Saturday, 28 March 2015

Bioskop di Medan, Dari Masa ke Masa

Bioskop Ria Tempo Doelo

Bioskop tidak terpisahkan dengan perkembangan perfilman di Indonesia termasuk di Kota Medan

Kegiatan Apresiasi Film Indonesia ke-3  digelar di Istanan Maimun, 13 September lalu, berjalan sukses menyedot perhatian insan film dan masyarakat Kota Medan. Salah satu stand yang ramai dikunjungi di event ini, adalah stand tentang sejarah perkembangan perfilman di Kota Medan. Di stand ini, pengunjung bisa
mengamati bagaimana sejarah perkembangan perfilman di Kota Medan. 

Dari berbagai sumber diperoleh, film ternyata sudah mulai  diputar di Kota Medan, sejak tahun 1940-an, semasa kedudukan kolonial. Film yang pernah diputar kala itu, yakni Loetoeng Kasaroeng, Eulis Atjih, Lily Van Java, Resia Boroboedoer,  Setangan Berloemoer Darah, Njai  Dasima, Rampok Preanger, Si Tjonat dan De Stem Des Bloed (njai siti). Kemunculan film di Medan kala itu juga menjadi awal kemunculan bioskop di Kota Medan.

Fanny Handayani, ketika masih kuliah di Fakultas Sastra, Universitas Sumatera Utara (USU), pernah menulis Sejarah Bioskop di Kota Medan, sebagai sekripsinya. Dari penggalian data yang dilakukannya dari berbagai sumber, bioskop ternyata sudah berkembang di Kota Medan sejak  tahun 70-an, dengan hadirnya Bioskop Deli, Riix Bioskop, Bioskop Capitol, Bioskop Morning, Orion Bioskop, Riu Bioskop, Bioskop Medan, Caty Bioskop, Orange Deli Bioskop dan Olimpia Bioskop.

Saat itu kondisi gedung bioskop masih sederhana dan tidak luas. Namun demikian, kehadiran bioskop berhasil menarik perhatian masyarakat pada masa itu. Bahkan, bioskop tidak pernah sepi dari penonton.

Sementara di tahun 80-an, bioskop  sudah berdiri di lahan sendiri dan tidak bergabung dengan bangunan lainnya. Bioskop juga telah memulai membuat iklan tentang penayangan jam tayang dan juga melakukan tayangan perdana bagi film-film baru yang ditayang pada tengah malam.

Dengan diadakannya iklan dan pemutaran perdana membuat masyarakat penasaran dan akhirnya berbondong-bondong datang ke bioskop.

"Kalau pada tahun 1990-an kita lebih mengenalnya dengan kata midnight, harga tiketnya yang dijual juga berbeda karena film baru yang ditayangkan jadi harga tiket jadi lebih mahal," ungkap Fanny Handayani.

Fanny Handayani, menyebutkan, di tahun 80-90-an bioskop banyak memutar film asing, seperti film Tamil atau film India, film Barat dan Film Malaysia. Film-film ini juga disaingi oleh film-film nasional.

Hermes XX1. Foto:www.medanguide.com

Berbeda seperti saat ini, gedung bioskop dikombinasikan dengan keberadaan pusat perbelanjaan seperti mall. Namun, seiringnya waktu dan semakin ketatnya persaingan, bioskop lama secara berlahan-lahan akhirnya banyak berhenti beroperasi.

Menurut Fanny Handayani, maju mundurnya dunia perbioskopan di Indonesia lebih disebabkan persaingan oleh perkembangan dunia televisi dan teknologi. Televisi mulai banyak digunakan masyarakat umum sehingga mengurangi intensitas masyarakat untuk datang nonton film ke bioskop, apalagi beberapa film sudah mulai sering diputar di televisi.

"Bagaimanapun juga bioskop telah memiliki paranan yang cukup penting bagi perkembangan dunia perfilman di Indonesia, karena bioskop merupakan salah satu wadah untuk memperkenalkan film-film Indonesia pada masyarakat umum," pungkasnya.
Post a Comment