Sunday, 3 May 2015

Menjaga Aset Budaya Tari Serampang XII



Tarian Serampang XII merupakan aset budaya Melayu Sumatera Utara. Dahulu tarian ini diciptakan sebagai tari pergaulan di lingkungan Kesultanan Negeri Serdang pada masa pemerintahan Tuanku Sulaiman Shariful Alamshah. Kemudian pada masa Pemerintahan Presiden Soekarno, tari ini diangkat menjadi Tari Pergaulan dan disebarkan ke seluruh Indonesia bahkan sampai Manca Negara. Namun sayangnya persebaran tari ini juga tidak diimbangi dengan kepedulian serta kecintaan generasi muda sehingga ada faktor kemungkinan tari ini suatu saat akan terlupakan ataupun akan di klaim oleh pihak lain. Lantas sejauh mana 
keberlangsungan tarian ini di era modern dan globalisasi saat ini?, berikut petikan wawancara dengan Tengku Mira Sinar, salah satu keturunan Kesultanan Negeri Serdang yang terus aktif melestarikan Tarian Serampang XII di bawah Sinar Budaya Group.  

Bagaimana awalnya historis keberadaan Tari Serampang XII menjadi salah satu kehidupan adat Melayu?

Tarian dan lagu ini mendapat pengaruh dari Portugis ataupun Spanyol. Keduanya dapat dibenarkan sebab kedua negara tersebut dahulu menjadi satu negara di bagian paling barat benua Eropa. Oleh karena langkahnya dinamis serta gembira, dan bagi para penari dapat menunjukkan kesigapan, gaya dan keindahan seni tari, maka ia diterima oleh masyarakat di Sumatera Timur. Hanya saja penerimaan itu tidak didasarkan pada wujud dan maksud tari itu. Kebanyakan penari laki-laki hanya menunjukkan bahwa ia tahan lama menari, tidak memperdulikan aturan-aturan dan maksud tari itu. Sebabnya ialah penerima tari tidak hendak menyelidiki maksud tari itu, ketika mempelajarinya dan tidak pula mau mencocokkannya dengan kepentingan-kepentingan daerah.
Tari Serampang XII itu disusun dan diatur serta dicocokkan dengan adat istiadat di daerah pesisir Sumatera Timur oleh penciptanya Guru Sauti, sehingga wujud dan maksud tari serampang XII itu menunjukkan kisah bagaimana dua sejoli memendam cinta dan cara-cara menyatakan cinta kepada seorang Pemuda jika ia pemudi. Dan kepada Pemudi jika ia Pemuda, serta teguhnya mereka itu memegang adat.

Apakah tarian ini merupakan tarian khas Melayu di bawah Kesultanan Serdang?

Pada dasarnya tari Serampang XII adalah tari yang diciptakan sebagai tari pergaulan di lingkungan Kesultanan Negeri Serdang pada masa pemerintahan Tuanku Sulaiman Shariful Alamshah. Seiring perkembangan zaman maka Tuanku Sultan mengizinkan Guru Sauti untuk mengajarkan tari ini ke daerah diluar Kesultanan Negeri Serdang, dan pada masa Pemerintahan Presiden Soekarno tari ini diangkat menjadi Tari Pergaulan dan disebarkan ke seluruh Indonesia bahkan sampai Manca Negara.

Apakah ada sosok dibalik terciptanya tarian ini?

Pencipta Serampang XII, Guru Sauti adalah seorang Seniman kelahiran Perbaungan yang memperoleh kesempatan sekolah, belajar menari dan memainkan alat musik di Istana Darul arif. Sedangkan Baginda Tuanku Sultan Sulaiman Shariful Alamshah adalah Sultan melayu yang dipandang sebagai tokoh utama dalam perkembangan seni pertunjukan itu tidak saja memberikan kesempatan tetapi turut berkecipung langsung dan menata, turut menggembirakan serta menularkan semangat berkesenian kepada sanak keluarga serta warga Serdang yang mendapat kesempatan belajar menari, menyanyi dan memainkan alat musik di istananya.

