Wednesday, 22 April 2015

In Memoriam Raja Radio Sumut

Kamis menjelang siang hari akhir Februari 2012 lalu, saya mendapat kesempatan mewawacarai Dimardi Abas, pemilik Radio KISS FM, yang saat ini sudah almarhum. Saya banyak bertanya tentang perjalanannya meraik kesuksesan dalam membangun bisnis Radio di Sumatera Utara. IBerikut ini artikel tentang kesuksesannya dalam membangun bisnis Radio di Sumatera Utara yang pernah dimuat di Kover Magazine edisi Maret 2012 lalu, yang mungkin bisa bermanfaat bagi pembaca.

Foto: www.terasmedan.com
Bila ingin tahu bagaimana membangun bisnis Radio. Sosok  Diamardi Abas lah  tepat untuk konsultasi. Merintis membangun stasion radio sejak tahun 1970,  ia kini sukses membangun tujuh stasiun radio lokal di Sumatera Utara.

Ia lebih akrab disapa “Bang Ucok”, meski sebenarnya nama aslinya Dimardi Abas. Di usianya yang sudah memasuki 64 tahun, penampilannya tetap mengikuti trend, sesuai dengan konsep Radio Kidung Indah Selaras Ssuara atau akrab didengar KISS FM  yang menyiarkan informasi, perkembangan musik dan trend  gaya hidup.

“KISS FM adalah jawaban kepada anak muda yang haus akan informasi, berita, musik dan gaya hidup terkini. Musik-musik yang sedang hip. Segmen pendengarnya jelas, yakni antara usia 18-25 tahun,”  sebut Dimardi saat Kover Magazine menyambangi kantornya di Jalan Cut Nyak Dien No. 16, Medan, Kamis akhir Ffebruari lalu.

KISS FM  telah lama melekat di telinga anak muda kota Medan. Ada pameo baru di kalangan anak muda yang mengatakan, jangan mengaku “gaul” kalau belum belum pernah mendengar Radio KISS FM. Maklum, stasiun radio yang didirikan sejak 1971 dengan nama awal Radio Echo Lima 41 ini, boleh dikatakan menjadi saluran informasi pertama yang memperdengarkan musik-musik terbaru yang sedang hits, baik dari tanah air maupun mancanegara.

Tak berlebihan bila KISS FM sudah dianggap menjadi barometer radio anak muda di Medan. “Konsepnya, what is in, what is out.  KISS FM selalu berusaha menjadi yang terdepan untuk menginformasikan issu terbaru musik dan gaya hidup,” ujar Dimardi Abas menjelaskan radio berfrekwensi 105.00 FM, yang mengusung tagline: “The Hottest Hits in Medan! itu.

Yang tak kalah menarik, alasan lulusan Fakultas Teknik Elektro Universitas Sumatera Utara (USU), Medan ini menjadikan KISS FM menjadi saluran berita yang mendepankan isu lokal karena melihat semua televisi dan media cetak  tidak mungkin mampu meng-cover isu lokal secara cepat. “Meski isu yang kami siarkan tidak begitu lengkap,” akui Dimardi.

Melebarkan Sayap
Menyadari semua kebutuhan pendengar tak bisa dijawab oleh satu radio saja. Dimardi pun kemudian melebarkan sayap dengan mendirikan sejumlah stasiun radio lain dibawah bendera group KISS yakni Star FM 104.6, Mix FM 90.8, Lafemme FM 88, Lite FM 92.8 , Yaska FM 100.2 di kota Tebing Tinggi dan 105 Radio Adia Utama (RAU) FM Kota Padangsidimpuan.

Semua radio milik suami Linda Tri Murni Maas ini, didirikan dengan segmen pendengar berbeda dengan tujuan untuk bisa mengakomodir seluruh  keinginan pendengar. Bila KISS FM yang pertama didirikannya pendengar setianya berusia 18-25 tahun.   Star FM melirik segmen pendengar antara usia 12-20 tahun, dengan isi siaran selalu menggunakan bahasa gaul Medan . “Kalau mau dengar ada ucapan ‘kau’, ‘aku’, ‘cemmana’, dan lain-lain. Nah, dengarlah Star FM,” kata Dimardi.

Sementara Lite FM untuk segmen pendengar  usia dewasa,, Mix FM dengan program mandarin,  Lafemme FM 88 menyajikan musik dan informasi seputar  lifestyle, entertainment dan kesehatan Wanita. Untuk mengakomodir pendengar di luar kota Medan, Dimardi mendirikan RAU FM di kota Padang Sidempuan dan Radio Yaska Jaya FM di Tebing Tinggi. Tak   heran bila julukan sebagai Raja Radio Lokal di Medan mulai mengarah kepadanya dengan jumlah karyawannya saat ini  telah mencapai 100 orang.
.
Berawal dari Hobi Radio Amatiran
Keberhasilan Dimardi merangkul pendengar dari berbagai segmen memang bukanlah sebuah pekerjaan yang begitu saja turun dari langit. Kesuksesannya berawal dari hobi radio amatiran.  Hanya bermodal kreatitas merangkai komponen-komponen elektronik, pada tahun 1970 ia mendirikan radio Echo Lima 41. Ketika itu Radio Echo Lima 41 tanpa mengantongi izin siaran .

