangan dari pihak sponsor. "Bila mengharapkan home industri itu akan sulit, agak susah melangkah ke nasional. Jadi kita juga sangat mengharapkan uluran tangan dari para sponsor," tukasnya. Coki Simatupag|MID MAGZ

Menikmati Barang Antik Koleksi Jimmy Siahaan


ILUSTRASI

Tidak ada pemandangan menarik melihat bagian luar rumah bekas peninggalan Belanda di Jalan Letjen Suprapto Nomor 11, Medan itu, Kamis pertengahan Agustus lalu.  Namun, begitu masuk ke bagian dalam, pandangan mata terkesima melihat berbagai jenis benda-benda antik.

Berbagai perabotan rumah tangga terbuat dari kayu,  alat komunikasi , elektornik  dan barang lainnya yang sudah berusia sampai ratusan tahun, masih bisa dilihat. Itu belum semuanya. “Di rumah saya di Jakarta, masih banyak lagi,” kata Ir Jimmy Siahaan MCP, sang pemilik barang antik tersebut.

Seluruh barang-barang antik milik Jimmy,  hampir memadati seluruh bagian rumahnya.  Sangkin banyaknya, Jimmy pun tidak ingat lagi jumlahnya. “Tapi kalau ada yang hilang, saya pasti tahu,” ungkap Jimmy Siahaan.

Hobi mengkoleksi barang-barang antik di hati pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) memang  sangat besar. Bila sudah suka, kata Jimmy, meski tidak ada uang, hutangpun jadi.

Maka tak heran, sosok pria ini di kalangan kolektor dan penggemar barang-barang antik di Tanah Air khususnya di Kota Medan, sudah tak asing lagi. Bahkan, sejumlah orang penting di Kota Medan, kecantol dengan koleksinya, hingga rela mengeluarkan uang ratusan juta rupiah.

Meski banyak berminat membeli koleksinya, Jimmy tidak menjadikan rumahnya layaknya sebuah toko penjual barang antik. “Saya tidak membuka. Kalau kebanyakan bisa mengganggu privasi, akhirnya mengganggu,” tukasnya.

Hobi mengkoleksi barang-barang antik, sejatinya mulai digeluti Jimmy, ketika masih mahasiswa jurusan Arsitek di Institut Teknologi Bandung (ITB) sejak tahun 1972 lalu. 

Sebagai anak perantauan yang ekstra hati-hati dalam pengeluaran, dia memilih membeli kebutuhan  perabotan di kamar kostnya  dari pasar loak di Bandung. 

“Ini lah yang pertama kali saya beli,” ungkap Jimmy sembari menunjukan sebuah kursi putar unik berbahan kayu .   

ILUSTRASI

Jimmy mengaku lebih menyukai barang-barang antik berbahan kayu, terutama mebel seperti lemari, kursi, meja dan sebagainya. Tak heran, kebanyakan barang koleksinya adalah mebel.  

“Saya senang melihat barang-barang dari kayu, apalagi kalau diletakkan,”  terangnya tersenyum.

Jimmy masih ingat, ketika hobinya kepada barang antik menggebu, sempat membuat pemilik kostnya  gerah. “Jangan beli barang-barang, nanti penuh rumah saya,” ujar Jimmy mengingat teguran pemilik kost kepadanya ketika itu.  

Namun demikian, semangat Jimmy untuk mengkoleksi barang-barang tua, terus berlanjut sampai saat ini. Paling banyak barang-barang antik itu diperolehnya di Pulau Jawa. Ketika masih aktif sebagai PNS dan sering bertugas ke luar kota. “Paling banyak dari Surabaya, Malang dan Semarang,” ungkapnya.

Hingga pada tahun 1990-an, Jimmy terpikir mendirikan sebuah resort dengan suasana antik di Tapanuli. Namun karena harga tanahnya mahal, dia memilih akhirnya membeli rumah yang ditempatinya sekarang dan memindahkan sebahagian barang-barang koleksi ke Medan. Namun, rumah ini baru ditempatinya pada tahun 1995 setelah berhenti bekerja.

Di rumah inilah, Jimmy sekarang memanfaatkan masa tuanya lebih fokus dengan koleksinya. Setiap barang koleksi yang dilihatnya,  membawanya alam pikirannya menyaksikan masa lampau. 
(Coki Simatupang|MID MAGZ)

Melihat Peninggalan Rumat Adat Karo


Rumah adat merupakan bagian sejarah dan identitas keberadaban, budaya dan kehidupan masyarakat suku Karo. Arsitektur dan ornamen pada dinding rumah bisa melukiskannya. 





Suhu dingin masih berhembus lembut di permukaan kulit begitu  tiba di Desa Budaya Lingga, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten  Karo, Sumatera Utara, Rabu menjelang sore awal Oktober lalu. 


Secara geografis Desa Budaya Lingga terletak di ketinggian sekitar  1.200 meter dari permukaan laut, lebih kurang 15 km dari Brastagi  dan 5 km dari Kota Kabanjahe, ibu kota Kabupaten Karo.

Meski hanya sebuah desa yang penduduknya mayoritas adalah petani, Desa Budaya Lingga, menjadi salah satu destinasi pariwisata di Kabupaten Karo yang sering dikunjungi turis lokal hingga  mancanegara. 

Selain alamnya yang asri, dihiasi hamparan perkebunan buah dan  sayur mayur nan hijau dengan pemandangan Gunung Sinabung, daya tarik yang tersimpan di desa ini masih bisa ditemui rumah adat Karo yang sudah berusia ratusan tahun.

Dahulu rumah adat Karo di sini masih banyak berdiri. Namun karena menjadi warisan, oleh ahli waris dibagi dan akhirnya berubah bentuk menjadi rumah biasa. Sebahagian lagi, kondisinnya sudah rusak dimakan usia. 