Mengapa diberi nama Tari Serampang XII?

Serampang: alat untuk menangkap ikan berbentuk tombak dengan sula bermata tiga. Kaitannya dengan tari serampang XII terlihat pada ragam 9, yaitu gerak lonjak seakan seperti orang menyerampang (menombak berkali kali).
Kaitannya dengan serampang laut: pada masanya tempo lagu yang tercepat adalah lagu serampang laut maka diambillah nama serampang sedangkan lagunya pulau sari, nama XII diambil dari XII ragam geraknya sehingga terciptalah nama tari Serampang XII. Lagu yang namanya dimulai dengan kata pulau adalah lagu yang bertempo rumba (Mak Inang) seperti Pulau Kampai, Pulau Putri. Sedang Serampang  XII temponya quick step atau 3/8. 

Apakah makna terkandung di dalam tarian ini?

Pencipta tarian ini mengikuti kehendak masyarakat dengan mencocokkan tarinya menjadi 12 ragam. Tari yang mengkisahkan “CINTA SUCI” sejak dari pandangan pertama disudahi dengan akad nikah dan perasmian perkawinan antara pemuda dan pemudi yang telah mabuk kepayang itu dengan persetujuan ibu bapa kaum keluarga semuanya.
Sebenarnya apa kekhususan atau keunikan Tari Serampang XII, dibanding dengan tarian adat Melayu lainnya?. Keunikan tari Serampang XII adalah selain tari ini bertempo paling cepat dibandingkan dengan tari melayu yang lain, gerakan juga lebih dinamis serta mempunyai makna yang lebih jelas dari tiap ragam tarinya.

Apakah dalam adat Melayu Serdang, persembahan Tari Serampang XII, biasanya dipertunjukan untuk kegiatan khusus?

Dahulu pada masanya tari Serampang XII selalu dipertunjukan pada saat perayaan-perayaan besar di Istana, seiring perkembangan zaman maka tari ini sekarang selalu dipertunjukan pada setiap pertunjukan seni.


Bagaimana perkembagan Tari Serampang XII saat ini?

Sejak diciptakan, tari ini telah mengalami persebaran ke berbagai daerah, hal ini membuat tari serampang XII sangat terkenal di berbagai daerah pula, akan tetapi persebaran ini juga membuat tari ini mengalami pergeseran teknik menari disebabkan transformasi tari ini hanya pada bentuk tarinya saja tidak disertai dengan penguasan teknik yang sebenarnya sehingga membuat tari ini mulai mengangalami perubahan atau bisa disebut pendangkalan teknik menari, persebaran tari ini juga tidak diimbangi dengan kepedulian serta kecintaan generasi muda sehingga ada faktor kemungkinan tari ini suatu saat akan terlupakan ataupun akan di klaim oleh pihak lain.

Bagaimana menurut Anda agar Tari Serampang XII tetap lestari sebagai dan jati diri budaya Indonesia?

Ada berbagai cara agar kesenian ini tetap lestari seperti dengan menjadikan tari ini sebagai asset daerah yang berarti pemerintah melakukan proteksi terhadap kesenian ini sehingga tidak di klaim oleh pihak lain, juga dengan memasukkan tari ini ke dalam ruang pendidikan sebagai muatan lokal dengan mengajarkannya pada generasi muda tanpa melepas aspek kualitas keaslian baik secara bentuk maupun teknik menari juga pemahaman dari gerak tari itu sendiri, dan bila dilihat dari sudut pandang seni pertunjukan juga pelestarian dapat dilakukan dengan seringnya dibuat berbagai kegiatan-kegiatan ataupun festival-festival perlombaan tari ini sehingga secara tidak langsung membuat para pelaku seni tari ini lebih memahami keaslian baik secara bentuk maupun teknik dalam tari tersebut.

Apa yang dilakukan Kesultanan Serdang agar tarian ini tetap terpelihara?