Kehadiran Radio Echo Lima 41 pun tak lepas dari persoalan isu politik, yang diidentikkan sebagai jargon budaya barat kapitalisme karena juga kerap memperdengarkan musik-musik dari barat, seperti The Beatles, Elvis Presley, Deep Purple, Leed Zeppelin, atau band papan atas yang sedang meroket di era 1960-1970-an.

Menggunakan nama asing untuk radio pun pada saat itu dianggap tabu. Belakangan, entah bermaksud membuat birokrat jengkel atau tidak, nama Echo Lima 41 pun diganti menjadi KISS FM. Toh, nama ini semula sempat masih dianggap mengusung nama asing. “Padahal, KISS adalah singkatan Kidung Indah Selaras Suara,” ujarnya terseyum sedikit tertawa.

Meski awalnya berangkat dari hobi radio amatiran, perusahaan radio Echo Lima 41, kini telah menjadi cikalbakal jaringan “raksasa” radio di Sumut. Dimardi, sosok yang juga mencintai tanaman hias dan seni rupa ini dan aktif di berbagai organisasi, menyadari meskipun teknologi internet telah merambah media dewasa ini, posisi radio tetap menjadi bagian terpenting di tengah peradaban manusia.


Menurut Dimardi sendiri, peluang untuk mendirikan industri penyiaran radio sebenarnya masih terbuka luas di Medan, meskipun pemainnya semakin banyak dari masa ke masa. “Masih banyak peluang sebenarnya. Asalkan kita jeli melihatanya banyak ide dan kreatif,” paparnya.

Monday, 20 April 2015

Saya Jatuh Cinta dengan Musik Etnik Batak

Hardoni Sitohang meraih sederetan prestasi dari upayanya melestarikan musik Batak. Itu karena kecintaannya kepada musik Batak.

Foto: Dok. Pribadi
Sebuah piagam Award 2012  Pemuda Penggerak Pelestarian Kesenian Rakyat dari Rahudman Harahap semasa menjabat sebagai Wali Kota Medan dan Zulham Efendi Siregar, Ketua DPD KNIP Kota Medan, terpajang  di dinding rumah Hardoni Sitohang, 36 Tahun, Jalan Bunga Terompet V, Komplek Grand Koserna 2 Nomor 8 O, Padang Bulan Medan, Kamis pertengahan Januari lalu.

Sementara seperangkat alat musik gondang Batak Toba, menghiasi bagian dapur. Alat-alat musik tradisional Batak Toba ini tidak pernah jauh dari kehidupan Hardoni Sitohang. “Saya sudah jatuh cinta dengan musik Batak. Bunyinya menarik roh kita,  berbeda dengan musik barat,” ungkap Hardoni.

Hardoni sudah mengenal alat musik  Batak Toba sejak kecil. Ayahnya, Guntur Sitohang, merupakan seorang pemain musik tradisional Batak Toba. Meski dilahirkan di keluarga pemusik tradisional Batak Toba, Hardoni mengaku, sempat tidak berfikir untuk menjadi musisi musik etnik.  Namun karena melihat perjuangan ayahnya, melestarikan musik  Batak Toba, hati Hardoni akhirnya ikut terpanggil.  ”Sekarang mulai dari bapak sampai kami (anak), berjuang melestarikan musik Batak,” ujarnya.

Untuk mengasa pengetahuan dan kemampuan di musik etnik, setelah menamatkan SMA, Hardoni kemudian melanjutkan pendidikan seni musik di Universitas Negeri Medan (Unimed). Kepiawaianya memainkan alat musik tradisonal Batak Toba, membuatnya bersama Tim Unimed, sering mengikuti berbagai event perlombaan festival musik budaya di Sumatera Utara, nasional bahkan hingga ke mancanegara, seperti Thailand, Malaysia, Singapura, Cina, Australia, Jerman, Belanda dan Perancis. Prestasi yang diraihpun gemilang. 

Foto: Dok. Pribadi
Hardoni bercerita, dari mengikuti perlombaan festival musik budaya di Malaysia, dia mendapat tawaran menjadi dosen musik tradisonal  Batak Toba di Universitas Utara Malaysia (UMM) pada tahun 2003 selama setengah tahun. “Setelah itu saya kembali ke Medan dan menyelesaikan kuliah. Selesai kuliah, saya terjun mengembangkan musik Batak Toba,” paparya.

Keputusan memilih berkarya di musik Batak Toba, ternyata tidak sia-sia. Bukti itu terlihat dari sederetan prestasi diraihs Hardoni, seperti mendapat penghargaan pemain seruling terbaik se-Sumatera Utara dari almarhum Tengku Rizal semasa menjabat Gubernur Sumatera Utara, piagam penghargaan sebagai salah satu pengembang musik taradisional asal Samosir dari Bupati Samosir, Mangindar Simbolon.  

