Tuesday, 2 June 2015

Datang dari Tanah Rencong


Keberadaan organisasi Aceh Sepakat menjadi salah satu bukti warga asal Aceh  telah lama bermukim di Kota Medan. 

Warung kopi di  sebuah eks loket  bus antar propinsi, Jalan Gajah Mada, Medan, ramai dipadati  pengunjung. Dari wajah seluruh pengunjung, mayoritas didominasi warga etnis Aceh.

Bagi masyarakat asal Aceh, Jalan Gajah Mada, sudah tidak asing lagi mengingat kawasan ini sempat sebagai pusat transportasi darat Medan-Banda Aceh-Medan, jauh sebelum Terminal Pinang  Baris ada. Itu sebabnya, masyarakat pendatang asal Aceh, lambat-laun ramai bermukim di sini, Jalan Darussalam dan sekitarnya.

Bahkan, seiring berjalannya waktu,  atmosfir ‘bumi rencong’ di kawasan ini semakin kental dengan kian menjamurnya hotel dan penginapan nuansa Aceh, dan ramainya warga Aceh membuka usaha kedai kopi serta kuliner Aceh.  

“Masyarakat Aceh yang tersebar di luar propinsi Aceh yang paling terbesar di Sumatera Utara, umumnya datang untuk berniaga. Maka di era tahun 60-an pengusaha-pengusaha besar keturunan Aceh sudah ada di Medan,” sebut H M Husni Mustafa SE, Ketua Umum DPP Aceh Sepakat.


Aceh Sepakat merupakan wadah perkumpulan masyarakat Aceh  di Kota Medan yang didirikan pada 31 Desember 1968 lalu. Organisasi ini dibentuk bertujuan untuk mempersatukan semua perkumpulan etnis Aceh di Sumut karena sebelumnya, masyarakat Aceh terpecah dalam sejumlah wadah, seperti Perkasa, Perkumpulan Masyarakat Aceh (PMA),  Perkumpulan Masyarakat Pidie, Aceh Utara, Aceh Gayo, Aceh Barat/Selatan.  Sedangkan yang informal antara lain Serikat Tolong Menolong (STM) Aceh Besar, Perkumpulan Pengajian, dan Arisan.

Seiring dengan waktu, organisasi ini kemudian berkembang ke bidang sosial dan keagamaan dengan mendirikan sejumlah fasilitas di Kota Medan, seperti Masjid Raya Aceh Sepakat Medan di Jalan Mengkara, Rumah Sakit Islam Malahayati di Jalan Diponegoro, Yayasan Panti Asuhan Darul Aitam di Jalan Medan Area Selatan, Yayasan Pendidikan Islam Miftahussalam di Jalan Darussalam, Asrama Mahasiswa dan lahan pekuburan.

“Ini dibangun karena Aceh Sepakat merupakan wadah kepedulian sosial dan keagamaan. Tidak hanya untuk etnis Aceh namun juga untuk masyarakat umum lainnya,” terang Husni .


Salah satu fasilitas yang tidak pernah sepi dikunjungi masyarakat Aceh adalah Masjid Raya Aceh Sepakat Medan. Masjid yang didirikan mulai sekitar  tahun 1997 ini, tak hanya sekadar sebagai tempat ibadah dan kegiatan keagamaan, tapi juga dijadikan sebagai pusat informasi dan komunikasi antar masyarakat Aceh.

Menurut Husni, kedatangan masyarakat Aceh ke Medan, sudah dimulai sejak Sultan Iskandar Muda (palingma besar dalam masa Kesultanan Aceh, berkuasa dari tahun 1607-1636), menjalin hubungan dengan Kesultanan Deli, sampai ada pernikahan  antara Raja Aceh, Sultan Mukhayat Syah dengan Putri Hijau, putri dari Sultan Deli, Sultan Sulaiman.

Kemudian, periode pada jaman penjajahan Belanda, dimana masyarakat Aceh datang ke Medan turut membantu perjuangan dalam mempertahankan kemerdekaan yang kemudian memilih menetap di Medan. Umumnya masyarakat Aceh datang ke Medan, lanjut Husni karena berniaga.   

“Budaya Sumut dengan Aceh tidak jauh  berbeda. Masyarakat Sumut sangat Well Come kepada pendatangnya. Maka tidak heran, kuliner Aceh  banyak di sini,” tambah Husni tersenyum. (Midian Simatupang)

Irama Senduh Alat Musik Tradisi Simalungun

Pengaruh alat musik modern dan minimnya minat genereasi muda, membuat alat musik tradisional Simalungun, terancam punah.


Sudah puluhan tahun, Rosul Damanik, 57 tahun, menggeluti profesi sebagai pemain musik tradisioanal Simalungun.  Selain pemain musik, Rosul juga menggeluti usaha pengrajin alat musik tradisional Simalungun.

Sebagai pemain musik, ayah lima anak ini sering mendapat orderan pekerjaan  di berbagai kegiatan pesta adat Simalungun dan beberapa kali mengikuti event “Simalungun Go International” yang pernah diadakan Pemerintah Kabupaten Simalungun di Kuala Lumpur, Malaysia.

Eksistensinya dalam melestarikan alat musik tradisonal Simalungun, membuat Rosul Damanik juga pernah mendapatkan penghargaan dalam rangka pengembangan alat musik dan  budaya Simalungun dari Bupati Simalungun, JR Saragih, dua tahun lalu.

Kendati demikian, dari rawut wajahnya, terpancar kegelisahan. “Kalau gak ada anak saya yang meneruskan, saya kuatir musik tradisioanal Simalungun bisa hilang,” ungkapnya.