Namun jejak rumah adat, sebagai simbol keberadaban suku Karo,  masih bisa terlihat dari tiga bagunan adat Karo kuno yang hingga saat ini masih kokoh berdiri. Ketiga bangunan itu, yakni Rumah  Adat (Rumah Gerga) 12 Jabu, Rumah Belang Ayo dan Sapo Ganjang yang lokasinya saling berdekatan. Khwatir bangunan tua ini berubah bentuk atau hancur dimakan usia, Pemerintah Kabupaten Karo akhirnya menetapkannya sebagai cagar budaya, sejak 10 tahun lalu.

Rumah Gerga didirikan sekitar tahun 1860 lalu oleh Raja Urung Sibayak Lingga. Sebahagian besar masyarakat menyebutnya, 12 jabu  yang artinya dihuni oleh 12 keluarga di dalamnya. 

Tidak jauh dari Rumah Adat Raja Urung Sibayak Lingga, terdapat Rumah Belang Ayo didirikan Sinulingga Rumah Jahe dan anak beruna sekitar tahun 1862 yang didalamnya dihuni untuk 8 keluarga.

Selain itu terdapat bagunan tua bernama Sapo Ganjang, didirikan tahun 1870 yang digunakan sebagai tempat musyawarah dan tempat penyimpanan padi, namun kini oleh komunitas Sinulingga di facebook difungsikan menjadi Taman Bacaan Anak-anak.


Arsitektur dan Ornamen Unik
Di antara ketiga bangunan ini, rumah Raja Urung Sibayak Lingga paling banyak disinggahi para turis. Selain  karena usianya paling tua, tanpilan rumah ini lebih memukau dibanding yang lain. Hal itu bisa dilihat dengan berbagai ukiran ornamen menghiasi dinding rumah ini.

Setiap ornamen mengandung makna tersendiri sebagai simbol kearifan masyarakat suku Karo serta memberikan kesan keagungan dan  keindahan.

Tidak jauh berbeda dengan Rumah Belang Ayo, di bagian bawah rumah terdapat kolong yang dahulu digunakan sebagai kandang ternak dan menyimpan kayu bakar.

Keunikan lain dari rumah ini, dapat terlihat dari penyanggah rumah, dinding terbuat dari bahan kayu yang bersambungan tanpa menggunakan paku dengan hanya diikat dengan menggunakan tali ijuk.  Konon pada zaman dulu, arsitek suku Karo sudah memiliki kemampu dalam merancang daya tahan rumah, misalnya, pada palas antara batu pondasi dan tiang kayu penyangga rumah, dilapisi batang ijuk yang gunanya bila digoyang gempa, maka rumah akan mengikuti arah goyangan.

Pada bagian teras rumah, tangga dan penyangga atap, dibuat dari bambu. Sedangkan atap rumah sendiri, semuanya menggunakan ijuk. Di bagian paling atas atap rumah adat, kedua ujung atap masing-masing dilengkapi dengan dua tanduk kerbau. Dahulu, masyarakat adat Karo mempercayai tanduk kerbau sebagai penolak bala.

Sementara di dalam rumah terdapat 12 kamar yang artinya, 1 keluarga 1 kamar. Hampir di depan setiap pintu tersedia dapur.  Salah satu kamar di sini sempat dihuni Raja Urung Sibayak Lingga yang konon hidup berpoligami. 

Awalnya rumah Gerga ini dihuni oleh 12 keluarga, namun kini hanya dihuni salah satu keturunan Raja Urung Sibayak Lingga, Damson Tarigan dan istrinya, Januwarti boru Sitepu (42), bersama empat orang anaknya.  Sayangnya, saat mengunjungi rumah ini, hanya Januwarti yang terlihat.

"Pantang kalau rumah kita kosong karena kita takut rusak dibuat  rayap. Pengawatnya asap, makanya saya memasak tidak pakai elpiji," kata Jawarita yang sedang sibuk memasak untuk  persediaan santap malam.  

Tak jauh dari tempatnya duduk, terdapat semacam kotak kayu yang  tersusun dari kayu yang disebut Para tersusun tiga. Para ganjang  digunakan sebagai tempat penyimpanan kayu api, para tengah digunakan untuk menyimpan perkakas dapur dan para lubang digunakan untuk menyimpan masakan seperti ikan, sayur dan sebagainya.

Keunikan arsitektur, keindahan ukiran ornamen dan kekuatan rumah inilah, membuat para turis asing terpukau. Setiap turis asing yang datang pun meninggalkan berbagai cerita tersendiri akan rasa kagumnya.

Januwarti mengingat, terakhir pada Oktober 2013 lalu, seorang turis dari Belanda sempat tinggal selama tiga bulan dan ikut merenovasi rumah ini. Selain itu, seorang warganegara Amerika Serikat pernah menginap selama lima hari hanya khusus untuk mencari kayu, seperti kayu yang digunakan di rumah ini. 

Tak cukup hanya itu, seorang turis asing juga pernah menyampaikan niatnya untuk membeli rumah ini senilai Rp1 miliar untuk dijadikan villa pribadi. "Tapi kami menolak. Ini tradisi kami. Saya harus mempertahankannya," ujar Januwarti.

Selain sering dikunjungi turis asing, Januwarti menyebutkan, anak sekolah, kalangan mahasiswa dari Kota Medan tempat juga sering sering menginap di sini.
 
Januwarti berharap Pemerintah Kabupaten Karo serius untuk  melestarikan rumah adat yang masih tersisa di desanya, karena merupakan peninggalan sejarah. (Midian Coki|MID MAGZ)

Link: garuda-indonesia.comwww.pegipegi.com, www.traveloka.com