Hardoni juga pernah meraih peringkat 1 umum sebagai pelatih musik dalam rangka Festival Musik Tradisional Anak-anak tingkat Nasional di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta dari Presiden Republik Indonesia, Soesilo Bambang Yudhoyono dan masih banyak penghargaan lainnya atas kepiawaiannya dalam memainkan musik tradisional Batak.

Semangat pria ramah dalam melestarikan musik Batak Toba, sampai saat ini masih berkobar. Selain melalui berkesenian, dia sempat mengajar musik tradisional kepada mahasiswa di Unimed, dan sejak tahu 2011 sampai sekarang, aktif kembali mengajar di Universitas HKBP Nommensen.

Melalui berkesenian dan mengajar yang dilakoninya saat ini, Hardoni berharap, musik etnik Batak Toba dilestarikan dan menjadi kebanggaan masyarakat . “Kalau tidak kita, siapa lagi,” pungkasnya.


Nama           :   Hardoni Sitohang
Lahir            :  23 April 1978
Ayah            : Guntur Sitohang
Ibu               : Alm. Tiamsah Habeahan
Istri              : Rolina Margaretta Simamora
Anak            : 1 Putra, 1 Putri
Pendidikan: S1 Musik Unimed


Wednesday, 15 April 2015

Ketika Pengrajin Tenun Tradisonal di Taput Gelisah

Pengrajin tenun ulos dan sarung yang masih menggunakan alat Kasuksak (alat tenun bukan mesin) di Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) mengharapkan akan bantuan permodalan dan promosi hasil kerajinannya dari Pemerintah Kabupaten Taput.

Foto: www.nababan.wordpress.com

"Umumnya, kami para penenun memasarkan hasil tenunan, bukan pada pembeli langsung. Melainkan kepada para pengumpul. Itulah persoalan mendasar yang menjadikan para penenun kerap sebagai korban monopoli dari para pengumpul,” ungkap  Cristiani Simanjuntak (39) di Siatas Barita, Taput. 

Selain sebagai modal penopang aktivitas tenunnya agar tetap eksis, menurut warga Dusun Banjar Ginjang, Desa Enda Portibi, Siatas Barita, Taput ini, bantuan modal tersebut juga dapat digunakan untuk lepas dari ikatan para pengumpul tenunan, sehingga para penenun dapat memasarkan tenunnya dengan bebas dan juga ikut andil dalam penentuan harga hasil karya mereka.

"Padahal pasar dari tenunan ini sangat banyak bahkan hingga ke kawasan Jambi,Pekan baru KepriJakarta Karena itu jika kita bertenun dan dimodali oleh pemerintah kita bisa lepas dari ikatan para pengumpul,” ujar penenun yang masih menggunakan alat manual kasuksak itu.

Menurut Cristiani, ulos hasil tenunannya, pada dasarnya merupakan barang tenunan unggulan jika dinilai dari sisi harga. Sebab jika dijual kepada pembeli dan bukan pada pengumpul harganya berkisar Rp800 ribu hingga Rp3 juta per helai. Namun jika dijual kepada penadah harganya turun drastis pada kisaran harga Rp600 ribu hingga Rp1,5 juta.

Penenun lainnya dengan menggunakan alat tradisional kasuksak, Serita boru Silitonga (63), juga menyebutkan bahwa ancaman lain bagi para penenun adalah industri tekstil untuk barang tenunan yang biasa diproduksi dengan tenunan tangan.

Hadirnya hasil tenunan ulos dan sarung yang diproduksi industri tekstil dan dijual dengan harga yang sangat murah di pasaran, juga menjadi ancaman bagi mereka. 

"Saat ini, secara nyata, hasil pabrikan tersebut banyak didatangkan dari luar daerah ke Taput. Hal ini, juga harus menjadi perhatian Pemerintah,” pintanya.

Dia berharap, para penenun memang harus diperkuat sehingga kelak mampu bersaing dengan produk industri yang saat ini sudah masuk ke daerah itu.

Sementara Bupati Taput, Nikson Nababan, mengatakan, tenunan ulos di daerah Tapanuli pada dasarnya lahir untuk kebutuhan keseharian yang selanjutnya masuk dalam konsep adat. 

Saat ini yang harus diperhatikan guna melestarikan tenunan tersebut adalah fungsi. Karena itu, secara mutlak, penenun ulos masih merupakan bagian terpenting yang harus dipertahankan agar fungsi barang tenun ulos dapat dibudayakan dan dilestarikan.