Kegelisahan Rosul Damanik memang  beralasan. Apalagi, jumlah pemain musik tradisioanal Simalungun, sebutnya, sudah menurun dan kini bisa dihitung dengan jari. “Untuk pemain Serunyai bolon sudah  banyak yang pensiun karena sudah tak sanggup lagi, meniup  serunyai,” tuturnya.

Tak sekadar itu, Rosul mengatakan, pengaruh alat musik modern dan minimnya minat genereasi muda menggeluti musik tradisional Simalungun, serta masih minimnya perhatian pemerintah menjadi tantangan berat untuk mempertahkan alat musik tradisional Simalungun dari ancaman kepunahan.

Dewan Kesenian Simalungun-Siantar dalam bukunya Seminar Kecil Kesenian Siamalungun menyebutkan, alat-alat musik tradisonal Simalungun dibagi atas empat bagian. Pertama, alat-alat tiup yang terdiri dari ole-ole, saligung, sordam, sulim, sarunei buluh, sarunei bolon dan tulila.

Kedua, alat gesek, terdiri dari arbab. Ketiga, alat-alat petik, terdiri dari: husapi dan hodong-hodong. Keempat, alat-alat pukul, terdiri dari: gonrang sidua-dua, gonrang sipitu-pitu (gonrang bolon), mongmongan, sitalasayak, ogung, gerantung dan jadjaulu (tengtung).

Dahulu, alat-alat musik ini digunakan masyarakat Simalungun dalam acara upacara adat seperti, pernikahan, seseorang yang meninggal dunia yang sudah saur matua (usia uzur) dan sebagainya.

Sayangnya, penggunaan alat musik tradisional Simalungun, malah semakin tersisih. Rosul mencontohkan, dalam pesta adat Simalungun, musik gondang sudah bisa dimainkan oleh keyboard, dengan menggunaka flasdisk. “Irama musiknya jadi imitasi. Kalau pun menggunakan alat musik tradisional, tidak berlama-lama,” tuturnya.

Rosul berharap, Pemerintah Kabupaten Simalungun, memberikan perhatian serius untuk pelestarian alat musik tradisional karea Pembinaan yang dilakukan  Pemerintah Kabupaten Simalungun masih temporer.

“Harapan saya, pemerintah membuat kebijakan, diklat, sehingga alat musik tradisional Simalungun tidak hilang ditelan masa,” pintanya. (Midian Simatupang)

Sunday, 3 May 2015

Menjaga Aset Budaya Tari Serampang XII



Tarian Serampang XII merupakan aset budaya Melayu Sumatera Utara. Dahulu tarian ini diciptakan sebagai tari pergaulan di lingkungan Kesultanan Negeri Serdang pada masa pemerintahan Tuanku Sulaiman Shariful Alamshah. Kemudian pada masa Pemerintahan Presiden Soekarno, tari ini diangkat menjadi Tari Pergaulan dan disebarkan ke seluruh Indonesia bahkan sampai Manca Negara. Namun sayangnya persebaran tari ini juga tidak diimbangi dengan kepedulian serta kecintaan generasi muda sehingga ada faktor kemungkinan tari ini suatu saat akan terlupakan ataupun akan di klaim oleh pihak lain. Lantas sejauh mana 
keberlangsungan tarian ini di era modern dan globalisasi saat ini?, berikut petikan wawancara dengan Tengku Mira Sinar, salah satu keturunan Kesultanan Negeri Serdang yang terus aktif melestarikan Tarian Serampang XII di bawah Sinar Budaya Group.  

Bagaimana awalnya historis keberadaan Tari Serampang XII menjadi salah satu kehidupan adat Melayu?

Tarian dan lagu ini mendapat pengaruh dari Portugis ataupun Spanyol. Keduanya dapat dibenarkan sebab kedua negara tersebut dahulu menjadi satu negara di bagian paling barat benua Eropa. Oleh karena langkahnya dinamis serta gembira, dan bagi para penari dapat menunjukkan kesigapan, gaya dan keindahan seni tari, maka ia diterima oleh masyarakat di Sumatera Timur. Hanya saja penerimaan itu tidak didasarkan pada wujud dan maksud tari itu. Kebanyakan penari laki-laki hanya menunjukkan bahwa ia tahan lama menari, tidak memperdulikan aturan-aturan dan maksud tari itu. Sebabnya ialah penerima tari tidak hendak menyelidiki maksud tari itu, ketika mempelajarinya dan tidak pula mau mencocokkannya dengan kepentingan-kepentingan daerah.
Tari Serampang XII itu disusun dan diatur serta dicocokkan dengan adat istiadat di daerah pesisir Sumatera Timur oleh penciptanya Guru Sauti, sehingga wujud dan maksud tari serampang XII itu menunjukkan kisah bagaimana dua sejoli memendam cinta dan cara-cara menyatakan cinta kepada seorang Pemuda jika ia pemudi. Dan kepada Pemudi jika ia Pemuda, serta teguhnya mereka itu memegang adat.

Apakah tarian ini merupakan tarian khas Melayu di bawah Kesultanan Serdang?

Pada dasarnya tari Serampang XII adalah tari yang diciptakan sebagai tari pergaulan di lingkungan Kesultanan Negeri Serdang pada masa pemerintahan Tuanku Sulaiman Shariful Alamshah. Seiring perkembangan zaman maka Tuanku Sultan mengizinkan Guru Sauti untuk mengajarkan tari ini ke daerah diluar Kesultanan Negeri Serdang, dan pada masa Pemerintahan Presiden Soekarno tari ini diangkat menjadi Tari Pergaulan dan disebarkan ke seluruh Indonesia bahkan sampai Manca Negara.

Apakah ada sosok dibalik terciptanya tarian ini?