Pada masa Presiden Soekarno, kegiatan seni dan budaya sangat giat digalakkan. Tengku Luckman Sinar adalah salah satu dari Duta Budaya yang diutus Presiden Soekarno untuk memperkenalkan budaya Indonesia ke mancanegara, dan Tengku Luckman Sinar adalah termasuk orang yang pertama sekali memperkenalkan tari Serampang XII ke dunia Internasional dengan menarikannya di beberapa negara Eropa Timur seperti Moskow dan lain-lain.
Dalam perjalanan Kesultanan Negeri Serdang, dimasa kepemimpinan Tengku Luckman Sinar, SH. bergelar DYM. Tuanku Luckman Sinar Basarshah-II, SH. (Sultan Serdang VIII), beliau menginventarisir seluruh kekayaan intelektual dan budaya Serdang yang termasuk di dalamnya Tari Serampang XII sebagai salah satu kekayaan bangsa dan mendaftarkannya ke Dirjen HAKI dengan no. 049720 Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Dirjen HAKI RI.
Almarhum DYM. Tuanku Luckman Sinar Basarshah-II SH, mendirikan Sinar Budaya Group pada tahun 1989, yang berkonsentrasi dibidang seni dan budaya, dengan materi pembelajaran awal dasar tari wajib melayu yang salah satunya adalah Tari Serampang XII. Sejak tahun 2003 Sinar Budaya Group dipimpin oleh Tengku Mira Sinar. 
Tengku Mira Sinar telah merangkum 8 dasar tari Melayu karya Guru Sauti kedalam sebuah buku berjudul Teknik Pembelajaran Dasar Tari Tradisional Melayu. Buku ini menjadi buku refernsi Universitas Negeri Medan dan Palembang pada jurusan Sendratasik (seni, drama, tari dan music). (Coki Simatupan)



Saturday, 2 May 2015

Melawan Penjajah Melalui Musik

Lily Suhairy dikenal sebagai pahlawan dan musisi Sumatera Utara di era perjuangan  meraih kemerdekaan. 


Sebuah pesawat Sekutu menungkik dan memberondong secara membabi buta Stasiun Kereta Api Aras Kabu, Batang Kuis, Kabupaten Deliserdang. Puluhan orang tewas termasuk diantaranya salah satu dari rombongan musisi tergabung dalam Orkes Studio Medan (OSM) yang ketika itu sedang bersiap-siap hendak menuju Pematangsiantar untuk mengadakan pertunjukan musik. 

Suasana hiruk-pikuk di stasiun kereta api pagi itu akhirnya berubah menjadi isak tangis. Lily Suhairy, duduk terdiam dan berlinang air mata melihat seorang rekannya, Miss Diding sudah tak bernyawa lagi.

Peristiwa itu tak pernah hilang dari ingatan Lily Suhairy hingga akhir hidupnya.  Untuk menghormati para korban, Lily kemudian menuangkan peristiwa tragis itu  dalam sebuah karya musiknya berjudul Aras Kabu.  Melalui instrumen pada musik ini, Lily menyampaikan pesan,  agar  masyarakat  Indonesia tidak hanyut dalam kesedihan dan putus asa dalam perjuangan  meraih kemerdekaan.   

Di kalangan musisi dan seniman Tanah Air dari era tahun 1940-an, Lily Suhairy, sangat dikenal sebagai seorang tokoh komponis dan pejuang yang jujur. Karya- karyanya, sempat  memasyarakat di era perang kemerdekaan. Salah satu karyanya yang cukup populer berjudul Pemuda Indonesia. Lagu ini sempat membuat  Lily Suheiry ditangkap dan disiksa oleh Nederland Indie Administration (NICA) serta ditahan selama tiga bulan. Lily sangat dikenal dengan karya musiknya yang mengambarkan semangat untuk berjuang meraih kemerdekaan. Tidak hanya itu, di masa kedudukan Jepang, Lily juga sempat ditangkap oleh Kompetai  merupakan pasukan rahasia Jepang karena lagunya “O Bayang” bernada anti Jepang disiarkan oleh  pemuda Indonesia di Radio Jepang Hoso Kiyoku.  