“Untuk persoalan dukungan modal dan promosi pihak Pemkab Taput akan lebih maksimal lagi lewat Dinas Perindustrian dan Koperasi, sehingga para penun dapat terus beraktifitas sebagai bagian dari pengembangan ekonomi kreatif,” tandasnya. (Limakoma|M Manalu)engrajin tenun ulos dan sarung yang masih menggunakan alat Kasuksak (alat tenun bukan mesin) di Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) mengharapkan akan bantuan permodalan dan promosi hasil kerajinannya dari Pemerintah Kabupaten Taput.

"Umumnya, kami para penenun memasarkan hasil tenunan, bukan pada pembeli langsung. Melainkan kepada para pengumpul. Itulah persoalan mendasar yang menjadikan para penenun kerap sebagai korban monopoli dari para pengumpul,” ungkap  Cristiani Simanjuntak (39) di Siatas Barita, Taput. 
Foto:www.griyawisata.com

Selain sebagai modal penopang aktivitas tenunnya agar tetap eksis, menurut warga Dusun Banjar Ginjang, Desa Enda Portibi, Siatas Barita, Taput ini, bantuan modal tersebut juga dapat digunakan untuk lepas dari ikatan para pengumpul tenunan, sehingga para penenun dapat memasarkan tenunnya dengan bebas dan juga ikut andil dalam penentuan harga hasil karya mereka.

"Padahal pasar dari tenunan ini sangat banyak bahkan hingga ke kawasan Jambi,Pekan baru KepriJakarta Karena itu jika kita bertenun dan dimodali oleh pemerintah kita bisa lepas dari ikatan para pengumpul,” ujar penenun yang masih menggunakan alat manual kasuksak itu.

Menurut Cristiani, ulos hasil tenunannya, pada dasarnya merupakan barang tenunan unggulan jika dinilai dari sisi harga. Sebab jika dijual kepada pembeli dan bukan pada pengumpul harganya berkisar Rp800 ribu hingga Rp3 juta per helai. Namun jika dijual kepada penadah harganya turun drastis pada kisaran harga Rp600 ribu hingga Rp1,5 juta.

Penenun lainnya dengan menggunakan alat tradisional kasuksak, Serita boru Silitonga (63), juga menyebutkan bahwa ancaman lain bagi para penenun adalah industri tekstil untuk barang tenunan yang biasa diproduksi dengan tenunan tangan.

Hadirnya hasil tenunan ulos dan sarung yang diproduksi industri tekstil dan dijual dengan harga yang sangat murah di pasaran, juga menjadi ancaman bagi mereka. 

"Saat ini, secara nyata, hasil pabrikan tersebut banyak didatangkan dari luar daerah ke Taput. Hal ini, juga harus menjadi perhatian Pemerintah,” pintanya.

Dia berharap, para penenun memang harus diperkuat sehingga kelak mampu bersaing dengan produk industri yang saat ini sudah masuk ke daerah itu.

Sementara Bupati Taput, Nikson Nababan, mengatakan, tenunan ulos di daerah Tapanuli pada dasarnya lahir untuk kebutuhan keseharian yang selanjutnya masuk dalam konsep adat. 

Saat ini yang harus diperhatikan guna melestarikan tenunan tersebut adalah fungsi. Karena itu, secara mutlak, penenun ulos masih merupakan bagian terpenting yang harus dipertahankan agar fungsi barang tenun ulos dapat dibudayakan dan dilestarikan.

“Untuk persoalan dukungan modal dan promosi pihak Pemkab Taput akan lebih maksimal lagi lewat Dinas Perindustrian dan Koperasi, sehingga para penun dapat terus beraktifitas sebagai bagian dari pengembangan ekonomi kreatif,” tandasnya. (Limakoma|M Manalu)

Pemkab Simalungun akan Bangun Rest Area Untuk wisatawan



Pemkab Simalungun berencana membangun Rest Area (kawasan peristirahatan sementara) di Desa Parbalokan, Kecamatan Purba, untuk wisatawan yang ingin menikmati sajian kuliner dan cenderamata khas Simalungun.

Hal itu dikemukakan Bupati DR JR Saragih SH MM saat meninjau lokasi rest area tersebut, baru-baru ini. "Hasil kerajinan tangan seperti  ulos, ukiran, batik maupun hasil olahan petani seperti kerupuk dan kopi akan dipajang di lokasi rest area di Desa Parbalokan," paparnya.

Ia mengemukakan, lokasi itu sengaja dirancang pihak Pemkab Simalungun sebagai upaya untuk menarik pariwisata dan meningkatkan arus kunjungan di daerah yang berfalsafah "Habonaron Do Bona" itu. Bupati menyatakan, di areal tersebut juga akan ditampilkan sejarah budaya Simalungun, sehingga diharapkan setiap wisatawan berada di rest area bisa mengetahui sejarah budaya Simalungun.

Guna mewujudkan hal tersebut, seluruh fasilitas perajin atau pun penenun akan disediakan pihak pemkab dengan tujuan agar bisa menghasilkan hasil kerajinan secara baik. "Kita berencana, setiap bulan para perajin akan diberi gaji dan fasilitas BPJS agar hasil kerjanya efektif. Nantinya, hasil kerajinan itu dibeli pihak Pemkab Simalungun, selain dibeli wisatawan. Disini juga akan kita tampilkan makanan khas simalungun,” tutur Bupati.