Pencipta Serampang XII, Guru Sauti adalah seorang Seniman kelahiran Perbaungan yang memperoleh kesempatan sekolah, belajar menari dan memainkan alat musik di Istana Darul arif. Sedangkan Baginda Tuanku Sultan Sulaiman Shariful Alamshah adalah Sultan melayu yang dipandang sebagai tokoh utama dalam perkembangan seni pertunjukan itu tidak saja memberikan kesempatan tetapi turut berkecipung langsung dan menata, turut menggembirakan serta menularkan semangat berkesenian kepada sanak keluarga serta warga Serdang yang mendapat kesempatan belajar menari, menyanyi dan memainkan alat musik di istananya.

Mengapa diberi nama Tari Serampang XII?

Serampang: alat untuk menangkap ikan berbentuk tombak dengan sula bermata tiga. Kaitannya dengan tari serampang XII terlihat pada ragam 9, yaitu gerak lonjak seakan seperti orang menyerampang (menombak berkali kali).
Kaitannya dengan serampang laut: pada masanya tempo lagu yang tercepat adalah lagu serampang laut maka diambillah nama serampang sedangkan lagunya pulau sari, nama XII diambil dari XII ragam geraknya sehingga terciptalah nama tari Serampang XII. Lagu yang namanya dimulai dengan kata pulau adalah lagu yang bertempo rumba (Mak Inang) seperti Pulau Kampai, Pulau Putri. Sedang Serampang  XII temponya quick step atau 3/8. 

Apakah makna terkandung di dalam tarian ini?

Pencipta tarian ini mengikuti kehendak masyarakat dengan mencocokkan tarinya menjadi 12 ragam. Tari yang mengkisahkan “CINTA SUCI” sejak dari pandangan pertama disudahi dengan akad nikah dan perasmian perkawinan antara pemuda dan pemudi yang telah mabuk kepayang itu dengan persetujuan ibu bapa kaum keluarga semuanya.
Sebenarnya apa kekhususan atau keunikan Tari Serampang XII, dibanding dengan tarian adat Melayu lainnya?. Keunikan tari Serampang XII adalah selain tari ini bertempo paling cepat dibandingkan dengan tari melayu yang lain, gerakan juga lebih dinamis serta mempunyai makna yang lebih jelas dari tiap ragam tarinya.

Apakah dalam adat Melayu Serdang, persembahan Tari Serampang XII, biasanya dipertunjukan untuk kegiatan khusus?

Dahulu pada masanya tari Serampang XII selalu dipertunjukan pada saat perayaan-perayaan besar di Istana, seiring perkembangan zaman maka tari ini sekarang selalu dipertunjukan pada setiap pertunjukan seni.


Bagaimana perkembagan Tari Serampang XII saat ini?

Sejak diciptakan, tari ini telah mengalami persebaran ke berbagai daerah, hal ini membuat tari serampang XII sangat terkenal di berbagai daerah pula, akan tetapi persebaran ini juga membuat tari ini mengalami pergeseran teknik menari disebabkan transformasi tari ini hanya pada bentuk tarinya saja tidak disertai dengan penguasan teknik yang sebenarnya sehingga membuat tari ini mulai mengangalami perubahan atau bisa disebut pendangkalan teknik menari, persebaran tari ini juga tidak diimbangi dengan kepedulian serta kecintaan generasi muda sehingga ada faktor kemungkinan tari ini suatu saat akan terlupakan ataupun akan di klaim oleh pihak lain.

Bagaimana menurut Anda agar Tari Serampang XII tetap lestari sebagai dan jati diri budaya Indonesia?

Ada berbagai cara agar kesenian ini tetap lestari seperti dengan menjadikan tari ini sebagai asset daerah yang berarti pemerintah melakukan proteksi terhadap kesenian ini sehingga tidak di klaim oleh pihak lain, juga dengan memasukkan tari ini ke dalam ruang pendidikan sebagai muatan lokal dengan mengajarkannya pada generasi muda tanpa melepas aspek kualitas keaslian baik secara bentuk maupun teknik menari juga pemahaman dari gerak tari itu sendiri, dan bila dilihat dari sudut pandang seni pertunjukan juga pelestarian dapat dilakukan dengan seringnya dibuat berbagai kegiatan-kegiatan ataupun festival-festival perlombaan tari ini sehingga secara tidak langsung membuat para pelaku seni tari ini lebih memahami keaslian baik secara bentuk maupun teknik dalam tari tersebut.

Apa yang dilakukan Kesultanan Serdang agar tarian ini tetap terpelihara?

Pada masa Presiden Soekarno, kegiatan seni dan budaya sangat giat digalakkan. Tengku Luckman Sinar adalah salah satu dari Duta Budaya yang diutus Presiden Soekarno untuk memperkenalkan budaya Indonesia ke mancanegara, dan Tengku Luckman Sinar adalah termasuk orang yang pertama sekali memperkenalkan tari Serampang XII ke dunia Internasional dengan menarikannya di beberapa negara Eropa Timur seperti Moskow dan lain-lain.
Dalam perjalanan Kesultanan Negeri Serdang, dimasa kepemimpinan Tengku Luckman Sinar, SH. bergelar DYM. Tuanku Luckman Sinar Basarshah-II, SH. (Sultan Serdang VIII), beliau menginventarisir seluruh kekayaan intelektual dan budaya Serdang yang termasuk di dalamnya Tari Serampang XII sebagai salah satu kekayaan bangsa dan mendaftarkannya ke Dirjen HAKI dengan no. 049720 Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Dirjen HAKI RI.
Almarhum DYM. Tuanku Luckman Sinar Basarshah-II SH, mendirikan Sinar Budaya Group pada tahun 1989, yang berkonsentrasi dibidang seni dan budaya, dengan materi pembelajaran awal dasar tari wajib melayu yang salah satunya adalah Tari Serampang XII. Sejak tahun 2003 Sinar Budaya Group dipimpin oleh Tengku Mira Sinar. 
Tengku Mira Sinar telah merangkum 8 dasar tari Melayu karya Guru Sauti kedalam sebuah buku berjudul Teknik Pembelajaran Dasar Tari Tradisional Melayu. Buku ini menjadi buku refernsi Universitas Negeri Medan dan Palembang pada jurusan Sendratasik (seni, drama, tari dan music). (Coki Simatupan)



Saturday, 2 May 2015

Melawan Penjajah Melalui Musik

Lily Suhairy dikenal sebagai pahlawan dan musisi Sumatera Utara di era perjuangan  meraih kemerdekaan. 