Pria kelahiran Bogor,  23 Desember 1915, sejak kecil sudah lebih menyukai kesenian daripada harus tekun dengan pelajaran sekolah. Meski demikian, dia sempat menyelesaikan  Mulo–-sekolah setingkat SMP. Ketika berusia 1 tahun, dia dibawa kakek dan ibunya pindah ke Kota Brastagi, Sumatera Utara.  Seorang warga Belanda merupakan majikan kakeknya, terkagum melihat bakat musik Lily Suhairy.  Warga Belanda tersebut kemudian menyekolahkannya kepada seorang warga Jerman untuk mendalami musik.   

Karena kemampuannya dalam musik yang tinggi, diterima bekerja di sebuah  perusahaan rekaman “His Masters Voice” di Singapura pada tahun 1943.  Namun, tiga tahun kemudian, dia memilih mengembangkan bakat musisinya di Kota Medan. Semasa hidup, Lily telah mengubah sebanyak 182 lagu dengan warna langgam Melayu, diantaranya,  lagu Bunga Tanjung, Bunga Teratai, Selendang Pelangi, Rayuan Kencana dan Aras Kabu disebut sebagai lagu lagu besar yang lahir pada zaman perang kemerdekaan. 

Memiliki rasa juangan yang tinggi untuk meraih kemerdekaan melalui sarana musik akhirnya membuatnya mendapatkan penghargaan, sebanyak dua kal. Pertama,  pada tahun 1975 oleh PWI Cabang Medan dan kedua penghargaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Daoed Joesoef,  Maret tahun 1979 di Jakarta.

Lily wafat di Rumah Sakit Kodam I Bukit Barisan, Medan, pada 2 Oktober 1979 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Jalan Sisingamangaraja, Medan.  Sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan dan karya-karyanya, H Adnan Lubis, mantan Direktur Radio Alnora, sahabat Lily Suhairy menulis buku berjudul “Lily Suhairy dalam Kenangan”.  Coki Simatupang dan Berbagai Sumber

Friday, 1 May 2015

Dari Tiongkok ke Tanah Deli

Orang Tionghoa sudah tinggal di Kota Medan, sejak dimulai pembukaan lahan perkebunan tembakau di era kedudukan Hindia  Belanda. 

Foto:Kebun tembakau Deli tempo dulu

Jembatan kebajikan di Jalan Zainul Arifin, Medan, yang menghubungkan Jalan  Zainul Arifin dengan Jalan Gajah Mada, masih terlihat kokoh.  Jembatan ini dibangun pada tahun 1916 lalu, untuk mengenang jasa Tjong Yong Hian, seorang saudagar dan tokoh etnis Tionghoa yang berjaya di era kedudukan Hindia  Belanda, tahun 1850-1911. 

Tjong Yong Hian merupakan abang kangdung Tjong A Fie yang sukses membangun bisnis perkebunan di Tanah Deli. Kesuksesan membuat Tjong Yong Hian , memiliki hubungan dekat dengan Sultan Deli dan Pemerintah Hindia Belanda. Tjong Yong Hian kemudian diangkat sebagai "Kapitan Tionghoa”. Setelah Tjong Yong Hian wafat, jabatan "Kapitan Tionghoa” kemudian dilanjutkan oleh Tjong A Fie. Itu sebabnya, kedua tokoh ini tidak terlepas dari sejarah, masuknya masyarakat etnis Tionghoa ke Tanah Deli. 

Berbagai catatan sejarah menyebutkan, masyarakat etnis Tionghoa awalnya sudah tinggal di kawasan Labuhan Deli—persis di daerah mulut sungai Deli,  Kecamatan Kota Medan Marelan. Pada tahun 1863, Jacobus Nienyus, Van Der Falk dan Elliot, warga Belanda, ketika pertama kali datang ke Sumatera untuk  membuka perkebunan tembakau, telah menemukan sekelompok orang Tionghoa di kawasan ini.  
Tjong A Fie

Menurut Ketua Paguyuban Sosial Marga Tinghoa Indonesia (PSMTI) Sumatera Utara, Eddy Djuandi, 66 tahun, masyarakat etnis Tionghoa sudah mulai ada di  Labuhan Deli. Dia merujuk pada ditemukannya Situs Kota Cina di kawasan Danau Siombak, Kelurahaan Paya Pasir, Kecamatan Medan Marelan. 