Pihak Pemkab Simalungun juga akan menggandeng travel maupun menjalin kerjasama dengan pihak pengelola hotel, dengan melibatkan empat dinas terkait yaitu Dinas Pariwisata, Disperindag, Disdik dan Dinas Koperasi. “Jadi setiap wisatawan yang berkunjung ke Simalungun akan kita wajibkan singgah ke Rest Area disambut penari-penari Simalungun. Kita pandu, kita siapkan paket-paket perjalanan. Disini (rest area, red) para siswa dapat belajar tentang seni dan budaya Simalungun,” sebutnya.

Bupati berharap seluruh elemen masyarakat mendukung program tersebut agar pariwisata Simalungun berkembang, sehingga diminati wisatawan lokal maupun manca negara. “Kita akan tata dengan baik rest area ini termasuk fasilitas pendukungnya, sehingga diminati wisatawan,” ujarnya lantas memerkirakan rest area dimaksud beroperasi sekira April 2015. (limakoma|Hendri)

Wednesday, 8 April 2015

Melihat Mobil Terbaru di Pameran Otomotif Medan 2015


Sebanyak 12 Agen Pemegang Merek (APM) produsen mobil, yakni Chevrolet, Daihatsu, Datsun, Ford, Honda, Hyundai, KIA, Mistsubishi Motors, Nissan, Renalut, Tata Motors dan Toyota, mengikuti Pameran Otomotif Medan (POM) 2015 yang digelar Dyandra Promosindo, Rabu (8/4) hingga Minggu (12/4), di Santika International Convention Center (SICC), Hotel Santika Dyandra, Jalan Pengadilan, Medan. 

Foto:dapurpacu.com

Pameran bergengsi ini juga diikuti sebanyak 22 industri pendukung otomotif mulai perusahaan aksesoris hingga lembaga pembiayaan (leasing) pembelian mobil juga ikut ambil bagian.

“Tahun ini kita menargetkan 37 ribu pengunjung, meningkat sedikit dari tahun sebelumnya yang hanya 36 ribu pengunjung. Tapi bila dilihat dari minat masyarakat Kota Medan dan Sumatera Utara (Sumut), kami yakin jumlah pengunjung tembus 40 ribu,” kata Manajer Divisi Otomotif Dyandra Promosindo, Bunga Swastika Putri, Selasa (7/4). (Baca Juga: Nyaman dan Aman dengan Kaca Film)

Untuk melihat pameran ini, kata Bunga Swastika Putri, harga tiket masuk untuk hari biasa Rp5 ribu, dan Rp10 ribu pada akhir pekan. Pameran berlangsung dari pukul 11.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB pada hari biasa dan pukul 10.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB pada akhir pekan.

“Tahun lalu nilai transaksi mencapai Rp131,11 miliar, jadi tahun ini kami manargetkan nilai transaksi selama pameran mencapai Rp147 miliar. Kami optimis target ini tercapai melihat pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara, khususnya Kota Medan yang relatif membaik,” tandasnya.
Foto:otomotif.metrotvnews.com

Di tempat yang sama, Direktur Dyandra Promosindo, Hendra Noor Saleh mengatakan, POM 2015 ini akan menjadi barometer bagi industri otomotif nasional. 

“Pameran di Medan ini sebagai pembuka untuk pameran serupa di Semarang, Surabaya, dan pameran puncak di Indonesia International Motor Show, yang akan kita gelar di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Agustus ini,” katanya.

Disebutkannya, seluruh APM dipastikan akan mengusung produksi terbaru. “Tapi yang paling ditunggu-tunggu pencinta otomotif di Medan adalah Toyota All New Vellfire dan Nissan NP300 Navara, yang beberapa hari lalu launching di Jakarta,” tandasnya. 

Kegiatan ini juga didukung pula suplemen hiburan, di antaranya pemilihan Miss Motor Show dari duta masing-masing merek. Ada pula Stand Up Comedy Competition dengan peserta komunitas dan masyarakat. Plus kunjungan Student Goes to Dyandra’s Exhibition oleh mahasiswa, dan pemilihan booth favorit selama penyelenggaraan. (midian coki)

Home History of Ethnic Karo



The traditional house is a part of history and civilization identity, culture and community life Karo tribe. Architecture and ornaments on the walls of the house could describe it. 


Cold temperatures are still blowing gently on the skin surface so arrive at Linga Cultural Village, Simpang Empat, Karo, North Sumatra, Indonesia, Wednesday afternoon before the beginning of October. 

Geographically Linga Cultural Village is located at an altitude of about 1,200 meters above sea level, approximately 15 km from Berastagi and 5 km from the city Kabanjahe, capital of Karo. 