Sebuah pesawat Sekutu menungkik dan memberondong secara membabi buta Stasiun Kereta Api Aras Kabu, Batang Kuis, Kabupaten Deliserdang. Puluhan orang tewas termasuk diantaranya salah satu dari rombongan musisi tergabung dalam Orkes Studio Medan (OSM) yang ketika itu sedang bersiap-siap hendak menuju Pematangsiantar untuk mengadakan pertunjukan musik. 

Suasana hiruk-pikuk di stasiun kereta api pagi itu akhirnya berubah menjadi isak tangis. Lily Suhairy, duduk terdiam dan berlinang air mata melihat seorang rekannya, Miss Diding sudah tak bernyawa lagi.

Peristiwa itu tak pernah hilang dari ingatan Lily Suhairy hingga akhir hidupnya.  Untuk menghormati para korban, Lily kemudian menuangkan peristiwa tragis itu  dalam sebuah karya musiknya berjudul Aras Kabu.  Melalui instrumen pada musik ini, Lily menyampaikan pesan,  agar  masyarakat  Indonesia tidak hanyut dalam kesedihan dan putus asa dalam perjuangan  meraih kemerdekaan.   

Di kalangan musisi dan seniman Tanah Air dari era tahun 1940-an, Lily Suhairy, sangat dikenal sebagai seorang tokoh komponis dan pejuang yang jujur. Karya- karyanya, sempat  memasyarakat di era perang kemerdekaan. Salah satu karyanya yang cukup populer berjudul Pemuda Indonesia. Lagu ini sempat membuat  Lily Suheiry ditangkap dan disiksa oleh Nederland Indie Administration (NICA) serta ditahan selama tiga bulan. Lily sangat dikenal dengan karya musiknya yang mengambarkan semangat untuk berjuang meraih kemerdekaan. Tidak hanya itu, di masa kedudukan Jepang, Lily juga sempat ditangkap oleh Kompetai  merupakan pasukan rahasia Jepang karena lagunya “O Bayang” bernada anti Jepang disiarkan oleh  pemuda Indonesia di Radio Jepang Hoso Kiyoku.  


Pria kelahiran Bogor,  23 Desember 1915, sejak kecil sudah lebih menyukai kesenian daripada harus tekun dengan pelajaran sekolah. Meski demikian, dia sempat menyelesaikan  Mulo–-sekolah setingkat SMP. Ketika berusia 1 tahun, dia dibawa kakek dan ibunya pindah ke Kota Brastagi, Sumatera Utara.  Seorang warga Belanda merupakan majikan kakeknya, terkagum melihat bakat musik Lily Suhairy.  Warga Belanda tersebut kemudian menyekolahkannya kepada seorang warga Jerman untuk mendalami musik.   

Karena kemampuannya dalam musik yang tinggi, diterima bekerja di sebuah  perusahaan rekaman “His Masters Voice” di Singapura pada tahun 1943.  Namun, tiga tahun kemudian, dia memilih mengembangkan bakat musisinya di Kota Medan. Semasa hidup, Lily telah mengubah sebanyak 182 lagu dengan warna langgam Melayu, diantaranya,  lagu Bunga Tanjung, Bunga Teratai, Selendang Pelangi, Rayuan Kencana dan Aras Kabu disebut sebagai lagu lagu besar yang lahir pada zaman perang kemerdekaan. 

Memiliki rasa juangan yang tinggi untuk meraih kemerdekaan melalui sarana musik akhirnya membuatnya mendapatkan penghargaan, sebanyak dua kal. Pertama,  pada tahun 1975 oleh PWI Cabang Medan dan kedua penghargaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Daoed Joesoef,  Maret tahun 1979 di Jakarta.

Lily wafat di Rumah Sakit Kodam I Bukit Barisan, Medan, pada 2 Oktober 1979 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Jalan Sisingamangaraja, Medan.  Sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan dan karya-karyanya, H Adnan Lubis, mantan Direktur Radio Alnora, sahabat Lily Suhairy menulis buku berjudul “Lily Suhairy dalam Kenangan”.  Coki Simatupang dan Berbagai Sumber

Friday, 1 May 2015

Dari Tiongkok ke Tanah Deli

Orang Tionghoa sudah tinggal di Kota Medan, sejak dimulai pembukaan lahan perkebunan tembakau di era kedudukan Hindia  Belanda. 

Foto:Kebun tembakau Deli tempo dulu

Jembatan kebajikan di Jalan Zainul Arifin, Medan, yang menghubungkan Jalan  Zainul Arifin dengan Jalan Gajah Mada, masih terlihat kokoh.  Jembatan ini dibangun pada tahun 1916 lalu, untuk mengenang jasa Tjong Yong Hian, seorang saudagar dan tokoh etnis Tionghoa yang berjaya di era kedudukan Hindia  Belanda, tahun 1850-1911. 