Sebelumnya Edwards MacKinnon, seorang ilmuwan asal Amerika Serikat dalam disertasinya di Cornell University mengungkapkan bahwa Kota Cina di Medan pernah menjadi bandar perniagaan di Sumatera bagian timur pada abad ke 11.

“Dahulu itu kota perdagangan. Tiang kapal dan arca masih ditemukan di sana,” tambah Eddy. 

Penemuan Situs Kota Cina di kawasan Marelan,  menjadi salah satu petunjuk sejarah datangnya orang Tionghoa ke Kota Medan. Eddy mengatakan, masih banyak lagi peninggalan-peninggalan sejarah, yang menunjukkan etnis Tionghoa sudah sejak lama tinggal menetap di Kota Medan. 

Dia merujuk pada rumah Tjong Yong Hian—sekarang menjadi Hotel Kesawan dan rumah Tjong A Fie di kawasan  Jalan Ahmad Yani yang populer di sebut Jalan Kesawan. Dahulu orang-orang Tionghoa dari Malaka dan Tiongkok datang dan menetap di daerah ini sehingga Kesawan menjadi sebuah Pecinan. Setelah kebakaran besar melalap rumah-rumah kayu di Kesawan pada tahun 1889, para warga Tionghoa lalu mulai mendirikan ruko-ruko dua lantai yang sebagian masih tersisa hingga kini.

Foto: Kesawan Tempo Dulu

“Dahulu kawasan ini (Kesawan) adalah sawah. Dari sanalah titik nol Kota Medan. Orang Tionghoa dulu sering mengatakan mau ke sawah. Karena belum pasih berbahasa Indonesia jadi disebut kesawan,” tuturnya. 

Meningkatnya, kebutuhan tenaga kerja di perkebunan tembakau, membuat para saudagar Belanda, kemudian merekrut tenaga kerja kasar dari luar Indonesia, salah satunya dari daratan Tiongkok. Adanya lapangan pekerjaan akhirnya membuat masyarakat Tionghoa akhirnya memilih menetap tinggal di Medan. “Setelah punya duit, bangun rumah dan akhirnya menetap di sini,”  terang Eddy.

Itu sebabnya, sebut Eddy, keberadaan masyarakat Tionghoa telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari sejarah terbentuknya Kota Medan.  Etnis Tionghoa juga telah memberi peranan penting dalam membangun Kota Medan, dari masa sebelum kemerdekaan hingga di era reformasi saat ini. 

Tokoh Tionghoa Sumatera Utara, Brilian Moktar SE MM mengamini pernyataan Eddy Djuandi. Apalagi kata  Brilian, reformasi menjadi kado bagi masyarakat Tionghoa khususnya di bidang politik, untuk lebih meningkatkan perannya dalam membangun bangsa dan negara lebih baik lagi.

Meski demikian, sebut Anggota DPRD Sumatera Utara ini, cita-cita reformasi yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945, yakni salah satunya  adalah Bhineka Tunggal Ika, belum tercapai, karena masyarakat etnis Tionghoa  belum melihat adanya persamaan hak antar sesama anak bangsa. 

“Sebab itu saya memperjuangkan itu (persamaan hak). Kita harus bersatu dulu dalam ideologi, sehingga kita punya rasa memiliki negara Indonesia,” papar Politisi PDI Perjuangan yang menjadi satu-satunya etnis Tionghoa yang meraih penghargaan Melati pada HUT ke-53 Gerakan Pramuka Tingkat Kwartir Daerah Sumut di Kabupaten Palas, September 2014 lalu ini. (MIDMAGZ|COKI)