Although only a village predominantly farmers, Lingga Cultural Village, became one of the tourist destinations in the Karo district frequented by local and foreign tourists. 

In addition to beautiful nature, decorated expanse of fruit and vegetables plantation of green with views of Mount Sinabung, appeal stored in this village can still be found Karo traditional house hundreds of years old. 

Formerly custom home Karo here still many standing. However, because of the legacy, by the heirs divided and eventually transformed into a regular house. partially again, condition  already damaged with age. 

However, traces of traditional houses, as a symbol of civilization Karo tribe, still can be seen from the three ancient Karo traditional buildings are still standing strong. The third building, the traditional house (House Gerga) 12 Jabu (rooms), Home Striped Come and Sapo Ganjang which are located adjacent to each other. Concerned the old building is deformed or destroyed by age, Karo District Government finally set it as a cultural heritage, since 10 years ago. 

Gerga house founded around 1860 and then by King Undo Sibayak Linga. Greater part of society call, 12 jabu which means inhabited by 12 families in it. 

Not far from the traditional house Undo Sibayak Linga King, there are established Sinulingga Come Home Striped Ginger House and Beruna approximately 1862 children were inside inhabited for 8 families. 

In addition there are old buildings named Sapo Ganjang, founded in 1870 is used as a storage space of deliberation and rice, but now by Sinulingga community on facebook enabled the Children's Reading Garden. 


Architecture and Unique Ornaments 
Among these three buildings, houses Linga King Undo Sibayak most widely visited tourist. In addition to the old age, this home tanpilan more riveting than others. It can be seen with various ornaments carvings adorn the walls of this house. 

Each ornament contains a special meaning as a symbol of community wisdom Karo tribe and give the impression of grandeur and beauty. 

Not much different from Belang Come Home, at the bottom of the house there is a pit that was used as cattle sheds and store firewood. 

Another uniqueness of this house, it can be seen from the mast house, the walls are made of interlocking wood without using nails with only tied with rope fibers. It is said that in ancient times, the architect of the Karo tribe already has a durability Ability to design a house, for example, in palas between the foundation stone and wooden pillars supporting the house, coated stem fibers that point when the earthquake rocked, then the house will follow the direction of oscillation. 

On the porch of the house, stairs and supporting the roof, made of bamboo. While the roof of the house itself, all using fibers. At the top of the roof of custom homes, both ends of the roof, each equipped with two buffalo horns. In the past, indigenous peoples trust Karo buffalo horn as repellent reinforcements. 

While in the house, which means there are 12 rooms, 1 family 1 room. Almost in front of every door available kitchen. One of the rooms here was inhabited by King Undo Sibayak Linga which is said to live polygamy. 

Originally Gerga house is inhabited by 12 families, but now only inhabited one of the descendants of King Undo Sibayak Linga, Damson Tarigan and his wife, Januwarti Boru Sitepu (42), along with four of his children. Unfortunately, when visiting this house, only Januwarti visible. 

"Abstinence if your house is empty because we are afraid broken created by termites. Pengawatnya smoke, so I do not use LPG cooking," said Jawarita who was busy cooking for dinner supplies. 

Not far from where she was sitting, there is a kind of wooden boxes made of wood called the composed three. The Ganjang used as fire wood storage area, the middle is used to store kitchen utensils and the hole is used for storing food such as fish, vegetables and so on. 

Architectural uniqueness, beauty and strength carving ornaments this house, make foreign tourists spellbound. Every foreign tourists who come to leave their own stories will admiration. 

Januwarti remember, most recently in October 2013 and then, a tourist from Holland had lived for three months and involved renovating this house. In addition, a citizen of the United States stayed for five days just looking specifically for wood, such as wood used in this house. 

Not just only that, a foreign tourist has also expressed its intention to buy this house worth Rp 1 billion to be used as a private villa. "But we refused. This is our tradition. I have to defend it," said Januwarti. 

Besides frequented by tourists, Januwarti mention, school children, college students from the city of Medan where too often often stay here. 
  
Januwarti expect serious Karo regency government to preserve the traditional houses remaining in the village, as a relic of history. (Midian Coki | MID Magz) 

Link: garuda-indonesia.com, www.pegipegi.com, www.traveloka.com

Tuesday, 7 April 2015

Collection of Antique Jimmy Siahaan

There is no view of the outside of the house interesting look at the legacy of the Netherlands in Lt. Suprapto No. 11, Medan, North Sumatra, Indonesia, on Thursday mid-August. However, after entering into the inside, the eye was struck by the different types of antiques.

Various household furniture made of wood, communication tools, electronic and other goods to hundreds of years old, can still be seen. That's not all. "In my house in Jakarta, there are many more," said Ir Jimmy Siahaan MCP, the owner of the antique.

The whole antiques belonging to Jimmy, almost all parts of the packed house. Sangkin number, Jimmy was not remember the numbers. "But if something is missing, I would know," said Jimmy Siahaan.

Hobby of collecting antiques in the liver retired Civil Servant is very large. When you have love, said Jimmy, although there is no money, debt so.