Tjong Yong Hian merupakan abang kangdung Tjong A Fie yang sukses membangun bisnis perkebunan di Tanah Deli. Kesuksesan membuat Tjong Yong Hian , memiliki hubungan dekat dengan Sultan Deli dan Pemerintah Hindia Belanda. Tjong Yong Hian kemudian diangkat sebagai "Kapitan Tionghoa”. Setelah Tjong Yong Hian wafat, jabatan "Kapitan Tionghoa” kemudian dilanjutkan oleh Tjong A Fie. Itu sebabnya, kedua tokoh ini tidak terlepas dari sejarah, masuknya masyarakat etnis Tionghoa ke Tanah Deli. 

Berbagai catatan sejarah menyebutkan, masyarakat etnis Tionghoa awalnya sudah tinggal di kawasan Labuhan Deli—persis di daerah mulut sungai Deli,  Kecamatan Kota Medan Marelan. Pada tahun 1863, Jacobus Nienyus, Van Der Falk dan Elliot, warga Belanda, ketika pertama kali datang ke Sumatera untuk  membuka perkebunan tembakau, telah menemukan sekelompok orang Tionghoa di kawasan ini.  
Tjong A Fie

Menurut Ketua Paguyuban Sosial Marga Tinghoa Indonesia (PSMTI) Sumatera Utara, Eddy Djuandi, 66 tahun, masyarakat etnis Tionghoa sudah mulai ada di  Labuhan Deli. Dia merujuk pada ditemukannya Situs Kota Cina di kawasan Danau Siombak, Kelurahaan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan. 

Sebelumnya Edwards MacKinnon, seorang ilmuwan asal Amerika Serikat dalam disertasinya di Cornell University mengungkapkan bahwa Kota Cina di Medan pernah menjadi bandar perniagaan di Sumatera bagian timur pada abad ke 11.

“Dahulu itu kota perdagangan. Tiang kapal dan arca masih ditemukan di sana,” tambah Eddy. 

Penemuan Situs Kota Cina di kawasan Marelan,  menjadi salah satu petunjuk sejarah datangnya orang Tionghoa ke Kota Medan. Eddy mengatakan, masih banyak lagi peninggalan-peninggalan sejarah, yang menunjukkan etnis Tionghoa sudah sejak lama tinggal menetap di Kota Medan. 

Dia merujuk pada rumah Tjong Yong Hian—sekarang menjadi Hotel Kesawan dan rumah Tjong A Fie di kawasan  Jalan Ahmad Yani yang populer di sebut Jalan Kesawan. Dahulu orang-orang Tionghoa dari Malaka dan Tiongkok datang dan menetap di daerah ini sehingga Kesawan menjadi sebuah Pecinan. Setelah kebakaran besar melalap rumah-rumah kayu di Kesawan pada tahun 1889, para warga Tionghoa lalu mulai mendirikan ruko-ruko dua lantai yang sebagian masih tersisa hingga kini.

Foto: Kesawan Tempo Dulu

“Dahulu kawasan ini (Kesawan) adalah sawah. Dari sanalah titik nol Kota Medan. Orang Tionghoa dulu sering mengatakan mau ke sawah. Karena belum pasih berbahasa Indonesia jadi disebut kesawan,” tuturnya. 

Meningkatnya, kebutuhan tenaga kerja di perkebunan tembakau, membuat para saudagar Belanda, kemudian merekrut tenaga kerja kasar dari luar Indonesia, salah satunya dari daratan Tiongkok. Adanya lapangan pekerjaan akhirnya membuat masyarakat Tionghoa akhirnya memilih menetap tinggal di Medan. “Setelah punya duit, bangun rumah dan akhirnya menetap di sini,”  terang Eddy.

Itu sebabnya, sebut Eddy, keberadaan masyarakat Tionghoa telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari sejarah terbentuknya Kota Medan.  Etnis Tionghoa juga telah memberi peranan penting dalam membangun Kota Medan, dari masa sebelum kemerdekaan hingga di era reformasi saat ini. 

Tokoh Tionghoa Sumatera Utara, Brilian Moktar SE MM mengamini pernyataan Eddy Djuandi. Apalagi kata  Brilian, reformasi menjadi kado bagi masyarakat Tionghoa khususnya di bidang politik, untuk lebih meningkatkan perannya dalam membangun bangsa dan negara lebih baik lagi.

Meski demikian, sebut Anggota DPRD Sumatera Utara ini, cita-cita reformasi yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945, yakni salah satunya  adalah Bhineka Tunggal Ika, belum tercapai, karena masyarakat etnis Tionghoa  belum melihat adanya persamaan hak antar sesama anak bangsa. 

“Sebab itu saya memperjuangkan itu (persamaan hak). Kita harus bersatu dulu dalam ideologi, sehingga kita punya rasa memiliki negara Indonesia,” papar Politisi PDI Perjuangan yang menjadi satu-satunya etnis Tionghoa yang meraih penghargaan Melati pada HUT ke-53 Gerakan Pramuka Tingkat Kwartir Daerah Sumut di Kabupaten Palas, September 2014 lalu ini. (MIDMAGZ|COKI)

Wednesday, 22 April 2015

In Memoriam Raja Radio Sumut

Kamis menjelang siang hari akhir Februari 2012 lalu, saya mendapat kesempatan mewawacarai Dimardi Abas, pemilik Radio KISS FM, yang saat ini sudah almarhum. Saya banyak bertanya tentang perjalanannya meraik kesuksesan dalam membangun bisnis Radio di Sumatera Utara. IBerikut ini artikel tentang kesuksesannya dalam membangun bisnis Radio di Sumatera Utara yang pernah dimuat di Kover Magazine edisi Maret 2012 lalu, yang mungkin bisa bermanfaat bagi pembaca.

Foto: www.terasmedan.com
Bila ingin tahu bagaimana membangun bisnis Radio. Sosok  Diamardi Abas lah  tepat untuk konsultasi. Merintis membangun stasion radio sejak tahun 1970,  ia kini sukses membangun tujuh stasiun radio lokal di Sumatera Utara.