So no wonder, this male figure among collectors and fans of antiques in the country, especially in the city of Medan, is no stranger. In fact, a number of important people in the city of Medan, hooked to the collection, to be willing to pay hundreds of millions of dollars.

Although much interested in buying collections, Jimmy did not make his home like an antiques dealer shop. "I do not open. If most of privacy could interfere, eventually interfere, "he said.

Hobby of collecting antiques, actually started work at Jimmy, while still architecture student at the Institute of Technology Bandung (ITB) since 1972 ago.

As a child overseas are extra cautious in spending, he choseto buy the furniture in the room needs kostnya from flea market in Bandung.

"It was the first time I bought," Jimmy said as he showed a unique swivel chair made of wood.


Jimmy claimed to prefer antiques made of wood, especially furniture such as cabinets, chairs, tables and so on. Not surprisingly, most of the items collection is furniture.

"I am pleased to see the goods of wood, especially if it is laid," he smiled.

Jimmy still remember, when his hobby to antiques passionate, could make the owner kostnya stifling. "Do not buy goods, later filled my house," said Jimmy given reprimand him when the owner of the boarding house.

However, the spirit of Jimmy to collect old items, continues to this day. Most lots of antiques was obtained in Java. While still active as a civil servant and is often served out of town. "Most of the Surabaya, Malang and Semarang," he said.

Until the 1990s, Jimmy thought of establishing a resort with antique atmosphere in Tapanuli. However, because of high land prices, he chose finally buy a house they occupy now and move sebahagian collectibles to Medan. However, these new homes occupied in 1995 after stops working.

In this house, Jimmy now utilize his time more focused with his collection. Any items which saw, took him past her mind's eye witness.

(Coki Simatupang|MID MAGZ)

Saturday, 4 April 2015

Coffee Garden Centres in North Sumatra

Among the commodities of plantations, coffee has become one of the mainstays of North Sumatra Province, Indonesia. Well, for those of you who want to know more closely, following the coffee-producing center in a number of districts, North Sumatra, Indonesia, Medan Look compiled from various sources:


1. Mandailing Natal
This district is very well known with Mandailaing Coffee, Arabica coffee is Spesaliti. The advantages of this than the Robusta coffee is, the more savory aroma, taste better and have lower levels of caffeine. Mandailaing coffee grows at an altitude of 1,700 meters above sea level in the district are Ulu Pungkut (Hulu Godang), District Pakantan and Muara.

2. Humbang Hasundutan
Humbang Hasundutan is one of Arabica coffee production centers spread across seven districts, namely District Paranginan, District Lintongnihuta, District Doloksanggul, District Pollung, District and Sub-District Sijamapollang Onanganjang.
This situation is certainly supported by geographic location, temperature and rainfall are suitable for growth so vast coffee plantations tend to increase.
Lintong coffee Arabica coffee typical designation for Humbang Hasundutan already known long since hundreds of years ago and is now a trade mark which is very famous in the international market with a variety of names such as Sumatra Lintong Arabica, Sumatra Lintong Mandheling, Blue Batak, and others.

Potential Coffee in Humbang Hasundutan

Year 2012 5.982 Tons
Year 2011 5.816 Tons
Year 2010 5.656 Tons

3. Dairi
Dairi produce two types of coffee, the Arabica and Robusta which has a distinctly different flavor. Bear a proportion of home industry in this district only manage robusta coffee alone. While Arabica coffee for export.
Based on data from the Dairi Regency in Figures 2012, coffee plantations in this area covering 18 999 hectares or 9.86% of the total area of ​​192 180 hectares Dairi. Dairi located at an altitude of 1,066 meters above sea level, making it suitable for the cultivation of coffee.

Potential Coffee in Dairi

Year 2012 11.145 Tons 
Year 2010 12.847 Tons 
Year 2009  2.606 Tons
Yera 2008 18.168 Tons

4. Samosir
In Samosir coffee plant species known as Debt Sigarar. Debt Sigarar coffee is Arabica coffee yielding varieties whose names are predefined by the Decree of the Minister of Agriculture No. 205 / Kpts / SR.120 / 4/2005 About Determination Coffee Varieties "Sigarar Utang" as Varieties.
Sigarar Utang coffee is said because farmers believe that the results of the coffee can immediately pay the debt capital when planting for coffee planting time is very short, where this coffee fruit at the age of one year and eight months.
Samosir regency has the potential for coffee plantation given the hilly topography. Coffee commodity production center in this district, which is in District Ronggur Nihuta, District and Sub-District Pangururan Palipi.

5. Karo
The coffee plants spread across the Karo District and most widely respectively located in  Merek, Tiga Panah, Simpang Empat, Payung dan Munthe. Currently Sub Brand is better known as a center for the production of coffee, because this region is a line of coffee plant development and has now reached 1500 hectares. Developed coffee is Arabica.
In the future planned to become a regional Sub Brand KIMBUN-COFFEE where starting from planting to processing into powder concentrated in Sub Brand. Now recorded area of ​​5,045 hectares with production 10837.85 tons of coffee plants in Karo.