Ia lebih akrab disapa “Bang Ucok”, meski sebenarnya nama aslinya Dimardi Abas. Di usianya yang sudah memasuki 64 tahun, penampilannya tetap mengikuti trend, sesuai dengan konsep Radio Kidung Indah Selaras Ssuara atau akrab didengar KISS FM  yang menyiarkan informasi, perkembangan musik dan trend  gaya hidup.

“KISS FM adalah jawaban kepada anak muda yang haus akan informasi, berita, musik dan gaya hidup terkini. Musik-musik yang sedang hip. Segmen pendengarnya jelas, yakni antara usia 18-25 tahun,”  sebut Dimardi saat Kover Magazine menyambangi kantornya di Jalan Cut Nyak Dien No. 16, Medan, Kamis akhir Ffebruari lalu.

KISS FM  telah lama melekat di telinga anak muda kota Medan. Ada pameo baru di kalangan anak muda yang mengatakan, jangan mengaku “gaul” kalau belum belum pernah mendengar Radio KISS FM. Maklum, stasiun radio yang didirikan sejak 1971 dengan nama awal Radio Echo Lima 41 ini, boleh dikatakan menjadi saluran informasi pertama yang memperdengarkan musik-musik terbaru yang sedang hits, baik dari tanah air maupun mancanegara.

Tak berlebihan bila KISS FM sudah dianggap menjadi barometer radio anak muda di Medan. “Konsepnya, what is in, what is out.  KISS FM selalu berusaha menjadi yang terdepan untuk menginformasikan issu terbaru musik dan gaya hidup,” ujar Dimardi Abas menjelaskan radio berfrekwensi 105.00 FM, yang mengusung tagline: “The Hottest Hits in Medan! itu.

Yang tak kalah menarik, alasan lulusan Fakultas Teknik Elektro Universitas Sumatera Utara (USU), Medan ini menjadikan KISS FM menjadi saluran berita yang mendepankan isu lokal karena melihat semua televisi dan media cetak  tidak mungkin mampu meng-cover isu lokal secara cepat. “Meski isu yang kami siarkan tidak begitu lengkap,” akui Dimardi.

Melebarkan Sayap
Menyadari semua kebutuhan pendengar tak bisa dijawab oleh satu radio saja. Dimardi pun kemudian melebarkan sayap dengan mendirikan sejumlah stasiun radio lain dibawah bendera group KISS yakni Star FM 104.6, Mix FM 90.8, Lafemme FM 88, Lite FM 92.8 , Yaska FM 100.2 di kota Tebing Tinggi dan 105 Radio Adia Utama (RAU) FM Kota Padangsidimpuan.

Semua radio milik suami Linda Tri Murni Maas ini, didirikan dengan segmen pendengar berbeda dengan tujuan untuk bisa mengakomodir seluruh  keinginan pendengar. Bila KISS FM yang pertama didirikannya pendengar setianya berusia 18-25 tahun.   Star FM melirik segmen pendengar antara usia 12-20 tahun, dengan isi siaran selalu menggunakan bahasa gaul Medan . “Kalau mau dengar ada ucapan ‘kau’, ‘aku’, ‘cemmana’, dan lain-lain. Nah, dengarlah Star FM,” kata Dimardi.

Sementara Lite FM untuk segmen pendengar  usia dewasa,, Mix FM dengan program mandarin,  Lafemme FM 88 menyajikan musik dan informasi seputar  lifestyle, entertainment dan kesehatan Wanita. Untuk mengakomodir pendengar di luar kota Medan, Dimardi mendirikan RAU FM di kota Padang Sidempuan dan Radio Yaska Jaya FM di Tebing Tinggi. Tak   heran bila julukan sebagai Raja Radio Lokal di Medan mulai mengarah kepadanya dengan jumlah karyawannya saat ini  telah mencapai 100 orang.
.
Berawal dari Hobi Radio Amatiran
Keberhasilan Dimardi merangkul pendengar dari berbagai segmen memang bukanlah sebuah pekerjaan yang begitu saja turun dari langit. Kesuksesannya berawal dari hobi radio amatiran.  Hanya bermodal kreatitas merangkai komponen-komponen elektronik, pada tahun 1970 ia mendirikan radio Echo Lima 41. Ketika itu Radio Echo Lima 41 tanpa mengantongi izin siaran .

Kehadiran Radio Echo Lima 41 pun tak lepas dari persoalan isu politik, yang diidentikkan sebagai jargon budaya barat kapitalisme karena juga kerap memperdengarkan musik-musik dari barat, seperti The Beatles, Elvis Presley, Deep Purple, Leed Zeppelin, atau band papan atas yang sedang meroket di era 1960-1970-an.

Menggunakan nama asing untuk radio pun pada saat itu dianggap tabu. Belakangan, entah bermaksud membuat birokrat jengkel atau tidak, nama Echo Lima 41 pun diganti menjadi KISS FM. Toh, nama ini semula sempat masih dianggap mengusung nama asing. “Padahal, KISS adalah singkatan Kidung Indah Selaras Suara,” ujarnya terseyum sedikit tertawa.

Meski awalnya berangkat dari hobi radio amatiran, perusahaan radio Echo Lima 41, kini telah menjadi cikalbakal jaringan “raksasa” radio di Sumut. Dimardi, sosok yang juga mencintai tanaman hias dan seni rupa ini dan aktif di berbagai organisasi, menyadari meskipun teknologi internet telah merambah media dewasa ini, posisi radio tetap menjadi bagian terpenting di tengah peradaban manusia.


Menurut Dimardi sendiri, peluang untuk mendirikan industri penyiaran radio sebenarnya masih terbuka luas di Medan, meskipun pemainnya semakin banyak dari masa ke masa. “Masih banyak peluang sebenarnya. Asalkan kita jeli melihatanya banyak ide dan kreatif,” paparnya.

Monday, 20 April 2015

Saya Jatuh Cinta dengan Musik Etnik Batak

Hardoni Sitohang meraih sederetan prestasi dari upayanya melestarikan musik Batak. Itu karena kecintaannya kepada musik Batak.

Foto: Dok. Pribadi
Sebuah piagam Award 2012  Pemuda Penggerak Pelestarian Kesenian Rakyat dari Rahudman Harahap semasa menjabat sebagai Wali Kota Medan dan Zulham Efendi Siregar, Ketua DPD KNIP Kota Medan, terpajang  di dinding rumah Hardoni Sitohang, 36 Tahun, Jalan Bunga Terompet V, Komplek Grand Koserna 2 Nomor 8 O, Padang Bulan Medan, Kamis pertengahan Januari lalu.

Sementara seperangkat alat musik gondang Batak Toba, menghiasi bagian dapur. Alat-alat musik tradisional Batak Toba ini tidak pernah jauh dari kehidupan Hardoni Sitohang. “Saya sudah jatuh cinta dengan musik Batak. Bunyinya menarik roh kita,  berbeda dengan musik barat,” ungkap Hardoni.

Hardoni sudah mengenal alat musik  Batak Toba sejak kecil. Ayahnya, Guntur Sitohang, merupakan seorang pemain musik tradisional Batak Toba. Meski dilahirkan di keluarga pemusik tradisional Batak Toba, Hardoni mengaku, sempat tidak berfikir untuk menjadi musisi musik etnik.  Namun karena melihat perjuangan ayahnya, melestarikan musik  Batak Toba, hati Hardoni akhirnya ikut terpanggil.  ”Sekarang mulai dari bapak sampai kami (anak), berjuang melestarikan musik Batak,” ujarnya.

Untuk mengasa pengetahuan dan kemampuan di musik etnik, setelah menamatkan SMA, Hardoni kemudian melanjutkan pendidikan seni musik di Universitas Negeri Medan (Unimed). Kepiawaianya memainkan alat musik tradisonal Batak Toba, membuatnya bersama Tim Unimed, sering mengikuti berbagai event perlombaan festival musik budaya di Sumatera Utara, nasional bahkan hingga ke mancanegara, seperti Thailand, Malaysia, Singapura, Cina, Australia, Jerman, Belanda dan Perancis. Prestasi yang diraihpun gemilang. 

Foto: Dok. Pribadi
Hardoni bercerita, dari mengikuti perlombaan festival musik budaya di Malaysia, dia mendapat tawaran menjadi dosen musik tradisonal  Batak Toba di Universitas Utara Malaysia (UMM) pada tahun 2003 selama setengah tahun. “Setelah itu saya kembali ke Medan dan menyelesaikan kuliah. Selesai kuliah, saya terjun mengembangkan musik Batak Toba,” paparya.

Keputusan memilih berkarya di musik Batak Toba, ternyata tidak sia-sia. Bukti itu terlihat dari sederetan prestasi diraihs Hardoni, seperti mendapat penghargaan pemain seruling terbaik se-Sumatera Utara dari almarhum Tengku Rizal semasa menjabat Gubernur Sumatera Utara, piagam penghargaan sebagai salah satu pengembang musik taradisional asal Samosir dari Bupati Samosir, Mangindar Simbolon.  

Hardoni juga pernah meraih peringkat 1 umum sebagai pelatih musik dalam rangka Festival Musik Tradisional Anak-anak tingkat Nasional di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta dari Presiden Republik Indonesia, Soesilo Bambang Yudhoyono dan masih banyak penghargaan lainnya atas kepiawaiannya dalam memainkan musik tradisional Batak.

Semangat pria ramah dalam melestarikan musik Batak Toba, sampai saat ini masih berkobar. Selain melalui berkesenian, dia sempat mengajar musik tradisional kepada mahasiswa di Unimed, dan sejak tahu 2011 sampai sekarang, aktif kembali mengajar di Universitas HKBP Nommensen.

Melalui berkesenian dan mengajar yang dilakoninya saat ini, Hardoni berharap, musik etnik Batak Toba dilestarikan dan menjadi kebanggaan masyarakat . “Kalau tidak kita, siapa lagi,” pungkasnya.


Nama           :   Hardoni Sitohang
Lahir            :  23 April 1978
Ayah            : Guntur Sitohang
Ibu               : Alm. Tiamsah Habeahan
Istri              : Rolina Margaretta Simamora
Anak            : 1 Putra, 1 Putri
Pendidikan: S1 Musik Unimed


Wednesday, 15 April 2015

Ketika Pengrajin Tenun Tradisonal di Taput Gelisah

Pengrajin tenun ulos dan sarung yang masih menggunakan alat Kasuksak (alat tenun bukan mesin) di Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) mengharapkan akan bantuan permodalan dan promosi hasil kerajinannya dari Pemerintah Kabupaten Taput.

Foto: www.nababan.wordpress.com

"Umumnya, kami para penenun memasarkan hasil tenunan, bukan pada pembeli langsung. Melainkan kepada para pengumpul. Itulah persoalan mendasar yang menjadikan para penenun kerap sebagai korban monopoli dari para pengumpul,” ungkap  Cristiani Simanjuntak (39) di Siatas Barita, Taput. 

Selain sebagai modal penopang aktivitas tenunnya agar tetap eksis, menurut warga Dusun Banjar Ginjang, Desa Enda Portibi, Siatas Barita, Taput ini, bantuan modal tersebut juga dapat digunakan untuk lepas dari ikatan para pengumpul tenunan, sehingga para penenun dapat memasarkan tenunnya dengan bebas dan juga ikut andil dalam penentuan harga hasil karya mereka.