6. North Tapanuli
In North Tapanuli, coffee plants is one of the leading commodities smallholders and excellent long-established/cultivated communities for generations in almost all districts. Species that are developed are Coffee Arabica, Coffee Liberika and Robusta coffee.
Coffee Plant Lintong of Arabica species has been known in foreign countries that have a comparative advantage over other coffee in Indonesia. Lintong coffee is Natural Endowment for North Tapanuli has advantages taste like: aroma, taste and flavor are excellent and the quality is higher.
Area of ​​21 362 hectares of coffee plantations spread over 15 districts with production 8058.88 tons.

7. Simalungun
Coffee plants in Simalungun cultivated in 18 districts, as production centers in the district are: Raya, Panel, Sidamanik, dan Dolok Pardamean, following subdistricts: Silima Kuta, Jorlang Hataran, Dolok Glare, Purba, GS Bolon and Dolok Panribuan.
Investment Coordinating Board (BKPM), a species of coffee which was developed in Simalungun, namely Coffee Robusta and Arabica Coffee. Land area of ​​2682.9 ha and Robusta Coffee Arabica coffee 7283.41 ha.
Simalungun at an altitude of 1,000-1,400 meters above sea level is perfect and ideal for coffee plants. (Midian Coki)

Medan Fashion Culture Festival 2015

For those of You who want to know the progress of Fashion Culture, Medan Fashion Culture Festival 2015, the right to be visited. This event will be held on 22 to 26 April 2015 in Centre Point Mall, Jalan Jawa, Medan, North Sumatra, Indonesia.


This event was initiated by the famous designer of Medan, Torang Sitorus together national origin Sumatra fashion designer, Edward Hutabarat and fashion designer, Mira Subiakto.

This event is expected to raise the potential of 33 districts / cities in North Sumatra as well motivate the growth of young designers veteran of North Sumatra able to take part in the national, and even international.

"The idea was inspired from several similar events are Indonesia Jakarta Fashion Week and Fashion ad Food Festival," said Torang Sitorus after meeting the Chairman of North Sumatra, PKK Chief, Sutias Handayani in the governor's official residence at Jalan Sudirman area of ​​Medan North Sumatra on Wednesday (1/4) night, as quoted Medan Look of limakoma.com.

Sutias Handayani responded positively to the performances that will put the culture of the North Sumatra. On that occasion, he ordered that carries clothing made from woven fabric typical of Sumatra without having to leave the eastern manners.

Sutias Handayani argued, Sumatra rich fabrics such as Pakpak, Dairi, Toba, Simelungun, Tapsel, Nias, Tapteng and other areas. "From the diversity of this woven fabric Sumatra will increasingly exist at national and international level.

Well, for those who are interested in attending this event, come to cetre Point Mall, Jalan Java, Medan, 22 to 26 April 2015. (Midian coki)

Yuk, ke Medan Fashion Culture Festival 2015

Bagi Anda yang ingin mengetahui perkembangan Fashion Culture, Medan Fashion Culture Festival 2015, tepat untuk dikunjungi. Event  ini akan diselenggarakan pada 22-26 April 2015 di Cetre Point Mall, Jalan Jawa, Medan.  

Foto: www.indonesiakreatif.net

Event ini digagas disainer kondang Kota Medan, Torang Sitorus bersama perancang busana nasional asal Sumut, Edward Hutabarat dan perancang busana, Mira Subiakto. 

Event (Lihat juga Agenda Event di Medan April 2015) ini diharapkan mampu membangkitkan potensi 33 kabupaten/kota di Sumut sekaligus memotivasi tumbuhnya para perancang muda kawakan dari Sumut yang mampu berkiprah di tingkat nasional, bahkan internasional.

"Ide ini terinspirasi dari beberapa even serupa antara lain Indonesia Fashion Week dan Jakarta Fashion ad Food Festival," kata Torang Sitorus usai menghadap Ketua TP PKK Sumut, Sutias Handayani di rumah dinas gubernur Sumut kawasan Jalan Sudirman Medan, Rabu (1/4) malam. 

Sutias Handayani menyambut positif pagelaran yang akan mengangkat kebudayaan Sumut itu. Pada kesempatan itu, ia berpesan agar mengusung busana berbahan kain tenun khas Sumut tanpa harus meninggalkan adab ketimuran.

Sutias Handayani mengemukakan, Sumut kaya akan kain tenun seperti Pakpak, Dairi, Toba, Simalungun, Tapsel, Nias, Tapteng dan daerah lainnya. "Dari keragaman kain tenun ini Sumut akan semakin eksis di tingkat nasional dan international. 

Nah, bagi Anda yang tertarik mengikuti event ini, datang ke Cetre Point Mall, Jalan Jawa, Medan, 22-26 April 2015.(midian coki)