"Padahal pasar dari tenunan ini sangat banyak bahkan hingga ke kawasan Jambi,Pekan baru KepriJakarta Karena itu jika kita bertenun dan dimodali oleh pemerintah kita bisa lepas dari ikatan para pengumpul,” ujar penenun yang masih menggunakan alat manual kasuksak itu.

Menurut Cristiani, ulos hasil tenunannya, pada dasarnya merupakan barang tenunan unggulan jika dinilai dari sisi harga. Sebab jika dijual kepada pembeli dan bukan pada pengumpul harganya berkisar Rp800 ribu hingga Rp3 juta per helai. Namun jika dijual kepada penadah harganya turun drastis pada kisaran harga Rp600 ribu hingga Rp1,5 juta.

Penenun lainnya dengan menggunakan alat tradisional kasuksak, Serita boru Silitonga (63), juga menyebutkan bahwa ancaman lain bagi para penenun adalah industri tekstil untuk barang tenunan yang biasa diproduksi dengan tenunan tangan.

Hadirnya hasil tenunan ulos dan sarung yang diproduksi industri tekstil dan dijual dengan harga yang sangat murah di pasaran, juga menjadi ancaman bagi mereka. 

"Saat ini, secara nyata, hasil pabrikan tersebut banyak didatangkan dari luar daerah ke Taput. Hal ini, juga harus menjadi perhatian Pemerintah,” pintanya.

Dia berharap, para penenun memang harus diperkuat sehingga kelak mampu bersaing dengan produk industri yang saat ini sudah masuk ke daerah itu.

Sementara Bupati Taput, Nikson Nababan, mengatakan, tenunan ulos di daerah Tapanuli pada dasarnya lahir untuk kebutuhan keseharian yang selanjutnya masuk dalam konsep adat. 

Saat ini yang harus diperhatikan guna melestarikan tenunan tersebut adalah fungsi. Karena itu, secara mutlak, penenun ulos masih merupakan bagian terpenting yang harus dipertahankan agar fungsi barang tenun ulos dapat dibudayakan dan dilestarikan.

“Untuk persoalan dukungan modal dan promosi pihak Pemkab Taput akan lebih maksimal lagi lewat Dinas Perindustrian dan Koperasi, sehingga para penun dapat terus beraktifitas sebagai bagian dari pengembangan ekonomi kreatif,” tandasnya. (Limakoma|M Manalu)engrajin tenun ulos dan sarung yang masih menggunakan alat Kasuksak (alat tenun bukan mesin) di Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) mengharapkan akan bantuan permodalan dan promosi hasil kerajinannya dari Pemerintah Kabupaten Taput.

"Umumnya, kami para penenun memasarkan hasil tenunan, bukan pada pembeli langsung. Melainkan kepada para pengumpul. Itulah persoalan mendasar yang menjadikan para penenun kerap sebagai korban monopoli dari para pengumpul,” ungkap  Cristiani Simanjuntak (39) di Siatas Barita, Taput. 
Foto:www.griyawisata.com

Selain sebagai modal penopang aktivitas tenunnya agar tetap eksis, menurut warga Dusun Banjar Ginjang, Desa Enda Portibi, Siatas Barita, Taput ini, bantuan modal tersebut juga dapat digunakan untuk lepas dari ikatan para pengumpul tenunan, sehingga para penenun dapat memasarkan tenunnya dengan bebas dan juga ikut andil dalam penentuan harga hasil karya mereka.

"Padahal pasar dari tenunan ini sangat banyak bahkan hingga ke kawasan Jambi,Pekan baru KepriJakarta Karena itu jika kita bertenun dan dimodali oleh pemerintah kita bisa lepas dari ikatan para pengumpul,” ujar penenun yang masih menggunakan alat manual kasuksak itu.

Menurut Cristiani, ulos hasil tenunannya, pada dasarnya merupakan barang tenunan unggulan jika dinilai dari sisi harga. Sebab jika dijual kepada pembeli dan bukan pada pengumpul harganya berkisar Rp800 ribu hingga Rp3 juta per helai. Namun jika dijual kepada penadah harganya turun drastis pada kisaran harga Rp600 ribu hingga Rp1,5 juta.

Penenun lainnya dengan menggunakan alat tradisional kasuksak, Serita boru Silitonga (63), juga menyebutkan bahwa ancaman lain bagi para penenun adalah industri tekstil untuk barang tenunan yang biasa diproduksi dengan tenunan tangan.

Hadirnya hasil tenunan ulos dan sarung yang diproduksi industri tekstil dan dijual dengan harga yang sangat murah di pasaran, juga menjadi ancaman bagi mereka. 

"Saat ini, secara nyata, hasil pabrikan tersebut banyak didatangkan dari luar daerah ke Taput. Hal ini, juga harus menjadi perhatian Pemerintah,” pintanya.

Dia berharap, para penenun memang harus diperkuat sehingga kelak mampu bersaing dengan produk industri yang saat ini sudah masuk ke daerah itu.

Sementara Bupati Taput, Nikson Nababan, mengatakan, tenunan ulos di daerah Tapanuli pada dasarnya lahir untuk kebutuhan keseharian yang selanjutnya masuk dalam konsep adat. 

Saat ini yang harus diperhatikan guna melestarikan tenunan tersebut adalah fungsi. Karena itu, secara mutlak, penenun ulos masih merupakan bagian terpenting yang harus dipertahankan agar fungsi barang tenun ulos dapat dibudayakan dan dilestarikan.

“Untuk persoalan dukungan modal dan promosi pihak Pemkab Taput akan lebih maksimal lagi lewat Dinas Perindustrian dan Koperasi, sehingga para penun dapat terus beraktifitas sebagai bagian dari pengembangan ekonomi kreatif,” tandasnya. (Limakoma|M Manalu)